Bab 4

Hari ini Talita mengantarkan Tania ke sekolah baru nya. Di dekat kontrakan mereka ternyata ada sekolah dasar negri yang dekat. Hanya perlu berjalan kaki selama lima menit saja.

"Kak, kok Kak Tania sekolah nya di sini? Kenapa nggak satu sekolah lagi sama Andi?"

"Kak Tania udah bosan dek, maka nya sekarang lagi nyari suasana baru." Ucap Tania mencoba memberi pengertian kepada adik nya.

"kok Ibu nggak datang buat anterin kak Tania?"

"Nggak boleh sama bu guru nya kalau pergi ramai-ramai."

"Yaudah, kalau gitu Tasya nggak usah ikut ya kak. Biar Ibu aja yang temenin kak Tania ke sekolah baru. Pasti kakak lebih membutuhkan Ibu daripada Tasya sekarang."

Talita bingung, apa yang harus ia katakan sekarang kepada Tasya. Tidak mungkin ia terus menerus mengarang cerita.

"Tasya, Ibu sedang banyak pekerjaan. Jadi, kita mewakili Ibu ya untuk menemani Kak Tania di sekolah baru nya."

"Hmm. Iya deh. Kasihan juga ya Kak Tania. Sekolah nggak di antar Ibu. Nanti, kalau Tasya sekolah, pokoknya Tasya akan paksa Ibu untuk datang." Ucap nya sambil tersenyum.

Hati Talita bertambah sakit mendengar celotehan adik nya itu. Entah nanti bakal kesampaian keinginan nya itu.

Karena masih di awal tahun, jadi Tania masih bisa masuk ke Sekolah itu. Alhamdulillah semua nya gratis. Dan jika Tania berprestasi, bisa-bisa ia akan mendapatkan beasiswa.

Talita sedikit lega. Setidak nya untuk makan uang masih tersisa. Ia harus memutar otak untuk ke depan nya.

Sekolah? Sepertinya terpaksa ia berhenti. Siapa yang akan menjaga Tasya jika ia sekolah. Apalagi sekolah Talita menerapkan full day school yang pulang ketika sore hari.

Talita belum bisa mempercayai siapapun untuk menjaga Tasya. Bukan apa-apa, Tasya susah dekat dengan orang-orang baru.

Suara panggilan memecah lamunan Talita pagi itu. Setelah mengantar Tania ke sekolah, ia kembali kerumah untuk membereskan barang-barang mereka.

"Dimana kamu?"

"Ada apa?"

"Ibu tanya dimana kamu?"

"Biasa aja kali ngomongnya nggak perlu teriak-teriak. Di kasih apa Ibu semalam sampe bisa kayak gini."

"Talitaaaaa!"

"Kan udah di bilang jangan teriak-teriak. Aku bukan keturunan orang tu li."

"Dimana kau sekarang Talita?"

"Buat apa Ibu nanya aku dimana? Bukan kah sekarang Ibu sudah bahagia karena kami tidak ada lagi di rumah itu? Oh, ralat! Rumah kami."

"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu. Ini rumah Ibu, jadi Ibu berhak atas rumah ini."

Talita tertawa sumbang saat mendengar Ibu nya mengatakan hal yang lucu baginya. Talita tidak menyangka Ibu nya akan berkata seperti itu kepada nya. Anak kandung dan da rah daging nya sendiri.

" Rumah Ibu? Apa Ibu nggak malu? Rumah itu Ibu minta kepada Ayah karena Ibu mengatakan akan merawat kami anak-anak Ibu. Tapi ternyata semua zonk! Ibu tega mengusir kami demi laki-laki me sum itu."

"Dia Ayah mu sekarang Talita."

"Bukan, dia bukan Ayah ku. Dia suami me sum mu bu."

"Tutup mulut mu Talita! Siapa yang mengajarkan kamu untuk berkata kasar seperti itu?"

"Ibu. Ibu yang sudah mengajarkan aku. Ibu adalah Guruku. Aku belajar semua nya dari Ibu. Tapi satu hal yang tidak akan aku lakukan kalau menjadi Ibu. Aku tidak akan membuang anak kandung ku demi menyenangkan anak tiri ku."

Panggilan di akhiri sepihak. Talita tidak sanggup kalau harus berlama-lama berdebat dengan Ibu nya. Bukan nya ia tidak tahu seperti apa Ayah tiri nya itu.

Otak me sum laki-laki yang di sebut Ayah tiri itu selalu saja jalan saat melihat Talita. Bukan tanpa alasan ia ingin mengusir anak-anak itu dan hanya meninggalkan Talita di sana.

Ia dari awal sudah menyukai Talita dan ingin mencicipi nya. Namun, pada malam itu Tania dan Tasya selalu saja mengganggu rencananya.

Bahkan Ayah tiri yang me sum itu juga pernah mengintip Talita berganti baju. Untung saja Talita selalu memakai kaos tipis di balik seragam sekolah nya.

Wajah Talita memang sangat cantik. Kulit putih bersih, hidung mancung dan bibir merah muda alami. Rambut nya lurus dan berkilau. Walaupun Ibu nya masih cantik di usia nya yang sudah tua, namun pria seperti Ayah tiri nya ini pasti akan tergoda saat melihat gadis muda yang masih segar.

"Gimana? Kamu sudah tahu dimana anak-anak mu sekarang?"

"Ini semua gara gara kamu! Gara-gara kamu sekarang anak-anak ku tidak tahu kemana."

"Bukan nya kamu menyuruh mereka ke rumah ayah kandung nya? Dan Talita, buat apa dia juga ikut?"

"Trus, apa mungkin Talita mau berpisah dengan adik-adik nya? Ia sangat menyayangi mereka. Dan Ayah kandung mereka, juga tidak menerima kehadiran mereka mas."

"Trus, kenapa harus aku yang salah? Bukankah kau yang mengambil keputusan ini. Dengar ya sayang, mereka akan baik-baik saja, Oke. Talita sudah besar dan pasti bisa merawat mereka."

"Tapi, tadi malam Talita menelpon dan ingin mengatakan sesuatu. Harus nya tadi malam aku bertanya dulu kepada nya."

"Kan tadi malam aku udah nggak tahan lagi sayang. Kamu itu buat ku candu." Ucap Jaka mulai menggoda dan menci um seluruh tempat yang bisa ia jangkau.

Lagi-lagi mereka melakukan hubungan suami istri seperti biasanya. Namun kali ini, Jaka membayangkan wajah anak tiri yang sangat ia inginkan itu.

Di lain tempat, Tania sangat senang bisa sekolah di tempat ini. Ternyata, anak-anak di sekolah ini sangatlah ramah. Baru hari pertama sekolah, ia sudah mendapatkan teman baru.

Tania memang anak yang cerdas dan pintar. Di sekolah dulu saja ia selalu mendapatkan rangking 1. Jadi tidak heran jika di hari pertama ia sudah bisa menjawab soal dari guru nya.

Ia sangat teringat pada saat itu, ia di tegur oleh Ibunya karena selalu mendapatkan rangking 1 di kelas.

"Tania, sekali-kali kamu ngalah dong sama Andi. Biarkan dia rangking 1 sekali saja. Ibu kasihan melihat dia yang menangis karena terus menerus mendapatkan rangking 2."

"Bagaimana cara nya bu? Kan yang menilai itu Ibu guru nya kita."

"Kan bisa kamu kosongkan lembar jawaban kamu. Atau jangan kamu jawab semua soal nya."

"Nggak mau! Kok harus Tania yang mengalah. Kalau memang Andi pengen mendapatkan rangking 1, ya dia harus belajar."

"Tania,"

"Ibu ini apa-apaan sih. Kok tega ngomong gitu ke Tania." Ucap Talita yang tiba-tiba datang membela.

"Kan Ibu cuma kasihan aja sama Andi. Dia murung terus karena mendapatkan rangking 2."

"Ya ela, belajar yang giat bilangin. Supaya bisa mengalahkan adik Talita yang jenius ini."

"Kamu ini, bukan nya membela Ibu."

"Salah kok di bela. Talita itu akan membela yang benar bu. Ibu itu sebenarnya Ibu siapa sih?"

"Ya Ibu kalian, tapi kan sekarang ada Andi juga yang harus Ibu perhatikan. Kasihan dia dari kecil tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu. Maka nya Ibu ingin membuat dia sedikit bahagia."

"Dengan mengorbankan kebahagian Tania?"

"Ya nggak gitu juga Talita. Toh Tania tetap dapat rangking. Kan cuma sekali aja, nggak sampe selamanya."

"Baik kalau itu mau ibu. Tania akan mengalah sekali."

"Gitu dong."

Namun, Tania sangat menyesal karena sudah memberikan kesempatan itu kepada saudara tiri nya.

Andi merasa sombong karena sudah bisa mengalahkan Tania. Bahkan, Ayah tiri dan Ibu mereka malah membawa jalan-jalan Andi menonton bioskop hanya bertiga.

Bukan itu saja, Andi juga diberikan hadiah yang banyak. Diberikan kecupan hangat berkali-kali, dan di masak kan makanan kesukaannya.Tania merasa sangat sedih. Tania merasa di khianati oleh Ibu nya sendiri.

Harusnya ia juga mendapatkan hal yang sama seperti Andi. Tapi apa? Ibunya sudah lupa kalau masih mempunyai anak yang lain.

"Bu, apa cuma Andi yang diberikan hadiah?"

"Iya dong. Kan dia udah berusaha untuk mendapatkan rangking 1. Hebat ya saudara kamu itu."

"Trus untuk Tania apa nggak ada?"

Naina menatap Tania dengan wajah heran. Karena selama ini memang ia tidak pernah memberikan hadiah apapun untuk Tania. Dan Tania pun tidak pernah protes.

"Kan kamu nggak dapat rangking 1."

"Tapi selama ini juga Ibu nggak pernah memperlakukan Tania seperti Andi. Lagian Andi bisa dapat rangking 1 kan karena Tania mengalah bu."

"Tania, kamu nggak boleh sombong nak. Kamu memang pintar. Tapi, ada yang lebih pintar dari kamu."

"Jadi Ibu nggak percaya kalau Tania sengaja mengalah demi Andi?"

"Sudah ya, Ibu capek."

"Ke depan nya nanti Tania tidak akan mengalah lagi Bu. Lihat saja. Tania akan ambil kembali apa yang menjadi hak Tania. Dan pada saat itu, Tania menagih hadiah dari Ibu." Tania berkata sambil menangis sesenggukan.

Naina terus berjalan tanpa memperdulikan tangisan Tania. Bagi nya Tania hanya emosi sesaat. Ia tidak tahu, bahwa di dalam hati kecil Tania, ia menyimpan dendam.

Terpopuler

Comments

Firdaus Saad

Firdaus Saad

talita & tasya di pundak mau kemana pergi di luar banyak oarang jahat lho ..

2025-02-04

0

Rinisa

Rinisa

Gregetan sama orang tua model mereka...

2025-01-01

1

sasatar77 tarsa

sasatar77 tarsa

aku jg nangis bacanya udah tor jangan di kasih sedeh sedih deh

2024-12-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!