“Jenderal, Apa menurut Anda kita harus mengerahkan seluruh pasukan untuk menghadang lawan yang sudah terluka? Bukankah akan menjadi lebih baik jika kita membagi pasukan menjadi dua dan mengirim salah satunya langsung ke ibukota mereka dan menyerangnya?”
Seorang pemuda berwajah tampan dan mengenakan baju besi berkilauan dan lebih bagus dari yang lain. Dengan rambut berwarna merahnya, dia memiliki pesona berapi-api.
Pria tua dengan perawakan gagah dan tatapan tenang yang dipenuhi dengan pengalaman menatap pemuda itu, dia memiliki punggung yang tegak dan dada yang bidang. Janggutnya yang panjang berwarna putih serta pipi yang cekung membuatnya terlihat berwibawa.
“Kau tidak salah, tapi tidak benar. Apa kau sudah mengetahui seberapa besar kekuatan yang mereka bawa?” suara penuh keraguan itu keluar seperti hembusan angin.
“Kita bisa menghantam mereka secara langsung dan menghancurkannya. Tentu saja dengan syarat kita mendapatkan kemenangan, dengan begitu keberhasilan kita menaklukkan ibukota mereka akan meningkat pesat.”
Raut wajah penuh perhitungan pria tua itu membuat pemuda di sampingnya terdiam sejenak. Pria tua itu sangat tenang saat mengatakannya.
“Namun, konsekuensi yang akan kita hadapi tidak kalah dari peluang kemenangan itu sendiri,” tegas pria tua itu lagi dan kali ini caranya menatap pemuda itu menjadi lebih tajam.
“Apa menurut Jenderal perang ini akan menjadi perang besar atau hanya perang pembuka saja?” Pemuda itu menanyakan situasi peperangan karena merasa tidak nyaman dengan pergerakan tiba-tiba.
Sebelum mendengar jawaba pria tua, pemuda itu memberitahukan perasaannya yang berkecamuk. Dia khawatir setelah Kerajaan Salauster menggaungkan genderang perang.
“Ketika melihat kekalahan yang mereka alami sebelumnya, aku merasa mereka tidak memiliki niat untuk berperang saat ini. Namun, situasi kali ini terasa berbeda, seolah-olah ada aura kuat yang menyelimuti mereka dan mendorong mereka.”
Valaunter mengerti kekhawatiran serta semangat yang dirasakan oleh pemuda yang digadang-gadang akan menjadi seorang Jenderal berperingkat tinggi itu.
Perang sebelumnya telah memberi pemuda itu sedikit pengalaman, tapi belum memenuhi gairahnya.
Menengok perangai pemuda itu, Valaunter bisa menduga jika dia maniak perang. Hal itu bukan sesuatu yang buruk apalagi untuk seorang Jenderal, selama dia mampu mengontrol nafsunya. Jika dia lepas kendali, semuanya bisa berubah menjadi lebih buruk.
Apa yang akan terjadi nanti tak dapat Valaunter duga. Situasi saat ini sudah jauh dari perkiraannya.
Valaunter memang sudah memperhitungkan serangan balik dari Kerajaan Salauster, hanya saja dia tidak mengharapkannya secepat ini.
Jika mereka melakukannya saat ini maka mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan moral yang tinggi bisa menjadi sebuah pembeda dalam perang. Valaunter telah merasakannya beberapa kali dan salah satu kekalahan yang mencoreng namanya terjadi berkat musuh memiliki moral yang tinggi.
“Perang tetaplah perang, tidak peduli ukurannya. Jika mereka memiliki pasukan lebih sedikit dari kita itu akan menjadi situasi yang menguntungkan untuk kita.”
“Akan tetapi, jika mereka lebih banyak maka kita memerlukan rencana yang lebih baik dan matang. Mival Belloc, Sang Brigadir Kematian, Pria yang disebut sebagai jenius dari House of Mival. Selama aku yang memimpin pasukan dan menjadi pemegang kendali serta keputusan, aku akan membebaskanmu dari segala hal rumit.”
“Kau bisa fokus menghadapi lawan dan bertarung!”
Selek Valaunter, Sang Jenderal Tua yang juga didapuk sebagai Marshal Kerajaan Arannor mengatakan hal tersebut untuk membuat Belloc merasa bebas.
Sebuah kekangan tidak akan menghasilkan hal baik, malahan akan memperburuk keadaan yang mereka hadapi.
Valaunter membebaskan Belloc, toh pada akhirnya Belloc juga akan mendapatkan kenaikan jabatan setelah perang ini berakhir.
Valaunter tidak ingin melihat bakat menonjol yang mengalami kemajuan pesat ini tertahan oleh sebuah aturan yang tidak memberinya kebebasan untuk menjelajahi dan mengembangkan kekuatannya di sebuah perang.
Dengan pasukan sebesar 60.000 prajurit, Valaunter tidak merasa buruk. Pasukan ini sudah lebih dari cukup untuk mengatasi lawan. Dia memimpin hampir seluruh prajurit di Kerajaan Arannor.
Tentu saja dengan pasukan sebesar itu terbesit sebuah harapan besar untuk kesuksesan dalam perang yang mana itu menjadi sebuah kemenangan. Valaunter sendiri sudah mengirim beberapa pengintai untuk mencari tahu kondisi dan situasi pauskan Kerajaan Salauster.
Valaunter tidak hanya menunggu di satu tempat saja tapi bergerak dan tidak mengambil istirahat. Mereka bergegas menuju ke Dataran Verus dimana tempat tersebut merupakan tempat yang cocok untuk membangun formasi pasukan dengan ukuran yang besar.
***
Veus dan Larsson, dengan dua pilar mengikuti perang ini, Voran bisa sedikit bernafas lega. Tanpa kehadiran dan dukungan kedua orang tersebut. Akan sulit baginya untuk memimpin pasukan.
Sebagai seseorang yang belum pernah menginjakkan kaki ke medan perang, situasi yang dia hadapi saat ini memberikan tekanan yang sangat besar. Dia tidak tahu apakah dia mampu untuk berada di medan perang atau tidak.
Untuk menenangkan diri, dia mengalirkan energinya ke seluruh tubuh dan merasakannya dengan melakukan meditasi di atas kuda.
“Separuh dari pasukan berasal dari Keluarga Bangsawan. Ini bukan hal yang baik, apa kau memikirkan hal yang sama denganku, Larsson? Perang ini … bagaimana menurutmu?”
Perjalanan yang tak sebentar makin membuat perasaannya berat dan Voran merasa dia dihimpit oleh tekanan dan beban yang tak dia ketahui.
Untuk melepaskan diri dari beban serta keraguan yang menghantui benaknya, dia menanyakan pendapat Larsson tentang perang ini.
Selain itu, Voran juga melakukan meditasi yang mana hal itu dia lakukan untuk mengetahui efek dari Pil Penguat yang dia makan.
Memejamkan matanya sejenak sambil mengelus-elus janggutnya, Larsson memikirkan jawaban apa yang harus dia katakana pada Voran.
Setelah beberapa detik dia memejamkan matanya, dia membukanya dan memberikan jawaban. “Tidak mudah. Tidak hanya kita harus mewaspadai lawan, kita juga tidak bisa mengalihkan perhatian dari pasukan Bangsawan-Bangsawan itu. Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka atau hanya berpura-pura demi menutupi bau busuk mereka!”
Veus tidak hanya mendengarkan saja tapi juga memberikan pendapatnya. Dengan wajah serius serta nada yang tidak main-main, dia berkata, “Akan menjadi tugas yang lebih mudah jika kita hanya mewaspadai lawan. Namun, apa daya! Musuh kita tidak hanya dari luar tapi juga dari dalam yang semakin membuat situasi menjadi tidak menentu. Kita harus memecah belah konsentrasi untuk menghadapi dua masalah ini. Perang ini akan sulit!”
“Begitukah? Musuh terberat tidak pernah berasal dari luar melainkan dari dalam. Selama bagian internal tidak dibenahi akan sulit untuk menyelesaikan masalah eksternal. Betapa mudahnya mereka yang hanya fokus menghadapi masalah eksternal.”
“Namun, kita sudah menetapkan semuanya sejak awal. Kematian mereka akan menjadi duka dan lara yang tak terhapuskan untuk kerajaan. Sayangnya, keberadaan pemimpin mereka terlalu buruk untuk kerajaan. Yah … pada akhirnya ini untuk kebaikan dan keselarasan kerajaan!” Voran mengatakannya dengan penuh ketetapan hati. Dia tidak bisa melepaskan rasa bersalah karena memerintahkan orang-orang tak bersalah menuju ke gerbang kematian.
Kata-kata seorang raja mampu menghasilkan jutaan kematian ataupun kenyamanan dalam hidup.
Oleh karenanya, beban yang ditanggungnya bukan sesuatu yang mudah untuk dipanggul. Voran tidak bisa mengabaikan rasa bersalah itu dan terus memendamnya hingga sekarang.
Walau berada di tengah-tengah pasukan dan didampingi dua sosok penting, dia tidak merasakan apa-apa kecuali kesepian yang membutakan mata dan rasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments