"Jadi mulai hari ini, istriku, Refelin anak gadis dari Bi Hanum, telah sah menjadi hak milik keluarga besar Abra Collin. Karena itu kamu jangan macam-macam ya." Tegas Aldi.
"Kenapa ibu Tega melakukan itu, aku salah apa Bu?" lirih ku dalam hati, sampai habis air mataku menangisi kisah hidup yang tak kuinginkan ini. Sepanjang Aldi menceritakan perjanjian kelaurga nya dengan ibuku, aku terus menangis sesegukan. Aku masih tidak habis pikir dengan isi perjanjian seratus juta itu, aku menikah dengan Aldi bukan hanya sebagai istri untuk nya, tapi juga sekaligus menjadi pembantu baru dirumah ini. Kenapa ibu bisa dengan mudah merelakan aku untuk dibeli oleh keluarga Abra Collin, apa mungkin Ibu lebih mencintai uang itu dibandingkan aku?, ibu tidak berpikir bagaimana takutnya aku, peliknya suasana dirumah keluarga Abra ini membuatku sangat tidak nyaman.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Malam ini aku membiarkanmu tidur tanpa kusentuh. Tapi besok malam, jangan menolak ku lagi. Layani aku sampai puas, jika kamu masih menolak, maka kamu dan ibumu akan merasakan akibatnya" perintah Aldi, kemudian kembali berbaring ke atas ranjang. Aldi meminta ku untuk tidur, tapi aku bimbang, apakah aku harus disampingnya, bisa saja tengah malam malam nanti ketika aku sudah terlelap, dia mendekap dan melangsungkan aksi hasrat nya kepadaku, aku tidak bisa berpikir jernih kepadanya. Sungguh ancaman itu masih berdengung terus ditelinga ku, jika besok aku belum memberikan kesucianku kepadanya, apa yang akan Aldi lakukan.
"Kenapa masih disitu?" Tanya aldi, melihatku masih duduk menunduk sambil memeluk lutut ku disudut kamarnya. Aku bingung, sulit untuk ku melangkah naik ke atas ranjang, tidur disamping Aldi. Dia memang suamiku, tapi bagiku dia seperti penjahat yang membuatku ketakutan.
"Aku tidur di sofa saja" kata ku dengan suara bergetar, tenaga ku juga hampir habis karena terus menangis.
"Kenapa kamu tidak bisa menghargai aku sebagai suami?, kamu takut melihat wajahku?" Tanya Aldi, menatapku sangat tajam.
"Bukan begitu, Aku tidak peduli dengan wajah keadaan mu, tapi sikapmu yang membuatku takut, tolong jangan menatapku seperti itu. Bersikaplah selayaknya suami yang baik untuk istri" kata ku, masih duduk menunduk memeluk lututku.
"Apa aku seperti monster dimatamu? Kamu memintaku untuk menjadi suami yang baik, sementara kamu saja tidak mau memberikan aku kebutuhan batin. Lantas, kamu apa?, sudah merasa paling baik dan sempurna?" Aldi tampak geram, dia kembali beranjak dari kasur, berdiri tepat disampingku, aku bisa melihat raut wajahnya sudah sangat kesal kepadaku, tapi buru-buru aku menunduk kembali, tidak menghiraukan keberadaan nya disampingku.
"Kamu kenapa masih disitu, bukan kah tadi aku sudah berkata kalau aku tidak akan menyentuh mu malam ini, kenapa kamu masih takut?" Kata Aldi, aku mengira dia akan kembali melayangkan tamparan ke pipiku, tapi ternyata dia justru mempertegas perkataan nya kalau dia tidak akan menyentuh malam ini, aku memang sulit percaya kepadanya, tapi sudah larut malam dan suasana semakin dingin dikamar Aldi karena mesin pendingin ruangan terus menyala dengan suhu rendah. Aku membulatkan hati untuk pertama kali dalam hidupku tidur satu ranjang bersama seorang laki-laki, aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga Aldi bisa memegang kata-kata nya, tidak akan menyentuh ku malam ini.
"Aku akan bersikap baik jika kamu baik kepadaku, sebaliknya, aku akan lebih jahat dan berbuat nekat jika kamu tidak mau menuruti kemauan ku" kata Aldi saat aku mulai berjalan menuju ranjang.
"Aku istri mu, bukan pembantu. Aku berhak menentang sesuatu yang tidak sesuai dihatiku" bantah ku, perlahan aku duduk dipinggir kasur.
"Kamu lupa dengan perjanjian seratus juta yang sudah ditandatangani ibumu?" Aldi kembali mengingatkan aku pada situasi yang menjadi awal ku penderitaan ku ini.
"Aku tidak lupa, tapi jika kamu memintaku berbuat sesuatu yang tidak ku sukai, aku berhak menolak nya" tegasku.
"Sudah lah, aku lelah berdebat denganmu. Aku ingin tidur. Kamu lihat saja besok pagi, bagaimana keluarga ku memperlakukan mu" kata Aldi.
"Maksud kamu ap..." Aku baru saja ingin memperjelas perkataan nya, tapi saat aku menoleh kearah nya, dia sudah berbaring dengan posisi miring membelakangi aku, selimut nya juga sudah ditarik menutupi seluruh badannya hingga keatas kepala.
Pernyataan Aldi yang masih menjadi teka-teki itu, terus lalu lalang di dalam pikiranku, apa maksud dari perkataannya tadi, apa yang akan terjadi besok pagi kepadaku?, Aku sangat cemas dan tidak mampu membayangkan yang akan terjadi padaku saat malam ini sudah berganti menjadi pagi.
***
Malam ini, dirumah Keluarga Abra Collin, tepatnya dikamar laki-laki yang sudah menikahi aku siang tadi, aku harus rela menerima pahit dan getirnya kenyataan hidup, inilah kisah yang harus aku jalani sekarang, akibat keserakahan seorang ibu, aku harus mengalami semua gejolak ini. Baru satu malam saja tinggal dirumah ini, tapi aku sudah mengalami banyak hal janggal dan menyakitkan batinku. Mulai dari kaki-kaki misterius dibawah meja makan yang mengganggu ku, yang tidak lain salah satu kaki berasal dari adik iparku sendiri yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas, sementara pelaku lainnya, aku belum bisa menerka siapa.
Kemudian dikamar ini, aku tidak henti-hentinya menangis, berderai air mata akibat ulah suamiku sendiri. Aku dipaksa melayani nafsu nya, sadar aku sudah menjadi istrinya, tapi aku belum siap, aku masih terkejut dengan semua ini, walau kini dia sudah tertidur disampingku dan telah berjanji tidak akan menyentuh ku malam ini, tapi aku masih dilanda rasa cemas dan takut, setelah malam ini akan ada malam-malam berikut nya, sudah bisa aku tebak kalau setiap malam dikamar ini pasti akan menjadi kisah pilu bagiku.
Satu hal lagi yang mengganjal dalam hati ku, tentang besok pagi. Apa yang keluarga Abra lakukan padaku besok pagi?, apa mungkin mereka akan menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah.
Jika benar, maka malang sekali nasibku, harus dinikahkan secara paksa dengan salah satu anggota keluarga dirumah ini, setelah itu harus menjadi pembantu rumah tangga, bukan hanya untuk suamiku tapi untuk seluruh anggota keluarga dirumah ini. Apa mungkin Aldi akan tega melihat ku sengsara mengerjakan semua pekerjaan dirumah ini? Aku istrinya, bukan pembantunya.
***
Aku menatap kearah jam dinding, tidak terasa waktu berlalu, ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.55 WIB, dengan rasa cemas dan kesedihan yang mendalam, aku berusaha memejamkan mata. Aku memberi pembatas bantal guling antara aku dan Aldi. Wahai sang Penguasa semesta, aku serahkan semua cerita hidupku ini kepada Mu, semoga semua badai ini segera mereda dan aku kuat menghadapi segala beban yang datang menerpaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Akbar Cahya Putra
Mantap banget, author! Jangan berhenti menulis ya!
2024-04-22
1