"Aku senang kamu telah kembali"
Aldi membiarkan aku duduk di sofa yang ada didalam kamarnya, tidak aku sangka, dia juga mengambilkan aku segelas air putih. Tadinya aku berpikir kalau Aldi akan marah besar dan tidak akan mengampuni ku, dia akan meluapkan emosinya dengan cara memaksa ku untuk berhubungan dengannya. Tapi ternyata tidak, dia bersikap manis, tapi aku yakin, ada niat terselubung dibalik manis perlakuan nya kepadaku, mengingat tadi dia mencengkram tangan ku sangat kuat saat membawaku masuk kekamar, sampai sekarang rasa sakit akibat cengkraman nya masih terasa.
"Aku punya kabar gembira untuk kita. Besok kita akan honeymoon. Kamu tidak mau berhubungan denganku karena suasana kamar ini kan?, jadi aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah dan lebih memanjakan mata" ucap Aldi, betapa terkejut aku mendengar perkataan nya, bagi Aldi itu adalah kabar gembira, tapi bagiku itu adalah petaka.
Aku melirik Aldi, masih dengan tatapan sayu. Sebenarnya, aku sudah jenuh berdebat dengan Aldi, tapi rasanya aku tidak terima dengan keputusan sepihak yang Aldi buat tanpa bertanya kondisi dan keadaan ku saat ini.
"Kamu tidak penasaran tadi malam aku dari mana dan apa yang sudah aku alami?"
Air mata yang sempat kering di netraku kembali tergenang, masih tidak bisa terima dengan perlakuan Pak Abra sewaktu dihotel.
"Kenapa?, kata papa, saat papa mencari kamu, dia menemukanmu dipinggir jalan, dan mengantarkan kamu pulang kerumah Bi Hanum, katanya kamu rindu sama ibu. Karena itu tadi pagi, papa juga yang menjemput kamu, karena hanya papa yang tau jalan kerumah ibumu" jelas Aldi, sungguh pandai sekali Pak Abra bersilat lidah, aku tidak habis pikir dengan tua bangka satu itu, bisa-bisanya dia berkata seolah manusia paling baik didunia, padahal sebenarnya dia adalah manusia paling keji, guru dari semua keturunannya yang juga bersifat hiper. Bak kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah Pak Abra menurunkan sifat iblis nya kepada anak-anaknya.
"Oh, jadi begitu penjelasan Pak Abra?" Tanya ku, Aldi hanya mengangguk tanpa mengulik lebih dalam arti dibalik air mataku. Tidak mengapa, perlahan-lahan aku mencoba melupakan kegilaan itu, mungkin belum saat nya semua kebusukan itu terbongkar, jika aku mengungkapkan nya, rasanya Aldi tidak akan percaya.
***
"Aldi!" Seru seseorang dari balik pintu kamar Aldi.
"Iya!" Jawab Aldi, kemudian bergegas membuka pintu.
"Papa" sambut Aldi, tanpa dipersilahkan, Pak Abra langsung menerobos masuk kedalam kamar.
Aku melirik sebentar kearah nya, matanya juga tertuju dan melangkah mendekat kearahku.
"Ada apa pah?" Tanya Aldi, penasaran.
"Hari ini kamu temani istrimu saja, biar papa saja yang menyusul Aldo kekantor"
Tiba-tiba Pak Abra mengelus pundak ku, seraya mengucapkan kata-kata itu, aku tersentak kaget dan seketika menggeser posisi duduk ku. Aku mengerti arti elusan itu, bukan bermaksud ingin menenangkan aku, tapi sebagai pertanda kalau Pak Abra masih akan terus mengganggu ku.
Aldi terkesan tidak menaruh curiga saat Pak Abra mengelus pundak ku karena diiringi kata-kata yang cukup membuat Aldi semangat.
"Iya pah, makasih ya. Aldi juga masih ingin membicarakan tentang bulan madu kami besok" ucap Aldi.
"Baik lah, papa pergi dulu ya. Elin, papa titip Aldi ya"
Si tua bangka itu berusaha meraih rambut ku saat hendak pergi, untungnya aku sigap menjauh darinya.
"Papa baik banget ya sayang" ucap Aldi, membuatku menatapnya sinis, dia belum tau kalau seorang ayah yang dia banggakan itu hampir merenggut kesucian ku tadi malam. Seperti itu dikatakan baik?, iya baik, sebaiknya mati saja.
***
"Kamu kenapa sih sayang, kayaknya dari tadi cemberut terus? Mau aku ambilkan sarapan?"
Mungkin karena besok adalah hari yang paling penting bagi Aldi, yaitu membawaku berbulan madu, sejak tadi aku kembali kerumah ini, sikapnya kepadaku selalu manis, tidak ada bentakan atau paksaan.
"Sarapan?, siapa yang memasak?" Tanya ku.
"Stefani" jawab Aldi.
Aku menaikkan alis sebelah, tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari mulut Aldi. Si wanita menyimpang itu memasak sarapan?, aku masih mengingat dengan jelas yang pernah dia katakan bahwa tangan nya tidak akan pernah mau memegang segala jenis peralatan memasak didapur.
"Stefani bisa memasak?"Tanya ku, masih dilanda penasaran.
"Ya bisa" jawab Aldi singkat. Sampai disitu saja pertanyaan ku tentang stefani, bisa aku simpulkan bahwa dia memang sengaja mempermainkan aku, menganggap aku hanya sebagai pembantu yang tidak punya harga diri.
"Jadi bagaimana, mau aku ambilkan sarapan?" Tanya Aldi.
"Biar aku saja yang kedapur. Aku tidak mau merepotkan mu" jawabku. Alasan itu aku gunakan sebagai alat untuk bisa keluar dari kamar Aldi, aku takut, jika membiarkan Aldi yang mengambilkan sarapan untukku, maka dia akan merasa berjasa, itu hanya akan menambah bebanku saja.
***
"Hai cantik, welcome home. Jangan kabur kabur lagi ya, seisi rumah ini membutuhkan kamu, termasuk aku"
Baru saja aku ingin memeriksa sisa masakan Stefani didapur, aku dikejutkan dengan kehadiran sosok Rivano, muncul tiba-tiba seperti hantu dan melontarkan kata-kata yang membuatku tidak nyaman.
"Masakan Stefani tidak ada apa-apa nya dibandingkan masakan kamu yang super lezat" kembali Rivano berkata, kali ini sambil tersenyum dia berjalan mendekat kearah ku.
"Mau ngapain kamu?" Aku sangat cemas.
"Kamu gak sekolah?" Tanya ku.
"Aku tidak bisa fokus belajar disekolah, semalaman aku terus mengkhawatirkan kamu" kata Rivano, semakin aneh saja tingkahnya.
"Jangan gila kamu Vano. Sebaiknya pergi dari sini atau aku teriak" tegas ku sembari menutupi wajahku dengan piring.
"Iya aku akan pergi. Hmm tapi, sampai jumpa besok malam ya cantik" ucap Vano, menurunkan piring didepan wajahku dengan jari telunjuknya, kemudian berbisik lirih, bisa aku rasakan desah nafas nya berhembus hangat melintasi telingaku.
Rivano berlalu dari dapur, aku lega tapi perkataan nya masih berdengung ditelingaku, kalimat pelik itu masih berkeliling didalam kepalaku. Apa maksud Rivano berkata sampai jumpa nanti malam?, Aku tidak mengerti, Remaja nakal yang satu itu tidak kalah membuat pikiran ku runyam, intinya Keluarga Abra memang aneh, tanpa terkecuali.
***
Saat malam hari tiba, belenggu kembali mengganggu pikiranku. Sejak pagi tadi sampai ke malam hari, sikap Aldi masih baik, satu harian dia dirumah ini tapi belum ada terjadi perdebatan diantara kami. Aldi hanya terus mengoceh tentang rencana bulan madu yang akan kami jalani besok. Saat acara makan malam pun, di meja makan, Aldi selalu bercerita dengan penuh semangat kepada keluarga nya tentang bulan madu itu.
Seperti biasa, aku memang tidak ikut makan di meja itu, tapi dari dapur, aku bisa mendengar kicauan Aldi dan disambut seru oleh keluarganya, termasuk Rivano.
"Jangan kasih kendor, gas aja" celetuk Rivano. Disambut tertawa lepas dari keluarganya.
"Vano, makanya cepetan lulus sekolah, biar bisa nikah dan ngerasain enak-enak" sahut Mario, suami Lisa. Benar-benar keluarga Abra adalah definisi keluarga besar yang tidak waras. Pembicaraan tabu seperti itu sudah dinormalisasi didalam keluarga ini.
"Memangnya besok kita akan bulan madu kemana?" Tanya ku saat sudah berdua dikamar dengan Aldi, tapi aku masih berada disofa, sementara Aldi sudah berada diatas ranjang.
"Kalau aku kasih tau sekarang gak seru, besok kamu akan tau sendiri, intinya tempat yang indah dan nyaman" jawab Aldi. Aku melihat dia juga sedang sibuk dengan ponselnya.
"Jadi malam ini, kamu akan membiarkan ku tidur tenang?" Perlahan aku berjalan kearah tempat tidur.
"Tidurlah yang nyenyak malam ini sayang, besok adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup kita" ucap Aldi sambil tersenyum menatapku.
"Bahagia bagimu, air mata bagiku" rintih ku dalam hati. Tapi setidaknya malam ini aku bisa tidur tenang, karena telah mendapat jawaban lega dari Aldi. Benar, satu hari ini aku melihat sisi yang berbeda dari Aldi, tapi sikap baik tidak lantas meluluhkan hatiku, aku belum bisa bisa dengan perdebatan, paksaan, dan tamparan tangannya kepadaku beberapa malam yang lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments