...Cerita berlanjut....
Episode tiga.
Lorong academy semakin ramai, dipenuhi murid-murid yang berlalu-lalang sembari mengobrolkan berbagai hal.
Tetapi kebanyakan dari mereka mulai berbondong-bondong menuju satu tempat.
Papan pengumuman. Ya, hari ini merupakan hari di mana hasil ujian semester pertama di umumkan. Dan juga hari di mana turnamen academy yang menjadi acara hiburan akan diselenggarakan.
Para murid tentu saja merasa antusias ingin melihat. Apakah peringkat mereka meningkat atau tidak?
Jika peringkat mereka memburuk, mereka bisa mengikuti turnamen untuk menaikkan peringkat, dengan cara bertaruh poin antar murid satu angkatan.
Tetapi Astin yang sudah mengetahui semua itu, tidak terlalu tertarik untuk bergabung dengan kerumunan...
.
"Astiin..."
"Ugh..."
Astin agak tersentak. Seorang gadis. Dengan rambut hitam keunguan tergerai sangat panjang, tiba-tiba mendekap erat pinggang Astin dari belakang, setelah dia keluar dari tengah kerumunan.
"Restia...?"
Astin berbalik. Gadis mungil dengan paras sangat cantik, layaknya boneka yang dipoles dengan sempurna, tersenyum begitu manis.
Namun senyuman indahnya segera berubah menjadi ekspresi kesal.
"Astin, apa maksudnya kamu akan melakukan duel dengan Edwin? Apa kamu telah membuat masalah dengannya?"
Ya, selain informasi mengenai nilai serta peringkat. Nama-nama murid yang mengikuti turnamen academy juga terpampang pada papan pengumuman. Dan nama Astin berada di daftar paling atas.
-
Setelah menerima tantangan duel tanpa pikir panjang, Astin dengan penuh percaya diri mengajukan sebuah taruhan pada Edwin.
Edwin menyetujui. Dan mereka sepakat untuk mendaftarkan diri sebagai lawan di turnamen academy. Tanpa menghiraukan Alisha yang mencoba mencegah mereka.
Kalau dipikirkan lagi, Astin merasa begitu pusing. Apalagi mengenai taruhan yang ia ajukan. Kalau dia menang, itu akan sangat menguntungkan. Kalau kalah? Habislah sudah.
Untuk mendapat keuntungan setara, Edwin meminta Astin mengakui, bahwasanya dia memang berniat memaksa Alisha,
Dan bersedia untuk diadili sesuai peraturan kerajaan suci di mana tempat Alisha dan Edwin berasal. Juga bersedia dikeluarkan dari academy pahlawan Hygea dengan suka rela.
Sedangkan permintaan Astin? Itu cukup memalukan untuk diungkapkan. Tetapi yang jelas dia tidak boleh kalah jika tidak ingin tamat.
-
Restia yang tidak mendapat jawaban dengan segera, lantas kembali berkata. Sembari mendekap erat lengan Astin yang mulai beranjak menjauhi kerumunan.
"Jadi kamu benar-benar membuat masalah dengannya? Apa yang sudah kamu pikirkan?"
"Tidak seharusnya kamu membuat masalah dengannya. Bukankah kamu tahu sendiri, kalau dia selalu menduduki peringkat teratas sejak awal penerimaan murid baru academy?"
"Bagaimana jika kamu sampai terluka nanti? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku bila sampai itu terjadi? Dan lagi..."
Biasanya Astin akan segera menyingkirkan gadis cerewet yang selalu menempeli nya ini.
Tetapi setelah ia mengetahui masa depan? Ada satu hal yang tidak dapat terbantahkan dari diri Restia. Dia adalah seseorang yang selalu berada di pihak Astin sampai akhir, walau bagaimanapun keadaannya.
Restia tidak menghiraukan rumor buruk mengenai, bahwasanya Astin suka bermain wanita. Meskipun dia merasa sangat cemburu mengetahui Astin menyukai gadis lain, Restia tidak pernah menyerah pada perasaannya.
Bahkan sampai akhir... Dada Astin terasa begitu sesak, ketika mengingat informasi mengerikan yang terlintas dalam benaknya.
Sembari terus beranjak, ia memandangi lembut gadis di sebelahnya. Berbeda dengan tatapan dingin yang biasa ia tunjukkan pada Restia.
Dan juga rasa ketidaknyamanan yang melanda diri, ketika Restia begitu lekat dengannya.
Sekarang Astin merasakan suatu kelegaan, ketika gadis ini bersamanya. Tanpa sadar, Astin mengulurkan tangan kiri untuk mengelus lembut kepala Restia. Akan tetapi...
Restia yang melihat sesuatu berkilau platinum menggantikan cincin emas putih yang biasa Astin gunakan, lantas merasa syok!
"Astin! Di mana cincin pertunangan kita?! Apa kamu melepasnya?! Kenapa ini terlihat berbeda?! Dari mana kamu mend... hmmph..."
Astin lantas segera membekap mulut Restia yang terus bicara dengan suara nyaring. Sesaat perhatian semua murid beralih pada mereka berdua.
Tetapi melihat pemandangan biasa, di mana Astin berseteru dengan tunangannya,
Membuat para murid segera kehilangan minat. Dan tidak lupa membicarakan rumor buruk tentang Astin, sembari mengasihani nasib Restia.
*
Di ruang tunggu. Udara pengap begitu terasa menyesakkan. Semua siswa yang mengikuti turnamen academy tengah bersitegang.
Mereka menatap satu sama lain dengan penuh persaingan. Ya, walau sejak awal mereka sudah memilih lawan masing-masing,
Tetapi setelah mereka mengalahkan lawan, bisa jadi salah satu di antara siswa yang berada di ruang ini akan menjadi lawan mereka selanjutnya.
Astin yang juga berada di ruang itu menghela napas panjang.
Setelah menjelaskan situasi dengan susah payah terhadap Restia, akhirnya dia dapat meloloskan diri dari dekapan gadis itu.
Dan ia segera bergegas menuju ruang tunggu, yang sudah dipenuhi oleh tatapan tajam yang mengarah padanya. Untungnya ruang tunggu lawan berada di sisi lain lapangan arena. Jadi dia tidak harus bertemu dengan Edwin yang menjadi lawan tandingnya.
.
Beberapa waktu berlalu. Brak! pintu ruang tunggu dibuka dengan begitu kencang. Semua siswa di ruang itu lantas tersentak.
Seorang wanita dengan rambut platinum, yang mengenakan setelan berwarna putih, terlihat dari baliknya.
"Siswa Astin Van' Augustine, segera bersiap dalam lima belas menit!"
Astin lantas berdiri. Sembari memeriksa senjata, item, serta artefak, ia menjawab.
"Siswa Astin Van' Augustine bersedia."
Wanita yang masih berada di ambang pintu itu sedikit mengernyitkan alis, melihat anak laki-laki dengan penampilan serba putih di hadapannya nampak begitu santai.
Ia lantas mendekati Astin. Menepuk pundaknya. Kemudian berbisik.
"Bodoh, apa yang sudah kamu lakukan? Bisa-bisanya kamu melakukan duel dengan murid kelas A, seperti Edwin Win'ster."
"Apa kamu ingin terluka dengan serius? Aku tahu kamu selalu membuat ulah, tapi kali ini? Kamu benar-benar membuatku pusing."
Ya, wanita cantik ini merupakan instruktur yang menjadi pembimbing di kelas Astin. Dia selalu membantu murid badungnya ini setiap kali mendapat masalah.
Dan sekarang? Dia benar-benar dibuat terkejut. Tanpa sepengetahuan, muridnya yang merupakan peringkat terbawah dari kelas 'E ini,
Tiba-tiba nekat melakukan pertandingan dengan murid peringkat teratas dari kelas A, yang merupakan kelas unggulan dari semua angkatan tahun pertama.
Astin terdiam sejenak, menanggapi kekhawatiran dari Instrukturnya ini.
Kemudian ia menjawabnya dengan tenang.
"Instruktur Sillvestia. Anda tidak perlu khawatir, aku sudah memiliki persiapan untuk memenangkan pertarungan ini."
Sillvestia sedikit memundurkan langkah, untuk melihat wajah tak berdosa muridnya ini.
"Apa kamu akan melakukan sesuatu lagi?"
Ya, tidak heran jika dia mengetahui. Beberapa kali dia memergoki Astin melakukan sesuatu dengan artefak yang ia selundupkan.
Dan beberapa kali juga dia terkena masalah sebab kelakuan muridnya ini. Sillvestia merasa lega, sebab akhir-akhir ini Astin tidak berbuat ulah,
Kecuali keluhan dari beberapa siswa, yang tunangan atau kekasihnya tertarik dengan Astin. Tetapi sekarang? Dia malah ingin melakukan sesuatu yang lebih bermasalah.
"Aku akan mengatakan hal ini hanya untuk peringatan. Berbeda dengan pertandingan biasa. Turnamen academy akan dihadiri oleh tokoh-tokoh ternama dari berbagai kerajaan serta guild besar."
"Jadi aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat masa depanmu hancur."
Astin tahu betul akan hal itu. Academy pahlawan Hygea merupakan sekolah yang berskala internasional. Sudah jelas semua perhatian dunia akan tertuju pada turnamen ini untuk mencari generasi-generasi berbakat.
Mereka akan menilai dan mengawasi murid yang dirasa memiliki cukup kemampuan, untuk mereka rekrut saat lulus nanti.
Tetapi Astin yang memiliki pengetahuan jauh di masa depan, memilih untuk bergerak di jalannya sendiri, tanpa harus terikat oleh sistem pemerintahan maupun organisasi manapun.
"Aku akan mengingat perkataan instruktur."
"Haah... Baiklah. Dan satu hal lagi, jangan terlalu memaksakan diri. Jika dirasa sudah tidak mampu, lebih baik segera mundur."
"Dan jangan lupa pakai artefak perlindungan dengan benar. Aku tidak mau sampai melihat kamu terluka parah."
Astin hanya mengangguk. Kemudian membungkuk, saat instrukturnya beranjak dari ruang tunggu. Dan sekali lagi tatapan tidak menyenangkan begitu menusuk diri.
Sepertinya beberapa siswa di ruang ini ada yang menyukai instruktur Sillvestia.
...Bersambung....
...Restia Lynn Florencia. Pinterest....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Atuk
⭐⭐⭐⭐⭐
2024-11-09
0
Bilqies
3 bab dulu ya Thor, nanti lanjut lagi 🥰🥰
2024-08-05
1
Bilqies
apa Astin berusaha menyembunyikan statusnya dari orang orang thor
2024-08-05
1