...Cerita berlanjut....
Episode tujuh.
Swuuuzzz... Bug!
Eris yang melesat bagai kilatan merah gelap segera mengintervensi serangan Edwin dengan seketika.
Wuuussh... Astin yang diterpa gelombang energi dalam jumlah massive lantas kembali terpelanting jauh.
Bam! Sedangkan Edwin yang dihempaskan ke bawah menghantam lantai arena dengan begitu keras. Sehingga sebuah kawah yang cukup besar terbentuk di sekitar tubuh Edwin yang sebagian tertanam pada lantai batuan.
Setelah melihat Edwin tidak sadarkan diri, Eris segera kembali melesat, menuju Astin yang terpelanting dengan kecepatan tinggi.
"Ck, dasar murid-murid merepotkan."
"Ugh..."
Astin tersentak. Ketika Instrukturnya yang tiba-tiba muncul menarik kerah seragam putih yang ia kenakan dengan begitu erat.
Kulit Astin lantas jadi melepuh, gelombang panas yang terpancar dari tubuh Eris terasa begitu ekstrem. Walau itu segera dipulihkan, saat Eris yang sudah mendarat melemparnya ke tepi lapangan arena.
Eris menatap Astin dengan pandangan skeptis, kemudian berkata dengan nada sinis sembari mendecakkan lidah.
"Ck, sudah cukup bagus, kamu berinisiatif mengaktifkan penghalang untuk mencegah penonton ikut terlibat."
"Tetapi kamu malah membuat situasi jadi semakin runyam, dengan mendekat secara sembarangan. Sampai membuatku terpaksa mengambil langkah kasar seperti ini."
"Bukankah sebelumnya sudah ku bilang untuk menjaga jarak?"
Ya, tidak sepatutnya bagi instruktur seperti Eris membuat seorang murid terluka parah. Sudah pasti setelah ini dia akan mendapat teguran. Oleh sebab itu, sebelumnya sebisa mungkin Eris menahan diri saat mencoba melumpuhkan Edwin.
Tetapi Astin yang mengetahui seberapa mengerikan situasi jika Edwin dibiarkan terus mengamuk, memutuskan untuk mengakhiri insiden ini dengan lebih cepat, walau ia harus mengambil resiko.
Bukan saja dia akan terkena imbas serangan. Kemungkinan besar dia juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan.
“…”
Setelah mencapai tujuannya, Astin segera berdiri sembari merapikan diri, tidak menanggapi keluhan dari Instrukturnya ini.
-
Melihat murid tidak tahu dirinya nampak tidak merasa bersalah sama sekali, Eris lantas kembali mendecakkan lidah.
"Ck, kalau bukan sebab hukum dari kerajaan, aku pasti sudah memanggang anak tidak tahu diri sepertimu hidup-hidup."
Ya, Eris merupakan pahlawan peringkat atas dari kerajaan di mana tempat Astin berasal. Sedangkan keluarga Astin memiliki pengaruh yang cukup besar di kerajaannya.
Sebagai penerus keluarga bangsawan kelas atas yang sangat disegani, tentu saja akan menjadi masalah besar, jika terjadi sesuatu terhadap Astin.
Oleh sebab itu, Eris yang saat ini bekerja sebagai instruktur di academy pahlawan Hygea, sebisa mungkin untuk menjaga generasi penerus dari kerajaannya. Terutama mereka yang memiliki bakat dan juga status tinggi.
Sebab selain bakat, dukungan dari keluarga bangsawan yang memiliki kontribusi besar terhadap kerajaan juga sangat diperlukan.
"Setelah ini kamu datang menuju ruanganku. Sebaiknya kamu siapkan alasan bagus untuk menjelaskan semua tindakanmu."
"Mulai dari memprovokasi siswa Edwin yang bertingkah aneh. Mengincar siswi yang duduk di kursi penonton untuk mengaktifkan penghalang. Bahkan mengganggu saat proses evakuasi."
"Walau kamu sering membuat ulah, aku tahu kalau kamu bukanlah siswa yang bodoh."
Ya, pada dasarnya Astin memang memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Bahkan dia mendapat nilai sempurna di setiap ujian teori.
Walau kecerdasannya itu lebih sering ia gunakan untuk melakukan hal konyol dan juga bermasalah.
Setelah berkata demikian, Eris beranjak untuk mengevakuasi Edwin yang tidak sadarkan diri.
Astin juga ikut beranjak, saat penghalang yang menyelimuti arena sudah dinon-aktifkan. Walau langkahnya segera terhenti, melihat situasi di luar arena yang sangat kacau.
***
Seorang gadis. Dengan rambut panjang yang diwarnai emas berkilau indah. Begitu pula dengan mata emasnya yang dapat memikat setiap lawan jenis. Dengan paras layaknya malaikat surgawi. Serta tubuh proporsional yang menggoda hasrat duniawi.
Alisha Garnett. Seorang siswi tahun pertama yang menduduki peringkat ke tiga di seluruh angkatannya.
Hari lalu. Ia berdebat dengan anak laki-laki yang selalu berada di sisinya. Edwin. Itu semua sebab anak laki-laki lain yang selalu mengganggu dirinya. Astin.
.
Hari-hari sebelum semuanya terjadi. Alisha memergoki Astin tengah merundung siswa lain untuk ke sekian kalinya.
Alisha lantas dibuat kesal oleh sikap Astin yang tidak mau berubah, walau Alisha sudah sering memperingatkannya.
Oleh sebab itu, Alisha memutuskan untuk tidak lagi terlibat dengan Astin. Hari berikutnya ia mengatakan pada Astin, agar Astin tidak lagi mendekati dirinya. Tetapi apa yang terjadi?
Astin yang tidak terima dijauhi oleh dirinya, tiba-tiba menarik tangan Alisha. Kemudian menyeretnya menuju sudut yang cukup sepi.
Alisha berpikir Astin akan berbuat hal buruk pada dirinya, jadi Alisha berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi...
Ia tidak sengaja terjatuh. Astin yang berusaha menangkap dirinya juga ikut terjatuh. Hingga akhirnya Alisha menindih tubuh Astin.
Alisha lantas terkejut. Baru pertama kali ia berada begitu dekat dengan seorang lelaki. Jantung Alisha berdegup begitu kencang,
Pipinya juga terasa panas, saat jarak wajahnya begitu dekat dengan Astin, sampai hembusan napas Astin yang hangat terasa menggelitik.
Alisha yang merasa sangat malu lantas segera bangkit. Tetapi ia yang panik serta bingung dengan situasi yang baru ia alami, kembali terjatuh dalam pelukan Astin.
Sehingga bibir merah muda cerahnya hampir bersentuhan dengan bibir cream pucat Astin. Wajah Alisha lantas berubah menjadi merah padam, berada pada posisi yang bahkan lebih memalukan dari sebelumnya.
Rasa malu semakin menguasai diri Alisha. Ia segera mendorong Astin yang memeluknya sembari berteriak.
.
"Berengsek! Apa yang kamu lakukan pada Alisha?!"
"Edwin?!"
Alisha terkejut. Oleh kedatangan Edwin yang tiba-tiba, pada situasi kurang tepat seperti ini.
Lebih mengejutkan lagi. Edwin yang terlihat marah mulai menghunuskan pedang. Menuju Astin yang kini mendukung tubuh Alisha, saat ia hendak terjatuh untuk ke tiga kalinya.
Merasa situasi buruk akan terjadi. Alisha segera mengintervensi Edwin yang hendak mengarahkan pedang pada leher Astin.
Dengan pikiran yang masih bingung, Alisha menjelaskan situasi pada Edwin. Akan tetapi penjelasan yang diberikan oleh Alisha malah membuat situasi jauh lebih runyam.
Astin yang sepertinya merasa terancam, meminta Alisha untuk menjelaskan dengan lebih tenang.
Namun Alisha dibuat terkejut. Oleh Astin yang memegang bahunya, sembari mencoba ikut menjelaskan situasi untuk membela diri.
Edwin yang melihat Alisha kembali disentuh oleh bajingan di hadapannya, lantas semakin merasa emosi.
Edwin segera menarik Alisha menuju sisinya. Tidak mendengarkan penjelasan Astin sama sekali. Kemudian Edwin menantang, Astin yang sudah menyerah untuk menjelaskan.
Sejenak Astin merasa gentar. Menyadari siapa sosok yang menantang dirinya ini. Tetapi ia tidak mungkin mempermalukan diri di hadapan gadis yang sangat ia sukai. Apalagi setelah melihat reaksi Alisha sebelumnya.
Mana mungkin Astin melepas Alisha begitu saja. Setelah ia berjuang keras untuk menarik perhatian Alisha, akhirnya gadis yang ia puja menunjukkan ketertarikan pada dirinya.
Jadi tanpa pikir panjang Astin menerima tantangan Edwin. Kemudian... Dengan congkak Astin berkata...
"Sebab sudah terlanjur seperti ini. Bagaimana kalau kita mengadakan sebuah pertaruhan?"
Yang membuat Edwin semakin naik darah.
"Bukankah pertandingan ini terlalu berat sebelah? Jadi setidaknya, berikan aku sesuatu yang bagus agar aku lebih termotivasi."
Astin menyeringai, sembari mengatakan sesuatu yang membuat Alisha serta Edwin terkejut.
"Jika aku memenangkan pertandingan ini, berikan aku dua miliar Valiss. Atau kalau tidak..."
Astin menunjuk ke arah Alisha yang kini semakin melebarkan mata, ketika Astin menyatakan...
"Alisha harus menjadi kekasihku, dan menikah denganku setelah kita lulus dari academy."
Sontak Edwin kembali menghunus pedang, mendengar perkataan bajingan yang semakin tidak tahu diri di hadapannya. Walau Alisha segera mencegah aksinya.
Setelah berpikir sejenak, Edwin lantas memutuskan...
Tidak ada yang perlu Edwin khawatirkan, sudah dipastikan kalau dirinya akan menang. Jadi Edwin menerima pernyataan Astin, dan mengajukan pertaruhan yang setara.
Kemudian beranjak. Sembari menarik lengan Alisha, yang mencoba kembali menjelaskan situasi sebenarnya dengan lebih jelas.
Tetapi Edwin yang sudah mengambil keputusan, tidak bisa diganggu gugat. Alisha yang merasa di abaikan lantas merasa kesal. Sehingga mereka berdua akhirnya berdebat. Dan sekarang...
...Bersambung....
...Alisha Garnett. Pinterest....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Bilqies
waduh segitunya ya sampai melepuh tuh kulit
2024-08-10
1
Teteh Lia
3 iklan meluncur...
2024-07-19
1