Bab 3 : - Kaki di Bawah Meja Makan

"Ehh, pengantin baru kita mau ikut makan juga?, kenapa gak langsung kekamar aja?" sambut Jessica Collin, ibu mertua ku.

"Kita makan dulu ma, kata Elin biar kuat dan bertenaga saat malam pertama nanti" jawab Rifaldi dengan santai, seperti tanpa beban dia mengungkapkan kata-kata itu, sementara diriku sudah menahan malu karena semua pasang mata yang duduk dikursi meja makan seketika menatapku sembari tersenyum kecil, aku tidak berkata seperti yang rifaldi ucapkan, tapi bisa-bisanya dia memutar fakta seolah aku yang sudah tidak sabar untuk melakukan hubungan suami istri itu. Demi apapun, jika bisa kabur malam ini juga dari rumah penderitaan ini, aku sudah buru-buru melarikan diri.

"Wah, mama senang deh mendengar nya. Elin pasti udah gak sabar ya pengen berduaan sama Aldi sampai gak mau ganti pakaian pengantin nya. Yaudah cepetan makan yang banyak" Ibu mertua ku semakin gencar melontarkan ujaran yang sedikitpun tidak berkenan dihatiku.

Aldi, ternyata itu nama panggilan suamiku, nama yang sedikit risih untuk aku anggap sebagai suami. Bagaimana tidak risih, didalam otak nya sudah penuh dengan pikiran kotor untuk segera meniduriku. Ya, dia suamiku tapi tidak sepantasnya dia berkata seperti itu didepan semua keluarga besar nya, menuduh ku seolah aku yang agresif.

***

"Istrimu kenapa diam terus Aldi?, istrimu bisu?"

Baru saja aku menyuap dua sendok nasi, terdengar suara dari ujung meja yang menganggu telingaku, suara itu berasal dari seorang perempuan, disampingnya ada anak kecil kira-kira berumur lima tahun, tadi aku melihat perempuan itu diacara perkawinan, tapi tidak dengan sosok anak kecil disampinya.

"Sstt, jangan bicara begitu Lisa. Mungkin Elin butuh waktu menyesuaikan diri" sahut Pak Abra, ayah mertua ku, sepertinya beliau baik, tapi belum tentu juga, aku tidak dapat menarik kesimpulan hanya dari jawaban itu saja.

"Hmm, papa bela aja menantu baru papa itu"

Setelah mendengar obrolan perempuan itu dan ayah mertua ku, aku baru mengetahui kalau dia adalah ipar perempuan ku, satu-satunya anak perempuan Pak Abra, bernama Lisa. Dikursi pelaminan siang tadi, Aldi menceritakan tentang tiga saudara nya, tapi karena aku tidak menggubris, Aldi tidak bercerita banyak tentang mereka, termasuk tidak memberitahukan nama masing-masing saudaranya.

"Kamu jangan ikut campur Lisa, urus aja tuh suamimu yang pergi entah kemana" ujar Aldi.

"Loh, kok jadi bawa bawa suami Lisa sih, kan tadi Lisa cuma nanya, kenapa istrimu diam terus, dia gak punya mulut atau gak bisa ngomong?" Ketus Lisa, merasa kesal dengan pernyataan Aldi. Tapi bentuk kekesalan nya malah berimbas kepadaku.

"Iya mah, papa pergi kemana?, Alya kangen papa" sahut anak kecil disamping Lisa. Hatiku serasa terenyuh mendengar lirihan anak kecil itu, ternyata dia adalah anak dari Lisa, bernama Alya. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan rumah tangga Lisa, tapi sepertinya hal itu sangat membuat Lisa dan anaknya terpukul.

"Lisa nyesel datang ke acara pernikahan kamu, Ayo Alya kita pergi dari rumah ini" Lisa buru-buru menggendong Alya, berlalu dari meja makan tanpa menghabiskan sisa makanan dipiringnya. Tapi anehnya, sikap ibu dan ayah mertua ku tampak biasa saja, bahkan terkesan tidak peduli sedikitpun, begitu pula dengan anggota keluarga yang lain, mereka justru dengan santai melanjutkan makan malam tanpa merasa ada yang terjadi.

Aku semakin resah, keluarga ini sangat tidak harmonis, terkesan dingin dan tidak peduli satu sama lain. Bagaimana bisa ibu bisa bertahan bekerja selama enam tahun lamanya dirumah ini, dan bagaimana bisa aku bertahan lama tinggal dirumah ini jika pemandangan yang aku dapatkan setiap hari begini.

"Anggap saja angin berlalu" ucap Aldi. Aku hanya mengangguk.

***

Selang beberapa menit Lisa pergi membawa anaknya, aku merasa dibawah meja ada sepasang kaki yang berusaha menyentuh kaki ku, entah itu berasal dari kaki satu orang atau merupakan kaki dua orang yang berbeda.

Disamping kanan ku ada suamiku, Aldi. Disamping kiri ku ada pemuda remaja, yang mungkin merupakan anak bungsu dirumah ini, bisa aku terka kalau umurnya tidak jauh beda denganku. Sementara kursi yang berhadapan tepat didepanku ada Ibu Jessica, disamping kanan nya ada Pak Abra. Hanya mereka yang dekat dengan kursiku, dan sepertinya mampu meraih kaki ku. Memang disudut kanan meja masih ada sepasang suami istri, laki-laki itu pasti saudara Aldi karena mereka mirip sekali, tapi tidak mungkin dia bisa sampai menyentuh kakiku, karena cukup jauh jarak duduk kami. Sementara disudut kiri tadi ada Lisa dan anaknya, tapi mereka sudah pergi dari meja makan ini.

Ketika kuperhatikan satu persatu wajah dimeja makan ini, tidak ada satupun yang mencurigakan, tidak ada yang memasang wajah menggoda ala pria pria gatal diluar sana. Begitu pula dengan Aldi, dia tampak fokus dengan makanan dipiringnya saja.

"Astaga kaki-kaki ini menyentuhku lagi, hah sekarang ada tiga kaki sekaligus menyentuh betis ku?" cemas ku dalam hati. Keluarga Pak Abra ini benar-benar aneh, sebenarnya kaki siapa ini?. Dua kaki menyentuh kaki kiri ku, satu kaki lagi menyentuh kaki kanan ku. Tiga orang yang aku curigai saat ini adalah Suamiku sendiri, Pak Abra ayah mertua ku dan si pria remaja disamping kananku.

"Uhukkk" aku pura-pura batuk sambil mengangkat kaki ku, memperhatikan gelagat di atas meja ini tapi ekspresi mereka semua sangat datar dan biasa. Aku bingung menerka siapa pelaku nakal dibawah sana. Aku sungguh risih, ingin rasanya berteriak melampiaskan rasa kesalku.

"Kamu tersedak istriku?, minum dulu" kata Aldi. Sepertinya dia bukan pelaku yang mengganggu kaki ku dibawah sana. Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja, karena semua manusia dirumah ini sangat aneh dan susah ditebak.

"Aldi, Kenalin istrinya dong kekita, benar kata kak Lisa tadi, istrimu kebanyakan diam. Padahal punya mulut, nafasnya bau ya?" Pria remaja disampingku menggerutu sambil tersenyum sinis kearahku, Dia siapa, tidak punya sopan santun memanggil Aldi langsung menyebut nama tanpa gelar kakak, abang, om atau semacamnya. Padahal aku bisa melihat jelas kalau umurnya dan umur Aldi sangat terpaut jauh. Setelah dia menatapku sinis, kurasakan kuku kaki sedang berusaha mencengkram kulit betisku dibawah meja.

"Awwh" rintih ku.

"Kamu kenapa istriku?" Tanya Aldi, panik memegang bahuku.

"Gak.. gak apa-apa." Kataku terpaksa berbohong, aku bisa menebak dengan pasti salah satu kaki dibawah meja adalah ulah si pria remaja disamping kiri ku ini. Betapa tidak tau sopan santun dirinya, ingin sekali aku menamparnya saat ini juga.

"Kamu bicara yang sopan sama kakak ipar kamu Vano. Kenalan boleh tapi jangan kayak kakak mu si Lisa" tegas Aldi.

"Elin istriku, kenalin pria disampingmu itu adalah anak bungsu dikeluarga Pak Abra. Namanya Rivano (16 tahun, kelas dua SMA), Masih bocil tapi pacarnya udah ada dimana mana, tapi selagi tidak merusak anak orang sih kami biasa biasa saja, kalaupun sampai merusak, itu akan jadi tanggung jawab dia sendiri." Jelas Aldi, benar dugaan ku kalau dia adalah anak bungsu dirumah ini.

"Coba kamu lihat wajah laki-laki diujung sana, setelah itu lihat wajah suamimu, sangat mirip bukan?. Kami saudara kembar, Rifaldi Suamimu ini anak pertama, Rifaldo anak kedua, kata mama usia kami cuma beda lima belas menit, Aldo udah menikah duluan, tuh istrinya (Stefani) dan bayi (Zacky) dibedongan itu adalah cucu kedua dirumah ini" Aldi menunjuk bayi dibedongan istri Rifaldo.

"Tadi cewek judes itu namanya Ralisa si anak tengah, dia hamil diluar nikah, suaminya bertanggung jawab sih, tapi suka kabur-kaburan, putus nyambung gak jelas. Alya itu cucu pertama dikeluarga Abra. Dan sekarang kamu, Elin istriku adalah anggota baru didalam keluarga ini" Aldi menjelaskan silsilah keluarga nya panjang lebar, disambut anggukan dari ibu mertuaku.

Aku baru tau kalau Aldi memiliki saudara kembar yaitu Aldo, pantas saja saat aku melihat sisi wajah Aldi yang tidak rusak, sangat mirip sekali dengan Aldo, bukan hanya karena mereka saudara kandung tapi juga karena mereka saudara kembar. Aku juga baru tau kalau Aldi adalah anak pertama dikeluarga ini. Satu hal lagi yang sebenarnya membuatku penasaran, wajah Aldi kenapa seperti itu, apa di masa lalu dia pernah mengalami kecelakaan atau mungkin karena bawaan lahir, tapi kenapa wajah Aldo tidak begitu. Wajah Aldo sangat tampan dan putih bersih, mungkin jika wajah Aldi tidak hancur seperti itu, maka akan sama persis tampannya dengan saudara kembarnya.

Saat aku mencoba tersenyum kearah Aldo dan istrinya, raut wajah mereka datar saja, tidak membalas senyuman dariku. Entah karena merasa senior dirumah ini atau karena sifat mereka memang sombong begitu, aku tidak tau.

***

"Astaga, kaki-kaki itu berusaha meraih ku lagi" keluh ku dalam hati. Tidak heran jika dibawah sana adalah benar perbuatan Vano, anak bungsu Pak Abra, karena sesuai cerita Aldi tadi, Vano adalah laki-laki yang suka gonta-ganti pacar. Tapi kenapa kelakuan seperti itu masih bisa ditoleransi dalam rumah ini, memang definisi keluarga aneh dan tidak tau aturan. Aku berusaha menendang kaki yang selalu mengganggu ku, perlakuan Vano sangat tidak mencerminkan sikap yang baik, dia menganggap aku siapa, aku adalah kakak iparnya, sudah seharusnya dia menghormati ku. Tapi tidak begitu, didalam keluarga ini benar-benar tidak ada tumbuh rasa saling menghormati dan menghargai.

Curigaku pasti hanya kepada Vano saja karena gelagat nya yang sangat sinis sambil tersenyum miring menatapku, dua pelaku lainnya aku tidak tau siapa.

"Ayo kekamar sekarang" ucap ku tidak punya pilihan, karena kaki dibawah meja ini tidak henti-hentinya menyentuh ku. Sumpah demi apapun, keadaan ini sangat membuat ku tidak nyaman.

"Ayo istriku, kamu pasti udah gak sabar ya?" ceria sekali Aldi menyahut perkataan ku, sepertinya dirumah ini aku salah duduk salah berdiri, semuanya serba salah. Tapi daripada kaki-kaki itu terus meraih ku, lebih baik aku pergi saja dari meja makan ini.

Terpopuler

Comments

♞ ;3

♞ ;3

Sama sekali tidak mengecewakan. Sebelumnya aku berpikir bakal biasa saja, ternyata sangat bagus!

2024-04-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!