...Cerita berlanjut....
Episode lima belas.
"Jadi... Bisa kamu jelaskan, kenapa kamu melakukan tindakan tidak senonoh seperti itu? Bukankah sudah kubilang untuk tidak melakukan tindakan yang dapat merusak masa depanmu?!"
Sillvestia berkata agak lantang. Dengan kaki yang menyilang, serta memegangi keningnya yang terasa pusing.
"Belum lagi... Dalam kasus ini bukan saja namamu yang semakin buruk, nama nona Florencia yang melakukan hal itu denganmu juga akan menjadi buruk."
"Dan sebagai instruktur yang membimbing dirimu... Apa kamu pikir namaku juga tidak ikut tercemar?!"
Sillvestia semakin merasa emosi. Kalau saja diijinkan untuk memberi bajingan tengil ini pelajaran, dia pasti sudah melakukan hal itu sedari lama.
Sedangkan Restia yang merasa tidak terima kekasihnya dimarahi, lantas membela...
"Instruktur Sillvestia, jangan terlalu marah pada Astin, aku juga bersalah sebab telah..."
"Nona Florencia, lebih baik kamu diam untuk sekarang. Aku sedang bicara dengan bajingan kecil yang tidak tahu diuntung ini..."
Restia lantas terdiam, merasakan pancaran energi Sillvestia yang mengintimidasi. Dan ia segera kembali mendekap lengan Astin yang terduduk di sebelahnya.
Astin mengetahui kalau akan merepotkan bila menghadapi Instrukturnya ini. Namun ia juga harus menerima konsekuensi...
Astin menghela napas. Kemudian menutup mata... Setelah beberapa saat, ia memandang serius Instrukturnya dan berkata...
"Instruktur Sillvestia, sebelumnya aku ingin meminta maaf, telah mengabaikan perkataan anda. Tetapi..."
Astin mengelus lembut pipi Restia. Sembari tersenyum lembut pula, ia lanjut berkata...
"Aku tidak dapat menahan diri, melihat betapa manisnya tunanganku ini."
Pipi putih nan halus Restia berubah menjadi merah padam, mendengar Astin tanpa ragu berkata demikian. Ia lantas membenamkan wajahnya yang memanas pada lengan Astin.
Walaupun suhu ruang kini semakin dingin, saat kepingan crystal salju beredar di sekitar keberadaan Sillvestia yang semakin dibuat kesal, oleh kelakuan murid tidak tahu diri di hadapannya ini.
Dengan suara rendah nan dalam Sillvestia berkata, sembari menatap tajam Astin...
"Sebelumnya aku merasa heran, mengapa kamu bersikap tenang dan sopan akhir-akhir ini. Jadi kamu hanya ingin membuat ulah yang jauh lebih besar... Hah?"
Walau kemudian ia berkata dengan nada tinggi...
"Dan kamu pikir? Apa aku akan meloloskan mu, setelah memberikan jawaban konyol semacam itu?!"
Astin lantas segera memeluk tubuh Restia, saat suhu ruang mencapai titik yang lebih rendah...
"Instruktur Sillvestia, bukankah ini sudah terlalu berlebihan?"
Sedangkan Restia yang dipeluk erat oleh Astin hanya merasa suhu tubuhnya semakin tinggi, sebab ia begitu merasa malu.
"Aku tidak ingin mendengar kalimat itu dari murid yang suka membangkang sepertimu! Sekarang, sebab sikapmu yang sudah tidak bisa lagi ditoleransi..."
Sillvestia mengambil beberapa berkas, dan melempar nya di atas meja...
"Ambil itu, sudah pasti setelah ini kamu akan mendapat skorsing dari pihak academy. Jadi daripada kamu membuat ulah lagi, lebih baik kamu kerjakan semua tugas ini!"
"…"
Astin hanya bisa memasang ekspresi datar, melihat berkas tebal di hadapannya...
"Instruktur Sillvestia, apa anda berniat untuk menyerahkan tugas jurnal pada murid tahun pertama sepertiku?"
Sillvestia menyeringai. Sembari menatap dengan pandangan sombong ia berkata.
"Bukankah dengan mengerjakan ini otakmu itu akan jauh lebih berguna? Daripada hanya membuat artefak tidak jelas untuk membuat masalah?"
"Bagaimana? Apa kamu mau menolak? Aku bisa saja memberikanmu hukuman yang jauh lebih berat."
Astin terdiam sejenak, memandangi ekspresi senang Instrukturnya. Kemudian ia beralih, melihat tumpukan berkas di hadapannya ini.
Sebenarnya Astin hanya berniat membuat Instrukturnya merasa kesal, untuk kemudian dia di usir keluar, dan permasalahan selesai.
Biasanya seperti itu. Namun ternyata ia salah perhitungan. Instruktur Sillvestia sepertinya sudah mencapai puncak kesabaran, setelah berulang kali ia membuat masalah.
Dan sekarang Astin malah mendapatkan tugas yang sangat merepotkan. Butuh banyak waktu serta usaha untuk membuat suatu jurnal,
Apalagi sepertinya instruktur Sillvestia tidak akan membiarkan Astin lolos, jika ia dengan sembarangan mengerjakannya.
Setelah tertegun sejenak, Astin melepas pelukannya pada Restia, walau Restia tidak lekas beranjak dari dirinya. Dengan berat hati Astin mengambil dan membaca satu persatu berkas tersebut.
"Instruktur Sillvestia, apa anda yakin kalau aku dapat menyelesaikan permasalahan rumit semacam ini? Belum lagi ini merupakan..."
Astin segera menghentikan kata. Hampir saja ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui. Ya, isi berkas ini merupakan hasil penelitian dari seorang instruktur, berkaitan dengan insiden yang akan terjadi jauh di masa depan.
Oleh sebab itu, Astin merasa sangat bingung, mengapa instruktur Sillvestia menyerahkan sesuatu yang sangat penting seperti ini, pada siswa tidak kompeten seperti dirinya?
"Jangan membodohiku. Kamu bisa mengatasi dan mengotak-atik hal yang jauh lebih rumit. Bahkan kamu membuat sesuatu yang dapat mengelabui sistem keamanan academy."
"Persis seperti item yang kamu pakai saat ini."
"Aku yakin, kalau kamu mengerjakan dengan serius, kamu dapat mengatasi permasalahan yang masih belum terpecahkan ini..."
Ya, pada dasarnya jurnal ini tidak pernah terselesaikan sampai akhir. Yang menjadikan insiden di masa depan tidak dapat dicegah.
Bukan saja sebab penulis aslinya yang sudah tiada, instruktur lain yang dipercaya untuk melanjutkan penelitian ini juga masih belum menemukan titik terang.
Jelas sekali kalau instruktur Sillvestia dimintai tolong, atau mungkin dia sendiri yang inisiatif mencarikan seseorang yang dapat membantu menemukan titik terang. Tetapi kenapa harus Astin? Yang notabene murid dengan rumor buruk, dan juga sering membuat masalah?
Ekspresi Sillvestia berubah menjadi serius, melihat ekspresi rumit dari muridnya ini.
"Hmmm... Apa kamu sudah menyadarinya dalam waktu sesingkat ini? Sepertinya aku tidak salah telah merekomendasikan dirimu."
Ekspresi Sillvestia semakin serius, melihat ekspresi Astin yang terkejut. Ya, selama ini Astin sama sekali tidak dapat mengelabui insting tajam Instrukturnya ini.
"Sebab kamu sudah memahami situasinya, aku harap kamu tidak bermain-main dengan tugas ini."
"Ini merupakan peninggalan terakhir dari seorang teman, dan juga sesuatu yang akan berguna di masa depan. Jika kamu berhasil, aku dapat memastikan, reputasi burukmu itu hanya akan dianggap sebagai angin lalu."
Astin menelan ludah, sadar akan seberapa seriusnya situasi. Namun ia tetap berusaha bersikap santai, kemudian ia menanggapi.
"Apa kalian sebegitu putus asanya, sampai meminta bantuan dari murid bermasalah sepertiku?"
Restia yang hanya mendengarkan sembari terus melekat pada Astin, mencoba angkat bicara...
"Astin, apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Apakah instruktur Sillvestia memberi tugas yang begitu sulit untukmu? Kalau begitu, biarkan aku membantu... Uhh..."
Astin segera menarik kembali Restia dalam pelukannya. Agar gadis mungil ini bersikap tenang. Sedangkan Sillvestia yang melihatnya hanya mengernyitkan alis, kemudian berkata dengan nada yang tidak sinis...
"Haah... Sepertinya kamu benar-benar tidak lagi mengabaikan tunanganmu? Apa kamu sudah menyerah dengan nona Garnett...?"
"Instruktur Sillvestia apa yang anda katakan... Hmuhh..."
Astin membenamkan wajah Restia dalam dadanya. Sepertinya gadis ini merasa kesal, ketika Sillvestia membahas tentang Alisha.
Sedangkan Astin yang menunggu jawaban Instrukturnya, memandang serius Sillvestia yang segera kembali angkat bicara.
"Yaah... Kami memang sedang putus asa. Atau lebih tepatnya tidak memiliki jalan keluar."
"Para petinggi dari pusat badan penelitian internasional membuat larangan, untuk melakukan penelitian terkait jurnal yang ditulis oleh para korban insiden seminar ilmu pengetahuan, empat lunaxia lalu. Jadi..."
Sillvestia lantas menghentikan perkataannya. Walau ia segera melanjutkan...
"Ahem... Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Intinya kami tidak bisa melakukan penelitian secara resmi, oleh sebab itu kami tidak dapat bergerak dengan leluasa. Dan..."
Astin yang mengetahui maksud Instrukturnya lantas menyela perkataan Sillvestia.
"Apa anda memanfaatkan reputasi buruk ku untuk lepas dari jeratan hukum?"
Sillvestia yang melihat ekspresi kesal murid badungnya lantas tertawa lepas.
"Hahaha... Syukurlah kalau kamu mengerti."
"Para orang-orang kolot yang gila kehormatan itu pasti hanya akan memaklumi, jika yang melakukan pelanggaran adalah tuan muda dari kerajaan adidaya sepertimu. Walaupun itu pelanggaran internasional sekalipun."
Urat kesal lantas menyembul keluar dari kening Astin, ia mengetahui kalau akan jadi seperti ini.
Tapi melihat Instrukturnya yang tertawa lepas terhadap kemungkinan kalau dirinya terjerat kasus internasional, Astin tidak bisa tidak dibuat jengkel.
"Kalau kepala Dekan mendengarnya, anda pasti akan langsung dipecat dari academy."
Sillvestia kembali tertawa, saat mendengar statement dari murid berengsek nya ini.
"Hahaha... Jangan membuatku tertawa. Aku sudah terlalu sering dipanggil oleh kepala Dekan. Bukankah semua itu berkat ulahmu?!"
“…”
Astin hanya bisa terdiam, mendengar fakta yang menimpa dirinya. Jadi tanpa berdebat lebih jauh, Astin menerima hukuman dari Instrukturnya dengan terpaksa.
...Bersambung....
...Sillvestia Syn Reinhart. Pinterest....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Teteh Lia
🌹 buat Astin
2024-07-27
1