Bab.19

Bara suamiku, aku berhak atas dia." Gumam Elea, dia memutuskan untuk menghapus pesan Mala. Malam ini adalah malam pertamanya, Bara miliknya bukan milik Tatiana.

Elea memejamkan matanya, dia lebih memilih duduk di balkon kamar hotel. Menatap keindahan kota dimalam hari.

"Dia milikku, dia milikku. Biar lah aku egois untuk saat ini," gumam Elea.

Bara sendiri sudah selesai dengan ritual mandinya, dia menatap Elea yang sedang duduk di balkon sambil melamun.

"Sayang, kenapa di luar? Ada apa, apa ada masalah?" tanya Bara, dia hanya mengenakan celana pendek saja. Membuat Elea menelan ludah saat melihat tubuh Bara, tubuh yang dimana memiliki abs atau roti sobek yang terpahat indah.

"Astagfirullah, kuatkan hamba ya Tuhan." Gumam Elea, memalingkan wajah.

"Kenapa sayang?" tanya Bara, karena Elea tak menjawab malah memalingkan wajahnya. Panggilan sayang dari Bara, membuatnya merona dan jantungnya berdebar dengan cepat.

"Tidak ada," bohon Elea, walau dalam hati dia merasa tak enak karena Tiana ada di rumah sakit. Sedangkan dia bersenang-senang dengan Bara.

"Kamu harus bisa tega, Elea. Jangan selalu merasa kasihan," batin Elea dengan yakin.

Bara ikut duduk disebelah Elea, dan mendekap erat tubuhnya. Hawa dingin langsung bisa Elea rasakan, jangan lupakan Bara juga sangat wangi. Elea sangat heran dan masih menjadi misteri, entah mengapa kalau lelaki mandi wanginya selalu semerbak.

"Astaga jantungku, gak aman." Lagi-lagi Elea bicara dalam hati.

Bara mulai melancarkan aksinya, mencium pipi Elea begitu lama.

"Ba-Bara, aku ... Anu aku, mau mandi dulu." Ucap Elea dengan gugup.

"Tidak usah mandi, udah malam. Kamu tetap wangi El," kata Bara, kini Bara mencium belakang leher Elea tak lupa tangannya sudah bermain kemana-mana.

"Bara." Lirih Elea mulai terangsang.

"Ayo kita masuk, atau mau coba disini?" goda Bara, dengan cepat Elea menggeleng. 

"Engga, kalo ada yang lihat gimana? Kan gak lucu," omel Elea membuat Bara tertawa, siapa pula yang akan melihat mereka. Jika ada yang melihat pun, itu mungkin rezeki mereka.

"Baiklah, ayo kedalam." Ajak Bara, Elea pun menurut mengikuti Bara. Gugup jelas saja, ini pengalaman pertama mereka melakukan secara sadar.

Elea sudah ada dalam kungkungan Bara, dengan intens Bara menatap lekat wajah sang istri.

"Kenapa melihatku? Apa kamu membayangkan, Tiana?" tanya Elea walau hatinya dag dig dug, tapi dia mencoba untuk tenang.

"Engga, kata siapa? Sotoy," cibir Bara, dia mulai melakukan aksinya mencium bibir merah Elea yang sejak tadi terus menggodanya.

Elea memejamkan matanya, saat mereka sudah tak memakai pakaian sama sekali. Elea malu sungguh malu.

"Buka mata mu, Elea." Titah Bara.

"Aku malu, Bara." Jawabnya.

"Buka matamu dan lihatlah aku, lihat cinta yang ada dalam mataku." Ujar Bara, Elea membuka mata perlahan dan pandangannya beradu dengan Bara. Yang begitu mempesona.

Elea memberanikan diri meraba abs Bara, membuat Bara tersenyum.

"Ya Tuhan," batin Elea merasa merinding.

"Kamu suka?" bisiknya, kini Bara tengah bersiap memasukan adik kecilnya.

Elea menahan nafas saat milik Bara masuk, dulu rasa sakit itu ada. Tapi sekarang Bata menepati janjinya, memperlakukan dirinya dengan lembut.

****

Sementara pengantin baru menikmati malam mereka, berbeda dengan Tiana yang sedang di antara hidup dan mati. Setelah Bima mendonorkan darahnya, Tiana dinyatakan kritis. Karena semangat hidup yang dia miliki sangatlah kecil, di alam bawah sadarnya. Tiana enggan untuk membuka mata.

Mala yang mendengar kondisi sang anak sangatlah terpukul, dia menangis di depan ruangan ICU.

"Tiana," lirih Mala.

"Maafkan mama sayang, maafkan mama. Mama gak bisa jaga kamu," isak Mala.

Bima mengelus lengan sang istri. Namun, buru-buru menepis tangan sang suami dengan kasar.

"Puas kamu sekarang, puas sudah buat anak kamu seperti itu, hah?" pekik Mala tertahan, tidak mungkin dia membuat keributan dirumah sakit.

"Mala..."

"Pergi, pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu," sela Mala.

Bima menghela nafas dengan pelan, dia memutuskan untuk menjaga jarak dengan Mala. Tidak mungkin juga, dia meninggalkan Mala dan Tiana.

Kembali ke pengantin baru.

Elea menatap Bara yang memejamkan mata, dia merasa malu saat mengingat percintaannya barusan. Dimana dia sangat menikmati berada diatas Bara.

"Mungkin, aku akan menyukai saat kamu ada diatas." Celetuk Bara, membuat Elea membulatkan mata. Dan mencubit pelan perutnya.

"Apaan sih," kesal Elea.

"Apaan sih, apaan sih. Tapi enak, kan? Kamu mudah keluar jika diatas." Bisik Bara dan semakin Elea merona.

"Sudah ahh, jangan dibahas aku malu." 

"Iya, iya. Sini aku peluk." Bara membawa Elea kedalam pelukannya, Bara pun mulai merasakan kantuk. Begitulah lelaki jika sudah melakukannya akan mudah mengantuk.

Keesokan harinya, seperti biasa Elea bangun terlebih dulu. Semalam tidurnya begitu nyenyak apalagi Bara memeluknya, sampai-sampai dia bangun agak telat.

Elea memutuskan untuk mandi lebih dulu, dan memilih memakai pakaian yang kemarin dibeli. Karena semalam sudah di laundry dan kering cepat.

Saat sedang mengeringkan rambut, Bara datang dan memeluk Elea. Dia bertelanjang dada dah hanya memakai boxer saja.

"Kamu wangi, El." Bara menghirup aroma tubuh istrinya.

"Aku kan udah mandi," kekeh Elea. "cepat mandi, aku sudah lapar."

"Baiklah." Bara mencuri satu kecupan di pipi Elea.

"Dasar." 

Tiba-tiba Elea teringat akan Tiana, bagaimana keadaannya dia sekarang?

"Kenapa aku mengkhawatirkannya? Harusnya aku senangkan," gumamnya.

Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah turun dan memutuskan untuk sarapan di luar hotel. Sekalian menghirup udara dipagi hari, beruntung penjual makanan cukup dekat dengan hotel.

"Mau pesan apa?"

"Mmm, apa yah?" Elea melihat sekeliling, terlalu banyak penjual makanan membuatnya bingung dan ingin semua.

"Gimana kalau kita sarapan bubur ayam, kamu mau kan?" tanya Bara.

"Boleh deh, aku pesan bubur sama yang lainnya boleh?"

"Boleh, apapun yang kamu mau. Kamu boleh memesannya," kata Bara, membuat Elea tersenyum.

Disisi lain, Adrian menatap pemandangan kota dari balkon kamar hotel yang disewa. Dia jadi memikirkan gadis yang datang ke acara pernikahan Elea dan Bara.

Entah mengapa di sudut hatinya yang lain, ada rasa tak rela. Melihat Elea dan Bara bersama, setidaknya dia tahu bagaimana pernikahan mereka berdua sebelum seperti saat ini.

"Aku janji Elea, jika kamu tidak bahagia. Maka, aku akan merebutmu dari Bara." Ucap Adrian dalam hati, dia menikmati kopi panas, berbagai macam kue, juga nasi goreng yang diantar oleh petugas hotel.

Jika Adrian tahu Bara dan Elea sedang sarapan di luar, maka dia akan ikut bersama pasangan pengantin baru.

***

"Tiana, bangun sayang. Mama mohon," lirih Mala, semalam dia tidak tidur dan terus berharap Tatiana bangun.

Nyatanya Tatiana sangat betah di alam sadarnya.

"Apa yang harus aku, lakukan? Apa aku harus membawa Bara, kehadapan Tiana."

Jangankan meminta Bara datang, membalas pesan saja susah apalagi jika di telpon langsung. Bima sendiri, menatap Tiana dari luar ada rasa dilema besar dalam hatinya. Antara membahagiakan Elea atau Tiana.

bersambung...

maaf typo

Terpopuler

Comments

merry jen

merry jen

ternyata tiani ank y bimaa ,,hrs tegass lh Bima kshh Lea lohh dr kcill kmu abaiknn gk di akuii ddlm klurgmuu ,,blm tntuu kn mm y Lea berslhh kmu yg berslhh hrssyy jujurr lhh jgn jdi pengecut jdi Lea jdi korban yaa ,,

2024-05-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab.1
2 Bab.2
3 Bab.3
4 Bab.4
5 Bab.5
6 Bab.6
7 Bab.7
8 Bab.8
9 Bab.9
10 Bab.10
11 Bab.11
12 Bab.12
13 Bab.13
14 Bab.14
15 Bab.15
16 Bab.16
17 Bab.17
18 Bab.18
19 Bab.19
20 Bab.20
21 Bab.21
22 Bab.22
23 Bab.23
24 Bab.24
25 Bab.25
26 Bab.26
27 Bab.27
28 Bab.28
29 Bab.29
30 Bab.30
31 Bab.31
32 Bab.32
33 Bab.33
34 Bab.34
35 Bab.35
36 Bab.36
37 Bab.37
38 Bab.38
39 Bab.39
40 Bab.40
41 Bab.41
42 Bab.42
43 Bab.43
44 Bab.44
45 Bab.45
46 Bab.46
47 Bab.47
48 Bab.48
49 Bab.49
50 Bab.50
51 Bab.51
52 Bab.52
53 Bab.53
54 Bab.54
55 Bab.55
56 Bab.56
57 Bab.57
58 Bab.58
59 Bab.59
60 Bab.60
61 Bab.61
62 Bab.62
63 Bab.63
64 Bab.64
65 Bab.65
66 Bab.66
67 Bab.67
68 Bab 68
69 Bab.69
70 Bab.70
71 Will You Marry Me, Tiana.
72 Tidak Merestui
73 Bab.73
74 Bab.74
75 Bab.75
76 Bab.76
77 Bba.77
78 Bab.78
79 Bab.79
80 Bab.80
81 Bab.81
82 Bab.82
83 Bab.83
84 Bab.84
85 Bab.85
86 Bab.86
87 Rencana Shaka
88 Bab.88
89 Bab.89
90 Bab.90
91 Bab.91
92 Bab.92
93 Bab.93
94 Bab.94
95 Bab.95
96 Bab.96
97 Bab.97
98 Bab.98
99 Bab.99
100 Bab.100
101 Bab.101
102 Bab.102
103 Bab.103
104 Bab.104
105 Bab.105
106 Bab.106
107 Bab.107
108 Bab.108
109 Bab.109
110 Promo karya baru
111 Melamar Ciara
112 Ending
113 Karya Baru
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab.1
2
Bab.2
3
Bab.3
4
Bab.4
5
Bab.5
6
Bab.6
7
Bab.7
8
Bab.8
9
Bab.9
10
Bab.10
11
Bab.11
12
Bab.12
13
Bab.13
14
Bab.14
15
Bab.15
16
Bab.16
17
Bab.17
18
Bab.18
19
Bab.19
20
Bab.20
21
Bab.21
22
Bab.22
23
Bab.23
24
Bab.24
25
Bab.25
26
Bab.26
27
Bab.27
28
Bab.28
29
Bab.29
30
Bab.30
31
Bab.31
32
Bab.32
33
Bab.33
34
Bab.34
35
Bab.35
36
Bab.36
37
Bab.37
38
Bab.38
39
Bab.39
40
Bab.40
41
Bab.41
42
Bab.42
43
Bab.43
44
Bab.44
45
Bab.45
46
Bab.46
47
Bab.47
48
Bab.48
49
Bab.49
50
Bab.50
51
Bab.51
52
Bab.52
53
Bab.53
54
Bab.54
55
Bab.55
56
Bab.56
57
Bab.57
58
Bab.58
59
Bab.59
60
Bab.60
61
Bab.61
62
Bab.62
63
Bab.63
64
Bab.64
65
Bab.65
66
Bab.66
67
Bab.67
68
Bab 68
69
Bab.69
70
Bab.70
71
Will You Marry Me, Tiana.
72
Tidak Merestui
73
Bab.73
74
Bab.74
75
Bab.75
76
Bab.76
77
Bba.77
78
Bab.78
79
Bab.79
80
Bab.80
81
Bab.81
82
Bab.82
83
Bab.83
84
Bab.84
85
Bab.85
86
Bab.86
87
Rencana Shaka
88
Bab.88
89
Bab.89
90
Bab.90
91
Bab.91
92
Bab.92
93
Bab.93
94
Bab.94
95
Bab.95
96
Bab.96
97
Bab.97
98
Bab.98
99
Bab.99
100
Bab.100
101
Bab.101
102
Bab.102
103
Bab.103
104
Bab.104
105
Bab.105
106
Bab.106
107
Bab.107
108
Bab.108
109
Bab.109
110
Promo karya baru
111
Melamar Ciara
112
Ending
113
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!