#5 Karang abang.

Ketika murid padepokan Kedung Jati ini ingin menyuruh Wisanggra Kinangkin segera kembali ke padepokan nya tiba tiba saja,

" Apakah dirimu telah menemukan orang nya adi Pramesthi?"

Ada suara orang yg bertanya dari arah belakang nya.

Dan muncullah dua orang lelaki yang masih terlihat cukup muda usianya, mungkin sepantaran dengan gadis yg bernama Pramesthi Dyani ini.

Keduanya membawa senjata pedang yg tersampir di pinggang, seperti juga gadis itu.

" Tidak kakang Birawa , Aku tidak menemukan orang itu!" sahut Pramesthi Dyani menjawab pertanyaan tadi.

Gadis ini pun langsung menatap ke arah Wisanggra Kinangkin yg tampaknya belum mengenal kedua orang lelaki yang baru datang ini.

Setelah mendekat, keduanya lantas menghampiri Pramesthi Dyani seraya kembali bertanya,.

" Apakah bukan bocah ini yg melakukan nya , adi Pramesthi?" tanya pemuda yg bernama Birawa itu.

Ia menatap tajam ke arah Wisanggra Kinangkin yg juga melihat ke arahnya sambil melap ingusnya.

" Ah, tidak kakang Birawa, anak ini adalah warga dusun yg ada di kaki bukit panguk itu dan ia tengah menggembalakan ternak nya disini!" sahut Pramesthi Dyani berbohong.

Ia memang tidak ingin memberitahukan kepada kedua orang pemuda yang merupakan saudara seperguruan nya perihal bocah lelaki yang ada dihadapan nya ini.

" Awas saja kalau mereka tertangkap , akan ku beri pelajaran dengan pedangku ini agar mereka tahu bersikap!" seru pemuda bernama Birawa itu lagi sambil menggenggam pedangnya.

" Benar kakang Birawa, rasa rasanya sudah gatal tanganku ini untuk memukuli murid -murid kurang ajar yg berasal dari padepokan Elang Canggah itu!" sahut temannya.

" Yeah, apakah mereka tidak tahu kehebatan dari jurus pedang mata malaikat yang di miliki oleh perguruan kita ini adi Karwa!" seru Birawa menanggapi ucapan temannya itu.

" Sudahlah kakang berdua, sebaiknya kalian segeralah kembali , biar urusan ini Pramesthi yg menyelesaikan nya!" ucap Pramesthi Dyani .

Ia menyarankan kepada kedua saudara seperguruan nya itu untuk meninggalkan lembah tersebut.

Keduanya pun setuju , lalu mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut .

" He, sebaiknya kau harus meninggalkan tempat ini pula secepatnya, agar tidak kemalaman di jalan!" kata Pramesthi Dyani kepada Wisanggra Kinangkin.

Gadis itu memang tidak ingin melihat bocah lelaki ini terlambat membawa kembali hewan ternak, karena saat itu mentari telah condong ke arah barat.

" Terima kasih, mbak atas pertolongan nya!" ucap Wisanggra Kinangkin.

Ia pun menuruti perintah dari Pramesthi Dyani agar segera membawa kembali kambing -kambing itu ke padepokan Elang Canggah.

Dengan cepat bocah lelaki yang berasal dari dusun Winanga ini pun menghalau gembalaan nya menuju ke padepokan Elang Canggah.

Agak sulit juga ia melakukan nya sebab memang kambing -kambing itu cukup banyak jumlahnya, tetapi karena bocah ini sudah terbiasa angon sejak di dusun Winanga , ia pun berhasil juga mengarahkan nya untuk kembali.

Saat mendekati regol padepokan Elang Canggah, Wisanggra Kinangkin di kejutkan dengan kehadiran dari sepuluh orang teman temannya yg semula bersama nya tadi.

" Hei, ternyata kamu selamat juga , Ciblek!" seru Aji Saka.

Setelah melihat Wisanggra Kinangkin berjalan mengiringi hewan peliharaan padepokan Elang Canggah ini.

" He !"

Wisanggra Kinangkin agak terkejut juga ketika ada orang yg tengah mencegatnya, semula dikiranya mereka itu adalah murid-murid dari padepokan Kedung Jati, tetapi setelah mengetahui yg datang ini adalah teman -temannya hatinya pun cukup tenang.

Tanpa menjawab , ia terus saja membawa kambing -kambing itu menuju ke padepokan Elang Canggah.

Dan dari arah belakang , langkahnya ini diikuti oleh teman -temannya.

Bocah yg berasal dari dusun Winanga ini amat senang sekembalinya ia ke dalam padepokan.

Pengalaman nya hari itu telah membuatnya lebih berhati-hati lagi bila ingin berada di dekat padepokan Kedung Jati.

Pada malam hari nya, seperti biasa ia pun kembali mengikuti latihan yang diadakan oleh padepokan Elang Canggah demi menggembleng murid padepokan ini untuk menjadi seorang yang tangguh tanggon dan dapat diandalkan.

Akan tetapi bagi Wisanggra Kinangkin , latihan latihan yang di lakukan ini sangat sulit untuk ia terima.

Hingga sampai hampir satu purnama, tata gerak bocah ini mentok pada jurus ke sepuluh saja dari ilmu silat yang ada di padepokan Elang Canggah itu.

Dan hal itu membuat dirinya terus saja di rendahkan bahkan diejek oleh teman -temannya.Termasuk dengan kelompok Aji Saka dan teman temannya, acap kali mereka membuat Wisanggra Kinangkin menjadi bulan-bulanan dengan ulah mereka.

Saking sedihnya, Wisanggra Kinangkin lebih banyak menyendiri dari pada harus bersama teman-teman nya.

Pada suatu hari saat ia menggembalakan ternak , tanpa sengaja dirinya turun kembali ke lembah yang merupakan wilayah dari padepokan Kedung Jati.

Ada semacam keinginan dari bocah ini untuk bertemu lagi dengan Pramesthi Dyani yg merupakan murid dari Padepokan Kedung Jati.

Ketika langkah-langkah kaki nya semakin mendekat ke tempat tersebut.

Tiba-tiba,..

" He , kena kau , pengintip!"

Dan di leher bocah lelaki ini telah melekat mata pedang yang cukup tajam siap mengoyak kulitnya.

Wisanggra Kinangkin tidak berani bergerak atau pun melihat ke arah orang yang tengah menodongkan senjatanya itu.

Namun ketika ia mendengar suara orang itu barulah ia tahu siapa yang datang ini.

" Ternyata kau , adi Kinangkin, apa urusan mu disini?" tanya nya kepada Wisanggra Kinangkin.

" Kinangkin ingin bertemu dengan mu mbak Pramesthi!" sahut Wisanggra Kinangkin.

Ia pun segera membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah perempuan yang ternyata adalah Pramesthi Dyani, setelah gadis itu menarik pedangnya.

Orang yang ingin ia temui.

Gadis cantik murid padepokan Kedung Jati ini pun lantas bertanya untuk apa ia ingin bertemu dengan nya.

Wisanggra Kinangkin pun menjelaskan kepada Pramesthi Dyani mengenai kesulitan nya dalam hal menghafal serta melakukan gerakan dari jurus -jurus yg telah diajarkan oleh para guru nya itu di padepokan.

Sehingga ia meminta nasehat dari gadis ini agar dirinya bisa dan mampu mempelajari ilmu silat, tanpa harus direndahkan oleh orang lain.

Hati Pramesthi Dyani merasa tersentuh sekali dengan perkataan dari bocah sebelas tahun ini.

Ia pun meminta kepada Wisanggra Kinangkin untuk memperagakan jurus silat yang telah ia pelajari di Padepokan Elang Canggah.

Tanpa sungkan bocah itu pun segera melakukan nya, dan cukup singkat karena memang ia hanya mampu melakukan dan menghafalnya hanya sekira sepuluh jurus saja , itupun jurus pembuka atau jurus yg paling dasar dari sebuah perguruan silat.

Pramesthi Dyani sampai tersenyum melihatnya.

" Jadi selama ini , hanya segitu saja yang mampu kau lakukan , adi Kinangkin?" serunya dengan sangat heran sekali.

Dengan mengangguk , Wisanggra Kinangkin membenarkan ucapan dari gadis itu.

" Aneh !" desis Pramesthi Dyani.

" Apanya yg aneh, mbak ?" tanya Wisanggra Kinangkin.

Pramesthi Dyani pun menjelaskan kepada nya , bahwa bila ia selama ini hanya mampu memperagakan jurus dasar itu saja dalam berlatih, berarti ia memang tidak memiliki bakat dalam hal berlatih ilmu silat.

" Mungkin sebaiknya dirimu banyak menghafal dan memperagakan jurus sendiri tanpa adanya seorang guru!" terang Pramesthi Dyani demi memberi semangat agar Wisanggra Kinangkin mau terus berlatih.

" Tetapi kalau sudah terlalu banyak gerakan yang kulakukan, Kinangkin tidak akan mampu mengingatnya lagi!" ucap bocah itu dengan polos nya.

Pramesthi Dyani menjadi kasihan karena nya, ia pun menawarkan diri untuk ikut mengajarinya dalam hal ilmu silat.

Mendengar hal tersebut, Wisanggra Kinangkin menjadi senang, memang itulah yg ia harapkan sedari awal.

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, bocah lelaki ini langsung mengangguk tanda setuju.

Tetapi yg menjadi masalah kemudian adalah bagaimana cara gadis cantik ini.yg merupakan murid dari padepokan Kedung Jati akan memberi pelajaran nya, ia bingung.

Jika harus dengan mempergunakan jurus -jurus dari perguruan Kedung Jati , artinya ia melanggar sumpah dan janji nya sebagai seorang murid di Kedung Jati karena telah memberikan ilmu nya kepada orang yang bukan murid perguruan tersebut.

Akan tetapi jika harus memberikan pengarahan melalui ilmu Elang Canggah, dirinya tidak tahu bagaimana cara memperagakan nya.

Akhirnya gadis itu pun terdiam sambil memandangi Wisanggra Kinangkin.

" Mbak , kapan kita mulainya? tanya bocah itu kepada Pramesthi Dyani.

" He, tunggu sebentar , aku masih bingung adi Kinangkin!" seru Pramesthi Dyani

Ia pun menjelaskan kebingungan nya kepada bocah itu.

Namun hal yg mengejutkan nya adalah ketika Wisanggra Kinangkin mengatakan bahwa sebaiknya ia mengajarinya dengan ilmu yang di ketahui nya saja.Itu artinya ia akan memberitahukan ilmu Kedung Jati kepada orang di luar padepokan

Tetapi karena di desak terus , akhirnya Pramesthi Dyani pun luluh juga ,toh bocah ini pun tidak memiliki bakat dalam hal ilmu silat, pikirnya dalam hati.

Mulai lah ia memperagakan jurus -jurus silat yang di miliki nya.

Oleh Wisanggra Kinangkin kemudian diikutinya, setiap gerakan gadis itu.

Tetapi dasarnya memang kemampuan bocah ini memang sangat payah, ia akhirnya pun meminta untuk berhenti kepada Pramesthi Dyani.

Oleh gadis itu pun kemudian di hentikanlah pelajaran silat tersebut.

Terpopuler

Comments

Rikko Nur Bakti

Rikko Nur Bakti

alurnya lain dari cerita kebanyakan ..

2024-08-14

0

Pak Toni

Pak Toni

senamg membacanya, sepertinya alu belum pernah membaca alur seperti ini pada kebanyakan novel yang sudah aku baca .

2024-07-16

3

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

23

2024-05-06

0

lihat semua
Episodes
1 1 Karang abang.
2 #2 Karang abang.
3 #3 Karang abang
4 #4 Karang abang.
5 #5 Karang abang.
6 #6 Karang abang.
7 #7 Karang abang.
8 #8 Karang abang.
9 pengumuman
10 #9 Karang abang.
11 #10 Karang abang.
12 #1 Di Permoni.
13 #2 Di Permoni.
14 #3 Di Permoni.
15 #4 Di Permoni.
16 #5 Di Permoni.
17 #6 Di Permoni.
18 #7 Di Permoni.
19 #8 Di Permoni.
20 #9 Di Permoni.
21 #10 Di Permoni.
22 #1 Terluka dalam.
23 #2 Terluka dalam.
24 #3 Terluka dalam.
25 #4 Terluka dalam.
26 #5 Terluka dalam.
27 #6 Terluka dalam.
28 #7 Terluka dalam.
29 #8 Terluka dalam.
30 #9 Terluka dalam.
31 #10 Terluka dalam.
32 #1 Ada apa di puncak Merapi.
33 #2 Ada apa di puncak Merapi.
34 #3 Ada apa di puncak Merapi.
35 #4 Ada apa di puncak Merapi.
36 #5 Ada apa di puncak Merapi.
37 #6 Ada apa di puncak Merapi.
38 #7 Ada apa di puncak Merapi.
39 #8 Ada apa di puncak Merapi.
40 #9 Ada apa di puncak Merapi.
41 #10 Ada apa di puncak Merapi.
42 #1 Ki Barok.
43 #2 Ki Barok.
44 #3 Ki Barok.
45 #4 Ki Barok.
46 #5 Ki Barok.
47 #6 Ki Barok.
48 #7 Ki Barok.
49 #8 Ki Barok.
50 #9 Ki Barok.
51 #10 Ki Barok.
52 #1 Terbalaskan.
53 #2 Terbalaskan.
54 #3 Terbalaskan
55 # 4 Terbalaskan.
56 #5 Terbalaskan.
57 #6 Terbalaskan.
58 #7 Terbalaskan.
59 #8 Terbalaskan.
60 #9 Terbalaskan.
61 #10 Terbalaskan.
62 #1 Yang paling di cari.
63 #2 Yang paling di cari.
64 #3 Yang paling di cari.
65 #4 Yang paling di cari.
66 #5 Yang paling di cari.
67 #6 Yang paling di cari.
68 #7 Yang paling di cari.
69 #8 Yang paling di cari.
70 #9 Yang paling di cari.
71 #10 Yang paling di cari.
72 Maaf
73 #1 Terpisah.
74 #2 Terpisah.
75 #3 Terpisah.
76 #4 Terpisah.
77 #5 Terpisah
78 #6 Terpisah.
79 #7 Terpisah.
80 #8 Terpisah.
81 #9 Terpisah.
82 #10 Terpisah.
83 #1 Perasaan ini.
84 #2 Perasaan ini.
85 #3 Perasaan ini.
86 #4 Perasaan ini.
87 #5 Perasaan ini.
88 #6 Perasaan ini.
89 #7 Perasaan ini.
90 #8 Perasaan ini.
91 HUT RI 79.
92 #9 Perasaan ini.
93 #10 Perasaan ini.
94 #1 Pengkhianatan.
95 #2 Pengkhianatan.
96 #3 Pengkhianatan.
97 #4 Pengkhianatan.
98 #5 Pengkhianatan.
99 #6 Pengkhianatan.
100 #7 Pengkhianatan.
101 #8 Pengkhianatan.
102 #9 Pengkhianatan.
103 #10 Pengkhianatan.
104 #1 Kekacauan.
105 #2 Kekacauan.
106 #3 Kekacauan.
107 #4 Kekacauan.
108 #5 Kekacauan.
109 #6 Kekacauan.
110 #7 Kekacauan.
111 #8 Kekacauan.
112 #9 Kekacauan.
113 #10 Kekacauan.
114 #1 Rasa itu semakin dalam.
115 #2 Rasa itu semakin dalam.
116 #3 Rasa itu semakin dalam.
117 #4 Rasa itu semakin dalam.
118 #5 Rasa itu semakin dalam.
119 #6 Rasa itu semakin dalam.
120 #7 Rasa itu semakin dalam.
121 #8 Rasa itu semakin dalam.
122 #9 Rasa itu semakin dalam.
123 #10 Rasa itu semakin dalam.
124 #1 Kian Tinggi.
125 #2 Kian Tinggi.
126 # Kian Tinggi.
127 #4 Kian Tinggi.
128 #5 Kian Tinggi
129 #6 Kian Tinggi.
130 #7 Kian Tinggi.
131 #8 Kian Tinggi.
132 #9 Kian Tinggi.
133 #10 Kian Tinggi.
134 #1 Tidak terkalahkan.
135 #2 Tidak terkalahkan
136 #3 Tidak terkalahkan.
137 #4 Tidak terkalahkan.
138 #5 Tidak terkalahkan.
139 #6 Tidak terkalahkan.
140 #7 Tidak terkalahkan.
141 #8 Tidak terkalahkan.
142 #9 Tidak terkalahkan.
143 #10 Tidak terkalahkan.
144 #1 Kesandung hati.
145 #2 Kesandung hati.
146 #3 Kesandung hati.
147 #4 Kesandung hati.
148 #5 Kesandung hati.
149 #6 Kesandung hati.
150 #7 Kesandung hati.
151 #8 Kesandung hati.
152 #9 Kesandung hati.
153 #10 Kasandung hati.
154 #1 Tangguh tanggon.
155 #2 Tangguh tanggon.
156 #3 Tangguh tanggon.
157 #4 Tangguh tanggon.
158 #5 Tangguh tanggon.
159 Special,****
160 #6 Tangguh tanggon.
161 #7 Tangguh tanggon.
162 #8 Tangguh tanggon.
163 #9 Tangguh tanggon.
164 #10 Tangguh tanggon.
165 #1 Tarian kematian.
166 #2 Tarian kematian.
167 #3 Tarian kematian.
168 #4 Tarian kematian.
169 #5 Tarian kematian.
170 #6 Tarian kematian.
171 #7 Tarian kematian
172 #8 Tarian kematian.
173 #9 Tarian kematian.
174 #10 Tarian kematian.
175 #1 Runtuh nya kekuasaan.
176 #2 Runtuhnya kekuasaan.
177 #3 Runtuhnya kekuasaan.
178 #4 Runtuhnya kekuasaan.
179 #5 Runtuhnya kekuasaan.
Episodes

Updated 179 Episodes

1
1 Karang abang.
2
#2 Karang abang.
3
#3 Karang abang
4
#4 Karang abang.
5
#5 Karang abang.
6
#6 Karang abang.
7
#7 Karang abang.
8
#8 Karang abang.
9
pengumuman
10
#9 Karang abang.
11
#10 Karang abang.
12
#1 Di Permoni.
13
#2 Di Permoni.
14
#3 Di Permoni.
15
#4 Di Permoni.
16
#5 Di Permoni.
17
#6 Di Permoni.
18
#7 Di Permoni.
19
#8 Di Permoni.
20
#9 Di Permoni.
21
#10 Di Permoni.
22
#1 Terluka dalam.
23
#2 Terluka dalam.
24
#3 Terluka dalam.
25
#4 Terluka dalam.
26
#5 Terluka dalam.
27
#6 Terluka dalam.
28
#7 Terluka dalam.
29
#8 Terluka dalam.
30
#9 Terluka dalam.
31
#10 Terluka dalam.
32
#1 Ada apa di puncak Merapi.
33
#2 Ada apa di puncak Merapi.
34
#3 Ada apa di puncak Merapi.
35
#4 Ada apa di puncak Merapi.
36
#5 Ada apa di puncak Merapi.
37
#6 Ada apa di puncak Merapi.
38
#7 Ada apa di puncak Merapi.
39
#8 Ada apa di puncak Merapi.
40
#9 Ada apa di puncak Merapi.
41
#10 Ada apa di puncak Merapi.
42
#1 Ki Barok.
43
#2 Ki Barok.
44
#3 Ki Barok.
45
#4 Ki Barok.
46
#5 Ki Barok.
47
#6 Ki Barok.
48
#7 Ki Barok.
49
#8 Ki Barok.
50
#9 Ki Barok.
51
#10 Ki Barok.
52
#1 Terbalaskan.
53
#2 Terbalaskan.
54
#3 Terbalaskan
55
# 4 Terbalaskan.
56
#5 Terbalaskan.
57
#6 Terbalaskan.
58
#7 Terbalaskan.
59
#8 Terbalaskan.
60
#9 Terbalaskan.
61
#10 Terbalaskan.
62
#1 Yang paling di cari.
63
#2 Yang paling di cari.
64
#3 Yang paling di cari.
65
#4 Yang paling di cari.
66
#5 Yang paling di cari.
67
#6 Yang paling di cari.
68
#7 Yang paling di cari.
69
#8 Yang paling di cari.
70
#9 Yang paling di cari.
71
#10 Yang paling di cari.
72
Maaf
73
#1 Terpisah.
74
#2 Terpisah.
75
#3 Terpisah.
76
#4 Terpisah.
77
#5 Terpisah
78
#6 Terpisah.
79
#7 Terpisah.
80
#8 Terpisah.
81
#9 Terpisah.
82
#10 Terpisah.
83
#1 Perasaan ini.
84
#2 Perasaan ini.
85
#3 Perasaan ini.
86
#4 Perasaan ini.
87
#5 Perasaan ini.
88
#6 Perasaan ini.
89
#7 Perasaan ini.
90
#8 Perasaan ini.
91
HUT RI 79.
92
#9 Perasaan ini.
93
#10 Perasaan ini.
94
#1 Pengkhianatan.
95
#2 Pengkhianatan.
96
#3 Pengkhianatan.
97
#4 Pengkhianatan.
98
#5 Pengkhianatan.
99
#6 Pengkhianatan.
100
#7 Pengkhianatan.
101
#8 Pengkhianatan.
102
#9 Pengkhianatan.
103
#10 Pengkhianatan.
104
#1 Kekacauan.
105
#2 Kekacauan.
106
#3 Kekacauan.
107
#4 Kekacauan.
108
#5 Kekacauan.
109
#6 Kekacauan.
110
#7 Kekacauan.
111
#8 Kekacauan.
112
#9 Kekacauan.
113
#10 Kekacauan.
114
#1 Rasa itu semakin dalam.
115
#2 Rasa itu semakin dalam.
116
#3 Rasa itu semakin dalam.
117
#4 Rasa itu semakin dalam.
118
#5 Rasa itu semakin dalam.
119
#6 Rasa itu semakin dalam.
120
#7 Rasa itu semakin dalam.
121
#8 Rasa itu semakin dalam.
122
#9 Rasa itu semakin dalam.
123
#10 Rasa itu semakin dalam.
124
#1 Kian Tinggi.
125
#2 Kian Tinggi.
126
# Kian Tinggi.
127
#4 Kian Tinggi.
128
#5 Kian Tinggi
129
#6 Kian Tinggi.
130
#7 Kian Tinggi.
131
#8 Kian Tinggi.
132
#9 Kian Tinggi.
133
#10 Kian Tinggi.
134
#1 Tidak terkalahkan.
135
#2 Tidak terkalahkan
136
#3 Tidak terkalahkan.
137
#4 Tidak terkalahkan.
138
#5 Tidak terkalahkan.
139
#6 Tidak terkalahkan.
140
#7 Tidak terkalahkan.
141
#8 Tidak terkalahkan.
142
#9 Tidak terkalahkan.
143
#10 Tidak terkalahkan.
144
#1 Kesandung hati.
145
#2 Kesandung hati.
146
#3 Kesandung hati.
147
#4 Kesandung hati.
148
#5 Kesandung hati.
149
#6 Kesandung hati.
150
#7 Kesandung hati.
151
#8 Kesandung hati.
152
#9 Kesandung hati.
153
#10 Kasandung hati.
154
#1 Tangguh tanggon.
155
#2 Tangguh tanggon.
156
#3 Tangguh tanggon.
157
#4 Tangguh tanggon.
158
#5 Tangguh tanggon.
159
Special,****
160
#6 Tangguh tanggon.
161
#7 Tangguh tanggon.
162
#8 Tangguh tanggon.
163
#9 Tangguh tanggon.
164
#10 Tangguh tanggon.
165
#1 Tarian kematian.
166
#2 Tarian kematian.
167
#3 Tarian kematian.
168
#4 Tarian kematian.
169
#5 Tarian kematian.
170
#6 Tarian kematian.
171
#7 Tarian kematian
172
#8 Tarian kematian.
173
#9 Tarian kematian.
174
#10 Tarian kematian.
175
#1 Runtuh nya kekuasaan.
176
#2 Runtuhnya kekuasaan.
177
#3 Runtuhnya kekuasaan.
178
#4 Runtuhnya kekuasaan.
179
#5 Runtuhnya kekuasaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!