...Cerita berlanjut....
Episode lima.
Di ujung lorong, tidak jauh dari lapangan arena. Seorang gadis berambut lavender dengan mata ruby yang sama indahnya dengan Astin, tengah memandangi Astin dengan tatapan dingin.
"Sepertinya kamu membuat ulah lagi."
"Ugh..."
Astin memegangi perutnya yang dicubit begitu keras, oleh gadis yang kini tengah memeriksa seluruh item yang ia kenakan.
"Apa-apaan semua ini? Apa kamu pikir kamu akan terlihat keren, menggunakan perhiasan sebanyak ini kemudian dihajar sampai babak belur?"
Gadis itu memakaikan sebuah kalung berhias permata ruby pada leher Astin, yang kini membungkukkan tubuh sembari mengelus perutnya.
"Uhh... Bukankah perkataan kakak Rinea terlalu kejam? Aku mengeluarkan cukup banyak Valiss untuk mendapat semua ini."
Sepertinya berhasil. Orang lain benar-benar melihat semua item ini hanya sebagai hiasan semata.
"Haa...? Apa aku harus mengasihani adik yang selalu membuat masalah dan terus membuat reputasiku menjadi buruk sepertimu?"
Berbeda dengan Astin yang merupakan murid tidak kompeten dan suka berbuat ulah.
Selain sangat populer, Rinea merupakan siswi peringkat teratas dari seluruh angkatan tahun ke tiga. Dia memiliki banyak prestasi, dan juga beberapa kali mendapat penghargaan dari pihak academy.
Dia juga menduduki posisi sebagai ketua osis. Sekarang dia sedang bertugas sebagai panitia, untuk memeriksa dan memasangkan artefak perlindungan pada para peserta turnamen academy. Sedangkan adiknya?
"Haah... Aku tahu kalau ibu sangat memanjakan mu, dan mengirimi banyak uang. Tapi kamu malah menghabiskannya dengan membeli item-item tidak berguna."
"Dan sekarang? Apa kamu ingin memamerkan semua ini pada semua orang yang menghadiri turnamen academy?"
Hari lalu. Saat memeriksa semua data murid yang mengikuti turnamen. Rinea dikejutkan oleh nama Astin yang terpampang di urutan pertama para peserta. Dan lebih tidak masuk akal lagi lawannya merupakan siswa kelas A.
Padahal biasanya adik tidak tahu dirinya ini, hanya akan mengincar murid yang lebih lemah atau yang memiliki status rendah, untuk memaksa dan mencuri poin mereka.
Dan seringkali Rinea mendapat komplain, dari murid yang dirundung oleh adik brengseknya ini.
Semakin hari Rinea semakin dibuat kerepotan dengan tingkahnya. Padahal sebelumnya dia tidak terlalu nakal seperti ini. Apa sebab ibu yang terlalu memanjakan dirinya?
Rinea memandangi wajah adiknya yang tidak merasa bersalah sama sekali ini. Rasa jengkel kembali menguasai diri. Ia mencubit perut Astin dengan lebih keras, sehingga membuat Astin berbalik.
"Sekarang pergi sana! Mungkin kamu akan sedikit berubah setelah dihajar nanti."
Astin yang punggungnya didorong dengan begitu keras lantas segera beranjak.
-
Walau ia diperlakukan dengan kasar oleh kakaknya, tapi Astin tidak merasa kesal.
Setelah mendapat informasi dari kehidupan sebelumnya, sekarang Astin mengetahui,
Mengenai kejadian mengerikan apa yang telah dialami oleh kakaknya. Sehingga dia tidak lagi tersenyum manis pada dirinya.
Amarah bercampur kesedihan menguasai diri Astin. Tetapi semua itu percuma. Semuanya sudah terlanjur berlalu. Tidak ada yang dapat Astin perbuat akan hal itu.
Walau demikian, Astin sangat bersyukur. Kakaknya masih bertahan hidup, walau dia mengalami trauma serta menanggung rasa malu yang begitu besar.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lebih dari itu. Kondisinya sudah mulai stabil, dia juga sudah tidak lagi mengabaikan Astin, walau tatapannya masih tetap dingin.
Yang perlu Astin hadapi sekarang adalah... Astin tersenyum pada kakaknya, yang masih memandangi dengan ekspresi kesal.
Kemudian beranjak menuju lapangan arena yang terdengar sangat ramai.
*
[... Sang bintang emas, yang menjadi harapan masa depan! Edwiiinn Win'steeer!!!]
Ekspresi Astin lantas mengeras, ketika nama lawannya disebut dengan begitu lantang.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia mengepalkan tangan dengan begitu erat untuk menenangkan diri. Kemudian...
"Fiuh..."
Hembusan napas keluar seakan mengusir semua keraguan. Mata ruby Astin menatap begitu tajam. Ketika langkah kaki yang menghantarkan diri mulai memijak anak tangga di hadapannya.
Dibarengi dengan suara lantang presenter yang menyambut kedatangan...
"Berikutnya! Dari sudut biru! Kita sambut!"
...
"Eeh... Tunggu. Apa yang harus aku katakan?"
Kursi penonton seketika sunyi. Saat gadis tengil yang membawakan acara terlihat kebingungan, ketika hendak menyebutkan kelebihan dari murid peringkat terbawah yang selalu membuat masalah dan tidak memiliki prestasi sama sekali.
Gelak tawa akhirnya pecah, melihat situasi yang semakin konyol ini. Dan olok-olokan mengenai keburukan Astin mulai memenuhi obrolan para penonton.
Mereka seolah merendahkan Astin yang hendak memasuki Arena. Sebelum kemudian semuanya kembali menjadi hening. Ketika...
.
Tanpa menghiraukan suasana sekitar. Astin yang sudah menyiapkan mental, berjalan dengan penuh kebanggaan, layaknya seorang bangsawan kelas atas yang bermartabat.
Semua pandangan mengarah padanya yang begitu menarik perhatian. Tidak terkecuali gadis presenter yang terpana melihat sosok putih nan indah, yang kini ter-proyeksi penuh pada layar hologram berukuran sangat besar.
Dan keriuhan segera kembali. Ketika para gadis berteriak lebih histeris, mengalahkan suara penonton lain yang juga ikut bersuara.
Gadis presenter yang sudah mendapatkan ide, lantas buka suara dengan agak gelagapan.
"Eh... Hah... Ya! Sekali lagi mari kita sambut!"
"Seorang siswa dengan skill serangan jarak jauh yang mampu membidik hati para gadis!"
"Tuan muda dari kerajaan hebat nan misterius yang berada di atas benua langit, Orione!"
"Dengan segala kecerdikannya dia mampu bertahan di antara murid-murid berbakat academy pahlawan Hygea."
"Angsa putih yang dipenuhi kebanggaan! Astin Vaaan' Augustineee!"
Astin sedikit mengernyitkan alis. Walau idiom yang disampaikan memang sesuai dengan penampilan serta sifat Astin.
Tetapi bagian awal yang disebutkan oleh gadis tengil pembawa acara cukup mengganggu dirinya.
Namun perhatiannya segera teralihkan, oleh sosok anak laki-laki berambut emas yang kini berada di hadapannya.
.
Tidak seperti Astin yang bersikap cukup tenang. Mata blue topaz Edwin begitu tajam, menatap anak laki-laki berambut putih yang dengan bangga berdiri di hadapannya.
Tangannya begitu erat menggenggam sarung pedang di pinggangnya. Seolah ingin ia hunus sesegera mungkin.
Dan suara tenang yang dipenuhi penekanan mulai keluar dari mulutnya.
"Augustine, aku harap setelah mendapat pelajaran, kamu benar-benar menyesali semua perbuatanmu terhadap Alisha."
Astin merasa agak kesal, mendengar kalimat yang nampak meremehkan dirinya. Ia lantas mengangkat dagu, sebelum kemudian mulai memprovokasi.
"Hah? Apa tuan kesatria sekarang sedang ber-euforia, bahwasanya dapat mengalahkan ku dengan begitu mudah?"
Kemudian Astin balik menatap tajam Edwin, sembari terus memprovokasi.
"Sayang sekali, tidak semudah itu untuk membuatku menyesali perbuatan yang aku senangi."
Melihat dua peserta di lapangan arena mulai saling memancarkan aura persaingan yang cukup sengit. Keheningan sebelumnya lantas berubah menjadi riuh.
"Ohh... Apa ini?! Apakah alasan mereka saling berhadapan adalah untuk memperebutkan seorang gadis?!
Dibarengi dengan gadis tengil pembawa acara yang juga ikut mengomentari. Sedangkan Astin kembali memprovokasi.
"Tetapi kejadian kemarin memang sangat disayangkan. Kalau saja tidak ada orang yang mengganggu, Alisha pasti sudah menjadi..."
Urat marah lantas menyembul keluar dari kening Edwin, mendengar perkataan yang begitu menjijikan dari lelaki tak tahu malu di hadapannya.
"Sudah cukup! Sudah cukup untukmu merendahkan Alisha. Aku tidak akan membiarkan dia direndahkan lebih dari ini."
Ya, sebenarnya Astin juga sama sekali tidak ingin merendahkan gadis yang sangat ia sukai. Tetapi provokasi perlu dilakukan, untuk mengacaukan konsentrasi lawan.
"Hahaha... Apa ini? Apa sebenarnya tuan kesatria juga menyukai nona yang ia layani?"
"Apa kamu benar-benar berpikir bisa berakhir bahagia dengannya? Haha... Tetapi sayangnya ini dunia nyata, bukan kisah romantis yang tertulis dalam sebuah buku atau semacamnya."
"Tidak mungkin bagi nona bangsawan seperti Alisha untuk bersama dengan kesatria yang memiliki status rendah sepertimu."
Astin memasang seringai licik. Untuk lebih memprovokasi Edwin yang ekspresinya sudah sangat mengeras, seolah menyimpan amarah yang begitu mendalam.
"Dibanding harus bersama kesatria rendahan seperti dirimu. Bukankah Alisha akan lebih bahagia jika dia bersama seorang bangsawan kelas atas sepertiku?"
Kursi penonton lantas semakin memanas, ketika mendengar salah satu pihak tiada henti melancarkan provokasi, membuat suasana menjadi semakin riuh.
-
Edwin tidak lagi menanggapi Astin yang terus memprovokasi dirinya. Emosinya mencapai batas. Bukan saja bajingan di hadapannya ini terus merendahkan gadis yang ia lindungi.
Tetapi sekarang dia malah melukai harga dirinya sebagai seorang kesatria yang mengemban tugas mulia.
Gelombang energi yang begitu besar mulai melonjak keluar dari keberadaannya. Tanpa peringatan...
Wuuung.♪.♪.♪ Dengungan keras begitu memekakkan telinga.
Ketika Edwin yang melesat bagai kilatan emas, mengarahkan ujung pedang yang ia hunus, pada leher Astin yang tidak dapat bereaksi sama sekali.
Sebagian besar penonton yang juga tidak menyadari situasi, hanya bisa terperangah, melihat kejadian naas di hadapan mereka.
...Bersambung....
...Rinea Van Augustine. Pinterest....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Atuk
Up
2024-11-09
1
Bilqies
balas aja Astin jangan diam aja
2024-08-09
1
Teteh Lia
ketika status dan kasta masih sangat berpengaruh... 😔
2024-07-19
1