Puas belanja, makan dan nonton. Bara dan Elea memutuskan kembali ke hotel, saat mereka keluar hari sudah berganti menjadi gelap. Saat diperjalanan pulang perut Elea berbunyi, membuatnya malu sendiri beruntung Bara tak mendengar tapi entahlah semoga Bara tak dengar.
"Kamu lapar, El." Celetuk Bara, membuat Elea malu bukan main.
"Iya," jawab Elea pelan, pasalnya makanan di restoran sangatlah sedikit tapi harganya mahal. Beruntung makanannya enak, jika tidak bisa dipastikan Elea sudah protes.
"Ya sudah, kita makan di tenda di pinggir jalan saja." Ajak Bara, Elea hanya mengangguk sebagai jawaban.
Bara mengajak Elea makan di tempat langganannya, jika dia keluar malam.
"Pak pesan yang biasa," kata Bara.
"Baik mas, wahh datang sama siapa, ini mas? Cantik banget," puji si bapak penjual.
"Istri." Jawab Bara tersenyum, Elea senang karena Bara mengakui dirinya.
"Wahh, ternyata istrinya toh! Kapan menikahnya?"
"Kami pengantin baru, pak." Sahut Bara, sambil membuat makanan si bapak sesekali bertanya pada Bara dan Elea.
Elea adalah yang pertama diajak makan seperti ini, jika Tiana. Dia akan selalu menolak dengan seribu alasan, berpuluh menit kemudian. Makanan sudah dihidangkan di depan mata. Rasanya Elea tak sabar ingin mencocolkan ayam bakarnya, kedalam sambal yang kelihatannya enak.
Dan benar saja, saat suapan pertama rasa sambal yang sempurna membuatnya jatuh cinta.
"Enak," puji Elea.
"Kalo kamu suka, nambah lagi boleh." Kata Bara, melihat Elea makan dengan lahap.
Sederhana saja kebahagiaan bagi Elea tak selalu mewah, dia menemukan makanan enak saja sudah berbinar seperti ini.
"Kenapa liatin, aku? Gak akan kenyang," celetuk Elea, membuat Bata tertawa.
"Iyaa, aku tahu liatin kamu gak akan kenyang. Ketagihan soalnya," bisik Bara.
"Ihh apaan sih." Elea tersipu malu dan salah tingkah.
Bara memfoto Elea dan mengunggahnya, bukan untuk memanasi Tiana. Dia hanya sedang bahagia saja.
****
Sementara itu Tiana, yang melihat status Bara semakin murka. Ingin rasanya dia datang dan menarik Bara sejauh mungkin, Tiana berteriak sekencangnya dan melampiaskan kemarahannya pada benda disekitarnya.
Mala yang lewat depan kamar sang anak, jelas terkejut saat mendengar suara pecahan dari kamar sang anak.
"Tiana, nak. Apa yang terjadi sayang? Buka pintunya," pinta Mala, dia mencoba membuka pintu kamar sang anak. Namun, terkunci dari dalam.
"Enggak, aku gak mau buka pintu. Aku benci mama, aku benci papa," teriak Tiana, dia melempar parfum mahal miliknya ke arah cermin yang ada di hadapannya.
Prank!
Membuat Mala semakin panik.
"Tiana, mama mohon. Jangan lakukan hal bodoh, Tiana. Ayo bukan pintunya sayang," mohon Mala.
"Nyonya, ini kuncinya." Dori menyerahkan kunci cadangan pada Mala, sedangkan yang lain memberitahu Bima yang berada di ruang kerjanya.
Pintu terbuka, membuat Mala berteriak histeris.
"Tiana," teriak Mala, saat mendapati tangan sang anak mengeluarkan banyak darah.
Bima pun tak kalah terkejutnya, saat mendengar teriakan sang istri dan mendapati Tiana yang terluka.
"Tiana, apa yang terjadi?" tanya Bima.
"Cepat bawa ke rumah sakit, bukan saatnya mencari tahu." Sela Mala, Bima pun menurut. Walau tenaganya tak sekuat dulu, dia masih sanggup untuk menggendong anaknya.
"Siapkan mobil," perintah Bima, Mala mengekor di belakangnya.
Mobil melaju dengan kecepatan penuh, beruntung jalanan tidak macet. Dan mereka tak terlalu lama menunggu di jalan.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit yang tak jauh dari rumah mereka. Tiana langsung ditangani oleh dokter yang bertugas.
"Kami membutuhkan darah, golongan darahnya A." Kata suster.
"Ambil darah saya saja, sus." Sahut Bima.
"Baik tuan, ikut saya."
Bima pun mengikuti langkah suster, sementara Mala terus berdoa agar sang anak selamat dan baik-baik saja.
"Ini semua salah kamu, mas. Kenapa kamu selalu mengedepankan kebahagiaan anak pelakor itu," kesal Mala, dalam hati dia bersumpah untuk membuat Elea menderita jika terjadi sesuatu pada Tiana.
****
Kembali ke pengantin baru, yang sudah sampai kembali di hotel.
"Huh! Aku lelah," kata Elea, merebahkan tubuhnya. Apalagi dia tadi makan dua porsi, rasanya malu sekali tapi tidak apa-apa dia bukan tipe gemuk.
"Aku dulu atau kamu dulu yang, mandi?tau mau bareng?" goda Bara.
"Nggak kamu duluan saja," sela Elea menggeleng pelan. Bara hanya tersenyum melihat tingkah Elea, yang jelas berbeda dengan Tiana yang manja dan juga serba ingin dilayani.
"Bara, saya mohon datanglah ke rumah sakit. Tiana dirawat dirumah sakit."
Satu pesan muncul dari Mala, Elea membacanya sekilas. Awalnya dia terkejut, karena Tiana masuk rumah sakit. Tapi dia pun mulai tak mempedulikan Tiana, Elea menatap pintu kamar mandi juga ponsel milik Bara. Ingin rasanya dia menghapus pesan Mala.
"Bara suamiku, aku berhak atas dia." Gumam Elea, dia memutuskan untuk menghapus pesan Mala. Malam ini adalah malam pertamanya, Bara miliknya bukan milik Tatiana.
Bersambung...
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Uthie
Bagus Elea 👍😏
2024-09-29
1
Siti Aisyah Aisyah
lanjut
2024-05-25
1
merry jen
berhrp bgtt darahh bimaa SM tianaa gk ccokk dechh biar Bima nyesall UD jht SM leaa
2024-05-25
2