Menyiapkan.

...Cerita berlanjut....

Episode empat.

Ruang tunggu, di sisi lain lapangan arena. Edwin. Seorang anak laki-laki yang memiliki bakat teratas dari seluruh angkatan murid tahun pertama.

Tengah terduduk sembari memoles pedang emas yang biasa ia gunakan. Ekspresinya terlihat begitu serius. Begitu pula dengan jantungnya yang terasa begitu panas bagai di telan bara.

Hari lalu. Ia memergoki aksi bajingan yang kerap kali mengganggu nona yang ia layani. Alisha. Bagi dirinya Alisha adalah sosok suci yang harus benar-benar ia lindungi.

Ayahnya yang merupakan seorang kesatria suci telah mempercayakan tugas itu padanya. Begitu pula dengan ayah angkat Alisha, yang merupakan tuan dari ayahnya.

Oleh sebab itu ia benar-benar ditelan amarah. Ketika ada seseorang yang hendak merenggut kesucian gadis yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh siapapun.

Saat itu ia berniat untuk segera memenggal kepalanya, kalau saja ia tidak dicegah oleh Alisha. Namun bajingan berengsek itu tidak mau mengakui perbuatannya.

Kalau dia ingin mengakui kesalahannya, dan menyesal telah berniat melakukan perbuatan kotor. Mungkin amarah Edwin akan sedikit teredam.

Tetapi dia malah terus mengelak, dan juga memaksa Alisha untuk mengatakan sesuatu yang ia inginkan.

Sebagai seorang kesatria yang bertugas melindungi kehormatan nona nya, tentu saja Edwin tidak akan membiarkan bajingan itu terus merendahkan Alisha.

Dengan keputusan tegas ia menantangnya berduel. Tetapi dengan congkaknya bajingan itu menerima tantangan Edwin tanpa ragu. Tetapi setelah itu?

Dia bahkan dengan percaya diri mengajukan pertaruhan yang begitu menjijikan.

Perbuatannya sudah benar-benar melampaui batas. Setidaknya bajingan itu harus diberikan hukuman yang setimpal. Agar dia sadar, kalau dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Oleh sebab itu, di turnamen ini Edwin akan...

.

"Siswa Edwin Win'ster, segera bersiap menuju lapangan arena!"

Seorang pria berotot berusia pertengahan tiga puluh memasuki ruang dengan suara lantang.

Klank.♪.♪.♪ Edwin berdiri dengan sigap, sembari menyarungkan pedangnya dengan cukup keras.

"Siswa Edwin Win'ster bersedia."

Pria berotot yang mengenakan pakaian santai di hadapannya nampak menyeringai, melihat ekspresi serius Edwin. Sebelum kemudian ia beranjak pergi.

Sedangkan siswa lain yang berada di sekitar Edwin mengeluarkan keringat dingin,

Merasakan pancaran energi yang begitu mengintimidasi. Sampai mereka berpikir. Betapa sialnya murid yang menjadi lawan orang ini.

*

Ruang tunggu lainnya. Bersebelahan dengan ruang tunggu di mana Edwin berada. Terlihat dipenuhi oleh para siswi yang juga mengikuti turnamen.

Seorang gadis dengan rambut bergelombang merah membara, menggigit kuku-kukunya yang dihias indah. Sembari bergumam...

"Bajingan berengsek. Bisa-bisanya aku lengah sampai-sampai mengungkapkan rahasiaku pada orang sepertinya."

Putri Ellicia mengutuk kebodohannya. Tetapi ia lebih mengutuk Astin yang mengetahui bahwa dirinya menyukai Edwin. Sebab tidak ada seorangpun yang ia beritahu mengenai kebenaran tersebut.

Bahkan tidak dengan Alisha yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Memang pada awalnya ia tulus ingin berteman dengan Alisha. Tetapi setelah sebuah insiden terjadi,

Di mana Edwin menyelamatkan nyawanya saat ia hampir celaka. Putri Ellicia mulai menaruh hati pada Edwin.

Tetapi dia lebih memilih untuk memendam perasaannya. Ia tidak berani,

Melihat seberapa protektif Edwin terhadap Alisha, kemungkinan Edwin memiliki rasa terhadap Alisha.

Kalau dia mengungkapkannya sekarang? Mungkin bukan saja cintanya yang akan kandas, tetapi dia juga akan kehilangan sahabatnya.

Namun tiba-tiba sebuah kesempatan datang entah dari mana. Seorang siswa yang sangat populer mulai mendekati Alisha. Walau siswa itu merupakan siswa bermasalah, dan juga memiliki banyak rumor buruk.

Tapi setidaknya dengan ini Putri Ellicia dapat memastikan, perasaan di antara Alisha dan Edwin. Ia juga sempat berharap, agar Alisha berakhir bersama siswa dengan rumor buruk tersebut, agar dirinya dapat mengembangkan hubungan dengan Edwin.

Namun kejadian hari lalu membuat putri Ellicia naik pitam. Ia memang berharap Alisha bersama dengan lelaki lain. Tetapi mendengar penjelasan Edwin mengenai Alisha yang hendak dinodai,

Putri Ellicia tidak bisa tidak dibuat marah. Ia lantas berniat menghajar bajingan berengsek yang berniat menyentuh sahabatnya.

Tetapi sekarang apa yang terjadi? Posisi putri Ellicia malah jadi terpojok seperti ini.

Sekali lagi dia mengutuk Astin. Namun ia segera tersenyum manis, mengingat kalau Edwin telah menantang bajingan itu berduel.

Ya, tanpa perlu putri Ellicia turun tangan untuk membalas, bajingan itu pasti akan dihajar oleh Edwin sampai sekarat.

*

Lapangan arena. Memiliki bentuk pentagonal. Dengan deretan kursi bertingkat mengelilingi ke delapan sisinya.

Sangat ramai. Para murid yang berhamburan memasuki arena, mulai terduduk memenuhi kursi-kursi yang berderet sampai ke atas.

Tamu-tamu penting seperti. Perwakilan dari berbagai kerajaan, guild-guild besar, pahlawan peringkat atas, dan juga banyak tokoh ternama dari seluruh penjuru Arcania,

Mulai mengisi kursi khusus yang berada di teras atas arena. Sedangkan para instruktur, profesor, dan juga staff yang bertugas, mulai menempati posisi masing-masing.

Layar hologram berukuran sangat besar terlihat melayang di atas arena, menghadap ke delapan sisi deretan kursi penonton.

Sorak-sorai begitu menggema. Ketika layar hologram mulai menampilkan video promosi turnamen academy, yang dibintangi oleh siswa-siswi berprestasi.

Berbagai pendapat serta spekulasi mulai mengisi percakapan yang terdengar riuh. Kemudian...

"Yaa! Para penonton sekalian! Akhirnya turnamen academy yang sudah lama kita nanti-nanti akan segera dimulai..."

Presenter yang merupakan seorang siswi dari klub informasi, membawakan acara dengan sangat antusias.

"Setelah melakukan ujian semester awal yang cukup melelahkan. Akhirnya kita para murid academy pahlawan Hygea dapat menikmati hiburan yang menegangkan!"

...

"Dan berikut adalah daftar murid yang akan saling bersaing untuk memeriahkan acara kali ini..."

Kemudian layar hologram mulai berganti, menampilkan data diri lengkap dua murid yang akan bertanding sebagai pembukaan acara turnamen academy.

Dan hampir semua mata penonton mulai melebar ketika melihatnya. Termasuk gadis tengil yang menjadi pembawa acara ini.

"Ooh... Sangat mengejutkan! Apa ini?! Apakah seorang siswa peringkat terbawah dari kelas 'E, akan menghadapi siswa peringkat teratas dari kelas A?!”

Kursi penonton lantas semakin riuh. Para gadis yang melihat potret Astin berteriak histeris. Sedangkan para fans Edwin mulai mengelu-elukan kehebatannya.

Dan murid laki-laki yang merasa iri melihat reaksi para gadis, lantas mengutuk Astin habis-habisan. Sedangkan yang lainnya mulai menertawakan kejadian yang cukup konyol ini.

Melihat hasil yang sudah sangat jelas, para murid serta tamu undangan yang menonton, lantas bertaruh dengan nominal besar pada salah satu pihak.

"Baiklah, kalau begitu, langsung saja kita sambut! Dari sudut biru!"

"Seorang siswa berbakat yang menguasai teknik pedang dari kerajaan suci Fortunica!"

"Yang menduduki peringkat pertama saat ujian masuk. Dan selalu berada di peringkat teratas di antara jajaran para murid berbakat angkatan tahun pertama!"

"Sang bintang emas, yang menjadi harapan masa depan! Edwiiinn Win'steeer!!!"

Setelah suara nyaring gadis pembawa acara menggema di seluruh penjuru arena. Siluet seorang anak laki-laki mulai terlihat dari salah satu lorong arena. Sementara itu...

*

Sepuluh menit telah berlalu. Setelah instruktur Sillvestia meninggalkan ruang tunggu.

Selepas memastikan semua persiapan sudah sangat matang. Astin mengikat rambut putih bersih nan panjang miliknya ke belakang. Begitu pula dengan poni belah tengah yang hampir menutupi pandangannya.

Sehingga sepasang anting platinum berhias permata jernih berukuran kecil, terlihat menghiasi telinganya.

Sebuah coker hitam berhias emas putih dengan bentuk huruf H, juga ikut terlihat melingkari lehernya.

Di pergelangan tangan kiri terlihat artefak menyerupai smart watch berwarna putih,

Yang berisi data diri dan juga informasi lain. Seperti peringkat dan juga jumlah poin yang dimiliki.

Cincin platinum yang sebelumnya Astin kenakan juga terlihat di jari manisnya.

Sedangkan di pergelangan tangan kanan?

Ada sebuah artefak tak kasat mata, yang dapat memotong durasi waktu bidikan dari Revolver putih platinum, yang Astin simpan pada tas kecil di pinggangnya.

Seragam putih yang ia kenakan juga telah ia modifikasi dengan bantuan seorang pengrajin langganannya, sehingga memiliki beberapa efek tertentu. Sepatu putih yang ia kenakan juga sama.

Sekarang hanya tinggal eksekusi. Setelah lima belas menit terlewati. Astin beranjak keluar dari ruang tunggu.

Meninggalkan tatapan tajam di belakangnya. Menelusuri lorong, menuju di mana lapangan arena berada.

...Bersambung....

...Edwin Win'ster. Pinterest....

Terpopuler

Comments

Atuk

Atuk

🌟🌟🌟🌟🌟

2024-11-09

0

Bilqies

Bilqies

setuju 👍

2024-08-09

1

👁Zigur👁

👁Zigur👁

ready to fight

2024-07-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!