Secara sadar Elea memberikan kesempatan kedua pada Bara, dia hanya ingin anak yang ada dalam kandungannya merasakan kasih sayang seorang ayah sama sepertinya dulu. Elea mendorong dada Bara, agar menjauh darinya.
"Sudah nanti kamu minta lebih," kesal Elea, pasalnya setelah ini mereka harus kembali ke pelaminan. Untuk menyambut para tamu yang hadir.
Bara tersenyum ke arah Elea dan mengecup keningnya dengan dalam.
"Aku mencintaimu," ucap Bara.
"Ya aku tahu." Balas Elea dengan ketus, walau begitu pipinya terlihat merona. Elea sendiri, belum berani mengungkapkan perasaannya pada Bara.
"Aku gak akan bosan pernah bosan, untuk mengatakan cinta setiap hari padamu." Kata Bara, Elea tersenyum dan mengangguk. Dia percaya bahwa cinta Bara besar untuknya.
Doa Elea hanya satu, yaitu tak akan pernah ada masalah di antara mereka. Ya walau ada kerikil kecil didalamnya, tapi Elea yakin bisa menghadapinya.
Bara pun bersabar karena Elea tak membalas kata cinta darinya, dia tahu butuh waktu untuk meyakinkan Elea kalau dia memang sudah jatuh cinta pada gadis tersebut ehh ralat wanita ya Elea adalah wanitanya.
****
Sementara itu di tempat lain, Tatiana mengusap kasar air matanya. Dia tak terima jika Bara menikahi Elea secara resmi, dia menatap foto Bara dan Elea yang terlihat sangat serasi dan bahagia. Membuat hatinya panas dan iri.
"Harusnya aku, harusnya aku yang disana. Bukan dia, anak pelakor!" geram Tiana, dia melempar ponsel tersebut.
Tiana menangis tersedu, dia benci pada sang ayah yang telah merestui pernikahan Elea dan Bara.
Tiana berjalan keluar dari kamar, dia menatap rumah yang sepi. Biasanya sang ibu sedang bersantai di jam seperti ini, tapi entah kemana ibunya itu.
"Bi, mana mama?" tanya Tiana, seolah lupa bahwa Mala mengatakan akan pergi ke pernikahan Bara dan Elea.
"Nyonya sedang keluar, non. Dia menghadiri resepsi pernikahan Elea dan Bara," jujur bibi.
"Apa?" pekik Tiana, saat mendengar kabar tersebut.
"Mama." Desis Tiana, tanpa kata dia meninggalkan dapur. Membuat bibi menghela nafas dengan pelan, mereka semua memang takut pada Tiana dan Mala. Karena mereka bisa berbuat apa saja, maka dari itu mereka selalu menyuruh Elea ini dan itu. Agar mereka selamat dari amukan Tiana dan Mala.
"Ada apa, Bi?" tanya Dori, kepala pelayan yang mengatur semua kebutuhan dapur.
"Tidak ada," jawabnya datar, walau lebih tua tapi bibi selalu menghormati siapa pun.
Dori mengedikan bahunya acuh, lalu kembali ke kamar untuk bersantai. Karena majikan mereka tak di rumah.
Tiana melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tujuannya satu yaitu tempat resepsi pernikahan Elea dan Bara. Hatinya masih sungguh panas, mengetahui hubungan mereka di publikasikan.
"Kamu sudah tergoda dengannya, kak Bara. Aku benci, aku benci." Gumam Tiana.
Berpuluh menit kemudian, Tiana sudah tiba di hotel tempat resepsi pernikahan Bara dan Elea. Lagi dan lagi, dia menatap benci apa yang dia lihat. Tatapan matanya jatuh pada Mala, dimana ibunya tampak bahagia berbicara dengan ibunya Bara.
"Mama," desis Tiana, dia memutuskan untuk turun dan menghampiri Mala.
"Mama..." Panggil Tiana, membuat Mala dan Widya menoleh.
"Tiana, kamu kenapa kesini?" tanya Mala sedikit gugup.
"Kenapa? Gak boleh? Bukannya Elea juga masih saudara ku, ma." Cibir Tiana, dia menatap Widya yang menunduk lalu menyapanya. Tapi, Tiana tak membalas sapaan tersebut.
"Tiana, ikut mama." Ajak Mala, dan berpamitan pada Widya.
Setelah menjauh, Mala menatap sang anak yang berantakan. Mata sembab, hidung merah, rambut diikat dengan asal. Dia pun menggeleng pelan, melihat penampilan sang anak.
"Tiana, mama..."
"Apa? Jangan bilang mama, sudah membuka hati untuk anak pelakor, itu?" tebak Tiana.
"Engga Tiana, mama hanya memastikan. Papa mu tidak memberikan apa yang seharusnya Elea dapatkan," papar Mala, membuat Tiana menoleh tak mengerti.
"Maksud mama, apa? Memang apa yang akan papa, beri?"
"Harta, mama dengar dari pengacara. Papa mu akan memberikan sebagian hartanya untuk Elea, walau bagaimana pun Elea adalah anak dari papa mu. Tiana," ujar Mala menatap kosong, walau sudah bertahun lamanya. Nyatanya, rasa sakit itu masih lah ada didalam hatinya.
"Engga, aku gak terima. Ma, aku gak rela," seru Tiana, sungguh dia sangat geram dengan sang ayah.
"Makanya, mama harus memastikan papa mu. Gak memberikan itu semua, mama harus terus berada didekat papa mu. Tiana," jelas Mala, membuat Tiana terdiam.
"Baiklah, kalau begitu aku terima alasan mama. Tapi, ingat jika mama bohong aku gak akan pernah maafin mama." Cetus Tiana.
Mala menghembuskan nafasnya dengan pelan, kepercayaan Tiana hilang saat Bima memiliki anak lain selain Tiana. Dari kejauhan, Adrian memperhatikan kedua wanita berbeda generasi tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
bersambung...
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Siti Aisyah Aisyah
ok thor.... smngat trs buat lnjut up ny
2024-05-21
2
AriNovani
nanti aku revisi yah, harusnya Elea gak hamil ini malah hamil aku lupa
2024-05-21
1
AriNovani
Duh Elea kan keguguran 🤦🏼♀️
2024-05-21
1