Keputusan Orang Tua

Belum selesai, rasa sesak yang Medhina rasakan. Wanita itu cepat-cepat menyeka air matanya yang sedari tadi membasahi wajahnya, dan kini dia harus mengulas senyuman di wajahnya karena sekarang ada Bundanya yang sedang melakukan panggilan video kepadanya.

Dengan menghela nafas, dan bercermin sejenak, memastikan tidak ada jejak-jejak air mata di sana, Medhina pun menggeser ikon telepon video berwarna hijau di layar handphonenya.

“Halo Bunda,” sapanya saat wajah Bundanya terlihat di layar handphonenya.

“Halo Dhina … baru ngapain kamu Sayang?” tanya Bunda Metta yang tersenyum dan menatap wajah putrinya melalui kamera di handphone itu. Walau jauh, dengan panggilan video seakan membuat jarak menjadi kian dekat. Sampai-sampai seolah tengah berbicara muka dengan muka.

“Baru istirahat di hotel, Bunda … besok jam 06.00 waktu Singapura sudah harus kembali terbang lagi. Penerbangan pertama dari Changi,” jawab Medhina.

“Ya jangan lupa tidur … istirahat yang cukup. Minggu depan jangan lupa, kosongkan jadwal kamu di hari Sabtu, karena teman Bunda itu akan datang,” ucap Bunda Metta kini.

“Iya, Bunda … hari Sabtu, Dhina tidak ada jadwal untuk terbang kok. Jadi, Dhina akan di rumah,” balasnya.

Walau dadanya masih sesak, perasaan yang belum usai, dan kini dia harus menerima kenyataan pahit karena orang tuanya akan menjodohkannya dengan pria lain. Pria yang tidak dia kenal sebelumnya. Pria yang tidak dia tahu asal-usulnya. Mungkinkah dengan pria seperti itu, dia bisa memasrahkan seluruh hidupnya.

Bukannya menerima begitu saja, jauh-jauh hari sebelumnya, Medhina pernah mengutarakan keberatannya dengan dalih Medhina tidak mengenal pria itu siapa. Medhina pun juga tidak yakin apakah bisa dia memberikan sedikit saja ruang di hatinya untuk pria itu. Sementara masih saja ada nama Andreas Saputra di hatinya. Mungkinkah dia bisa menjalani dengan tulus, sedangkan hati dan perasaannya saja masih tertuju pada sosok Andreas.

“Ya sudah Dhina … jangan lupa istirahat untuk penerbangan esok hari. Sabtu, jangan lupa yah … Bunda dan Ayah menunggumu, jangan kecewakan kami, Dhina,” ucap Bunda Metta dan mengakhiri panggilan video itu.

Begitu wajah Bundanya sudah terhilang dari layar handphonenya, air mata berlinangan begitu saja dari wajah Medhina. Rasa sedih, sesak, dan terluka adalah semua rasa yang memenuhi hatinya. Cintanya masih untuk Andreas, tetapi perjodohan sudah diatur dengan sedemikian rupa. Mungkin memang Medhina hanya bisa menerima apa yang sudah disepakati oleh kedua keluarga. Tidak bisa menentukan sendiri kepada siapa hatinya berpaut.

Medhina terisak dengan membawa tangannya untuk memukul dada, berharap bisa menekan rasa sakit yang amat sangat menyeruak itu. Rasa sakit yang tidak akan ada obatnya. Mungkinkah selamanya, dia harus menelan rasa pahit ini di sepanjang hidupnya.

“Lihatlah, Andreas … sebagai anak, aku harus menerima dan menjalani apa yang sudah ditetapkan oleh Ayah dan Bunda. Tak bisa lagi memilih apa yang aku mau. Sepenuhnya, kisah kita akan usai, Andreas? Sementara kamu di sana, tidak mencoba untuk memperjuangkanku … kamu pergi begitu saja, tidak ada kesan dan pesan, tidak ada daya yang bisa kamu lakukan untuk memperjuangkanku. Apa ini arti cinta untukmu, And? Cinta tanpa berkorban … cinta yang tidak berdaya dan upaya,” gumam Medhina dengan menekan dadanya yang terasa begitu sakit.

Wanita itu pun tertidur dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya, dan juga wajah Andreas yang masih terpampang di layar handphonenya. Begitulah setiap malam dilalui Medhina, dengan menangis dan menatap kekasih yang tidak pernah dia ketahui kabarnya selama enam bulan terakhir. Kekasih yang tidak mendapat restu dari orang tuanya.

***

Keesokan harinya ….

Menjelang subuh, Medhina telah terbangun. Sebagai Pramugari begitu banyak persiapan yang harus dia lakukan sebelum terbang. Mulai dari mandi, menata rambut, sampai bermake-up, dan itu harus dilakukan Medhina sendiri.

Dengan wajah yang sembab, Medhina terbangun. Gadis itu bergegas untuk membersihkan dirinya, dan juga bermake-up, serta persiapan lamanya. Sebelum jam 06.00 Waktu Singapura dia harus tiba di Bandara dengan awak kabin yang lain untuk penerbangan pagi hari ini.

Usai mandi, terpaksa Medhina harus menyeka kantung matanya dengan air hangat terlebih dahulu supaya matanya tidak terlihat sembab. Itu adalah rutinitas yang selalu dia lakukan di pagi hari. Sampai akhirnya terdengar ketukan dari pintu kamar hotelnya.

“Dhina, Dhin … sudah siap?” Aurel yang tampak mengetuk pintu kamar hotel yang ditempati oleh Dhina.

“Udah, kenapa?” tanya Medhina kepada temannya sesama Pramugari itu.

“Pinjem catokan rambut dong Dhin, sama hair spray … punya gue ketinggalan,” ucapnya.

Medhina pun menghela nafas dan kemudian membukakan pintu untuk temannya itu. “Gila, pasti deh catokan dan hair spray ketinggalan melulu … ingatnya jalan-jalan melulu sih, sampai perlengkapan sendiri ketinggalan,” sahut Medhina dengan sedikit ketus.

“Biasa … hanya yang gue pikiran, Dhin. Oh iya, loe mau enggak gue kenalin sama Pilot, Dhin? Maskapai sebelah, udah cakep, pinter, dan masih muda pula. Daripada loe murung dan mengurung diri di kamar terus,” ucap Aurel yang berniat mengenalkannya dengan seorang pilot dari maskapai sebelah.

Mendengar apa yang dikatakan Aurel, Medhina hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Enggak … gak usah. Makasih … lagian jodoh gue sudah diatur sama Ayah dan Bunda,” ucapnya.

Berusaha menerima di bibir, tetapi merasa begitu berat di dalam hati. Hanya tak ingin membuat orang tuanya terluka dan kecewa, Medhina memilih untuk menerima saja apa yang sudah diatur oleh Ayah Dimas dan Bunda Metta.

“Gila, zaman udah canggih. Masih pengaturan jodoh, kayak loe gak bisa cari sendiri aja,” balas Aurel yang merasa tidak bisa menerima dengan apa yang baru saja Medhina sampaikan.

“Gue yang jalanin ikhlas kok. Ayah dan Bunda pasti memilihkan yang terbaik buat gue,” jawab Medhina.

Sekali lagi itu adalah jawaban yang hanya di bibirnya saja, tetapi tidak di hatinya. Sebab, jauh di dalam hatinya, yang Medhina cintai, yang Medhina tunggu, dan yang Medhina inginkan hanyalah satu orang pria dan itu adalah Andreas Saputra.

Terpopuler

Comments

Gina Savitri

Gina Savitri

Capek2 medina mikirin andreas, eh yg di pikirin udah sibuk sama cewek lain 🤔

2022-10-06

0

Adelia Rahma

Adelia Rahma

cintamu benar benar sudah membuat kamu lupa segala galanya dhina

2022-10-01

0

🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠

🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠

6 bln ditinggal pacar tanpa kabar sungguh membangongkan sih

2022-10-01

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan di Udara
2 Hati yang Belum Beres
3 Keputusan Orang Tua
4 Mungkinkah Kembali Jatuh Cinta
5 Pertemuan Tatap Muka!
6 Pemuda itu Mantan Kekasih Sahabatku!
7 Kisah Mantan Telah Usai
8 Hari yang Diputuskan
9 Upaya Menghubungi Andreas
10 Menyibukkan Diri
11 Tak Sengaja Kembali Bersua
12 Menuju Akad
13 Akad
14 Receptions Ceremony
15 Air Mata di Malam Pertama
16 Tindakan Rekayasa
17 Perasaan Emosional
18 Janji Seorang Pria
19 Apartemen Mewah
20 Hanya Satu Kamar?
21 Tak Ada Bulan Madu
22 Pengantin Baru Kesepian
23 Curhat dengan Mama
24 Kembali Bekerja
25 Kembali Bertemu
26 Sikap Dingin
27 Di antara Kau dan Aku
28 Akhir Pekan
29 Tak Sengaja Mengetahui
30 Pura-Pura Tidak Tahu
31 Melewatkan Kesempatan untuk Jujur
32 Edisi Curhat
33 Bersiap Bulan Madu
34 Penjelasan Bunda Metta
35 Pertaruhan dalam Cinta
36 Penolakan Seorang Istri
37 Menuju ke London
38 Tiba di London
39 Keributan Kecil di Pagi Hari
40 Gadis Keras Kepala
41 Dua Pilihan
42 Keterpaksaan
43 Menyusuri Jalanan Kota London
44 Cinta itu Memberi dan Menerima
45 Dirawat dengan Baik
46 Pesan Berbalas
47 Pertaruhan yang Sesungguhnya
48 Melepaskan Cinta dan Perasaan
49 Cinta Menemukan Jalannya
50 Perubahan Sikap Ravendra
51 Tidak Ada Pembatas
52 Starting Now!
53 Memberi Bukti Bukan Janji
54 Tak Ada Penyesalan
55 Bentuk Terbaik
56 Belajar Mencintai
57 London Penuh Cerita
58 Kian Berpadu
59 London Eye
60 Momen Indah di London Eye
61 Terjeda
62 Kembali ke Tower Bridge
63 Penjelasan
64 Akhir Kisah Kita!
65 Akhir Semua Kerisauan
66 Berlari ke Arahmu
67 Tidak Ada Keraguan
68 Kembali ke Jakarta
69 Mengunjungi Rumah Mertua
70 Maaf dan Restu
71 Menginap di Rumah Mertua
72 Sebelum Long Distance Marriage Tiga Hari
73 Rindu Setengah Mati
74 Telepon Rindu
75 24 Jam Terlama
76 Kecemasan Melingkupi Hati
77 Hamparan Kerisauan
78 Bentuk Tanggung Jawab
79 Apartemen yang Kembali Hangat
80 Mengunjungi Mama Sandra
81 Cerita Mama Sandra
82 Akan Pergi ke Batam
83 Ravendra Pergi ke Batam
84 Tiga Hari di Batam
85 Satu Pesawat
86 Bersama dari Bandara
87 Kepulangan Andreas dari London
88 Pulang dengan Risau
89 Membuang Kerisauan
90 Ledakan Perasaan
91 Mengetahui Masa Lalu Ravendra
92 Rasa Kecewa
93 Kembali Dingin
94 Kembali Menarik Batas
95 Masa Lalu Ravendra 1
96 Masa Lalu Ravendra 2
97 Titik Balik Seorang Ravendra
98 Respons Medhina
99 Jeda Waktu
100 Curhat dengan Sahabat
101 Rekonsiliasi Terjeda
102 Kabar Kehamilan yang Mengejutkan
103 Perlu Mediasi Bersama
104 Bekerja dari Rumah
105 Dijenguk Orang Tua
106 Bisa Dipercaya
107 Meminta Maaf untuk Masa Lalu
108 Perasaan Lega
109 Selalu Menjaga
110 Diskusi dengan Suami
111 Janin dalam Keadaan Sehat
112 Berakhirnya Masa Darurat
113 Masih Belum Berani
114 Memutuskan Resign
115 Menggantung Mimpi
116 Menjalani Kodrat
117 Bertemu Keluarga A4
118 Obrolan Rumah Tangga
119 Sahabat untuk Selamanya
120 Recharge Energi
121 Tidak Menyakiti Bukan?
122 Happy 14 Weeks!
123 Mencari Rumah Baru
124 Perubahan ke Arah yang Baik
125 Ke Toko Buku
126 Bertemu Si Dia
127 Arti Menemukan Kebahagiaan
128 Semua Perlu Waktu
129 Bahagia Tak Bertepi
130 Pindahan Rumah Baru
131 Beradaptasi
132 Tetangga Baru
133 Jenis Kelamin Dedek Bayi
134 Rasa Syukur
135 Harus Pergi ke Batam
136 Menuju ke Batam
137 Pesisir yang Indah
138 Menikmati Senja
139 Rinai Hujan di Pesisir Pulau
140 Perasaan yang Indah
141 Sweet Dinner
142 Menunggu Suami Bekerja
143 Pertemuan Tiba-Tiba
144 Bertemu untuk Kali Pertama
145 Kepahitan Terpahit Seorang Ravendra
146 Mencari Tahu Sosok Istri Ravendra
147 Obrolan yang Mengintimidasi
148 Masa Kecil yang Terluka
149 Membagi Air dalam Satu Gelas
150 Saling Memahami
151 Menuju Tanjung Pinang
152 Tepi Laut Kota Tanjung Pinang
153 Syair Cinta di Kota Gurindam
154 Efek yang Dahsyat
155 Pagi di Tepi Laut
156 Sepasang Mata yang Mengamati dari Jauh
157 Usaha Memperdaya
158 Memulai Kisah yang Baru
159 Membuang Kecemburuan
160 Terlanjur Basah
161 Mantan Calon Mertua
162 Cinta Berdiri di Dua Iman
163 Kembali ke Jakarta
164 Mengunjungi Mama Sandra
165 Dikunjungi Mantan Suami
166 Amarah
167 Menenangkan Suami
168 Bedtime Stories
169 Dukungan Seorang Sahabat
170 Acara Tujuh Bulanan 1
171 Acara Tujuh Bulanan 2
172 Kumpulan Keluarga Muda
173 Latihan Menjadi Papa
174 Dikelilingi Orang-Orang Baik
175 Nasihat Ayah Mertua
176 Ingin Menjadi Teladan
177 Tawaran Menggiurkan
178 Bukan Silau Harta
179 Teman Ngopi
180 Belanja untuk Si Baby
181 Hadiah dari Keluarga
182 Support dari Keluarga
183 Kamar untuk Si Baby
184 35 Minggu!
185 Kepekaan
186 Kejutan Tengah Malam
187 Sinyal Jelang Persalinan
188 Pembukaan Lima
189 Welcome Our Baby!
190 Nama yang Indah
191 Kebahagiaan Seluruh Keluarga
192 Nahyan Wardhana!
193 Rasa Bahagia
194 Bestie Terbaik
195 Bayi Bertumbuh Orang Tua Juga Bertumbuh
196 Orang Tua Baru
197 Kunjungan Tetangga Dekat
198 Pagi yang Hectic
199 Promosi Novel: Rujuk Bersyarat
200 Pengasuhan adalah Kerja Sama
201 Teringat Ravendra Kecil
202 Orang Tua Baru Rasanya Istimewa
203 Oleh-Oleh untuk Busui
204 Pemeriksaan Pasca Bersalin
205 Kembali Menginap di Rumah Mertua
206 Sarapan Nasi Kuning
207 Masih di Rumah Kakek dan Nenek
208 Banyak Kecemasan
209 Si Papa Bekerja
210 Diimunisasi Dokter Airlangga
211 Tak Sengaja Bertemu Andreas
212 Kapan Bisa Move On?
213 Tidak Cemburu Bukan?
214 Tak Ada Mantan Terindah
215 Kembali Emosi
216 Berbagi Kerisauan
217 Tak Ingin Mengambil Risiko
218 Mencari Jalan Tengah
219 Pasangan yang Saling Berbagi
220 Sharing dengan Sahabat
221 Kisah Andreas
222 Pria yang Sabar
223 Masih Belum Siap
224 Dikunjungi Sahabat Baik
225 Obrolan Positif
226 Setelah Tiga Bulan
227 Tidak Perlu Insecure
228 Waktu untuk Berdua
229 Dikunjungi Papa Darren
230 Pembicaraan Ravendra dan Mama Sandra
231 Tidak Mudah Percaya
232 Nahyan Semakin Menggemaskan
233 Ingin Bertemu Cucu
234 Itikad Baik
235 Penyesalan yang Terlambat
236 Semua Orang Bisa Berubah
237 Di Sela-Sela Anak Tidur
238 Nahyan First Birthday
239 Nambah Momongan
240 Sekadar Meminta Saran
241 Kejadian Darurat
242 Aritmia Jantung
243 Permintaan Papa Darren
244 Mengambil Peluang atau Tidak?
245 Menjenguk Papa Lagi
246 Merawat Papa
247 Hati ke Hati
248 Medhina Diterima Sebagai Menantu
249 Memutuskan Resign
250 Secangkir Kopi
251 Support Istri yang Utama
252 Kembali ke Dasa Corp
253 Kemungkinan dan Tidak Mungkin
254 Papa Ingin Cucu
255 Saran dan Pertimbangan
256 Mengambil Keputusan
257 Mau Menambah Momongan
258 Kunjungan Papa Darren dan Tante Dini
259 Menuju ke Singapura
260 Setidaknya Berusaha
261 Pendinginan
262 Kabar dari Singapura
263 Lebih Sensitif
264 Istri Butuh Liburan
265 Ngedate dengan Istri
266 Hati ke Hati
267 Waktu Berkualitas
268 Kecurigaan Bunda Metta
269 Positif?
270 Membagikan Kabar Baik
271 Kepulangan Papa Darren
272 Embrio Janin
273 Semua Keluarga Bahagia
274 Mood Swing
275 Family Man
276 Mengunjungi Keluarga Aksara
277 Rencana Family Trip
278 Piknik Dua Keluarga
279 Perbincangan Dua Pasangan
280 Momen Baby Moon
281 Baby Moon Berakhir
282 Boy or Girl?
283 Kehamilan yang Bertambah Bulan
284 Selalu Mendampingi
285 Nama Menyematkan Doa
286 Seolah Menebus Masa Lalu
287 Kardiomiopati
288 Pikiran yang Terbagi
289 Pulang ke Rumah
290 Belum Bisa Menemani Istri
291 Untung Memiliki Mama Mertua yang Baik
292 Skala Prioritas
293 ASI Tersumbat
294 Alasan Bertahan
295 Andil Mama Sandra
296 Bilurubin Meningkat
297 Berpapasan
298 Lelah
299 Memilih Menenangkan Diri
300 Keputusan Medhina
301 Pulang ke Rumah Orang Tua
302 Rumah Menjadi Sepi
303 Upaya Mencari Medhina
304 Diskusi Tak Berujung
305 Tanpa Hasil
306 Dikunjungi Sahabat
307 Kedatangan Ravendra
308 Pembicaraan Pria Dewasa
309 Langkah yang Lain
310 Memulai Perjuangan
311 Bermalam Bersama
312 Seolah Konsultasi
313 Dibelit Rindu
314 Ditahan Papa Darren
315 Tidak Bisa Pulang
316 Papa Tidak Sayang Nahyan?
317 Silent Treatment
318 Kembali Menjauh
319 Keterpurukan
320 Akhirnya Sembuh
321 Perceraian Bukan Jalan Pintas
322 Rumah Tangga itu Seperti Tanaman
323 Tak Ingin Mempertaruhkan
324 Kembali Pulang
325 Hati ke Hati
326 Upaya Penuh
327 Malam Kembali Bersama
328 Mengabaikan Telepon
329 Hanya Berdua
330 Selalu Ada Pintu Maaf
331 Kembali Menyatu
332 Masih Cinta
333 Kembali Pulang
334 Melamar Pekerjaan Baru
335 Masih Dikelilingi Orang-orang Baik
336 Tersisip Kemurahan Allah
337 Firasat Buruk
338 Perpisahan Selamanya
339 Akhir Cerita
340 Terima Kasih
341 Promosi Novel Terbaru: Duda Terpaksa Turun Ranjang
Episodes

Updated 341 Episodes

1
Pertemuan di Udara
2
Hati yang Belum Beres
3
Keputusan Orang Tua
4
Mungkinkah Kembali Jatuh Cinta
5
Pertemuan Tatap Muka!
6
Pemuda itu Mantan Kekasih Sahabatku!
7
Kisah Mantan Telah Usai
8
Hari yang Diputuskan
9
Upaya Menghubungi Andreas
10
Menyibukkan Diri
11
Tak Sengaja Kembali Bersua
12
Menuju Akad
13
Akad
14
Receptions Ceremony
15
Air Mata di Malam Pertama
16
Tindakan Rekayasa
17
Perasaan Emosional
18
Janji Seorang Pria
19
Apartemen Mewah
20
Hanya Satu Kamar?
21
Tak Ada Bulan Madu
22
Pengantin Baru Kesepian
23
Curhat dengan Mama
24
Kembali Bekerja
25
Kembali Bertemu
26
Sikap Dingin
27
Di antara Kau dan Aku
28
Akhir Pekan
29
Tak Sengaja Mengetahui
30
Pura-Pura Tidak Tahu
31
Melewatkan Kesempatan untuk Jujur
32
Edisi Curhat
33
Bersiap Bulan Madu
34
Penjelasan Bunda Metta
35
Pertaruhan dalam Cinta
36
Penolakan Seorang Istri
37
Menuju ke London
38
Tiba di London
39
Keributan Kecil di Pagi Hari
40
Gadis Keras Kepala
41
Dua Pilihan
42
Keterpaksaan
43
Menyusuri Jalanan Kota London
44
Cinta itu Memberi dan Menerima
45
Dirawat dengan Baik
46
Pesan Berbalas
47
Pertaruhan yang Sesungguhnya
48
Melepaskan Cinta dan Perasaan
49
Cinta Menemukan Jalannya
50
Perubahan Sikap Ravendra
51
Tidak Ada Pembatas
52
Starting Now!
53
Memberi Bukti Bukan Janji
54
Tak Ada Penyesalan
55
Bentuk Terbaik
56
Belajar Mencintai
57
London Penuh Cerita
58
Kian Berpadu
59
London Eye
60
Momen Indah di London Eye
61
Terjeda
62
Kembali ke Tower Bridge
63
Penjelasan
64
Akhir Kisah Kita!
65
Akhir Semua Kerisauan
66
Berlari ke Arahmu
67
Tidak Ada Keraguan
68
Kembali ke Jakarta
69
Mengunjungi Rumah Mertua
70
Maaf dan Restu
71
Menginap di Rumah Mertua
72
Sebelum Long Distance Marriage Tiga Hari
73
Rindu Setengah Mati
74
Telepon Rindu
75
24 Jam Terlama
76
Kecemasan Melingkupi Hati
77
Hamparan Kerisauan
78
Bentuk Tanggung Jawab
79
Apartemen yang Kembali Hangat
80
Mengunjungi Mama Sandra
81
Cerita Mama Sandra
82
Akan Pergi ke Batam
83
Ravendra Pergi ke Batam
84
Tiga Hari di Batam
85
Satu Pesawat
86
Bersama dari Bandara
87
Kepulangan Andreas dari London
88
Pulang dengan Risau
89
Membuang Kerisauan
90
Ledakan Perasaan
91
Mengetahui Masa Lalu Ravendra
92
Rasa Kecewa
93
Kembali Dingin
94
Kembali Menarik Batas
95
Masa Lalu Ravendra 1
96
Masa Lalu Ravendra 2
97
Titik Balik Seorang Ravendra
98
Respons Medhina
99
Jeda Waktu
100
Curhat dengan Sahabat
101
Rekonsiliasi Terjeda
102
Kabar Kehamilan yang Mengejutkan
103
Perlu Mediasi Bersama
104
Bekerja dari Rumah
105
Dijenguk Orang Tua
106
Bisa Dipercaya
107
Meminta Maaf untuk Masa Lalu
108
Perasaan Lega
109
Selalu Menjaga
110
Diskusi dengan Suami
111
Janin dalam Keadaan Sehat
112
Berakhirnya Masa Darurat
113
Masih Belum Berani
114
Memutuskan Resign
115
Menggantung Mimpi
116
Menjalani Kodrat
117
Bertemu Keluarga A4
118
Obrolan Rumah Tangga
119
Sahabat untuk Selamanya
120
Recharge Energi
121
Tidak Menyakiti Bukan?
122
Happy 14 Weeks!
123
Mencari Rumah Baru
124
Perubahan ke Arah yang Baik
125
Ke Toko Buku
126
Bertemu Si Dia
127
Arti Menemukan Kebahagiaan
128
Semua Perlu Waktu
129
Bahagia Tak Bertepi
130
Pindahan Rumah Baru
131
Beradaptasi
132
Tetangga Baru
133
Jenis Kelamin Dedek Bayi
134
Rasa Syukur
135
Harus Pergi ke Batam
136
Menuju ke Batam
137
Pesisir yang Indah
138
Menikmati Senja
139
Rinai Hujan di Pesisir Pulau
140
Perasaan yang Indah
141
Sweet Dinner
142
Menunggu Suami Bekerja
143
Pertemuan Tiba-Tiba
144
Bertemu untuk Kali Pertama
145
Kepahitan Terpahit Seorang Ravendra
146
Mencari Tahu Sosok Istri Ravendra
147
Obrolan yang Mengintimidasi
148
Masa Kecil yang Terluka
149
Membagi Air dalam Satu Gelas
150
Saling Memahami
151
Menuju Tanjung Pinang
152
Tepi Laut Kota Tanjung Pinang
153
Syair Cinta di Kota Gurindam
154
Efek yang Dahsyat
155
Pagi di Tepi Laut
156
Sepasang Mata yang Mengamati dari Jauh
157
Usaha Memperdaya
158
Memulai Kisah yang Baru
159
Membuang Kecemburuan
160
Terlanjur Basah
161
Mantan Calon Mertua
162
Cinta Berdiri di Dua Iman
163
Kembali ke Jakarta
164
Mengunjungi Mama Sandra
165
Dikunjungi Mantan Suami
166
Amarah
167
Menenangkan Suami
168
Bedtime Stories
169
Dukungan Seorang Sahabat
170
Acara Tujuh Bulanan 1
171
Acara Tujuh Bulanan 2
172
Kumpulan Keluarga Muda
173
Latihan Menjadi Papa
174
Dikelilingi Orang-Orang Baik
175
Nasihat Ayah Mertua
176
Ingin Menjadi Teladan
177
Tawaran Menggiurkan
178
Bukan Silau Harta
179
Teman Ngopi
180
Belanja untuk Si Baby
181
Hadiah dari Keluarga
182
Support dari Keluarga
183
Kamar untuk Si Baby
184
35 Minggu!
185
Kepekaan
186
Kejutan Tengah Malam
187
Sinyal Jelang Persalinan
188
Pembukaan Lima
189
Welcome Our Baby!
190
Nama yang Indah
191
Kebahagiaan Seluruh Keluarga
192
Nahyan Wardhana!
193
Rasa Bahagia
194
Bestie Terbaik
195
Bayi Bertumbuh Orang Tua Juga Bertumbuh
196
Orang Tua Baru
197
Kunjungan Tetangga Dekat
198
Pagi yang Hectic
199
Promosi Novel: Rujuk Bersyarat
200
Pengasuhan adalah Kerja Sama
201
Teringat Ravendra Kecil
202
Orang Tua Baru Rasanya Istimewa
203
Oleh-Oleh untuk Busui
204
Pemeriksaan Pasca Bersalin
205
Kembali Menginap di Rumah Mertua
206
Sarapan Nasi Kuning
207
Masih di Rumah Kakek dan Nenek
208
Banyak Kecemasan
209
Si Papa Bekerja
210
Diimunisasi Dokter Airlangga
211
Tak Sengaja Bertemu Andreas
212
Kapan Bisa Move On?
213
Tidak Cemburu Bukan?
214
Tak Ada Mantan Terindah
215
Kembali Emosi
216
Berbagi Kerisauan
217
Tak Ingin Mengambil Risiko
218
Mencari Jalan Tengah
219
Pasangan yang Saling Berbagi
220
Sharing dengan Sahabat
221
Kisah Andreas
222
Pria yang Sabar
223
Masih Belum Siap
224
Dikunjungi Sahabat Baik
225
Obrolan Positif
226
Setelah Tiga Bulan
227
Tidak Perlu Insecure
228
Waktu untuk Berdua
229
Dikunjungi Papa Darren
230
Pembicaraan Ravendra dan Mama Sandra
231
Tidak Mudah Percaya
232
Nahyan Semakin Menggemaskan
233
Ingin Bertemu Cucu
234
Itikad Baik
235
Penyesalan yang Terlambat
236
Semua Orang Bisa Berubah
237
Di Sela-Sela Anak Tidur
238
Nahyan First Birthday
239
Nambah Momongan
240
Sekadar Meminta Saran
241
Kejadian Darurat
242
Aritmia Jantung
243
Permintaan Papa Darren
244
Mengambil Peluang atau Tidak?
245
Menjenguk Papa Lagi
246
Merawat Papa
247
Hati ke Hati
248
Medhina Diterima Sebagai Menantu
249
Memutuskan Resign
250
Secangkir Kopi
251
Support Istri yang Utama
252
Kembali ke Dasa Corp
253
Kemungkinan dan Tidak Mungkin
254
Papa Ingin Cucu
255
Saran dan Pertimbangan
256
Mengambil Keputusan
257
Mau Menambah Momongan
258
Kunjungan Papa Darren dan Tante Dini
259
Menuju ke Singapura
260
Setidaknya Berusaha
261
Pendinginan
262
Kabar dari Singapura
263
Lebih Sensitif
264
Istri Butuh Liburan
265
Ngedate dengan Istri
266
Hati ke Hati
267
Waktu Berkualitas
268
Kecurigaan Bunda Metta
269
Positif?
270
Membagikan Kabar Baik
271
Kepulangan Papa Darren
272
Embrio Janin
273
Semua Keluarga Bahagia
274
Mood Swing
275
Family Man
276
Mengunjungi Keluarga Aksara
277
Rencana Family Trip
278
Piknik Dua Keluarga
279
Perbincangan Dua Pasangan
280
Momen Baby Moon
281
Baby Moon Berakhir
282
Boy or Girl?
283
Kehamilan yang Bertambah Bulan
284
Selalu Mendampingi
285
Nama Menyematkan Doa
286
Seolah Menebus Masa Lalu
287
Kardiomiopati
288
Pikiran yang Terbagi
289
Pulang ke Rumah
290
Belum Bisa Menemani Istri
291
Untung Memiliki Mama Mertua yang Baik
292
Skala Prioritas
293
ASI Tersumbat
294
Alasan Bertahan
295
Andil Mama Sandra
296
Bilurubin Meningkat
297
Berpapasan
298
Lelah
299
Memilih Menenangkan Diri
300
Keputusan Medhina
301
Pulang ke Rumah Orang Tua
302
Rumah Menjadi Sepi
303
Upaya Mencari Medhina
304
Diskusi Tak Berujung
305
Tanpa Hasil
306
Dikunjungi Sahabat
307
Kedatangan Ravendra
308
Pembicaraan Pria Dewasa
309
Langkah yang Lain
310
Memulai Perjuangan
311
Bermalam Bersama
312
Seolah Konsultasi
313
Dibelit Rindu
314
Ditahan Papa Darren
315
Tidak Bisa Pulang
316
Papa Tidak Sayang Nahyan?
317
Silent Treatment
318
Kembali Menjauh
319
Keterpurukan
320
Akhirnya Sembuh
321
Perceraian Bukan Jalan Pintas
322
Rumah Tangga itu Seperti Tanaman
323
Tak Ingin Mempertaruhkan
324
Kembali Pulang
325
Hati ke Hati
326
Upaya Penuh
327
Malam Kembali Bersama
328
Mengabaikan Telepon
329
Hanya Berdua
330
Selalu Ada Pintu Maaf
331
Kembali Menyatu
332
Masih Cinta
333
Kembali Pulang
334
Melamar Pekerjaan Baru
335
Masih Dikelilingi Orang-orang Baik
336
Tersisip Kemurahan Allah
337
Firasat Buruk
338
Perpisahan Selamanya
339
Akhir Cerita
340
Terima Kasih
341
Promosi Novel Terbaru: Duda Terpaksa Turun Ranjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!