Semoga suka
Selamat membaca 🌺
Tiana pulang kerumah dengan perasaan hancur, saat sampai di depan pintu rumahnya. Dia mendengar suara Mala dan Bima yang sedang bertengkar.
"Harusnya, mas. Mikirin dong, rekan kerjamu banyak yang bertanya. Siapa Elea? Lalu akan kamu jawab, apa mas?" tanya Mala, Tiana memutuskan untuk mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya.
Dia sudah terbiasa dengan itu semua, bahkan dulu saat kecil. Dia pernah dibawa pergi jauh oleh Mala, dengan berbagai alasan sekarang dia sudah besar dan sudah mengerti.
"Aku akan jujur," balas Bima.
"Jujur?" Mala tertawa dengan jawaban Bima, saat di pernikahan Bara tadi. Mereka diam karena menghormati Bara yang memang disegani.
"Jujur, jika kamu pernah berselingkuh begitu,hah?" teriak Mala.
"Sudahlah Mala, aku merasa sangat berdosa pada. Elea, sedari kecil dia aku abaikan." Bima berusaha membujuk Mala, agar mengerti dan memahami dirinya bersyukur Mala bisa menerima Elea.
"Itu resiko, Bima. Resiko Elea menjadi anak dari pelakor!" tegas Mala.
"Iya, itu adalah resiko dirinya. Siapa suruh jadi anak pelakor," celetuk Tiana, dengan penampilan yang berantakan. Tiana masuk dan ikut masuk kedalam pembicaraan kedua orang tuanya.
"Tiana, kamu dari mana sayang?" tanya Bima.
"Bukan urusanmu," ketusnya. "papa lebih sayang anak itu, daripada aku. Kenapa papa menyetujui Bara dan Elea?"
Tiana berteriak di depan Bima, Mala sendiri berusaha untuk menenangkan sang anak.
"Maafkan papa, Tiana. Papa mohon kamu mengerti nak! Elea sudah banyak mengalami kesusahan, dari kecil dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Selayaknya kamu dan Tristan," tutur Bima, dengan wajah sendu.
"Cih, aku gak peduli. Anak pelakor itu akan tetap sengsara, sekalipun dia menikah dengan Bara. Karena Bara adalah milikku papa, milikku!" ucap Tiana dengan penuh ketegasan.
"Tiana," panggil Bima, yang melihat Tiana pergi begitu saja.
"Tiana papa mohon, nak!"
"Sudah lah, mas. Bagaimanapun kamu membujuknya, Tiana tidak akan mudah luluh. Dia akan melakukan berbagai macam cara, untuk mendapatkan apa yang dia mau." Setelah berbicara, Mala pergi meninggalkan Bima sendiri diruang tamu.
Bima menghela nafas dengan pelan, keputusannya menikahkan dan memberi restu Elea dan Bara sudah benar. Biarlah dia yang menanggung dosa dimasa lalu, dia hanya ingin Elea bahagia.
***
Sementara itu di kamar hotel, Bara dan Elea memutuskan untuk berjalan-jalan sore. Bara ingin merasakan seperti anak muda kebanyakan.
Kehidupan masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja, saat putih abu. Dia sudah mulai bekerja dengan Bima, karena sang ayah yang memang sering sakit-sakitan. Kemudian dia kuliah dan mendapatkan beasiswa, jadi tak ada waktu berkencan atau berpacaran.
Dengan Tiana pun, entah apa status mereka. Pacaran pun hanya terucap spontan oleh Tiana, sedangkan Bara hanya tersenyum saja.
"Kita naik motor, mau?" tanya Bara.
"Mau," jawab Elea.
"Biar romantis." Kekeh Bara, dia memakaikan helm untuk Elea. Dia sengaja memakai motor agar lebih dekat dengan Elea.
Bara menarik tangan Elea, agar melingkarkan di perutnya. Membuat Elea mengulum senyum, sebenarnya dia ragu ingin memeluk Bara. Tapi suaminya sendiri yang menarik tangannya untuk dipeluk, cuaca sore itu cerah seolah alam mendukung rencana mereka.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di salah satu mall ternama di daerah tersebut. Bara mengajak Elea untuk menonton film yang sedang tayang, sebelum film dimulai. Dia membawa Elea belanja keperluannya.
"Ini ... Ini sangat mahal, Bara. Nanti uangmu habis," bisik Elea, saat melihat harga satu dress rumahan yang cantik.
"Sayang, uang suami mu ini banyak. Jadi gak masalah buat ku, kamu beli baju yang harganya segitu. Kalau perlu, kamu borong semua yang ada disini. Gimana, mau gak?" tanya Bara, dengan cepat Elea menggeleng enggan menjadi istri yang boros.
Dia hanya mengambil dua potong dress rumahan, tak lupa membeli dua buah lingerie berwarna hitam. Warna kesukaan Bara, Bara pun memasukan piyama tidur dan baju lainnya.
Saat membayar belanjaannya, Elea membulatkan matanya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat nominal semua baju yang dia beli.
"Bara, ini ... Ini gak salah," bisik Elea.
"Nggak, kamu tenang aja yah!" Bara tersenyum pada Elea, Bara sendiri mengeluarkan kartu sakti miliknya sendiri. Sebenarnya Bima setiap bulan selalu memberikan uang untuk Elea, lewat kartu miliknya yang lain. Tapi kemarin Bima memberikan black card untuk Elea.
***
"Bara, berikan ini pada Elea. Papa tau dia pasti akan menolak jika papa yang memberikannya, karena Elea tipe anak yang tidak enakan." Kata Bima waktu itu, bahkan Bima sudah meminta Bara memanggil papa atau ayah.
"Tapi, pa. Apa nyonya Mala tidak akan marah?" tanya Bima khawatir.
"Tidak, kamu tenang saja. Dia tidak tahu Bara, ini semua adalah hak Elea. Hak dia saat aku mengabaikannya," ujar Bima menatap kosong, rasa bersalah selalu menghantui dirinya.
"Terimalah Bara, papa mohon." Bima menangkupkan kedua tangannya, memohon kepada sang menantu. Sedangkan Bara menatap kartu hitam ditangannya.
Setidaknya disisa hidupnya dia bisa membahagiakan sang anak, dia juga akan berusaha membuat Mala tak membenci Elea. Bagaimanapun dia yang bersalah, dia tak menjaga pandangan dan hatinya. Bara pun menerima kartu tersebut, demi Elea.
****
Lamunan Bara buyar saat Elea menyentuh lengannya, setelah selesai membeli baju. Bara juga menarik Elea ke salah satu toko sepatu dengan merek ternama.
"Bara, sudah besok lagi saja. Sayang loh uangnya," tolak Elea.
"Tidak apa-apa Elea, kamu tenang saja ya!"
Dengan terpaksa Elea mengikuti langkah Bara, yang sangat antusias.
"Tuan Bima tenang saja, aku akan memberikan hak Elea. Aku akan membahagiakan Elea dengan usahaku," batin Bara, dia tak menggunakan uang pemberian Bima. Walau Bima memaksa, dia lebih senang memberikan Elea dengan uangnya sendiri.
bersambung...
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
merry jen
ternyta bara dluu y krjj SM ppy leaa bukn org yg pyn perusahaan sndrii beratii bara nkhinn ank boss ,,tp syg ank bos di abaiknn dan di anggap gk di akuiinn
2024-05-25
0
Cookies
lanjut thor
2024-05-24
0