"Kamu udah pinter berbohong sekarang ya, mana mungkin Pak Abra berbuat seperti itu kepada kamu" kata ibu, tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Bu, Elin gak bohong. Elin gak sanggup menghadapi Keluarga Abra, mereka semua jahat" ungkap ku dengan posisi masih bersimpu didepan ibu, tapi sepertinya ibu tetap saja tidak peduli, dia merogoh isi tasnya, mengambil ponsel.
"Bu, ibu mau ngapain?, jangan telepon Pak Abra, Elin mohon Bu" aku terus memohon bahakn kini posisi sudah memeluk kaki ibu ditambah derai air mataku yang menggambarkan betapa trauma nya aku mengingat semua tentang Keluarga Abra.
"Diam kamu! Awas, jangan banyak drama" Ibu berontak, melepaskan pelukan ku di kakinya, aku terpental dan terjatuh ke lantai. Entah apa kesalahan yang sudah kuperbuat, sehingga ibu tega membiarkan aku menderita.
"Kamu benar-benar cengeng. Kamu lupa, ibu menjadi pembantu dirumah itu selama enam tahun lamanya, tapi ibu baik-baik saja kan?, ibu gak pernah satu kalipun mengeluh" gerutu ibu, aku hanya menangis terkulai lemah dilantai. Apa yang dikatakan ibu memang benar, tapi yang ibu rasakan berbeda dengan perlakuan mereka kepadaku, seluruh tingkah anggota keluarga Abra kepadaku benar-benar diluar nalar, jika hanya sebatas pembantu saja, aku bersedia bahkan untuk seumur hidup. Tapi jika setiap hari harus dilanda rasa takut, apakah mungkin aku bisa tenang tinggal disana?, setiap hari aku selalu was-was mempertahankan harga diriku, tindak pelecehan dirumah itu sangat kental sekali, tidak tanggung-tanggung, penyakit seksual menyimpang juga ada, siapa lagi kalau bukan Stefani, istri Aldo.
Jika aku ceritakan semua kejanggalan itu kepada ibu, rasanya sia-sia saja, ibu tidak akan percaya kepadaku.
***
"Halo Pak Abra, maaf mengganggu. Ini Pak, Hanum mau menyampaikan kalau Elin ada dirumah ku. Kata Elin, dia minta dijemput dan tidak sabar ingin kembali kerumah Pak Abra. Elin tadi cerita, kalau dia senang banget tinggal disana"
Aku terperangah saat ibu mengucapkan kata-kata itu kepada seseorang yang sedang dia hubungi, orang itu tidak lain adalah Pak Abra.
"Baiklah Hanum, saya akan jemput Elin sekarang juga, semua orang dirumah sudah tidak sabar menunggu kedatangan nya" aku mendengar jelas jawaban Pak Abra karena ibu mengaktifkan speaker ponselnya.
Aku masih tidak habis pikir, kenapa ibu lebih mempedulikan keluarga Abra dibandingkan aku darah dagingnya sendiri.
"Bu, tolong mengerti perasaanku, aku trauma kembali kerumah itu, ibu tega membiarkan anak perempuan ibu satu-satunya dijadikan sebagai piala bergilir?" pinta ku, kembali bersimpu dikaki ibu dengan derai tangis yang tidak henti-hentinya membanjiri pipi ku.
"Sini kamu, sini!" Ibu menarik tanganku dengan kuat.
"Ibu akan ikat kamu sampai Pak Abra datang. Seharusnya kamu berterima kasih sama ibu, kamu tinggal dirumah mewah, tiap hari makan enak, dapat suami ganteng"
Ibu mengikat tangan dan kaki, rasanya sia-sia semua permohonan ku, ibu sudah gelap mata dan hanyut terlalu jauh menikmati uang hasil menjual diriku. Apa artinya tinggal dirumah mewah jika tidak ada ketenangan, rumah besar bagiku adalah neraka. Pernikahan ku dengan Aldi hanya sebatas formalitas yang membuat diriku semakin tersiksa lebih dalam, status ku memang sebagai istri Aldi, tapi derajatku tidak lebih dari sekedar pembantu rumah tangga yang tidak ada harga dirinya.
"Bu, jika derita ku adalah bahagia ibu, aku terima. Tapi jangan biarkan David dan Danu ikut sengsara, mereka layak bahagia Bu, pergunakan uang yang ibu punya untuk membeli kebutuhan mereka"
"Berisik banget, jangan mengajari ibu, lakukan saja tugas mu dengan baik, maka semuanya beres" kata ibu, kemudian beranjak kekamar meninggalkan aku sendirian diruang tamu dengan posisi terikat.
"Maafkan kakak David, Danu. Saat kalian pulang sekolah nanti, mungkin kalian tidak akan melihat kakak lagi. Kalian jaga diri baik-baik ya, kakak sayang kalian" lirih ku dalam hati. Lagi-lagi aku harus pasrah dengan keadaan yang runyam ini.
***
"Halo sayang, nanti malam kita ketemuan lagi?. Boleh, tapi ada syaratnya, sayang harus jemput aku kerumah"
Aku mendengar ibu seperti berbicara dengan seseorang, tapi tidak ada orang lain dirumah ini, hanya kami berdua saja. Mesra sekali nada bicara ibu, pakai kata sayang-sayangan, apa mungkin ibu sedang bermain api?. Tiba-tiba ibu keluar dari kamar, aku melihat ibu menggenggam ponselnya didekat telinga, ternyata ibu berbicara dengan seseorang melalui panggilan telepon.
"Yaudah nanti malam jam delapan ya, aku tunggu loh, awas kalau gak datang, nanti aku ngambek" kata ibu, betapa sumringah dan centil ibu ketika berkata dengan lawan bicara nya. Seperti kelakuan anak-anak remaja yang baru mengenal dunia percintaan, padahal ibu sudah menjanda dan memiliki tiga anak, tentu umur ibu juga sudah tidak muda lagi.
"Itu siapa Bu?" Tanya ku saat ibu sudah selesai bertelepon.
"Kepo banget, Diam aja disitu, tunggu Pak Abra datang" jawab ibu ketus.
"Bu, tobat Bu, ingat David dan Danu masih butuh kasih sayang dari ibu" kata ku.
"Elin, sekali lagi ibu tegaskan, jangan menasehati ibu. Kamu mau jadi anak durhaka?" bentak ibu, niat ku tidak pernah ingin menasehati ibu, hanya mengingatkan saja. Bisa jadi karena ibu sedang banyak uang sekarang, ada laki-laki yang ingin memanfaatkan kesempatan itu, tapi ibu malah mengabaikan teguran ku.
Walaupun ibu jahat kepadaku, tapi sedikitpun tidak ada terbersit dalam pikiranku untuk membalas itu, justru aku berharap agar ibu kembali berperan selayaknya seorang ibu yang melindungi dan merawat anak-anaknya. Doaku tidak pernah berganti, semoga kebaikan pintu hati ibu segera dibukakan.
***
"Eh, ada mobil didepan, itu pasti Pak Abra" untuk menyambut Pak Abra, ibu langsung membuka ikatan di tangan dan kaki ku.
"Ayo berdiri, pasang wajah tersenyum dan bersikap lah ramah" pinta ibu sembari menggandeng tanganku berjalan keluar.
"Tuan Abra, sendirian?" Sambut ibu.
"Iya sendiri, tadi saya ajak Aldi, tapi katanya biar dia menunggu dirumah saja. Yasudah, ayo kita langsung berangkat saja Elin" Pak Abra langsung meraih tanganku, aku sempat menggelengkan kepala tapi ibu mencubit pinggang ku.
"Bu, David dan Danu" kata ku mengingatkan ibu kembali agar tidak menelantarkan kedua adikku.
"Iya, beres" Ibu tersenyum melambaikan tangan, semoga saja ibu benar-benar memperhatikan kedua adikku, aku lebih mengkhawatirkan nasib mereka dibandingkan nasibku sendiri.
"Tuan Abra, jangan lupa ditransfer ya" seru ibu, aku mengkerutkan dahi, perjanjian apa lagi diantara mereka yang belum aku ketahui?. Pak Abra hanya mengangguk saja kepada ibu, kemudian tanpa belas kasihan Pak Abra mendorong tubuhku masuk kedalam mobil.
***
"Kamu menyusahkan saja, gara-gara kelakuan kamu, aku jadi kehilangan uang lima juta rupiah. Tadi aku yang menyuruh ibumu untuk mengikatmu, agar kamu tidak kabur lagi, tapi ibumu meminta imbalan. Tapi tidak apa-apa yang penting kamu sudah kembali kepada keluarga Abra. Jadi kita kehotel dulu atau langsung kerumah?" Pak Abra mengoceh panjang lebar, sementara aku diam saja tidak menganggap keberadaan nya. Aku lebih baik diam daripada membuang-buang tenaga untuk menjawab si tua bangka itu.
Aku mematung, tatapanku kosong, kali ini aku sudah benar-benar pasrah, bahkan jika detik ini jiwaku dipanggil Tuhan, aku sudah ikhlas, sepertinya akan terasa lebih damai saat tidak mengetahui apa-apa lagi di dunia ini.
"Aku bercanda, kita langsung pulang kerumah. Nanti kalau sudah sampai dirumah, panggil aku Tuan, jangan pakai Pak Abra lagi" ujar Pak Abra, aku bisa mendengar perkataan nya tapi untuk memberi tanggapan, rasanya tidak perlu.
"Kamu diam begitu saja tetap cantik, apalagi kalau tidur berdua dengan ku tanpa pakaian, pasti lebih cantik" mulut busuk Pak Abra selalu mengoceh sepanjang jalan, berisik sekali suara itu mengusik telinga dan pikiranku.
Air mata sudah kering, tidak dapat menangisi kisah hidupku yang penuh duri ini, entah ujian seperti apalagi yang akan aku hadapi didepan, raga ini akan terus melawan semua perbuatan yang tidak terpuji, tapi aku juga tidak tau sampai kapan aku bisa melawan. Berkali-kali aku menghindar, tapi pada akhirnya aku kembali kepada lingkaran duka yang tidak ada ujungnya.
Tempat yang kuanggap sebagai rumah untuk pulang pun tidak mengharapkan kehadiranku lagi, ibu lebih mengutamakan gelimang harta duniawi dibandingkan kebahagiaan anaknya.
***
"Ayo turun" ucap Pak Abra saat sudah dirumah nya. Tatapan ku masih sayu, kondisi ku masih lemah, aku melihat didepan pintu ada Ibu mertuaku dan Aldi berdiri tegak dengan tatapan tajam.
Perlahan aku melangkah, berusaha mengabaikan mereka berdua.
"Oh, jadi ini ratu kita yang harus dijemput dengan mobil mewah ketika kabur dari rumah?" Ketus Nyonya Jes, ibu mertuaku.
"Dari mana saja kamu semalaman?" sahut Aldi.
Aku melintasi mereka begitu saja, terus melanjutkan langkah ku memasuki rumah.
"Heh, kalau orang sedang bicara jangan main nyelonong aja. Dasar gak punya sopan santun" oceh Nyonya Jes, masih mengabaikan mereka, aku tetus berjalan menuju kamar.
"Biar Aldi yang ajari dia sopan santun ma!" Seru Aldi, mengikuti langkah ku, belum sampai didepan pintu kamar, Aldi mencengkram pergelangan tanganku sangat kuat, menarik ku dengan tergesa masuk kedalam kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments