Bab 19 : - Aldi Babak Belur

Inilah aku sekarang, seorang istri yang telah melepaskan kehormatan tapi bukan untuk suamiku, aku hanya wanita lemah dan tidak berdaya, kuasa ku tidak cukup bergelora menepis nafsu yang menggebu-gebu dari adik iparku, dia telah lepas kendali, menerjangku begitu dalam sampai aku terkulai lunglai.

Aku tidak sanggup membayangkan ketika melihat wajahnya nanti, itu hanya akan menimbulkan trauma berat. Rivano, akal sehat nya sudah mati, kebaikan dalam jiwa nya mungkin juga telah sirna, yang tersisa hanya kegilaan dan keburukan.

Malang sekali hidupku, malang sekali nasib suamiku, adik kandung nya sendiri telah lebih dulu merasakan diriku. Setelah ini, apakah Rivano masih bisa tidur dengan nyenyak?, apa tidak ada rasa bersalah timbul dalam benaknya ketika melihat diriku nanti?.

***

Ditengah rasa perih dan ngilu yang masih terasa dibagian sensitif ku, aku berusaha bangkit, beranjak dari kasur. Bunga-bunga diatas ranjang ini telah berantakan, kondisi ku juga sedang acak-acakan. Aku tidak mau membuat Aldi curiga, sebelum dia kembali, aku harus segera membereskan semuanya kembali seperti semula.

"Aawwhh" rintih ku saat menginjakkan kaki turun dari tempat tidur, aku memegangi area sensitif ku yang terasa berdenyut akibat ulah Rivano. Aku menangis, menyesali diriku, mungkin jika Aldi tidak pergi membeli makanan, ini semua tidak akan terjadi.

Aku berjalan tertatih menuju kamar mandi, membasuh diriku, membersihkan cairan Rivano yang tadi diluncurkan tanpa ampun kedalam diriku, aku berharap dengan membersihkan area ku sampai bersih, semua benih Rivano juga ikut keluar dan tidak menimbulkan efek apa-apa kepadaku. Meskipun rasanya mustahil, tapi aku tetap mencoba, sulit rasanya membayangkan jika pada akhirnya aku harus mengandung benih dari Rivano. Bagaimana jika Aldi dan keluarga nya mengetahui nya?.

Usai membasuh diriku, aku merapikan pakaian dan menyisir rambut. Merapikan kembali sprei yang berantakan dan memungut bunga-bunga yang berjatuhan di lantai, menaburnya kembali keatas ranjang.

***

"Dimana Aldi?, apa yang Rivano lakukan dengan suamiku?, Semoga Aldi baik-baik saja" kata ku, penuh resah karena sudah satu jam sejak Rivano keluar dari kamar ini, Aldi belum juga kembali. Ingin rasanya aku keluar mencarinya, tapi aku tidak tau harus mencari Aldi kemana.

Mondar-mandir didalam kamar sambil menggigit jari, menggambarkan rasa cemas ku, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Sayang!.. tolong.."

Akhirnya Aldi kembali, tapi aku sangat terkejut, wajahnya penuh lebam, matanya bengkak, telapak tangannya memar, di lengannya juga ada luka goresan, Aldi berjalan sempoyongan.

"Astaga, sayang. Kamu kenapa?. Apa yang terjadi?" Aku langsung menopang Aldi, memapahnya sampai kekasur.

"Apa ini perbuatan Rivano?" Lirih ku dalam hati.

"Sayang, maafkan aku, aku tidak bisa membawakan makanan untuk mu. Tadi ada tiga orang preman yang menghadang jalanku" ucap Aldi dengan nafas terengah-engah.

"Tidak apa-apa, sebentar aku ambilkan kain basah untuk membersihkan lukamu" kata ku.

"Kita ke dokter saja ya" ujar ku sambil membaringkan Aldi dan memberi kompres di keningnya, setelah selesai aku membersihkan lukanya, aku takut terjadi infeksi, karena ternyata luka goresan ditangannya cukup dalam.

"Tidak perlu sayang, kamu udah cukup jadi penyembuh luka ku" kata Aldi, masih bisa tersenyum ditengah rasa sakit yang dia alami.

"Tapi sayang, luka dilenganmu sangat dalam. Kita ke dokter ya!" tegas ku, tapi Aldi menggelengkan kepala, pertanda dirinya menolak.

"Tadi, aku tidak tau apa motif preman itu menghadang jalanku. Aku sudah memberikan mereka uang, tapi mereka tidak menerimanya. Awalnya mereka hanya mengikat tangan ku saja, tapi karena aku terus melawan, mereka menghajar ku sampai babak belur begini. Tapi setelah itu, ada seseorang yang menelepon mereka, kemudian mereka pergi begitu saja" jelas Aldi. Seandainya saja Aldi tau, dalang dibalik semua ini adalah adiknya sendiri. Selain merenggut kehormatan ku, Vano juga tega membuat Aldi terluka seperti ini.

"hu.. hu.. hu.. hu.." suara isak tangisku, mengingat perbuatan jahat Vano.

"Elin, kenapa kamu menangis?, aku tidak apa-apa kok. Sebentar lagi luka-luka ini akan pulih karena kamu dokternya" kata Aldi. Tangisku ini bukan hanya tentang luka yang dialami Aldi, tapi semua kepahitan yang sudah aku lalui selama menjadi bagian didalam keluarga Abra.

Aku memeluk Aldi yang sedang terbaring, untuk pertama kalinya aku memberikan pelukan tulus kepada Aldi, suamiku. Dia membalas pelukan ku dengan erat sambil berkata "Sudah jangan menangis, everything will be OK!".

"Aldi, maafkan aku. Mungkin selama ini aku terlalu egois" ucap ku.

"Aku yang seharusnya meminta maaf, aku terlalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan mu"

Tersentuh sekali aku mendengar tutur manis dari Aldi, seandainya saja sejak awal perkawinan kami, dia mau mengerti diriku, pasti aku tidak akan pernah berontak dan menghindar darinya.

Tapi semua sudah terlambat, disaat Aldi bersikap manis dan perasaan cinta mulai tumbuh dalam hati ku untuk Aldi, seseorang telah merusak nya dan membuat semua nya hancur berantakan. Rivano, aku tidak akan pernah memaafkan mu, dari semua anggota keluarga Abra, Vano adalah sosok paling bengis dan berhati iblis.

***

"Aku mau tidur" ucap Aldi, aku mengambilkan nya segelas air putih, kemudian menyelimuti nya agar hangat.

"Mungkin belum malam ini, tapi aku berjanji akan mengganti malam ini dengan malam yang lebih indah di hari berikutnya" Aldi benar-benar berubah, tidak seperti Aldi yang aku kenal diawal pertemuan kami. Sikap arogan dan kasar nya sudah tidak ada lagi, hanya kelembutan hati dan dada yang lapang sekarang memenuhi Aldi.

"Tidurlah yang nyenyak sayang. Aku akan selalu ada disampingmu" ucap ku dengan memberikan senyuman termanis pada Aldi. Dia tersipu, kemudian menarik selimut menutupi wajahnya.

"Aku senang kau tidak menghindar dariku lagi sayang" ucap Aldi.

Sambil berbaring disampingnya, aku menggenggam tangan Aldi, mencoba menenangkan diriku dan fokus hanya pada Aldi saja. Aku berusaha melupakan Rivano dan tingkah keluarga Abra yang lainnya. Sejenak terlintas dibenakku untuk meminta sesuatu pada Aldi.

"Sayang?" Ucapku dengan suara lembut.

"Hmm" Aldi menjawab sambil terpejam.

"Bisa tidak, kita tinggal berdua saja?. Aku takut masih diperlakukan seperti pembantu dirumah Papa" mohon ku. Aldi tiba-tiba membuka mata dan memiringkan kepala melirikku.

"Kan aku udah bilang. Aku akan ngomong ke papa agar mencarikan pembantu baru" kata Aldi.

"Sepertinya akan lebih nyaman jika kita tinggal berdua. Memulai kehidupan baru dan membangun keluarga kecil kita"

"Perlu banyak pertimbangan sayang. Tapi akan aku pikirkan lagi ya. Aku dan Aldo kan kerja diperusahaan papa, jadi papa masih memegang kendali untuk kehidupan anak-anaknya. Karena itu Aldo juga masih tinggal dirumah papa"

"Kalau begitu terus, kapan kita nisa mandiri sayang?. Memangnya kamu tidak bisa tetap bekerja diperusahaan papa, jika kita pindah rumah?" Tanya ku, sedikit bingung dengan alasan Aldi.

"Ya sudah, nanti aku bicarakan dengan papa ya. Sekarang kita tidur dulu ya baby ku" kata Aldi, dia mencolek hidungku tapi kemudian langsung menutupi wajahnya kembali dengan selimut. Selain manis, Aldi juga ternyata humoris.

***

Satu-satunya alasanku memohon kepada Aldi untuk tinggal berdua adalah agar meminimalkan pertemuanku dengan Rivano dan tentu saja agar menjauhkan ku dari bahaya bahaya lain yang bersumber dari anggota keluarga Abra. Untuk saat ini, kelakuan buruk Vano terhadapku akan kusimpan erat-erat sebagai rahasia terbesar, bahkan bila perlu, biarlah keburukan Vano itu menjadi rahasia untuk selamanya, aku tidak mau siapapun mengetahui nya. Doa yang ku panjatkan saat ini adalah, semoga benih yang ditanamkan Vano tidak bertumbuh didalam rahim ku.

Masih banyak ujian yang akan terus menerjang kehidupanku jika aku tetap tinggal dirumah neraka Abra Collin, dengan kata lain, itu sama saja dengan aku menyerahkan diriku hidup-hidup dimakan ular raksasa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!