Petir pun menyambar dengan sangat dasyat, menciptakan sebuah kilatan cahaya yang sangat begitu terang, hingga seketika daerah di sekitar kota itu menjadi sangat terang bagaikan pagi yang menjelang datang.
Disanalah kebenaran terungkap dengan sangat jelas, dimana muka sang pemuda misterius itu terlihat jelas selama beberapa detik.
pria paru baya itu pun terkejut dan seketika melepaskan cekikannya yang berada di leher pemuda itu, didepan hadapannya sang pria paru baya itu melihat seseorang yang ia kenal dan ia cinta. pria paru baya itu pun tidak dapat berbicara beberapa patah kata pun untuk mengungkapkan rasa bahagia dan sedih yang datang bersamaan, ia tertunduk kaku, matanya kosong dan mulai mengatakan sesuatu hal yang aneh.
"A.a.a.a. anakku, diriku benar selama ini, mereka lah yang bodoh" ucap pria paru baya itu.
"Johan, kamu sudah sangat besar bahkan diriku tak menyadari bahwa selama ini kamu masih mencintaiku sebagai ayah kandungmu sendiri. Aku sangat bahagia ketika melihatmu bahagia juga, kamu lebih kuat dari pada diriku yang lemah ini, aku sangat begitu menyesal atas apa yang kulakukan pada masa lalu yang kelam itu. aku ingat tangan kananku yang kasar ini pernah menamparmu dengan sangat begitu keras hingga kamu menangis, dan aku ingat juga tangan kiriku ini pernah memukul kepalamu hingga kamu tak sadarkam diri. Diriku bagaikan setan yang berwujud manusia, diriku tak pantas menjadi seorang ayah. Aku ini seorang penjahat, penjahat, penjahat, penjahat!!!! Diriku lebih buruk dari pada seorang bajingan." ucap pria paru baya itu sambil mengeluarkan tetesan air mata.
Pemuda misterius itu pun berdiri kembali di depan hadapan pria paru baya itu, dengan tatapannya terlihat kosong dan mengerikan.
"ya benar ini aku ayah. Aku sangatlah menghargai ingatanmu yang masih baik - baik saja itu, kerena berhasil mengetahui wajahku seperti apa. Tapi kamu tidak berhasil meraih impianmu itu" ucap pemuda itu.
Pemuda itu pun berjalan dengan perlahan dan pasti menggelilingi pria paru baya itu dengan kecepatan yang pelan tapi memberikan tekanan batin kepada pria paru baya itu, dapat terlihar ketika pria paru baya itu mulai kehilangan keberaniannya selama beberapa waktu, dan mulai berbicara beberapa kalimat kepada pria paru baya itu dengan nada suara yang rata dan lemah.
"Apakah dirimu tahu, bagaimana persaan diriku pada saat diriku sewaktu kecil? Kamu tahu umurku berapa pada saat itu? Apakah kamu masih ingat perkataan terakhir yang keluar dari mulutmu yang kasar itu? Apakah kamu ingat rasa sedih yang ku alami selama hidup ini!!!"ucap pemuda misterius itu dengan raut wajah yang bercampur dengan kemarahan dan kesedihan.
Pria paru baya itu terdiam dengan wajah yang terlihat kaku tanpa dapat mengatakan sepatah kata pun kepada pemuda itu.
"hei ayah, kenapa kamu tidak dapat menjawabnya apakah kamu sudah kehabisan tenaga untuk melakukannya, apakah kamu butuh bantuan untuk berbicara secara lancar?"ucap pemuda itu.
Pertanyaan yang sama terus saja diberikan, akan tetapi semuanya tidak dijawab dengan satu pun kalimat yang keluar. Perasaan pemuda misterius itu pun menjadi jengkel dan mulai memancing emosinya, dengan marah ia menendang kepala sang pria paru baya itu dari belakang, hingga menyebabkan sang pria paru baya itu tersungkur dan memberikan beberapa luka kecil di wajahnya yang berkerutan itu.
"Aku bertanya dengan dirimu sekarang, kenapa kamu tidak menjawabnya sedikit pun pertanyaan yang kuberikan? Apakah kamu tuli dan bisu sehingga kamu tak bisa menjawab segala pertayaanku ini" Ucap pemuda misterius sambil menggunakan nada yang tinggi itu.
pria paru baya itu pun berdiri dengan kedua tangan dan kakinya dan mulai berhadapan langsung, muka ke muka ke arah pandangan sang pemuda misterius itu. Hujan beserta petir pun semakin menggelegar menciptakan sebuah adegan dramatis sekaligus mengerikan.
Tindakan yang dilakukan oleh pria paru baya itu membuat pemuda itu menjadi gugup dan mulai memundurkan kakinya sejauh beberapa langkah kecil, guna meminimalisir pertarungan selanjutnya. Walaupun itu mustahil dilakukan seperti apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu dan kebanyakan orang lainnya.
"Oi, diriku tidak menyuruhmu untuk berdiri. Jawab dulu pertanyaan dari diriku ini?" Ucap pemuda misterius itu.
pria paru baya itu pun langsung saja mengangkat salah satu tangannya dan menamparkannya kewajah pemuda itu, hingga wajahnya berubah menjadi merah akibat tamparan itu. Setalah melakukan perbuatan itu, sang pria paru baya itu pun langsung mendekat dan memeluk dengan erat - erat tubuh dari pemuda itu.
"Diriku sudah bersalah, diriku bersalah, diriku bersalah. Apa yang aku lakukan pada dirimu, hingga membuat darah dagingku sendiri menderita sesakit ini dan semenderita ini, diriku sangatlah menyesal akan segala yang kulakukan ke pada dirimu. Apa pun yang kamu inginkan akan kulakukan, walaupun itu bayarannya adalah nyawaku itu sendiri, diriku ingin membayar semua kesalahan yang pernah kulakukan." Ucap pria paru baya itu sambil menangis.
Pemuda itu pun tersenyum lebar dipelukan pria paru baya itu dan mulai mendekatkan mulutnya ketelingga pria paru baya itu. Dan mulai membisikkan keinginannya.
"Aku ingin kematianmu saja ayahku yang sangat ku cintai. Walaupun hukuman itu belum dapat membayarkan semua dosa yang kamu lakukan pada diriku ini" ucap pemuda itu dengan sangat santai.
pria paru bayau baya itu pun melepaskan pelukannya yang sangat erat itu, dan dengan perlahan dan hati - hati ia pun melangkahkan kakinya beberapa langkah kebelakang dan mulai membuka bajunya sedikit dami sedikit. Dan membentangkan kedua tangannya memberikan ruang yang sangat luas kepada pemuda itu untuk menmbak paru baya itu hingga tewas, seperti yang diminta oleh pemuda itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan itu, apakah kamu tak sayang nyawamu lagi, aku tak sangka kamu ingin melakukan hal yang senekat itu, apakah kamu masih waras, ini bayarannya adalah nyawa dari dirimu itu sendiri" ucap pemuda itu dengan sangat terkejut, tapi didalam hatinya ia merasa bimbang kerena ia akan membunuh ayah kandungnya sendiri atau tetap membiarkan sang ayah tetap hidup didalam mimpinya.
"Aku akan melakukan hal apapun itu untuk menyelesaikan dan mengakhiri semua perasaan bersalah yang menghantui diriku selama ini. Walaupun itu semua bayarannya adalah nyawaku itu sendiri, sesungguhnya diriku itu sudah menyesal sejak lama akan kesalahan yang kulakukan. Kerena melantarkan dirimu di tengah jalan yang sangat gelap dan sunyi itu sendirian tanpa makanan dan uang sedikit pun, betapa jahatnya dan kejam diriku pada saat itu, apa yang merasuki diriku ini hingga melakukan hal yang sejahat itu. Apakah diriku ini bisa disebut sebagai manusia? Apakah diriku seorang monster? Diriku sudah pernah juga merasakan bagaimana sengsarannya hidup sendirian tanpa sesosok orang tua dan keluarga yang menemani masa kecilmu itu, kerena diriku juga merasakan hal yang sama yang kamu rasakan pada saat ini, diriku di didik untuk menjadi seseorang yang sekasar dan setangguh ini, diriku trauma dan merasa sangat takut akan masa lalu yang terus menghantui ini, diriku merasa sudah tak tahan hidup di dunia yang sekejam dan mengerikan ini. Sama seperti dirimu, diriku juga ingin mengakhiri dunia yang kejam ini. Aku sudah berkelana sangat begitu jauh hingga keluar negeri ini, diriku melintasi seluruh bagian benua eurasia ini untuk menemukan apa arti dari kehidupan dan kematian itu sesungguhnya. Diriku menemui banyak filusuf dan orang - orang bijak lainnya, diriku setiap bertemu dengan mereka pasti melemparkan beberapa pertanyaan tentang kehidupan, akan tetapi jawaban mereka hanya satu yaitu doa kepada tuhan, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh mereka akan tetapi diriku menyadari sesuatu hal yang sangat penting sekali yaitu........" ucap pria paru baya itu sambil menangis.
Pemuda itu terdiam sebentar untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria paru baya itu. Di selah - selah perbincangannya sang pemuda itu diam - diam meraih salah satu kantong celananya, dan mengambil sebuah pistol dari sana.
Pemuda itu pun mundur selangkah demi selangkah, secara perlahan - lahan, setelah dirasa sudah tepat pada waktunya untuk menembak, pemuda itu pun langsung mengangkat pistolnya dan menodongkannya langsung tepat kebagian kepala sang pria paru baya itu, platuk pun ingin di tarik akan tetapi sebuah petir pun menyambar lagi yang membuat sang pemuda itu langsung refleks terkejut yang mengakibatkan pistol terjatuh ke salah - satu selokan yang berada disekitarnya.
Petir yang sedang terjadi dikota itu bukanlah sebuah petir yang biasa terjadi di daerah lainnya, sebab petir itu menyambar pada tempat yang sama pada waktu yang serentak, yang menyebabkan suara dentuman terus saja terdengar di sekitar kota tanpa henti - hentinya.
Disisi lain, pemuda itu tak peduli dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, ia dengan marah menghentakkan kakinya berkali - kali ke jalan aspal hingga ia mulai kelelahan kerena kehabisan tenaga.
"kenapa hidupku selalu sial seperti ini, seperti keadaan yang sedang terjadi ini mengingatkan diriku pada saat pertama kali diriku dibuang di tengah jalan yang sangat gelap dan sunyi itu, ditambah pada saat itu terjadi hujan dan petir yang sangat berbahaya, masa itu sangat begitu kelam sekali bila terus di ingat. Kalau di pikir - pikir kesempatan untuk selamat dan terus bertahan hidup pada saat itu sangat kecil sekali, untung saja ada wanita yang sangat baik yang rela merawatku tanpa bayaran sepeser pun, sayangnya ia harus mati ditangan seseorang yang misterius yang tiba - tiba menerobos rumah kami dan membunuh wanita itu dengan sangat tragis, diriku akan bersumpah akan mencari orang yang membunuh wanita itu dan membunuhnya dengan sangat menderita hingga ia tidak dapat lagi mengatakan hal apa pun kecuali hanya memintah di ampuni seperti apa yang mereka lakukan kepada wanita yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri itu." ucap pemuda itu sambil menghela nafasnya dan mengeluarkan sepuntung rokok dari kantong celananya.
"andaikan saja diriku diberi satu kali kesempatan untuk melihat tampang muka ibu kandungku" ucap pemuda itu sambil menghisab rokok yang ada dimulutnya.
pria paru baya itu pun menutup bajunya kembali dan mulai berjalan maju perlahan - lahan untuk mendekati pemuda itu, akan tetapi dengan refleks pemuda itu menendang kaki pria paru baya itu hingga ia terjatuh dengan sangat keras, hingga tak sadarkan diri selama beberapa waktu. Di dalam keadaan pingsannya ia mendengar pemuda itu membicarakan sesuatu hal tentang orang misterius itu.
"orang itu ingin sekali ku temui, ketika diriku berhasil menemukannya lihatlah hal yang sekeji apa yang akan kulakukan padanya, diriku sudah kehilangan satu - satunya orang tua yang masihku angap hidup didalam diriku. Walaupun orang tua kandungku masih hidup, ia sudah ku anggap mati di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, di dalam hatiku ini hanya ada rasa pendendam dan kemarahan saja. Bila ku ingat - ingat kejadian itu sudah terjadi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, kalau seingatku postur badan mereka sangat begitu aneh dan membingungkan, mereka seperti memakai sebuah lambang yang tidak kukenal akan tetapi lambang itu sepertinya pernah kulihat di dalam sebuah buku sejarah, tapi itu lambang apa? Diriku masih bingung dan akan terus mencari kebenaran tentang lambang yang aneh itu? mereka juga memakai sebuah jas yang berbentuk seperti baju militer angkatan darat, tapi anehnya selama diriku mencari 10 tahun terakhir baju itu tidak memiliki satu pun kesamaan dengan baju tentara negara ini atau pun negara yang lain, akan tetapi diriku mendapatkan sebuah kebenaran yang cukup mengejutkan dan aneh bila dipikirkan dua kali. Baju yang sedang di pakai mereka itu adalah baju tentara angkatan darat jerman pada saat perang dunia ke 2. Mustahil bila mereka masih ada yang selamat, kalau juga mereka selamat pasti mereka umurnya sudah lebih dari 100 tahunan. Tetapi diriku merasa agak aneh ketika bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya, mereka itu sangat begitu dingin dan tajam. Ditambah mereka terlihat bagaikan robot yang dikendalikan orang lain dari jarak jauh, mereka juga memiliki kulit yang sangat begitu putih bagaikan salju dan di mata mereka memiliki sebuah keanehan yang membuat diriku merasa agak takut untuk melihatnya lagi. yaitu bilaku ingat lagi dimata mereka itu tidak memiliki warnah putih (sklera) sama sekali, semua warnah matanya didominasi dengan warnah hitam dan di tengah matanya didominasi dengan warnah merah darah yang terang bagaikan scope senapan." ucap pemuda itu sambil mengingat masa lalunya.
pria paru baya itu pun terkejut setalah mendengar beberapa ungkapan masa lalu dari pemuda itu, dengan tenaga yang tersisah didalam dirinya. Ia pun meraih kaki dari sang pemuda itu dan mulai mempertanyakan beberapa hal tentang kartu yang sedang di pegang oleh pemuda itu.
"tunggu, apa yang kamu maksud tentang orang yang memakai jas seperti tentara jerman di perang dunia ke 2 dan kamu juga tadi membicarakan tentang lambang yang aneh. Kenapa mereka dan dimana kamu bertemu dengan para tentara itu" tanya pria paru baya itu.
"oh, kamu mencoba untuk bangkit kembali ya, kamu cukup hebat walaupun di tendang dan ditinju berkali - kali. Bisa saya akui kamu sangat hebat dibandingkan kebanyakan orang lainnya. Sepertinya ayah tahu banyak tentang orang itu ya?" jawab pemuda itu.
"aku akan coba menjelaskan semua yang terjadi pada masa laluku dulu. Suatu hari pada tanggal 8 januari pada tahun 1975, dikota Moscow diriku bertemu dengan seseorang yang tak jelas namanya siapa dan wajahnya tertutup oleh topeng yang bewarnah hitam dan memiliki 3 tanduk runcing, ia datang dan dengan tiba - tiba memberikanku suatu kartu yang aneh ini........ " jawab pemuda itu. Akan tetapi, baru saja perbincangan dimulai sebuah petir yang sangat kuat menghantam posisi mereka berdua, sehingga sang pria paru baya dan pemuda itu terpental beberapa meter menjauh dari posisi awal.
Akibat tersambar petir menyebabkan pria paru baya itu harus kehilangan kesadarannya selama beberapa waktu, sebelum ia kehilangan semua kesadarannya ia melihat pemuda itu dengan kesakitan menyeret tubuhnya menjauh dari pria paru baya itu.
Hujan pun semakin deras, petir yang aneh itu terus saja menyambar tanpa henti - hentinya, ratusan flare gun pun terlihat dari langit yang gelap menyebabkan langit yang malam berubah menjadi sangat terang.
warga kota pun terkejut setelah mendengar suara ratusan tembakan ke langit dan mulai berlari sangat kencang keluar dari rumah untuk melihat kejadian yang sedang terjadi diluar sana, di atas langit kota terlihat sebuah balon udara yang sangat begitu besar yang berukuran sekitar lebih dari 300 meter, di bagian kanan balon udara yang sangat besar itu tertulis sebuah kata yang merujuk sesuatu hal dalam bahasa jerman yang tertulis Luftschiffbau Zeppelin.
Dari balon udara itu terbukalah beberapa tangga yang terbuat dari besi, dari tangga itu terlihatlah seseorang pria yang terlihat berumur sekitar 30 tahunan. Ia memakai sejenis baju tentara yang bewarnah putih dan di bajunya ia memiliki ratusan mendali penghargaan kemiliteran, di sampingnya ia dikawal oleh 8 orang yang misterius yang terus mengikutinya kemana saja. Ia pun terus berjalan dan mulai mengambil sebuah pengeras suara yang diberikan oleh salah - satu orang yang berada di sampingnya, dengan pengeras suara itu ia pun mulai mengungkapkan tujuannya untuk memulai kekahancuran yang sama seperti saat perang dunia ke 2 dulu. Dengan kuat dan tegas ia menjerit memberikan ultimatum keseluruh warga kota yang berisi.
...----------------...
Kami para tentara jerman yang memulai perang dunia ke 2 dulu, akan melanjutkan rencana kami yaitu menguasai dunia ini dengan cara apa pun, kami juga akan membangkitkan third reich yang kuat dan suci, demi seluruh jerman dan demi kehancuran seluruh dunia ini, kami akan membalaskan semua yang terjadi sebelumnya kalian tidak ada waktu lagi untuk menyelamatkan diri, rasakanlah serangan armada militer terakhir jerman ini. Heil jermanic.
isi ultimatum..
...----------------...
setelah mendengar ultimatum itu seluruh warga kota merasa panik dan mulai melarikan diri untuk menyelamatkan diri mereka, dalam keadaan yang sangat kacau ini balon udara itu seketika mengeluarkan ratusan misil yang mengarah keseluruh bangunan yang berada di sekitar kota, seketika seluruh kota mengalami kehancuran yang sangat parah dengan kebakaran di mana - mana, kota itu pun seketika terlihat seperti tenggelam didalam lautan api yang sangat kemerah - merahan, asap kebakaran itu pun meluas menutupi seluruh bagian kota.
jeritan dari ribuan orang yang terbakar pun terdengar sangat keras menghiasi kota yang berubah menjadi neraka yang sangat panas dan mencekam.
"ha, ha, ha, ha. Rencana kita hampir semuanya terlaksana dengan sempurna, kita tinggal menunggu waktu untuk kehancuran dunia ini" ucap pria yang misterius itu sambil menaiki tangga menuju balon udara bersama dengan 8 orang yang terus berada di sampingnya mengikuti kemana pun pria misterius itu berjalan.
"kopral kruegss apakah semua tentara kita semuanya sudah siap? Bila sudah kita dapat menikmati semua darah dari mayat para penduduk yang sudah terpangang itu" tanya pria misterius itu dengan nada yang sangat rendah hingga hampir tidak terdengar .
Seseorang pria mudah yang bertubuh besar dan terlihat kuat pun mendekat dan mulai berbicara dengan nada yang sangat gelisah.
"Anuh, semuanya sudah siap tinggal menungguh perintah anda saja" ucap salah satu dari 8 orang yang mengikuti pria misterius itu.
"kamu emang bisa diandalkan dimana pun berada, diriku sekali lagi memintahmu jangan gugup bila berbicara denganku, diriku tidak akan membunuh kamu bila dirimu tidak mengkhianati diriku sama seperti para petinggi dan jenderal jerman yang menusuk fuhrer kita dari belakang.
"Kalau seperti itu diriku perintahkan semua pasukan yang berada di tempat ini turun kebawa kota dan bantai semua penduduknya hingga tak bersisah lagi. Diriku berharap kepadamu kolonel krugries, kalau masih ada sisah walaupun itu satu, bisa di simpulkan semua rencana yang kita buat selama puluhan tahun ini tidak membuahkan hasil apapun. jangan sampai pemerintah luar kota mengetahui rencana yang kita buat"
Seseorang pria yang memakai baju jas bewarnah coklat dan memegang sebuah biola pun mengatakan "siap, diriku tidak akan pernah mengecewakanmu pak. Semua ini demi keberhasilan rencana kita semua.
"Hmmm, diriku tak salah memilih kalian sebagai pion pelaksana rencanaku, kita akan berhasil. Kalau seperti itu semuanya kembali pada rencana masing - masing diriku akan menyiapkan instruksi lainnya kepada kalian"
"Siap, demi kejayaan third reich" ucap 8 orang itu sambil tersenyum lebar dengan mata mereka yang merah menyalah pada gelapnya malam.
Mereka pun terus manaiki tangga besi itu hingga masuk ke balon udara yang besar itu dan pada akhirnya mereka hilang seketika oleh kabut misterius yang menutupi lorong - lorong balon udara.
teriakan dan tangisan warga kota yang kesakitan itu pun diiringi dengan tawa sang pria misterius itu bersama dengan ribuan orang yang berteriak "heil jermanic."
bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 9 Episodes
Comments