Setelah pedati yg di tumpangi oleh Nyi Wijih Arum dan Wisanggra Kinangkin berhasil keluar dari dalam hutan, serta para prajurit Mataram pun sudah kembali.
Wisanggra Kinangkin terus saja mengarahkan jalan nya pedati itu menuju pedukuhan yg tampak berada di depan. Meski tidak terlalu jauh lagi namun cukup lama juga baru keduanya tiba di rumah perempuan yang bernama Nyi Wijih Arum ini.
Saat terdengar bunyi kentongan bernada dara muluk barulah mereka sampai.
" Aduhh, mengapa sudah selarut ini si mbok baru kembali !"
Ucap seorang gadis remaja yang keluar dari dalam rumahnya.
Rumah yg cukup besar dan paling baik yg ada di pedukuhan itu.
Sambil membuka pintu pagar nya gadis ini melihat ke arah orang yang berada di atas pedati tersebut.
" Siapa dia ?" tanya gadis itu kepada Nyi Wijih Arum yg baru saja turun dari atas pedati.
Sedangkan Wisanggra Kinangkin terus saja membawa pedati masuk ke bagian belakang dari rumah yg besar tersebut.
" Namanya Wisanggra Kinangkin, Kemala!" jawab Nyi Wijih Arum.
Ia pun meminta kepada putrinya ini untuk mempersiapkan makanan dan minuman buat mereka berdua.
" Jadi dia akan bekerja dengan si mbok,?" tanya gadis remaja, putri Nyi Wijih Arum ini.
" Entahlah, sudah jangan banyak tanya , sana siapkan yg si mbok minta tadi" sahut Nyi Wijih Arum.
Perempuan yang berpakaian mewah dan memiliki banyak perhiasan di tubuhnya itu nampak agak kesal dengan banyaknya pertanyaan dari putri nya ini.
Ia pun mendekati sebuah gentong yg ada di depan rumahnya itu, serta mengambil airnya dengan sebuah gayung yg terbuat dari batok kelapa yg cukup besar.
Perempuan ini langsung meminum nya, sebab sedari tadi ia memang sangat kehausan.
" Ah, segarnya air ini!" kata Nyi Wijih Arum.
Sedangkan putrinya sudah masuk ke dalam rumahnya, seperti perintah dari sang ibu gadis itu menyiapkan makanan dan minuman.
Malam itu di rumah Nyi Wijih Arum terjadilah kegegeran setelah mendengar cerita dari perempuan yang menjadi pengusaha di tempat nya ini.
Ia menyebutkan bahwa tadi mereka berdua telah di cegat oleh empat orang yg tidak di kenal di hutan pembatas ke Kotaraja Mataram.
" Heh, kok tumben ada rampok di hutan itu, bukankah selama ini aman -aman saja!" ucap salah seorang pembantu Nyi Wijih Arum yg bertugas mencari rumput dan memberi makan binatang ternak perempuan pengusaha ini.
" Iya mbok, bukankah selama ini si mbok kalau belanja ke pasar dengan Ki Srengi tidak pernah di cegat oleh rampok, lalu mengapa malam ini ada rampok di hutan tersebut, ihhh! serem" ungkap putri dari Nyi Wijih Arum ini.
" Entahlah, namun beruntung mbok mu ini bersama dengan nakmas Wisanggra Kinangkin ini.kalau tidak entah apalah yg akan terjadi!" terang Nyi Wijih Arum kepada putrinya..
Sambil memperkenalkan kusir pedati nya kepada para pembantu serta putri nya ini.
Semuanya lantas melihat ke arah Wisanggra Kinangkin yg sudah berganti pakaian , setelah tadi pakaian nya sempat terkoyak oleh senjata musuh, Nyi Wijih Arum meminta kepada pembantu nya untuk memberikan seperangkat pakaian yg cukup bagus kepada pemuda itu.
" Cukup pantas dirimu menggunakan pakaian milik dari kangmas Suritno itu,.. Kinangkin!" seru Nyi Wijih Arum.
Ia nampak tersenyum sumringah setelah melihat pemuda yang menjadi kusir nya ini menggunakan pakaian milik dari suami nya itu.
Sedangkan untuk Wisanggra Kinangkin , terlihat sungkan setelah di sebutkan bahwa pakaian itu adalah bekas milik dari suami Nyi Wijih Arum .
" Tidak apa-apa Kinangkin, nanti aku akan memberikan semua pakaian milik kangmas Suritno itu kepada mu, bukan begitu Kemala" seru Nyi Wijih Arum kepada putrinya.
" Tetapi mbok, pakaian itu kan kenang kenangan dari Romo!" sahut putri dari Nyi Wijih Arum.
" Tidak apa-apa Wenih Kemala, jika memang masih berguna untuk orang lain mengapa tidak kita berikan saja, hitung hitung untuk membantu Romo mu itu!" terang Nyi Wijih Arum lagi.
Ia pun memperkenalkan putrinya yang bernama Wenih Kemala ini kepada Wisanggra Kinangkin , juga seluruh para pembantu nya.
Bahkan dengan satu pernyataan dari perempuan yang cukup kaya raya ini meminta kepada Wisanggra Kinangkin agar mau bekerja di rumahnya ini.
" Oh iya, darimana asalmu Kinangkin?" tanya Nyi Wijih Arum.
" Kinangkin berasal dari dusun Winanga, Nyi!" jawab Wisanggra Kinangkin.
" Dusun Winanga,!" seru Nyi Wijih Arum kaget bukan kepalang.
Ia pun bertanya kepada pemuda yang sudah menolong nya itu, dengan mengatakan bahwa dusun Winanga sudah habis musnah terbakar dan para penduduk nya tidak di ketahui keberadaan nya.
" Benar Nyi Arum, darimana Nyi Arum tahu akan hal nya dusun Winanga telah tidak ada lagi,?" tanya Wisanggra Kinangkin penasaran.
Sebab sejak meninggalkan tempat kelahiran nya itu , ia sama sekali belum pernah mendengar lagi ada orang yg membicarakan nya.
" Jika aku menceritakan sesuatu tentang dusun mu, dirimu mau berjanji?" tanya Nyi Wijih Arum.
" Berjanji apa Nyi Arum,?" tanya Wisanggra Kinangkin semakin penasaran.
" Berjanji lah untuk tidak mengatakan nya kepada orang lain dan juga dirimu mau tetap berada disini sampai hari pasaran berikut nya" pinta Nyi Wijih Arum.
" Baik Kinangkin berjanji, Nyi Arum,!" sahut Wisanggra Kinangkin dengan mantap.
" Baiklah kalau begitu,!" ucap Nyi Wijih Arum.
Perempuan itu pun kemudian menceritakan kejadian yg menimpa dusun Winanga yg telah musnah menjadi karang abang.
Kejadian itu memang sudah cukup lama berlalu, tetapi masih sangat lekat di ingatan dari Wisanggra Kinangkin.
Dan ketika Nyi Wijih Arum mengatakan bahwa ada upaya dari Mataram yang memang sengaja ingin menghancurkan dusun tersebut di karenakan pihak Mataram melihat adanya kerjasama warga dusun Winanga dengan salah seorang prajurit asing yang sempat singgah dan menginap disana.
" Untuk itulah, pihak kerajaan Mataram berpendapat bahwa warga dusun Winanga telah membantu orang asing itu dan itulah sebab nya dusun itu harus di musnahkan, begitulah dari yang kudengar dari salah seorang lurah prajurit.yg sempat dekat.dengan diriku!" terang Nyi Wijih Arum.
" Siapa lurah prajurit itu, Nyi Arum,?" tanya Wisanggra Kinangkin.
" Namanya Lurah Singorejo dan mungkin saat ini sudah berpangkat rangga atau tumenggung,!" jelas Nyi Wijih Arum.
" Singorejo,!" seru Wisanggra Kinangkin
Dan sejak saat itu pemuda dari dusun Winanga ini mulai mengetahui kejadian yg menimpa dusun nya tersebut.
Ia pun tinggal di rumah Nyi Wijih Arum dalam beberapa hari.
Dari awal pertemuan nya dengan putri Nyi Wijih Arum ini membuat hubungan keduanya menjadi lebih akrab.
" Jadi selama ini kakang Kinangkin tinggal dimana,?" tanya Wenih Kemala kepada Wisanggra Kinangkin.
" Kakang tinggal di gunung Permoni dan sebelum nya tinggal di bukit panguk!" jawab Wisanggra Kinangkin.
" Lalu bagaimana dengan kedua orang tua dari kakang Kinangkin itu, apakah ada khabarnya,?" tanya Wenih Kemala lagi.
Wisanggra Kinangkin pun terdiam,.ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu, raut wajah nya pun menunjukkan kesedihan.
" Maaf jika Kemala salah bicara, kakang," ujar Wenih Kemala ketika melihat pemuda itu terdiam.
" Ah, tidak apa-apa Kemala, memang hingga saat ini kakang pun tidak tahu nasib mereka apakah masih hidup atau pun sudah tiada, jika pun mereka sudah tiada, kuburnya dimana pun kakang tidak tahu,!" ungkap pemuda dusun Winanga ini.
Dan kedekatan kedua muda mudi ini menyebabkan ada seorang lelaki yg tidak senang yg ada di pedukuhan Godean ini.
Ia adalah Durung Seto, seorang pemuda yg memang menaruh hati kepada putri dari pengusaha kaya , Nyi Wijih Arum ini.
" Nampak nya kakang Seto mendapatkan seorang saingan, dan dari yg kudengar ia itu adalah seorang yang cukup cakap dalam hal ilmu silatnya,!" ucap salah seorang pemuda teman dari Durung Seto .
" Ah, aku tidak peduli, ia belum pernah merasakan kepalan tanganku ini, jika sudah tentu ia tidak akan berani dekat -dekat dengan Wenih Kemala itu!" sahut Durung Seto sambil mengepalkan tangannya.
Dari wajah pemuda itu menunjukkan rasa amarah yang teramat sangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Umar Muhdhar
2
2024-05-06
1
AbhiAgam Al Kautsar
durung Seto... coba jajal kepandaian mu pada kinangkin....
2024-04-13
4