" Iya, ini adalah hewan peliharaan ku, apakah kamu ingin mencurinya, bocah?" tanya lelaki tua yg menggunakan pakaian putih ini.
Di tangan kanannya ada tongkat kayu yg tidak terlalu besar namun cukup panjang, seperti nya senjata itu adalah untuk mengusir kambing saat menggembalakan.
" Tidak, tidak, diriku tidak ingin mengambil kambing itu, ia lah yg telah menyerang ku ketika ingin buang air!" seru Wisanggra Kinangkin .
" Ah, kamu jangan coba-coba mengelabui bocah, orang seperti dirimu ini memang senang mengambil barang orang lain, dan untuk itu kamu patut untuk di hukum!" ucap lelaki tua itu sambil menunjuk ke arah Wisanggra Kinangkin.
Perlahan-lahan ia pun mendekati pemuda itu sambil mengeluarkan suara yg tidak di mengerti oleh Wisanggra Kinangkin, karena seperti orang yg lagi bergumam.
" Sini kamu, kau mesti di hukum!" ucapnya begitu berada dekat dengan Wisanggra Kinangkin.
Lelaki tua yg berpakaian serba putih ini pun mengayunkan tongkat kayu yg di genggam nya itu ke arah murid dari padepokan Elang Canggah ini.
" Whushh, !"
" Trak, !"
" Hehh, !"
Lelaki tua itu sangat terkejut karena mendapatkan tangkisan dari senjata yg ada di tangan Wisanggra Kinangkin.
Dengan menggunakan senjata canggah yg di berikan oleh Ki Ajar Smurup , ia pun menangkis serangan lelaki tua yg tidak di kenalnya ini.
Sementara itu kambing jantan yg berwarna hitam itu sedang asyik merumput tidak memperdulikan kedua orang tersebut.
" Berarti benar kamu lah yg akan mencuri kambing ku ini, sebab kau adalah murid padepokan Elang Canggah, dirimu merupakan murid dari Ajar Smurup..bocah , kau memang harus di beri pelajaran" teriak lelaki tua itu tampak marah.
Setelah ia mengetahui bahwa lelaki yang di serang oleh kambing nya ini adalah murid dari padepokan Elang Canggah
Sehingga ia pun memutar tongkat kayu nya dengan cepat,
" Whusshh, !"
" Whusshh, !"
" Sebaiknya kau cepat berlutut minta ampun di hadapan ku sebelum dirimu akan menjadi santapan dari senjata ku ini!" seru orang tua itu.
Sesungguhnya lelaki tua yg mencegat Wisanggra Kinangkin ini telah menegaskan bahwa dirinya akan memberi pelajaran kepada nya.
Akhir nya putra arya Rangkana ini pun berteriak keras, menjawab tuduhan orang tua itu.
" Aku memang murid padepokan Elang Canggah, tetapi aku tidak berniat untuk mencuri kambing mu itu orang tua, jangan seenaknya saja menuduh orang!" seru Wisanggra Kinangkin dengan kerasnya.
Seperti nya ia sedang marah sekali sebab orang tua yang ada dihadapan nya ini menuduh bahwa murid -murid padepokan Elang Canggah adalah seorang pencuri , termasuk juga diri nya.
Saat orang tua itu menyerang menggunakan tongkat kayu nya, Wisanggra Kinangkin pun membalasinya dengan menggunakan senjata canggah nya.
" Traak, !"
" Heh, kau coba-coba melawanku, bocah, berani nya kau , terima ini!"
Orang tua itu pun tampak berang sekali setelah mendapatkan tantangan dari seorang pemuda yg masih berusia sangat muda ini.
Hatinya menjadi lebih bersemangat , ia pun menggerakkan tongkat kayu nya tidak terlalu besar itu dengan sesuka hatinya.
Di tambah lagi , tongkatnya teramat lentur sifatnya, hampir seperti sebuah cambuk jika orang tua itu menggerakkan tarikan sendal pancing.
Tongkat kayu itu pun menyerang mematuk ke arah dada dari murid Ki Ajar Smurup ini, membuatnya harus kelabakan menghindarinya, padahal saat itu dirinya berusaha untuk menghantam kan senjatanya ke arah senjata orang tua itu, tetapi tetap saja dengan sangat cepatnya lelaki itu mampu menggerakkan senjatanya ini berubah seperti sebuah cambuk.
Dan meluruk cepat ke arah dada Wisanggra Kinangkin.
" Crakk, !"
Baju depan pemuda itu terkoyak memanjang terkena sabetan senjata orang tua itu, namun tidak sampai di situ, ia terus melancarkan serangan nya,.
" Heaahh, !"
" Thak, !"
Sebuah tarikan yg cepat dilakukan nya pada senjatanya ini dan langsung memukul kannya ke arah betis dari pemuda yang menjadi lawannya ini.
Tidak ampun lagi betis dari Wisanggra Kinangkin pun terkena sabetan senjata tersebut.
" Aduh, !" seru nya menahan sakit.
Murid padepokan Elang Canggah ini pun melompat mundur.
" He, jangan lari kau maling, terima ini, heahhh!" seru lelaki tua berpakaian putih ini.
Bagaikan terbang, dan dapat memutar tubuh nya, orang tersebut melancarkan serangan lagi ke arah Wisanggra Kinangkin yg berusaha menjauhi nya, sehingga dalam sekejap saja pemuda itu pun menjadi bulan -bulanan orang tua ini.
" Thak,..!"
" Thakz.!"
" Thak,.!"
" Hei.!"
Tiga kali pukulan cepatnya mendarat dengan telak nya seperti sedang menggebuk seorang maling mendarat di kedua pundak dari murid Ki Ajar Smurup ini dan yg terakhir kalinya menghampiri punggungnya.
Lelaki tua itu amat terkejut melihatnya, sebab entah sudah berapa kali pukulan nya mendarat tetapi tidak menimbulkan luka atau pun memar,..dan pemuda itu tampak baik -baik saja.
Aneh, apakah ia memiliki ilmu kebal, berkata dalam hati lelaki tua itu
Ia sempat melompat mundur dan memperhatikan pemuda yang ada dihadapan nya ini.
" He, kau ingin pamer ilmu kebal mu di hadapan ku, bocah!" seru lelaki tua itu sambil mengarahkan tongkat kayunya ke arah Wisanggra Kinangkin.
Adalah putra Arya Rangkana ini lah yg menjadi kebingungan mendengar ucapan dari lelaki tua yg menjadi lawan nya ini.
Heh, memiliki ilmu kebal, sedangkan ilmu silat pun diriku tidak punya, aneh, seru Wisanggra Kinangkin dalam hatinya.
Ia memang amat heran atas apa yg terjadi, pada mulanya pukulan dari orang tua itu masih terasa sakit, akan tetapi lama kelamaan , pukulan itu seperti sedang mengelitik nya saja.
Sehingga membuat dirinya bertahan terus meski tidak mampu membalas serangan lawan.
" Maaf eyang, aku adalah Wisanggra Kinangkin putra dari Arya Rangkana yg berasal dari dusun Winanga datang ke mari guna menemui orang yg bernama Kyai Bodho, apakah Eyang mengenal nya dan mau memberitahukan kepada ku dimana tinggalnya?" tanya Wisanggra Kinangkin dengan berani.
Kali ini ia memang merasa lebih percaya diri setelah lawan nya ini menyebutkan bahwa ia memiliki ilmu kebal dan tampak orang itu menjadi tidak sembrono bertindak.
" Apakah benar dirimu memang berasal dari dusun Winanga?" tanya lelaki yang berpakaian serba putih ini.
Ia menghentikan sejenak pertarungan nya dengan pemuda itu.
Ada rasa penasaran pada lelaki tua ini setelah melihat sorot mata orang yang ada dihadapan nya , ditambah lagi ia mempunyai banyak kelebihan, bahkan patut untuk diacungi jempol adalah tahan terhadap pukulan senjata.
Sehingga menggelitik hati nya untuk mengetahui keadaan dari pemuda yang menjadi lawan nya ini.
" Benar Eyang, diriku memang berasal dari dusun Winanga dan kini dusun itu telah musnah menjadi karang abang!" jelas Wisanggra Kinangkin.
" Karang abang, dusun Winanga telah tiada lagi?" Seru lelaki tua itu tidak percaya.
" Demikian lah eyang, kiini dusun itu sudah tidak ada lagi , dan semua penghuninya pun telah lenyap , oleh sebab itulah Eyang guru, Ki Ajar Smurup mengajakku ke padepokan Elang Canggah dan belajar disana" terang Wisanggra Kinangkin.
" Jadi , siapakah yang telah menghancurkan dusun itu?" tanya Lelaki tua itu.
" Kinangkin tidak tahu eyang, yg jelas saat ini Kinangkin harus bertemu dengan seorang guru yg dapat mengajari dan mendidik ku dalam hal ilmu silat guna membalas perlakuan orang -orang yg telah menghancurkan dusun Winanga itu" kata Wisanggra Kinangkin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 179 Episodes
Comments
Suket Tekikapisan
ini kinangkin blm kenal udh main curhat aza
2024-09-02
0
AbhiAgam Al Kautsar
bertemukah kinangkin dengan kyai bodho...
2024-04-06
3