Satu bulan berlalu, pernikahan Elea dan Bara tak ada perubahan sama sekali. Karena Bara jarang datang ke apartemen yang dia sewa, Elea juga terlihat lebih gemuk dan wajahnya lebih segar, walau Bara tak datang. Tapi lelaki itu selalu memberikan keperluan untuk Elea, yang dikirim melalui ojek online atau suruhan Bara.
Apakah, Elea merindukan Bara? Jawabannya tentu saja tidak, Elea tidak merindukan Bara dia tak ingin tahu apapun tentang Bara. Demi menjaga kewarasannya, tapi disaat jam-jam tertentu dia selalu merasakan sepi dan juga kehampaan hati. Menyalahkan takdir yang selalu tak berpihak padanya.
"Jangan melamun, entar kesambet setan loh!" celetuk Adrian, membuat Elea mendelik ke arahnya.
"Cih, mana ada setan." Gumamnya. Namun, masih terdengar jelas oleh Adrian yang tersenyum manis.
Merasa risih di perhatikan, Elea menatap tajam Adrian. Bukannya takut, Adrian malah tersenyum begitu sangat manis.
"Kamu kenapa, sih? Kesambet?" tanya Elea dengan ketus.
"Gak papa kok, cuma penasaran aja sama kamu. Tiap hari selalu didalam, emang gak bosan?"
"Engga, aku betah disini. Memang kenapa? Bukan urusanmu kan," kesal Elea, menurutnya laki-laki di depannya ini terlalu ingin tahu tentang dirinya.
"Oke baiklah, lupakan. Kalau gitu kamu mau ikut aku gak?" tanya Adrian.
"Engga, makasih,"
Adrian membuang nafas dengan kasar, dia hanya ingin berteman dengan Elea. Bukan apa-apa, pasalnya dia pernah memergoki Elea menangis dan menatap kosong ke depan. Elea melihat Adrian yang sudah masuk, membuat Elea lega karena tak ada yang mengganggunya.
Saat akan menyandarkan punggungnya, bel apartemen berbunyi juga suara ketukan membuat Elea bergegas melangkah ke arah pintu.
"Sebentar," teriak Elea.
Adrian tersenyum manis saat pintu terbuka, membuat Elea mendelik dan menghembuskan nafasnya dengan pelan.
"Ngapain kamu, kesini?" tanyanya tak suka.
"Hanya ingin mengunjungi tetangga, memang gak boleh?" bukannya menjawab, Adrian malah balik bertanya.
"Gak sopan, membiarkan tamu berdiri terus. Aku juga pegal bawa ini," Adrian memperlihatkan bawaan, yang memang lumayan berat isinya.
Dengan terpaksa Elea mengizinkan Adrian masuk, dia tak menutup pintu sepenuhnya. Karena bagaimanapun juga, dia adalah istri orang.
"Terima kasih," ucap Adrian, membuat Elea memutar bola mata malas.
Adrian duduk di ruang tamu yang sangat nyaman, nuansa biru mendominasi ruangan tersebut. Elea datang dengan kopi kemasan, yang memang sudah ada di kulkas.
"Tuan Bara, nona Elea kedatangan tamu laki-laki." Lapor seseorang yang mengawasi Elea.
Namun, Bara mengabaikan pesan yang dikirim anak buahnya. Dia asik bersama Tatiana di sebuah mall terkenal di kota tersebut.
"Bara," panggil Tiana.
"Ada apa?" Dengan Tatiana, Bara tersenyum manis. Tapi dengan Elea jangankan tersenyum sikapnya pun datar dan dingin.
"Kapan kamu bercerai?"
"Sabar, aku harus memastikan dia tak hamil. Karena aku tidak ingin terikat dengannya, suatu saat nanti setelah kami berpisah." Papar Bara menatap serius Tatiana.
Dalam hati Tiana mengumpat dengan kebodohan Elea, dia selalu bertanya-tanya mengapa jadi Bara yang menghabiskan malam dengan Elea.
"Tiana," panggil Bara lembut.
"Kamu harus percaya sama aku, aku gak akan pernah berpaling sama dia. Aku hanya mencintai mu, Tiana." Jelas Bara, mengusap pipi Tiana dengan lembut membuat Tiana memejamkan mata. Merasakan kehangatan sampai kedalam hatinya.
Bara menatap lekat Tiana saat gadis tersebut memejamkan mata. Namun, dia malah teringat akan Elea. Sudah hampir satu minggu atau lebih dia tak mengunjungi Elea.
"Kenapa?" tanya Tiana, membuyarkan lamunan Bara.
"Tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan cicilan." Kekeh Bara, dia tidak ingin menyakiti Tiana lebih dalam. Namun, dia tak sadar sudah menyakiti hati gadis lain.
***
Kembali ke Elea, hampir jam makan siang Adrian masih ada di apartemen Elea. Elea mulai terbuka dan banyak bicara dengan Adrian, dia serasa memiliki kakak laki-laki juga teman bicara. Ternyata tidak terlalu buruk, berbicara dengan Adrian.
Suara perut Adrian yang berbunyi membuatnya malu dan salah tingkah, dia menatap Elea dan tersenyum.
"Lapar," celetuk Adrian.
"Ya sudah aku masak dulu, kita makan siang bareng." Ujar Elea, sebab dia merasa senang jika makan siang ditemani.
Rencananya Elea akan memasak menu yang simpel dan cepat, karena tak ingin Adrian menunggu lama. Dia memutuskan untuk membuat nasi goreng spesial, beruntung sisa nasi masih banyak.
Adrian memperhatikan Elea yang sangat cekatan mengulek bumbu dalam ulekan, Adrian merasa heran, di saat para gadis ingin menggunakan yang instan. Tapi Elea melakukannya secara manual.
"Idaman gue banget," gumamnya dengan pelan.
Suara desisan bumbu yang beradu dengan minyak panas, sudah terdengar dan semerbak aroma harum tercium ke setiap penjuru apartemen.
"Aduh aku gak sabar loh!"
Elea tersenyum dan menggeleng, lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Apa perlu bantuan?"
"Tidak perlu," tolaknya.
Adrian berdecak dan kembali duduk, lalu dia berkata. "Gini-gini juga, aku bisa masak El. Masakan aku enak loh!"
Dengan bangga Adrian memamerkan keahliannya dalam hal tata boga, terbukti dari hasil roti dan kue buatannya sangat enak.
"Iyain aja deh," sahut Elea, dan sukses membuat Adrian tertawa dengan keras. Mungkin sampai ke telinga orang suruhan Bara.
Beberapa menit kemudian, dua porsi nasi goreng sudah dihidangkan di meja makan. Tadi Adrian meminta ditambah dengan telur mata sapi, dengan alasan teringat akan mendiang sang ibu yang sudah lebih dulu pergi.
"Emm ... Enak sekali," puji Adrian.
"Bohong banget sih," balas Elea.
"Astaga El, kamu gak percaya? Nih coba." Adrian menyuapkan satu sendok nasi goreng miliknya.
"Adrian," geram Elea dengan kesal.
"Maaf, maaf." Kekehnya tanpa rasa bersalah, pasalnya Adrian menyuapi Elea satu sendok penuh dan di matanya merasa lucu saat melihat pipi Elea menggembung karena makanan.
Acara makan siang pun selesai, Adrian berpamit untuk pulang setelah selesai membantu Elea membereskan meja dan peralatan bekas makan.
"Terima kasih makan siangnya, El." Ucap Adrian tersenyum manis.
Elea hanya mengangguk dan tersenyum tipis, dia mengantar Adrian ke depan pintu. Setelah Adrian tak terlihat lagi, Elea menatap lelaki berpakaian hitam yang sedang berdiri tak jauh dari apartemennya. Elea tahu, bahwa lelaki tersebut adalah suruhan Bara.
"Pergilah, jangan pernah mengawasi ku." Titah Elea, menghampiri anak buah Bara.
"Saya akan pergi, jika tuan Bara yang meminta." Balas bodyguard tersebut.
"Terserah."
Elea berbalik badan, dan menutup pintu dengan kencang. Kesal karena dia seperti tawanan Bara.
***
Bara yang baru pulang dari mall, membaca pesan dari anak buahnya bernama Nino. Dia juga membuka gambar yang dikirim Nino.
"Berani sekali dia," desis Bara.
Tak peduli tubuhnya merasa lelah, Bara memutuskan untuk menemui Elea sore ini juga. Dia akan memberikan hukuman pada Elea, karena sudah berani memasukan lelaki ke dalam apartemen yang ditempati.
Tiana yang akan mengambil minuman, melihat Bara yang berjalan dengan tergesa.
"Bara," panggil Tiana.
"Bara, kamu mau kemana?" teriak Tiana. Namun, Bara tak mendengar panggilan Tiana.
"Bara." Pekik Tiana.
bersambung...
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Virna Vaina Voona
dih dih dih dasar bara bere 🤨😠
2024-09-20
0
merry jen
lagi lgii egoiss dr pihkk lki lkii dia bolhh pynn pcr pdhl sstss dh nkhh SM ajj kn nghisntin elea giliran cwee mskkin lki lkii itu pun mksa ud ksh hukumnn ajjj ,,bara seblm nyesall kmu LBH baik putusin pcrrmuu atau ceraiin istrmuu jgnn serskhh jdi lkiii
2024-05-12
0
Mochi 🐣
cemburu nih si Bara 😜😀
2024-05-11
0