“Ya, aku sudah menerobos.” Larsson mengangguk, tapi di waktu yang sama dia merasakan ada sesuatu yang berbeda di kerajaan.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kerajaan? Kenapa suasana di sini terasa sangat berbeda sekarang? Sebelumnya suasana tak pernah seperti ini.”
“Apa yang membuat para menteri bekerja sangat keras? Aku juga melihat ada wajah baru di sana. Selain wajah-wajah baru ini, mereka berdua juga memiliki raut wajah berbeda seolah mereka mendapatkan pencerahan.” Larsson menunjuk pada Veus dan Fasuk.
Selalu seperti ini, sikap yang Larsson miliki tetap sama. Ingatannya tentang Larsson sama sekali tidak mengalami perubahan. Penemuan ini membuat Voran merasa lega.
Voran mengangkat tangannya, menunjukkan jari-jemarinya pada Larsson, dan menggerakkannya seperti sebuah gelombang.
Dengan tatapan serius dan sedikit niat membunuh, Voran berkata, “Revolusi!! Perubahan besar pada kerajaan, itu yang sedang mereka lakukan Larsson!”
“Aku … tidak, sebagai Raja dari kerajaan ini, aku akan mengubah dan meruntuhkan tatanan pemerintahan yang sangat buruk ini, terutama para bangsawan.”
“Bagi mereka yang melemahkan kerajaan, aku akan menghabisi dan melenyapkan mereka semua sampai ke akar-akarnya!! Pemindaian sedang berlangsung, pengumpulan informasi terkait hal itu, dan juga satu hal lain. Pembentukan pemerintahan baru, semua itu sedang aku lakukan secara diam-diam, dan aku membutuhkan kekuatanmu untuk melakukan itu, meski aku sudah memiliki beberapa tangan!!”
Grim Larsson tak menunjukkan sedikitpun reaksi dari apa yang dikatakan oleh Voran. Ia hanya menatapnya dengan serius dan mencari tahu apakah kata-katanya itu bisa dipercaya dan sebuah kebenaran atau hanya sekadar gurauan semata.
Setelah peristiwa yang pernah terjadi, Larsson tidak bisa mempercayai apa yang dilakukan oleh Voran meski itu hal kecil sekalipun.
Kekacauan yang dibuat oleh Voran memang tidak begitu mengerikan dibanding dengan anak-anak bangsawan. Namun, frekuensi yang dimiliki Voran melebihi mereka.
Terkadang, masalah yang besar akan lebih mudah dihadapi dan diselesaikan daripada masalah kecil yang terus bermunculan tanpa jeda.
Larsson melihat dan merasakan keseriusan Voran terhadap apa yang diucapkannya. Sungguh suatu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Situasi ini membuat Larsson bingung dengan apa yang dialami oleh Voran selama mereka tak bertemu. Dia juga curiga apakah pemuda di depannya ini benar-benar Voran atau orang lain.
Perubahan yang ditunjukkan olehnya terlalu besar. Voran yang dia tahu hanyalah pemuda nakal yang selalu membuat onar di setiap tempat yang dia datangi. Walaupun Voran tidak berkawan baik dengan anak-anak bangsawan lainnya, perilakunya tidak kalah buruk dari mereka.
“Untuk apa Yang Mulia melakukannya?”
“Ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Apakah Yang Mulia baru saja mengatakan sebagai seorang Raja?”
“Apakah Yang Mulia memiliki tekad yang kuat? Mendiang Raja berani mempertaruhkan nyawanya sendiri demi rakyat, apakah Yang Mulia berani melakukannya?”
“Setelah Yang Mulia menjadi Raja, nyawa Yang Mulia terikat penuh dengan kerajaan dan mereka yang tinggal di dalamnya. Keberhasilan Yang Mulia juga akan menjadi keberhasilan kerajaan, dan kegagalan yang Anda dapatkan juga akan menjadi kegagalan kerajaan. Setelah takhta dan singgasana kerajaan Yang Mulia ambil, maka kedua hal itu akan terikat selamanya dengan Yang Mulia!!”
Meski tak begitu menerima apa yang telah dilakukan oleh Voran di masa lalu. Larsson tetap mengingatkannya karena kepercayaan yang telah diberikan oleh Mendiang Raja. Dia juga menekankan sebuah beban yang berat pada Voran.
Larsson tahu betul seberapa menakutkan dan menggiurkannya posisi tersebut. Namun, dia merasa jika seseorang yang pantas mendudukinya tidak hanya perlu memikirkan keseluruhan kerajaan, tapi juga bagian-bagian yang ada di luar kerajaan.
Larsson bak sebuah gunung kokoh yang tak akan pernah bisa diguncang sedikitpun saat mengatakan beberapa kalimat tadi. Dia menjaga posisi serta wibawanya ketika mengatakannya.
“Menanggung penderitaan itulah jalan seorang Raja.” Tanpa keraguan sedikitpun Voran membalasnya.
“Apa yang disebut Raja bukan sesuatu yang mudah! Hidupnya tak lagi menjadi miliknya sepenuhnya, meski banyak dari yang ada tidak seperti itu.” Setiap kata yang keluar dari mulut Voran dipenuhi dengan emosi.
“Apakah aku memiliki tekad seperti itu?” Emosinya terus mengalami perubahan di setiap kata yang terucap.
“Siapa tahu? Mungkin saja aku memilikinya. Namun, hidupku saat ini tergantung dengan gelar yang aku miliki dan terikat dengan kerajaan ini secara langsung maupun tidak langsung. Lebih baik aku menjalaninya daripada meninggalkannya! Batu terjal di depan sana tidak akan membuatku mundur.”
“Jalan terjal sudah menjadi hal biasa untukku!” Sesaat setelah mengatakannya aura di sekitar tubuh Voran berubah menjadi lebih kuat dan itu menyatu dengan sorot matanya yang berapi-api.
Tidak ada jalan mundur ataupun jalan berbelok, hanya ada jalan terjal dengan berbagai tembok yang menjadi penghalang untuk ia lalui. Voran menegaskan dirinya sendiri dan dia menunjukkan ketetapan hatinya dengan tatapan matanya.
Voran melangkah maju dan mendekati Larsson. Jarak mereka hanya terpisahkan oleh dua langkah saja. Pada saat itu, Voran tidak terlihat seperti seorang pemuda yang hanya bisa berbuat onar, tapi sosok pria yang kesepian dengan pengalaman yang tak bisa dikatakan baik ataupun buruk.
“Larsson, entah apa itu tekad yang aku miliki atau tekad yang kau maksud itu sama atau tidak. Aku hanya menjalani hidupku sesuai dengan kemauanku!”
“Aku akan mengambil tanggung jawab yang memang sudah ditakdirkan untukku! Aku akan merombak kerajaan ini dengan tanganku! Selama kau dan yang lain membantuku membuat kerajaan ini menjadi lebih baik dan lebih kuat lagi.”
“Aku tidak akan meninggalkan rakyatku maupun kalian! Takhta dan Singgasana itu hanya diperuntukkan untukku dan keturunanku, bukan orang lain!!” suara penuh tekad menggelegar di ruangan itu.
Voran tidak mundur saat merasakan tekanan yang mengarah ke tubuhnya semakin meningkat. Dia tetap tenang dan terus menatap mata Larsson tanpa menunjukkan rasa takut.
Tidak hanya tidak takut Voran malah tertantang dan terus mempertahankan sikapnya selama beberapa puluh detik.
Setelah memberikan tatapan mata yang mengukur berubah menjadi lebih tenang dan kalem. Larsson sedikit mengangkat bibirnya dan menunjukkan senyum kecil.
“Yang Mulia lah yang menentukan jalan macam apa yang akan Yang Mulia lalui.”
“Jalan setiap Raja tidaklah sama. Ada dari mereka yang menjadi bijaksana, diktaktor, pengasih, tolol, atau banyak lainnya. Selama Yang Mulia mengingat tanggung jawab akan seluruh kehidupan kerajaan, serta membawanya lekat-lekat di benak Yang Mulia. Itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan siapa Yang Mulia.”
“Sebagai salah satu Pilar Kerajaan dan pria tua yang mengikuti para Raja Kerajaan Salauster. Aku, Grim Larsson akan membantu Yang Mulia memenuhi cita-cita yang Anda miliki!!”
Suara Larsson tidak begitu keras tapi terdengar dengan jelas dan menenangkan hati. Tampak dari sorot matanya, ia dipenuhi emosi dan tekad yang tak tergoyahkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments