Bab 12

Setelah pulang dari rumah sakit, Bagas mencari tahu bisnis kotor milik Henri Borison. Ternyata selain mafia ke jam, ia juga merupakan sindikat jual beli anak-anak di bawah umur.

Ada juga yang di ambil organ dalam nya untuk dijual ke beberapa negara tetangga. Bagas yang memang sangat ahli dalam meretas, bisa dengan mudah mendapatkan informasi tersebut.

"Bobi, cari tahu obat jenis apa yang di ciptakan oleh Henri."

"Tapi, Gas. Apa nggak bahaya jika kita meretas mereka?"

"Akan aku bantu menghilangkan jejak. Lakukan saja. Cari tahu seluruh jenis obat-obatan yang mereka ciptakan. Dan juga, yang mereka suntikkan ke anak-anak yang ada di dermaga."

Malam ini, pasti Bagas akan memiliki banyak pekerjaan. Semua ini demi Talita.

" Ketemu! "

"Jelaskan Bob!"

"Obat itu seperti obat penenang pada umumnya. Namun, di dalam obat itu terdapat zat yang bisa melumpuhkan kinerja otak jika orang yang mengkonsumsi nya tidak cocok dengan obat tersebut."

"Apa? Jelaskan ciri-ciri nya."

"Kejang-kejang dan bahkan bisa berakibat kematian."

"Ku-rang a-jar! Manusia jenis apa yang menciptakan obat seperti itu. Apa kita tidak bisa menghancurkan bisnis itu Bobi?"

"sepertinya susah. Mereka memiliki perlindungan berlapis. Dan juga, mereka telah bekerja sama dengan Pak Sudiro."

"Papa,, pantas saja ia sangat marah saat tahu bisnis nya gagal. Laki-laki itu sesekali memang harus di beri pelajaran."

*****

Pagi-pagi sekali dengan modal nekat dan percaya diri, Talita datang ke kediaman Ibu nya. Tidak peduli jika ia akan di usir nanti. Setidak nya Ibu nya harus tahu keadaan Tasya di rumah sakit.

Tampak Naina sedang bersiap akan pergi. Sepertinya ia akan mengantarkan Andi ke sekolah. Ah, manis sekali pemandangan itu bukan?

"Bu, Tasya di rawat di rumah sakit."

"Terus? Mau minta uang? Nih!"

Tanpa bersalah sedikit pun, Naina melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah ke hadapan Talita.

"Bu, Tasya butuh Ibu. Sekali saja jenguk dia ya."

"Aku tidak memiliki urusan lagi dengan kalian. Sudah cukup selama ini waktu ku terbuang dengan membesarkan kalian. Sekarang, waktu nya Ayah kandung kalian yang bertanggung jawab."

"Apa Ibu tidak merindukan Tasya? Aku mohon, Bu." Talita berkata sambil berlutut di depan Naina.

Tanpa sedikit pun rasa iba, Naina mendorong tubuh Talita hingga ia terjatuh di aspal.

"Apa begini caramu merayu semua laki-laki? Dasar perempuan murahan kamu, Talita?"

"Ibu,," Talita menatap wajah Ibu nya dengan air mata yang menggenang.

"Aku tahu, pekerjaan mu memang menjadi ja-lang bukan? Bahkan kau bisa langsung di lepaskan saat aku melaporkan mu. Apa laki-laki itu juga sudah tidur dengan mu?"

"Ibu, kenapa Ibu tega berkata demikian? Aku anak mu."

"Iya, kau anak ku yang sudah seperti ja-lang murahan. Kau berani merayu ayah tiri mu sendiri agar dia menceraikan aku."

"Sepicik itu kah pikiran mu terhadap ku, Bu? Terserah ibu mau berpikir seperti apa. Tapi, tolong kali ini lihat lah Tasya di rumah sakit."

"Minggir, aku tidak punya waktu meladeni mu. Urus sendiri adik-adik mu yang merepotkan itu. Semenjak kau mengkhianati aku, semenjak itu pula kau bukan lagi anak ku."

"Bu,, aku mohon."

Naina langsung masuk ke dalam mobil dan menghidup kan nya. Talita berusaha membuka pintu namun ia tidak di izinkan masuk.

Mobil Naina pergi begitu saja meninggalkan Talita yang sudah bersimpuh di tengah jalan.

Beberapa menit kemudian pesan masuk di ponsel nya.

"Jangan pernah hubungi aku lagi. Anggap saja aku sudah mati."

Setelah mengirimkan pesan itu, Naina langsung memblokir nomor anak nya. Talita menangis tersedu di jalan depan rumah nya.

"Talita, kamu sudah pulang? Kemana saja kamu? Makanya, jangan suka berbuat yang aneh-aneh. Kamu itu masih muda, ngapain kamu mencoba merayu Ayah tiri mu itu."

"Maksud tante apa ngomong kayak gitu?"

"Semua orang yang tinggal di komplek ini juga tahu, kalau kamu menggoda Ayah tiri mu bukan. Bahkan kamu juga menyuruh ayah tiri mu untuk memilih. Talita, taubat lah nak."

"Tante ngomong begini, apa ada bukti? Nggak kan. Aku itu hampir di perkosa sama laki-laki mesum itu tante. Dan sekarang dia malah memutar balikkan fakta. Harusnya aku yang marah. Tapi Ibu, sudah di buta kan oleh cinta."

"Jadi, benarkah seperti itu? Wah, ja-hat sekali memang Ayah tiri mu."

"Dia memang ba-jingan. Dia juga telah mengambil rumah kami."

Talita bercerita sambil menangis. Ia tidak peduli jika tetangga nya akan menyebarkan gosip. Bukan kah sekarang ia tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan wanita yang bernama "Ibu"?

Talita berjalan pelan dari arah rumah nya ke jalan raya. Ia akan naik angkutan umum saja biar bisa menghemat biaya. Saat ia melewati sekolah nya, ia langsung termenung. Sudah beberapa hari ia tidak masuk sekolah, ia jadi merindukan masa-masa itu.

Sesekali Talita menghapus air mata yang terus saja menetes. Entah mengapa ia di uji dengan begitu banyak nya masalah.

"Aku harus kuat." gumam nya berkali-kali.

Talita akhirnya sampai juga di rumah sakit tempat Tasya di rawat. Dari kejauhan ia melihat Tania menangis sampai di peluk oleh seorang perawat.

"Ada apa sus?"

"Kak, Tasya kak. Adik kita."

"Kenapa Tasya dek?"

"Tasya udah nggak ada kak. Tasya udah meninggal. Tasya udah nggak sakit lagi. Tasya udah nggak ada sama kita lagi kak." Suara Tania membuat siapa pun yang ada di sana menangis.

Pasalnya, selama di rawat di rumah sakit, baik dokter atau perawat sama sekali tidak melihat orang tua mereka.

"Talita, Maafkan aku."

Bagas datang dengan beberapa teman-teman nya yang ia lihat malam itu.

"Ini bukan salah kamu, Bagas. Aku yang tidak becus merawat adik ku sendiri."

Tiada lagi air mata. Sudah cukup ia menangis dari tadi. Sekarang waktu nya membawa Tasya ke tempat peristirahatan terakhir nya.

Namun, lagi-lagi ia harus kebingungan. Dimana ia akan memakamkan Tasya. Rumah saja mereka tidak punya.

" Tasya, Maafkan kakak ya dek. Kakak udah ikhlas dek. Semoga Tasya di sana bahagia bertemu dengan Ibu yang sayang sama Tasya."

Tania memeluk erat kakak nya itu. Ia tidak ingin kehilangan lagi.

"Kak, jangan tinggalkan Tania. Tania cuma punya kakak sekarang."

Talita pun memeluk adik nya kembali. Mereka menangis bersama sambil berpelukan.

"Maaf, apa orang tua kalian tidak ke sini?"

"Maaf, sus. Kami yatim piatu. Orang tua kami baru saja meninggal. Jadi, saya selama ini yang mengurus adik-adik."

"Baiklah kalau begitu. Kita urus dulu administrasi nya."

"Sus, biarkan saya yang mengurus segalanya. Talita, kamu siap-siap saja ya. Aku yang akan mengurus segalanya."

"Terima kasih, Bagas." Ucap nya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Bagas memang sangat membantu. Ia mengurus segala hal tentang pemakaman Tasya. Ia bahkan memberikan tempat pemakaman terbaik untuk adik nya Talita.

"Kamu, nggak sekolah hari ini?" Tanya Talita saat melihat Bagas bersama nya sekarang.

"Nggak,"

"Kenapa? Jangan ikut-ikutan aku."

"Nggak kok, aku cuma bosan aja."

"Orang kaya mah bebas."

"Yang kaya Papa ku."

"Terserah deh."

"Sekarang, kalian mau ke mana?"

"Pulang."

"Apa besok kamu akan sekolah?"

"Aku, tidak tahu. Mungkin aku akan mencari kerja dulu. Masih ada Tania yang harus aku biayai."

Tania yang lelah sudah tertidur di pangkuan Talita. Saat ini, mereka hanya tinggal berdua saja tanpa ada nya Tasya di hidup mereka. Lagi-lagi, Talita menangis dalam diam nya.

"Kita udah sampai, Kak?"

"Yuk, turun. Bagas, terima kasih ya. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu."

"Aman. Sesama teman memang harus saling membantu, bukan?"

Setelah Bagas pulang, mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Biasanya, Tasya akan berceloteh manja. Rumah yang sepi menjadi ramai dengan suara Tasya.

"Tania rindu Tasya kak. Tasya udah senang. Sekarang kita harus bagaimana?"

"Tania, dengar kakak ya sayang. Kamu masih punya kakak. Kakak akan melakukan apapun untuk mu. Ingat."

"Iya, kak. Tania janji akan belajar lebih giat lagi. Supaya bisa membanggakan kakak."

"Iya sayang. Sudah, jangan sedih lagi ya. Kita harus kuat. Kita buktikan pada wanita itu, kalau kita bisa sukses."

"Kak, bolehkah Tania membenci Ibu?"

"Kenapa Tania membenci Ibu? Itu kan Ibu Tania."

"Itu bukan Ibu Tania. Dia Ibu Andi kak. Sampai kapan pun Tania nggak akan menganggap nya Ibu."

"Tania, sebenci-bencinya kamu sama Ibu, dia tetap lah Ibu yang melahirkan kamu."

"Tugas seorang Ibu bukan hanya melahirkan saja kak. Tapi banyak. Mulai sekarang kita nggak perlu lagi membahas masalah wanita itu."

"Baik. Kita lupakan segala nya."

Terpopuler

Comments

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

baca tapi sambil nangis ngejer.. ya Allah semoga ini hanya terjadi di dunia Maya saja.. jgn sampai terjadi di dunia real😭😭😭😭

2025-01-19

2

Ayrieenn.

Ayrieenn.

ck aelah thor, iya sih gw baby blues sma si tasya tapi ga sampe meninggoy jg kali thorrrr

2024-12-15

0

Sartini Cilacap

Sartini Cilacap

Tasya yang malang diakhir hidupnya sangat merindukan ibunya yang kejam

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!