Pagi yg cerah di godean , terlihat sepasang muda mudi tengah berjalan-jalan.
Dan tampaknya kedua muda mudi sedang menuju tanah persawahan yang terbentang luas yang ada di pedukuhan itu.
Keduanya sedang asyik berbincang-bincang.
" Kakang Kinangkin akan pergi kemana setelah dari godean ini ?" tanya Wenih Kemala kepada pemuda yang berada di sebelah nya itu.
" Mungkin kakang akan ke Winanga sesuai janjiku dahulu kepada guru!" sahut Wisanggra Kinangkin.
Pemuda ini menikmati udara pagi yg segar dan sejauh mata memandang terlihat hamparan padi yang mulai menguning di padu dengan warna hijau pada batang dan daunnya.
Sempurna benar yg Maha Kuasa menciptakan alam ini dan isinya dengan berbagai warna.
Belum lagi di tambah dengan berterbangan nya burung -burung yg sedang mencari makan disertai pula dengan kicauan nya. Itulah yg ada di benak Wisanggra Kinangkin.
" Ahhhh,"
" Kenapa kakang,?" tanya Wenih ini tatkala melihat pemuda itu mendesah.
" Teramat segar pagi ini !" sahut Wisanggra Kinangkin.
Ia pun membentangkan kedua tangan nya dan menghirup udara bebas dengan sepuasnya.
Sambil terus berjalan meski tidak terlalu cepat menuju pematang sawah yg ada dihadapan.
Yg terlebih dahulu melangkah kan kakinya masuk ke tanah persawahan ini adalah Wenih Kemala.
Seolah sebagai penunjuk jalan nya, memang putri Nyi Wijih Arum inilah yg mengajak Wisanggra Kinangkin untuk berjalan bersamanya , sebab besok pemuda itu akan pergi bersama ibunya ke pasar Kotaraja Mataram, sebab esok memang hari pasaran.
Jadi kesempatan ini tidak di lewatkan oleh Wisanggra Kinangkin yg ingin lebih mengenal wilayah pedukuhan godean ini , sebagai daerah penyangga Kotaraja, tentu wilayah godean ini acap kali menjadi wilayah percontohan di kerajaan Mataram saat itu.
" Adi Kemala, yg mana sawah mu,?" tanya Wisanggra Kinangkin.
" Yang itu kang, yg ada gubuk berdiri tepat di tengah persawahan ini!" jawab Wenih Kemala.
Keduanya pun berjalan menuju ke arah gubuk tersebut.
Setibanya disana , Wenih Kemala lantas duduk sambil memandangi luas nya hamparan padi yang sebentar lagi akan di panen.
" Kang, sebaiknya kita berada disini hingga tengah hari!" kata Wenih Kemala.
" Untuk apa?" tanya Wisanggra Kinangkin.
" Kemala ingin mengenalkan satu panganan khas godean ini untuk kakang Kinangkin,!" terang Wenih Kemala.
" Makanan apa, tentu sama saja yg ada di Winanga atau pun di Permoni" sahut Wisanggra Kinangkin.
" Kakang Kinangkin sudah pernah merasakan pepes welut ?" tanya Wenih Kemala .
" Sudah ," balas Wisanggra Kinangkin.
" Akan tetapi belum pernah merasakan pepes welut asal godean ini bukan.. tentu kakang ketagihan jika mencobanya , apalagi di makan dengan gudeg manggar tentu terasa lebih nikmat" jelas Wenih Kemala.
Putri dari Nyi Wijih Arum ini pun meminta kepada Wisanggra Kinangkin untuk mencari welut yg banyak terdapat di tanah persawahan mereka ini.
Tentu saja Wisanggra Kinangkin pun mengiyakan. sebab dirinya memang sudah sangat terbiasa dengan binatang yg sangat licin itu, saat diri nya masih berada di dusun Winanga , ia sering kali menangkap nya.
Maka dengan sigapnya, pemuda ini pun lantas turun dari pematang sawah dan mulai mencari apa yg di minta oleh Wenih Kemala itu.
Entah mengapa, perasaan dari Wisanggra Kinangkin tidak dapat menolak apa yg telah di perintahkan oleh putri Nyi Wijih Arum ini.
Ada rasa yg tidak ingin menyakiti perasaan dari gadis remaja itu.
Setelah cukup lama berkubang di dalam lumpur, dan juga dengan kecakapan nya mencari welut,..putra dari Arya Rangkana ini pun berhasil mengumpulkan banyak binatang yang berbentuk seperti ular tersebut.
" Sudah cukup adi Kemala..?" tanya Wisanggra Kinangkin kepada Wenih Kemala.
" Wah ini lebih dari cukup kang,.nanti sisa nya kita buat rempeyek,..!" kata Wenih Kemala.
Gadis ini pun menyiapkan peralatan untuk segera memepes welut hasil tangkapan dari Wisanggra Kinangkin ini.
Keasikan keduanya memang membuat mereka melupakan bahwa banyak orang yg berada di sawah ini.
Termasuk dua orang pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka.
" Kakang sudah lihat bukan, Wenih Kemala teramat lengket dengan pemuda itu!" ucap salah seorang .
" Benar katamu itu, Yadi! ini tidak bisa di biarkan, aku akan segera memberi pelajaran orang itu" seru yg lainnya.
Ia adalah Durung Seto, seorang pemuda yg menyukai putri dari Nyi Wijih Arum itu.
Bergegaslah keduanya mendekati tempat dimana Wenih Kemala dan Wisanggra Kinangkin berada.
Saat itu mentari sudah menggatalkan kulit.
Langkah kedua orang pemuda godean ini tampak terburu -buru, bahkan seperti sedang berlari.
Ketika keduanya sudah semakin dekat dengan gubuk yg di miliki oleh Wenih Kemala ini tiba-tiba saja Durung Seto menghentikan langkah nya.
" Mengapa berhenti kakang Seto, apakah kakang takut?" tanya teman nya yg bernama Yadi itu.
Sambil melihat ke sekeliling nya , pemuda yang bernama Durung Seto itu berkata.,
" Ah kau ini, aku sedang memastikan agar tidak ada orang yg melihat kita, dan dapat membantu orang itu!" sahut Durung Seto.
Ia pun mengajak temannya ini mendekat, dan dalam jarak sepuluh langkah lagi, berteriak lah Durung Seto..
" Hehh, orang asing, apa yg kau lakukan di tempat ini !" serunya sambil berteriak.
Sehingga baik Wenih Kemala maupun Wisanggra Kinangkin tersentak kaget di buatnya.
Adalah putri dari Nyi Wijih Arum inilah yg datang menghampiri pemuda yang bernama Durung Seto itu.
" Ada apa kakang Seto datang kemari,. apakah ada urusan dengan Kemala,...?" tanyanya kepada pemuda itu.
" Ah tidak, aku tidak ada urusan dengan mu adi Kemala !" sahut Durung Seto.
" Lalu kenapa kakang Seto tadi berteriak ?" tanya Wenih Kemala lagi.
Pemuda itu langsung menyahutinya dengan mengatakan bahwa ia memiliki urusan dengan pemuda yang bersama nya itu.
" Ada urusan apa kakang Seto dengan kakang Kinangkin ?"
Kembali putri Nyi Wijih Arum ini menanyakan nya kepada Durung Seto.
" Bukankah ia orang asing di sini, jadi sebaiknya ia memiliki sedikit unggah ungguh dengan pemuda godean ini termasuk dengan kami berdua, jangan hanya berteman dengan yg perempuan saja !" seru Durung Seto lagi.
Ia menatap tajam ke arah Wisanggra Kinangkin yg telah berdiri sedari tadi, dan juga melihat ke arah pemuda itu.
Dua pandangan mata pun bertemu,..dari sorot matanya, Durung Seto menunjukkan rasa ketidak senangan nya terhadap pemuda yang berasal dari dusun Winanga itu.
" Heh, darimana asalmu, apakah kedua orang tua mu tidak pernah mengajari bagaimana cara menghormati tuan rumah, atau memang dirimu itu berasal dari alas, yg tidak pernah melihat seorang perempuan !" kata Durung Seto dengan ketusnya.
Wisanggra Kinangkin pun berjalan agak mendekat seraya berkata,.
" Maaf kakang berdua, bukan maksudku tidak ingin mengenal semua pemuda yg ada di pedukuhan ini , tetapi memang tidak ada kesempatan nya, jadi untuk itu perkenalkan, nama ku Wisanggra Kinangkin berasal dari dusun Winanga !" ucap putra Arya Rangkana ini.
Sambil agak membungkukkan badannya.
" Ah, tidak perlu, yg ada saat ini diri mu memang harus di beri pelajaran agar tahu bersikap!" seru Durung Seto.
" Kakang Seto ada-ada saja, bukankah kakang Kinangkin sudah memperkenalkan diri dan juga sudah meminta maaf, mengapa kakang masih mempersoalkan nya!" ungkap Wenih Kemala membela Wisanggra Kinangkin.
" Jadi dirimu membela orang asing ini ketimbang aku yg asli pemuda godean ini, Kemala, apa lebih nya dia dariku?" tanya Durung Seto tak kalah sengit nya.
" Kemala bukan nya membela kakang Kinangkin, tetapi hanya mengatakan bahwa ia memang tidak bersalah, sebab bila ia tidak ada mungkin si mbok ku sudah tinggal nama saja!" terang Wenih Kemala.
" Ah, aku tidak ingin berdebat dengan mu Kemala, hari ini Durung Seto akan memberi pelajaran kepada orang asing ini agar tahu bagaimana berunggah ungguh, jadi minggir lah dari hadapan ku!" teriak Durung Seto.
Pemuda godean ini melangkah maju dan berusaha menyingkirkan Wenih Kemala yg menghalangi nya.
" Kakang sudah gila !" teriak gadis remaja putri Nyi Wijih Arum ini.
Sementara itu Durung Seto dan Wisanggra Kinangkin sudah saling berhadap hadapan.
Memang dari bobot tubuh, Durung Seto nampak lebih besar dan tegap di bandingkan dengan Wisanggra Kinangkin.
Karena pemuda godean ini memang sudah dewasa usianya.
Ia pun membuka kedua kakinya dan bersiap akan menyerang Wisanggra Kinangkin.
" Bersiaplah, aku tidak akan main -main dengan ucapan ku !" kata Durung Seto.
Kedua tangan nya pun sudah ia kepalkan dan tampak nya memang tidak akan mengurung kan niatannya memberi pelajaran kepada Wisanggra Kinangkin.
Perasaan nya yg terbakar api cemburu memang membuat nya seolah kehilangan akal waras nya.
" Jika kakang Seto melakukan sesuatu terhadap kakang Kinangkin, aku akan berteriak biar semua warga mendengar nya,!" ancam Wenih Kemala.
Gadis itu tidak ingin momen kebersamaan nya dengan pemuda yang berasal dari dusun Winanga berakhir dengan sesuatu yang tidak di inginkan nya, ia memang tidak ingin melihat pemuda itu sampai terluka oleh Durung Seto yg terkenal bersikap grasak-grusuk.
" Aku tidak peduli, yg penting orang ini harus mendapatkan pelajaran,.. hiyyah !" teriak Durung Seto sambil melompat.
Ia melakukan sebuah tendangan mendatar ke arah tubuh Wisanggra Kinangkin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Umar Muhdhar
3
2024-05-06
1
Miko
Lanjut
2024-04-15
4
AbhiAgam Al Kautsar
hiyaaaaaaat.....
ber sam buuuung
2024-04-15
1