Bab 16

"Talita,"

"Bu Andin?"

"Akhir nya Ibu bisa melihat kamu lagi, Talita."

"Maafkan Talita, bu."

"Apapun yang terjadi, kamu bisa bercerita kepada Ibu."

Bu Andin adalah wali kelas Talita di sekolah. Selama ini, ia sangat dekat dengan guru nya itu.

"Apa yang harus Talita jelaskan, Bu? Hidup yang seperti Ini?"

"Setidak nya kamu jangan putus sekolah. Kasihan kamu Talita. Hanya tinggal beberapa bulan lagi kamu akan menyelesaikan pendidikan kamu di SMA."

"Lalu, siapa yang akan memberikan kami nafkah, Bu. Adik ku mati saja tidak ada yang datang melihat."

"Tasya? Bagaimana mungkin?"

"Cerita nya panjang, Bu. Inti nya, untuk kami anak-anak yang di buang oleh orang tua, pendidikan tidak bisa menjadi prioritas kami. Ada perut yang harus kami isi."

"Maafkan Ibu, Talita. Ibu sama sekali tidak tahu kalau kehidupan mu akan menjadi seperti ini."

"Hidupku sudah hancur, Bu. Tapi, aku tidak ingin masa depan adik ku hancur begitu saja. Aku masih ingin memperjuangkan masa depan nya."

"Apa yang harus Ibu lakukan Talita?"

"Cukup jadi Ibu guru yang baik untuk teman-teman Talita yang lain ya, Bu."

Setelah berbicara beberapa saat dengan guru nya, Talita kembali berkutat dengan kue-kue pesanan orang. Tidak lupa Talita membungkus beberapa kue untuk Guru nya itu.

Tujuan nya adalah agar guru nya mau mempromosikan dagangan milik nya. Saat ini, mencari uang adalah yang paling utama.

"Oh, jadi kamu udah pindah ke sini, ya."

Seorang Ibu yang dulu nya menjadi saingan Talita saat berjualan lauk datang menghampiri. Ternyata dia membawa beberapa teman-teman nya.

"Iya, bu. Ibu mau beli kue apa?"

"Alah, tak usah sok berbaik hati kau itu Talita. Aku tahu, kamu pasti sakit hati kan dagangan mu tidak laku lagi gara-gara aku."

"Nggak kok, Bu. Talita biasa aja. Rejeki udah ada yang mengatur kan." Ucap Talita dengan senyum manis.

"Emang sekarang kamu jual apa? Hebat ya, jual beginian aja bisa langsung sewa rumah di depan sini. Atau jangan-jangan kamu pake pesugihan, ya?"

"Ya ampun Bu Romlah, kok jelek sekali sih isi pikiran Ibu. Jaman sekarang tu udah canggih, bu. Jualan bukan di sini aja. Tapi bisa via online."

"Apaan tu via online? Nama orang?"

"Ya, terserah Ibu aja deh. Jadi beli nggak nih."

"Nggak ah, nggak level sama kue yang beginian. Kamu tunggu aja ya Talita, aku juga akan buka bisnis dagang kue. Pasti nanti punya mu bakalan nggak laku lagi."

"Alhamdulillah kalau Ibu mau jualan kayak gini juga. Semoga laris ya, bu."

"Hey Romlah, aku mau beli kue itu. Kau kalau tidak mau ya terserah." Ucap teman nya Romlah yang sudah tergiur saat melihat puding buah milik Talita.

Apalagi dengan kondisi panas seperti ini, pasti enak sekali.

Romlah hanya melihat teman-teman nya yang memborong kue milik Talita. Semakin iri dan dengki lah hati nya itu.

Entah apa salah Talita sehingga ia bisa segitu iri. Padahal berkat Talita ia bisa berjualan lauk dan memiliki banyak pembeli.

Walaupun lauk yang ia jual tidak seenak milik Talita, namun karena tidak ada yang lain para pembeli terpaksa membeli nya.

"Kak, kenapa sih Bu Romlah tu kayak gitu?" Ucap Tania yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

"Biarkan saja. Mungkin dia lagi nggak ada kerjaan lain. Maka nya gangguin kakak."

"Kakak ini, di tanyain juga."

"Sudah, makan dulu. Pasti kamu udah lapar kan?"

"Kakak masak apa?"

"Teri sambal kacang dan daun ubi kuah santan."

"Wah, bakalan nambah terus kalau itu menunya. Oh iya kak. Minggu depan, Tania di undang di stasiun televisi. Kita pergi ya."

"Tapi, kakak nggak percaya diri."

"Kak, kita belanja pake uang Tania yuk. Nanti kita kan harus kelihatan cantik pas ke sana nya."

"Emang nya, kok bisa sih kamu di undang gitu dek?"

"Karena nilai Tania yang paling tinggi kak. Maka nya mereka penasaran ingin mewawancarai Tania. Tania bahkan bisa mengalahkan anak-anak di sekolah unggul."

"Wah,,, adik kakak memang jenius."

Talita mencium seluruh wajah adik nya. Tiba-tiba mata nya kembali basah. Bukan karena teringat akan orang tua nya. Melainkan karena ingat akan Tasya. Adik mereka yang sudah bahagia di alam lain.

*****

Talita dan Tania akhirnya sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini, Talita tidak akan memakai uang adik nya untuk berbelanja. Tabungan nya sudah sangat banyak jika harus membeli sepasang baju.

Kali ini ia ingin membahagiakan adik nya dengan uang hasil jerih payah nya selama ini. Tidak lupa ia juga membeli satu set pakaian. Agar ketika nanti ia pergi dengan Tania, Tania tidak merasa malu.

"Kak, ini cantik ya."

"Kamu suka?

" Tapi harga nya ini kak."

" Nggak masalah, kalau kamu suka ya ambil aja."

Tiba-tiba saat Tania ingin mengambil baju itu, seorang anak perempuan juga menarik baju yang di inginkan Talita.

" Loh, kok di tarik sih. Kan aku duluan yang ambil ni baju."

"Orang miskin seperti kalian pasti tidak akan mampu membeli baju ini. Jadi, mengalah aja ya."

"Siapa bilang kami nggak mampu?"

Adegan tarik menarik pun terjadi di antara dua anak itu. Pegawai wanita datang dan mencoba melerai.

"Maaf ya dik, ada apa ini?"

"Mbak, aku tu langganan di sini. Jadi, semua baju di sini, harus aku dulu yang coba. Tapi anak miskin ini malah mau coba juga. Dasar nggak tahu diri."

"Aku bukan orang miskin. Kamu itu yang miskin tata krama. Atau mungkin kamu nggak pernah sekolah ya."

Pegawai yang mendengar perkataan Tania hanya bisa tersenyum. Ia sebenarnya sudah sangat jengah dengan perlakuan sok manja dari anak itu.

"Kok kamu ikutan ketawa? Awas ya kalian, akan adukan pada mama ku."

"Tania, kita cari baju lain aja ya. Kakak malas kalau berdebat dengan mereka."

"Tapi, kan duluan Tania yang pegang. Pas mau ambil malah di tarik sama anak itu."

Saat Tania dan Talita sedang berbincang, seorang Ibu-ibu datang menghampiri mereka. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Ibu-ibu itu datang bersama Naina.

Mata Naina membulat sempurna saat melihat anak-anak nya ada di toko tersebut. Ia tidak menyangka mereka berani masuk ke toko yang tergolong mewah itu.

"Oo, jadi kalian yang mengganggu anak ku?"

"Mengganggu ? Enggak tu. Kami lagi lihat-lihat baju di sini. Dan cocok, pas adik saya mau ambil, malah anak mu itu yang menarik nya dengan paksa."

"Ya, suka-suka kami dong. Kami itu kaya. Bahkan toko ini pun bisa kami beli."

"Yaudah, kalau mau beli ya tinggal beli aja bu. Nggak usah bilang-bilang."

Talita yang tadi nya tidak ingin mencari masalah, karena melihat Ibu nya hanya diam saja saat melihat mereka di hina, ia pun mulai memanas hati nya.

"Memang benar-benar anak ini. Kok bisa sih, anak orang miskin masuk ke sini? Mana ni keamanan toko nya."

"Maaf bu, ada yang bisa saya bantu?"

Seorang manajer datang menghampiri mereka.

"Mengapa kalian mengizinkan orang miskin masuk ke sini?"

"Nggak masalah miskin, asal ada uang. Iya kan pak?"

Manajer yang mendengar perkataan Talita pun ikut mengiyakan.

"Benar bu, asal ada uang, siapapun bebas masuk ke toko ini. Kami tidak pernah membeda-beda kan pelanggan."

"Tuh, kan. Aku bilang juga apa. Aku tu kenal sama pemilik nya yang baik hati dan tidak sombong. Nggak sama seperti kalian ini."

"Talita! Jaga omongan mu."

Tiba-tiba Naina menjawab ucapan Talita. Dari tadi ia sudah tidak tahan dengan perkataan yang di lontarkan oleh anak sulung nya itu.

"Loh jeng, kamu kenal sama anak ini?"

"Anu,, anu,,"

Naina tergagap. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Talita langsung mengambil ponsel nya dan merekam perkataan Naina. Ia ingin mendengar apa yang akan di katakan oleh Naina.

"Ayo, katakan siapa kami, Bu."

"Mereka anak tetangga saya, makanya saya kenal dengan mereka."

Talita langsung tertawa sambil memegang perut nya. Rekaman itu sudah ia matikan. Setidak nya ia telah memiliki bukti.

"Bu Naina yang terhormat. Bukti sudah ada di tangan saya. Jika suatu saat anda datang mencari kami, maka rekaman ini yang akan saya nampakkan. Ayo Tania, kita pergi. Kakak alergi dekat-dekat mereka."

Tania tidak marah atau sakit hati, ia udah biasa dengan penolakan itu. Setelah mereka berbelanja di toko lain, mereka pun pulang. Rasanya hari ini sudah sangat lelah.

Namun saat mereka akan pulang, mereka kembali bertemu dengan Naina lagi.

" Dimana Tasya? Mengapa kalian tidak membawa nya? Apa kau tidak mau di repotkan lagi oleh nya Talita?"

"Anda sungguh lucu Bu Naina. Sampai kapan pun anda tidak akan pernah bisa bertemu dengan Tasya lagi. Bahkan, dalam mimpi sekalipun."

"Kamu cukup bilang saja dimana Tasya."

"Apa peduli ku.. Cari saja sendiri jika anda mau."

Mereka berdua pun pergi meninggalkan Naina dengan segala emosi yang ada.

Terpopuler

Comments

Rinisa

Rinisa

Seorang ibu yang meninggal kan anak nya, skrg bingung nyari...
Pasti menyesal nanti setelah tau Tasya meninggal

2025-01-01

1

Edy Sulaiman

Edy Sulaiman

ini bukan Anak durhaka sama org tua, melainkan org tua Durhaka sama anak..

2025-02-04

0

Zieya🖤

Zieya🖤

kasian kali Tasya 🤧🤧

2024-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!