Waktu dan tempat :
Jam : 8.45 pagi
Tanggal :8 januari 1982
Kota : ibukota negara bagian uni soviet dibagian barat laut ( murmansk) yang berseberangan dengan kota besar lainnya yaitu kota kola
Status:
Disisi lain tokoh yang berbeda dengan tokoh utama pada chapter 1 sampai 3.
Timeline : 17 jam sebelum kehancuran kota pelabuhan polyarny.
Disebuah rumah yang sangat besar dan mewah, yang di jaga lebih dari 20 tentara berpakaian lengkap.
Terlihat seseorang pemuda yang memakai baju tentara dengan atribut yang sangat lengkap beserta dengan pangkat mayor yang berada di bagian dadahnya. Pemuda itu terlihat menuju kesebuah kamar yang di jaga oleh satu staf dokter dan mulai memintah izin untuk masuk kepada salah - satu dokter disana.
"Bolehkah saya masuk sekarang dokter, diri saya tidak akan lama - lama" Ucap pemuda itu dengan lembut.
"Silahkan masuk nak, akan tetapi kamu tak bisa berlama - lama didalam ruangan sana sebab ayahmu pada saat ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh dari penyakit yang dihidapnya sejak ia masih berusia 20 tahun, penyakit ini agak berbeda jauh dengan 30 tahun yang lalu. Pada saat ini ia sangat begitu kritis dan memerlukan waktu untuk istirahat yang cukup lama dari biasanya" Ucap salah - satu dokter yang berada di luar ruangan itu.
"Saya berjanji hanya 10 menit saja di dalam sana" Ucap pemuda itu sambil menuju pintu kamar.
Pintu kamar pun dibuka perlahan - lahan dan disana terlihatlah seorang pria tua sedang sendirian tanpa seseorang pun yang menemaninya yang sedang terbaring lemas tak berdaya, diseluruh bagian tubuhnya banyak dipasang alat bantu bertahan hidup supaya mempermudah pria tua itu untuk tetap hidup dalam keadaan yang kritis saat ini.
Pemuda itu pun mendekat dan meraih tangan dari pria tua itu dan mulai berbicara beberapa hal.
"Ayah apakah kamu tahu sesuatu tentang lambang ini" Tanya pemuda itu
"Diriku agak merasa aneh dan takut tentang benda ini, diriku di teror terus menerus dengan orang yang sama setiap malamnya, mereka mengatakan bahwa (hidupmu sebentar lagi akan berakhir dan rencana kami akan berhasil, kamu hanyalah lalat penganggu rencana kami selama ini. Oleh sebab itu kamu harus mati)" ucap pemuda itu sambil menangis ketakutan.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku ini ayah? Apa pengaruhku hingga mereka ingin membunuhku seperti ini. Di setiap malam hari mereka menghubungiku melalui telepon kantor dan mereka juga tak sungkan berdiri diluar rumah memantau setiap pergerakan kita semua yang ada dirumah ini, walaupun rumah ini dijaga oleh puluhan tentara yang berbaris rapi yang siap menembak seseorang yang disangka mencurigakan" ucap pemuda itu
"Mereka datang dengan baju jas yang bewarnah hitam dan memakai lambang yang sedang kuperlihatkan sekarang ini, mereka juga bukan terlihat seperti manusia mereka lebih mirip dengan moster atau iblis diriku bingung menyebut mereka itu apa. Kalauku ingat lagi mata mereka bewarnah merah darah yang sangat begitu terang bila ditempat yang sangat gelap, gigi mereka juga sangat begitu tajam dan bertaring - taring, senyuman mereka bagaikan aurah iblis yang siap membunuh diriku kapan pun mereka siap. Ketika aku mendekat ke para penjaga mereka tidak melihat apapun kecuali hanya hembusan angin yang lewat saja, apa yang harus kulakukan ayah, apakah diriku harus memanggil penjaga tambahan supaya kita lebih aman" ucap pemuda itu dengan nada suara yang gelisah.
Pria tua itu pun menarik baju dari pemuda itu dan mulai melepaskan alat bantu pernafasan yang berada dimulutnya, dengan suara yang berat ia berusaha untuk berbicara dengan jelas.
"Nak diriku ingin berbicara empat mata dengan dirimu. Kamu harus sangat berhati - hati dengan ancaman ini kerena tentara biasa tidak akan bisa mengatasi mereka semua. Kita dalam keadaan yang sangat darurat, diriku akan sangat berharap kamu akan bisa menyelamatkan dunia ini dari kehancuran yang mengerikan yang berada di depan mata kita sekarang ini" ucap pria tua itu.
"Seseorang yang berada didalam pemerintahan adalah salah - satu pengkhianat dari negara ini, kamu harus sangat berhati - hati dengan mereka semua. Kalau mereka tahu bahwa kamu sudah menyadari semua rencana mereka saat ini, dirimu pasti akan disingkirkan oleh mereka dengan cara apapun, bahkan dengan cara pembunuhan atau pun penculikan yang misterius. Jabatan dan pangkat mereka sangat begitu tinggi di institusi kemiliteran yang menyebabkan mereka mempunyai akses yang lebih besar didalam kekuatan negara ini, kamu harus sangat berhati - hati dengan mereka."
"Mereka berada dimana - mana, bahkan bisa saja mereka sedang mendengarkan apa yang kita perbincangkan sekarang ini. Bersikaplah seperti biasanya jangan undang kecurigaan mereka pada dirimu, maka kamu akan selamat dan berhasil menumpas mereka semua, aku yakin kepada dirimu itu. Kamu pasti bisa diriku sebagai ayahmu akan mendukungmu dengan doa dan beberapa bantuan hukum yang masih diriku miliki sebagai veteran jenderal." ucap pria tua itu dengan suara yang sangat berat akibat nafasnya yang terbatas.
"Akhhh!!!! Diriku ingin memberimu sedikit informasi atau lebih tepatnya sebuah teka - teki yang belum pernah terpecahkan oleh satu pun orang yang ada didunia, yang diriku dapatkan selama ini. Kalau kamu bisa menjawab ini dengan benar dan tepat, kamu bisa saya pastikan semua masalah ini bisa di selesai tanpa mengorbankan satu nyawa pun" ucap pria tua itu sambil memengang dadanya.
"Diriku akan memberikanmu sedikit jalan keluar untuk masalah ini" Ucap pria tua itu
Dengan susah payah pria tua itu menggerakkan tangan kirinya menunjuk ke sebuah berangkas besi yang berada di samping pria tua itu.
"Tolong suatu saat nanti kamu harus membuka berangkas besi itu, dan kunci berangkas itu berada di kota leningrad disebuah penjarah bagi tahanan tentara jerman pada saat perang dunia ke 2 dulu. Kamu bisa mengambil kunci itu di seseorang kopral wanita yang bernama feyna. Disanalah (berangkas besi) kamu bisa mendapatkan semua jawaban dari semua masalah yang besar ini......." sebelum dapat menyelesaikan semua ucapannya sang pria tua itu tiba - tiba kejang dan mulai kehilangan kesadarannya sedikit - demi sedikit.
"kita sebenarnya berperang untuk kemanusiaan atau kita perang melawan kemanusiaan, apa yang sedang terjadi dengan dunia ini. Diriku tidak dapat menyalahkan mereka kerena mereka semua mempunyai tujuan yang bisa saya katakan demi kebaikan hidup mereka sendiri akan tetapi buruk untuk kita semua, setiap mahlukh hidup mempunyai hak untuk tetap bertahan dan tetap hidup, apakah ini adalah akhir dari dunia. Kita tunggu saja ha, ha, ha, ha."ucap pria tua itu didalam hatinya.
Meteran yang tersambung di pria tua itu pun mulai melemah yang menandakan pria tua itu menuju kematian.
"Ayah apa yang terjadi pada dirimu, ayah bangunlah" ucap pemuda itu dengan panik sambil mengoyang - goyangkan tubuh pria tua itu.
Dokter pun dengan panik langsung mendorong pintu dengan sangat keras, 10 dokter pun langsung memenuhi ruangan itu dengan nada yang tinggi salah satu dokter menyuruh pemuda itu untuk keluar dari ruangan itu secepatnya.
"Pak, sekarang anda harus keluar dulu, ayah anda membutuhkan beberapa waktu untuk masa pemulihan. Sudah saya bilang tadi hanya 10 menit saja kenapa anda menjenguknya lebih dari pada waktu yang sudah di janjikan" ucap salah - satu dokter yang bertugas dengan menunjukkan raut wajah yang marah.
"Maafkan saya dokter, tolong berikan hasil yang terbaik pada ayah saya" Ucap pemuda itu dengan gelisah.
Dengan perasaan yang sangat bersalah pemuda itu didorong keluar dari kamar ayahnya dan mulai berjalan sendirian menuju tangga yang menghubungkan keluar rumahnya yang sangat besar itu.
Telepon pun mulai berdering dari salah satu kamar yang berada di depan hadapan pemuda itu, dengan perlahan ia berjalan dan mengangkat telepon yang berdering itu.
"Halo..... apakahan ada mayor herman di sini" Sebuah suara yang tak asing bagi sang pemuda itu keluar dari telepon.
"Yah, anda sedang berbicara dengan saya, ada apa anda menghubungi diriku sekarang ini"
"Oh tepat pada waktunya, sekarang anda di panggil oleh jenderal vaskov menuju kekantor pusat yang berada ditengah kota, ada sebuah laporan yang sangat penting yang harus disampaikan oleh sang jenderal. Anda sekarang dipaksa untuk ikut dalam agenda yang sangat penting ini, walaupun anda memiliki sebuah alasan yang sangat menghambat sekali pun, saya harapkan anda harus datang secepatnya, ini perintah dari pusat dan bukanlah sebuah candaan. Kalau tidak anda dapat di hukum di pengadilan militer dengan hukuman yang sangat berat" Ucap operator pesan dari telepon.
"Siap saya akan datang secepat mungkin. Katakan kepada janderal, saya akan sampai dalam waktu 1 jam lagi" Ucap pemuda itu dengan nada suara yang datar.
"siap... diriku akan menyampaikan arahan anda ke atasan saya sekarang. Mayor diriku mendapatkan kabar yang cukup menyedihkan yaitu ayah anda yang sudah membantu diri saya untuk tetap bertahan hidup hingga sekarang. Jatuh didalam koma yang sangat kritis, oleh sebab itu diriku turut berduka cita. Semoga ayah anda cepat sembuh dan diperpanjang umurnya. Diriku juga sekali lagi memintah maaf kepada dirimu kerena menelponmu pada saat yang sangat tidak tepat ini."
"Tidak usah panggil diriku dengan sebutan formal itu panggil saja saya herman kan kita teman lama untuk apa kamu malu - malu untuk berbicara denganku."ucap pemuda itu dengan nada yang bercanda.
"Oh kamu tak usah memintah maaf seperti itu teman lamaku, ini semua bukanlah kesalahanmu pribadi, untuk apa kamu memintah maaf seperti ini. Ini emanglah kewajibanku sebagai seorang tentara apa lagi diriku ini seorang mayor yang sudah berjanji dan disumpah atas nama tanah air. Diriku harus melindungi negara ini dari serangan negara lainnya. Sekali lagi saya berterimakasi kepada teman lama saya yaitu grigori, diriku tidak akan melupakan pertemanan yang kita jalin sejak lama dari waktu taman kanak - kanak hingga sekarang ini." ucap pemuda itu.
"Terimakasi untuk ucapan yang sangat bermakna bagi diriku ini, diriku sangat begitu terharu Kamu masih mengingatku sebagai seorang teman yang baik, walaupun kita sudah lama tak bertemu dan bercanda setelah kejadian yang sangat besar itu, aku harap ini bukanlah akhir dari pertemanan dari kita, aku harap juga umurku masih bisa bertahan lebih lama dari pada ini........"ucap operator pemuda itu dengan nada yang agak gelisah seperti diamati oleh orang lain, akan tetapi telepon itu langsung terputus dan beralih menuju telepon yang bukan berasal dari kantor akan tetapi suatu tempat yang sangat aneh yang berada disebuah puncak gunung yang bersalju sangat tebal.
"Shhhhhh, shhhhhh, shhhhhh." Telepon itu tidak berbunyi apapun hanya terdengar suara tiupan angin dingin saja.
"hey, ada apa ini kenapa hubunganku langsung terputus. Tak mungkin jaringan ini bisa terputus dengan sangat mudah, kerena yang dipakai oleh diriku sekarang ini adalah jaringan nasional yang kuat dan terhubung langsung menuju ke pusat pengamatan mata - mata kgb. Apakah ada ******* yang meretas telepon kantor? Mustahil bila ada orang yang sehebat itu dan berani melakukan hal yang sangat berbahaya ini..... Halo, halo, halo grigori apakah kau masih ada disana tolong hubungkan lagi jaringannya, sepertinya ini gawat diriku harus hubungi kepalah komunikasi" ucap pemuda itu dengan panik sambil mengetuk ngetuk teleponnya ke mejah.
Telepon itu pun mulai berubah jaringannya lagi menuju ke sebuah tempat yang lain tapi yang kali ini menujuh kesebuah tempat yang sangat tinggi seperti di atas langit, tapi berada di atas ketinggian lebih dari ribuan meter. Dapat diketahui dari suara angin yang sangat kuat yang mengganggu jaringan hubungan suara yang keluar. Telepon pemuda itu seketika terhubung kepada seseorang pria yang tidak ia kenal dengan suara gemericik air yang mengiringi nada suaranya.
"Halooo... apakah ini mayor herman yang kuat dan penuh taktik seperti yang dikatakan kebanyakan orang, kalau iya diriku sangat tak sopan kerena menelponmu pada saat yang sangat penuh dengan kesedihan dan duka cita ini" ucap pria misterius itu dengan nada yang agak mengejek.
"siapa kamu itu, apakah kamu itu *******!!! Cepat jawab atau kulaporkan kepusat komunikasi, kamu sudah membuat sebuah keputusan yang sudah sangat salah, cepat kembalikan lagi jaringan ini ke operator kantor" ucap pemuda itu dengan nada yang kesal.
"jangan marah dulu mayor, kita bicara baik - baik dulu ya" ucap pria itu.
"cepat apa yang kamu ingin bicarakan" ucap sang pemuda dengan kesal kerena dipermainkan.
"ha, ha, ha, ha.... Saya ingin anda mati saja kalau boleh!!!!
seketika suasana menjadi sangat mencekam dengan perkataan mati itu, dengan panik pemuda itu langsung membanting teleponnya hingga beberapa bautnya terlepas. Dengan perasaan yang tidak karuan lagi pemuda itu langsung mencoba untuk menjerit memintah tolong kepada tentara yang berada di sekitarnya.
"eh, suara apa itu tadi, diriku merasa anda sangat ketakutan. Dirimukan tentara apa lagi pangkatmu itu sudah mayor, apakah ini yang di tunjukkan sebagai jiwa patriot kepada bangsa anda"
"Tolong siapa nama anda itu dan apa tujuan anda untuk membunuh saya, tolong tinggalkan saya sendirian kenapa kalian setiap malam menerorku dengan hal - hal seperti ini. Diriku akan membayar berapa pun untuk kalian, asalkan diriku bisa hidup dengan tenang" ucap pemuda itu dengan nada yang tegang.
"mayor... Mayor.... Mayor, apakah kamu masih disana" tepuk tangan dari pria misterius itu.
"Diriku tidak ingin bayaran apa pun dari dirimu, tatapi diriku ingin kematianmu saja kerena kamulah rencana kami bisa berantakan."
"Mayor... diriku akan pastikan satu persatu keluargamu dan orang yang kamu percaya dan cintai akan mati dihadapanmu dengan cara yang sangat tragis dan mematikan, kamu akan merasakan apa yang kami rasakan pada masa lalu. Ha. Ha. Ha. Ha. Diriku akan pastikan dunia ini akan tenggelam didalam mimpi tanpa batas yang ku buat" ucapan terakhir dari pria misterius itu.
"aku harap kita akan bertemu suatu saat nanti mayor, diriku ingin sekali berbicara denganmu. Kalau begitu sampai jumpa dan heil jermanic"
Telepon dari pria misterius itu pun berhenti bersuara dan mulai terhubung kembali ke jaringan kantor.
"Halo..herman...herman...herman. Sambungan langsung, tolong dijawab atau saya akan panggil bantuan operator lain" ucap grigori dari telepon dengan kebingungan.
pemuda itu dengan wajah yang tegang dan lemas mencoba untuk berdiri dan mengambil telepon yang ia tadi lempar hingga beberapa bagiannya mengalami kerusakan yang cukup parah.
...----------------...
Telepon itu pun di ambil kembali dari lantai dan herman pun mulai berbicara dengan grigori dengan nada suara yang datar.
...----------------...
"halo. Saya terhubung kembali" ucap pemuda itu dengan nada yang datar.
"kenapa hubungan kita tadi terputus herman, apakah ada yang salah sinyal dari setelit. Kalau ia ini sangat berbahaya kerena dapat diretas oleh negara barat" ucap grigori dengan nada yang bercanda.
"apakah diriku harus memberitahu grigori tentang masalah yang sedang kuhadapi sekarang ini? Ah tidak, tidak, tidak. Diriku tidak akan melibatkan dirinya kedalam masalah yang besar ini" tanya herman didalam hatinya.
"Halo... herman apakah kamu dengar diriku?"
"Oh, iya maaf diriku melamun sebentar, coba ulangi apa yang kamu katakan tadi?"
"Ya, kalau begitu kita sudah dulu ya, soalnya diriku ada pekerjaan yang harus dikerjakan segera. Oh jangan lupa kamu harus datang kepertemuan para petinggi militer secepat mungkin, soalnya ini sudah lebih dari 45 menit kita berbicara kamu harus datang dalam 15 menit lagi jangan terlambat, kamu bisa saja dihukum kerena menunda waktu yang sangat penting ini".
"Oke kalau begitu kita akhiri dulu sampai sini"
Beberapa pelayan dan tentara pun dengan cepat menaiki tangga dan menemukan sang pemuda itu dalam keadaan yang sudah sangat kacau, dengan luka yang sudah memenuhi seluruh bagian tubuhnya.
"Tuan... Apa yang terjadi dengan dirimu, siapa yang melakukannya perbuatan yang sekejam ini kepada dirimu"
"Cepat cek semua bagian ruangan ini, kita akan temukan penjahatnya sesegera mungkin, buka semua kaca dirumah ini dan periksah semua kamar dan jangan lupa hubungi juga pihak militer dan kepolisian" ucap salah satu staf rumah yang bernama wiliams.
Keributan langsung terdengar keseluruh rumah, puluhan tentara dikerahkan untuk menemukan siapa pelakunya.
"Tidak usahlah... Wiliams, kejadian ini disebabkan oleh diriku sendiri, diriku melukai tubuhku sendiri, mentalku sudah hancur dan tak terselamatkan lagi, biarkan diriku pergi kepertemuan para jenderal" ucap pemuda itu dengan nada yang datar dan mata yang berkaca - kaca.
"tapi tuan, anda sedang terluka cukup para. biarkan kami jahit dulu lukamu itu kalau tidak darahnya akan mengalir terus yang bisa menyebabkan infeksi"
"Tidak usah wiliams, lama - lama gak terasah sakit lagi luka ini nanti, yang perlu di obati itu adalah mentalku ini. Diriku harus pergi secepatnya kepertemuan itu soalnya 10 menit lagi rapatnya akan segerah dimulai. Bila diriku tak datang aku bisa saja di hukum atau pun diberhentikan sebagai tentara, soalnya pertemuan ini sangat begitu penting kerena di hadiri oleh petinggi - petinggi militer setiap daerah."
pemuda itu pun dengan tenaga yang tersisah di dalam dirinya mencoba untuk berjalan menuju pintu keluar.
"wiliams. Siapkan mobil, antar diriku kekantor" ucap pemuda itu.
"siap, siap. Tuanku"
Mobil pun keluar dari garasi, mayor herman dan pelayan setianya menuju kekantor militer bersama - sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 9 Episodes
Comments