Akhirnya bocah lelaki yang berusia sekira sebelas tahun ini pun setuju untuk ikut dengan orang yg bernama Ki Ajar Smurup itu.
Sebab ia pun sudah tidak mendapatkan harapan lagi untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yg entah pergi kemana atau kah mereka masih hidup ataupun sudah meninggal dunia, ia pun tidak tahu.
Menjelang wayah mentari mulai menggatalkan kulit, Ki Ajar Smurup pun mengajak Wisanggra Kinangkin untuk meninggalkan tempat itu menuju ke daerah asalnya.
Ki Ajar Smurup merupakan seorang pemimpin padepokan yg berada agak ke selatan dari kota Mataram, yg saat itu tengah di perintah oleh Raden Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan julukan Sultan Agung dari Mataram.
Raja dari Mataram ini sudah dua kali melakukan peperangan melawan bangsa berkulit putih yg tinggal di Batavia , akan tetapi mengalami kegagalan.
Meski demikian , tetap saja penguasa bumi Mataram itu teguh pendirian nya untuk mengusir bangsa asing yang tengah menjajah negeri ini.
Demikian lah, setelah melakukan perjalanan satu hari satu malam dan melewati ibukota Mataram , tibalah Ki Ajar Smurup di padepokan yg berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Panguk.
Begitu mendekati Regol padepokan nya terdapat tulisan,.. Padepokan Elang Canggah,..
Dengan gambar seekor burung Elang yg tampak mengepak kan kedua sayap nya diatas sebuah canggah , atau senjata yang berupa tombak bermata dua.
Padepokan milik dari Ki Ajar Smurup ini memang berada diatas puncak bukit.
Dan arah sebelah barat nya dari padepokan itu terdapat lembah yg cukup indah dan terdapat pula sebuah padepokan disana yg menjadi pesaing padepokan Elang Canggah ini.
Ki Ajar Smurup terus berjalan melalui regol padepokan nya ini hingga tiba di tempat nya .
Terlihat sebuah padepokan yg di pagari oleh dinding bambu untuk menjaga dari binatang buas atau seseorang yg ingin berbuat jahat masuk leluasa.
Memang pagar itu tidaklah terlalu tinggi namun cukuplah untuk menjadi pembatas lingkungan padepokan dengan wilayah luar.
Di balik pagar tersebut nampak lah berjejer rapi bangunan yg memanjang dari depan hingga belakang, mungkin jumlahnya puluhan, sedangkan di depan bangunan tersebut terdapat halaman yg lumayan luas , seperti nya halaman ini di peruntukkan bagi cantrik atau murid padepokan untuk belajar dan mengasah ilmu yg mereka terima dari sang guru.
Lumayan besar juga padepokan milik Ki Ajar Smurup ini, dan itu artinya ia pun memiliki cantrik dan murid yang banyak pula.
.Memang saat ini Mataram tengah gencar gencarnya melakukan pendadaran dan penerimaan prajurit baru, untuk itulah banyak padepokan dan perguruan silat yg berdiri di masa Sultan Agung ini bertahta, dari banyak nya padepokan dan perguruan silat inilah ia merekrut dan menjadikan nya sebagai seorang prajurit.
Dan untuk padepokan Elang Canggah sendiri pun telah banyak menghasilkan murid yang menjadi prajurit di Mataram.
Padepokan ini bersaing dengan padepokan yg berada di dekatnya yaitu Padepokan Kedung Jati yg dipimpin oleh Ki Ajar Dharma Jati.
Sehingga membuat Ki Ajar Smurup harus bekerja lebih keras lagi agar padepokan nya tetap di pandang oleh Kotaraja Mataram dengan menghasilkan murid -muridnya yg baik dan dapat diandalkan.
Setelah melewati halaman yg lumayan luas itu, Ki Ajar Smurup bergerak terus arah belakang dari bangunan tersebut hingga tiba pada satu tempat, yg merupakan bangunan panjang yg tidak terpisah,seperti bangunan yg di depan tadi.
Dan begitu ia pun tiba di depan pintu bangunan panjang yg menjadi bangunan paling ujung yg ada di wilayah padepokan Elang Canggah ini, seseorang datang menghampiri nya.
" Assalamualaikum, selamat datang,.Guru !" seru orang tersebut.
Seorang pria yang mungkin berusia dua puluh tahunan, tampaknya ia merupakan salah seorang murid kepercayaan dari Ki Ajar Smurup.
Dan begitu melihat sang guru datang ia pun langsung memberikan salam penghormatan.
Dan untuk selanjutnya Ki Ajar Smurup pun menjelaskan kepada muridnya itu mengenai seorang bocah yg datang bersama nya ini, ia ingin muridnya ini dapat memperlakukan nya dengan baik sebab ia sebagai pemimpin padepokan akan segera mengangkat murid terhadap bocah yg bernama Wisanggra Kinangkin ini.
" Beri dia makanan dan pakaian yg layak, dan perlakukan dirinya dengan baik, serta perkenalkan kepada para cantrik yg lain , agar mereka semua saling mengenal dan dapat bekerja sama dalam belajar di padepokan ini!" terang Ki Ajar Smurup kepada sang murid.
" Baik guru, semua perintah guru, akan murid laksanakan!" sahut sang murid.
Ia pun langsung menerima Wisanggra Kinangkin dan mengajak nya masuk ke dalam bangunan yang memanjang itu.
Sedangkan saat itu , keadaan dalam bangunan tersebut masih kosong.
Sehingga dengan bebas, Wisanggra Kinangkin dapat berganti pakaian dan makan dengan nasi yg di berikan oleh murid dari Ki Ajar Smurup itu.
Meski bocah lelaki ini merasa aneh dan terasa asing di tempat tersebut, di dalam hatinya merasa ingin kembali lagi ke dusun winanga di mana ia berasal, akan tetapi tempat itu teramat jauh, sedangkan ia pun tidak tahu jalan nya.
Sehingga setelah selesai makan, bocah ini hanya duduk diam mematung.
Hingga menjelang sore, saat dimana penghuni padepokan Elang Canggah ini kembali dari berbagai tempat.
Ada yg baru kembali dari sawah, ada yg dari tanah pategalan, sedangkan yg seumuran dengan Wisanggra Kinangkin , pulang dari angon kambing dan domba .
Sehingga keadaan padepokan itu menjadi ramai menjelang saat maghrib.
Kebanyakan memang mereka berusia masih sangat muda sekali, sekira berumur lima belas tahun ke bawah, hingga seumuran dari Wisanggra Kinangkin yaitu sepuluh dan sebelas tahun.
Jika dilihat jumlahnya cukup banyak, dan pondokan itu segera kembali terisi oleh mereka.
Sebahagian besar segera menyalakan obor-obor yg terletak di halaman padepokan , ada juga yg menyalakan lampu dlupak di dalam pondokan .
Wisanggra Kinangkin , bocah dari dusun winanga ini kelihatan senang sekali melihat nya banyak bocah-bocah seumuran dengan nya , sehingga ia yg tadinya cukup bersedih , menjadi riang kembali.
Hingga malam tiba, para murid dan cantrik padepokan Elang Canggah ini pun berkumpul di halaman padepokan guna mengadakan latihan.
Tidak terkecuali murid-murid yang masih berusia muda seperti Wisanggra Kinangkin.
Mereka di kumpulkan di tempatnya tersendiri dan disana ada empat orang yg menjadi guru nya.
Para cantrik utama padepokan lah yg akan menjadi pembimbing mereka.
Ki Ajar Smurup tampak hadir di kelompok murid yang masih berusia muda ini.
Ia membawa turut serta pula Wisanggra Kinangkin bersamanya.
Pemimpin padepokan Elang Canggah ini pun langsung memperkenalkan bocah lelaki yang ia temukan di Dusun Winanga ini kepada murid -muridnya yg ada disitu.
" Ia ini bernama Wisanggra Kinangkin,..dia akan menjadi seperti kalian menjadi muridku di padepokan ini , jadi untuk itulah kalian harus membantu nya dalam belajar silat disini,.kalian mengerti!" seru Ki Ajar Smurup.
" Kami mengerti, Eyang Guru!"
Terdengar lah teriakan dari para murid padepokan itu serempak.
Dan setelah memberitahukan kepada murid -muridnya dengan kehadiran bocah lelaki yang bernama Wisanggra Kinangkin ini, Ki Ajar Smurup kembali ke tempatnya.
Jadilah Wisanggra Kinangkin yg tinggal di tempatnya dan mulai mengikuti pelatihan yg di berikan oleh empat murid utama dari padepokan ini
Empat orang ini melakukan gerakan pembuka dari ilmu silat yang ada di padepokan itu.
Di mulai dengan tata gerak kaki yg membuka , kemudian dilanjutkan dengan gerakan tangan , baik memukul atau menangkis.
Semuanya itu di contohkan oleh empat orang yg ada dihadapan bocah-bocah seumuran dengan Wisanggra Kinangkin ini , termasuk pula dengan Wisanggra Kinangkin sendiri.
Akan tetapi bocah ini merasa kesulitan untuk mempraktekan dan memperagakan jurus silat yang dilihatnya dari kakak seperguruannya itu.
Hingga akhirnya bocah ini pun terduduk , dan hanya memandangi yg lainnya berlatih.
Cukup banyak memang bocah dan anak lelaki yg menjadi murid Ki Ajar Smurup ini.
Terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu yg berusia dari sekitar sepuluh dan sebelas tahun pada kelompok pertama, baru kemudian pada kelompok kedua mereka terdiri dari yg berusia remaja , sekira berumur tiga belas sampaj lima belas tahun.
Baru pada kelompok terakhir , mereka ini yg berusia dari tujuh belas tahun hingga yg sudah berusia dewasa.
Sedangkan yg sudah tuntas menyerap ilmu di padepokan ini sebahagian besar telah mengabdi di Kotaraja Mataram sebagai seorang prajurit atau ada pula yg masih tinggal di padepokan membantu Ki Ajar Smurup dalam banyak hal.
Demikian lah, pada malam pertama di padepokan Elang Canggah ini, Wisanggra Kinangkin merasa kelelahan , akan tetapi hatinya menjadi senang karena banyak teman yg seumuran dengan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Roni Sakroni
lanjutkan
2024-05-09
1
Umar Muhdhar
1
2024-05-06
0
AbhiAgam Al Kautsar
next
2024-04-01
1