Begitu derap langkah kaki kuda terdengar, seluruh prajurit yang berada di perkemahan segera waspada dan mengambil sikap untuk bertarung.
Para prajurit segera mengangkat perisai serta tombak sembari mengarahkan pandangannya menuju ke arah deburan debu yang menutupi penglihatan. Mereka melihat begitu banyak bayangan dari balik deburan debu itu.
Ketika kegaduhan terjadi, Voran segera bangkit dari istirahatnya. Dia yang sudah mendapatkan pengetahuan baru tentang kekuatan yang ada pada tubuhnya segera mempraktekkannya.
Pada waktu para prajurit membuat kegaduhan yang sebenarnya tidak diperlukan, dia bergegas keluar dari tendanya untuk memeriksa kegaduhan itu. Tentu saja dia tak melupakan senjatanya, akan menjadi suatu kebodohan jika dia melakukannya.
Voran dilindungi oleh para prajurit termasuk Veus serta Werder Sian dan Griss Hainz saat dia menyaksikan pasukannya yang kembali dari medan perang.
Melihat kondisi para prajurit yang begitu lusuh dan dipenuhi dengan darah ditambah dengan bau yang menyengat, Voran tak berpaling dari mereka.
Walaupun kepalanya dipenuhi dengan keraguan dan kebingungan, ia tak mengubah ekspresi di wajahnya. Dia berusaha bersikap tenang, disamping itu ada prajurit yang kembali dengan anggota tubuh yang tidak utuh yang membuat dia geram.
“Veus, apa yang terjadi dengan mereka?” Voran sedikit mengerutkan dahinya saat mempertanyakan keadaan para prajurit yang tampak lusuh dan terlihat telah melewati sebuah neraka.
“Diluar dugaan dari rencana kita, Yang Mulia. Saat aku memerintahkan mereka untuk maju dan bertindak sebagai pasukan pelopor. Kita mengharapkan situasi dimana pihak lawan kelelahan akibat perjalanan panjang dan sedang dalam proses untuk membangun tempat peristirahatan.”
“Awalnya Kita akan memanfaatkan keadaan tersebut dan menyerangnya. Namun, para prajurit yang kita kirim tidak hanya tidak menemui situasi tersebut melainkan mereka bertemu dengan sekelompok prajurit yang beranggotakan ribuan prajurit yang siap untuk bertarung.”
Veus kesal sekaligus menyesal karena tak mempertimbangkan situasi tersebut. Sesaat setelah dia menarik nafas dan menjeda perkataannya, dia melanjutkannya. “Lalu, bukan hanya prajurit mereka memiliki kekuatan yang setara dengan pasukan yang kita kirim. Situasi itu benar-benar mengejutkan dan cukup menghambat kemajuan pasukan.”
“Tidak akan menjadi masalah jika hanya itu yang kita temukan. Namun, masalah utamanya, mereka dipimpin oleh Mival Belloc ‘Sang Brigadir Kematian’. Salah satu Jenderal yang berbahaya. Pasukan yang kita kirim harus berhadapan langsung dengan mereka. Entah ini kesialan atau keberuntungan. Pasukan kita bisa bertahan dari pertarungan mematikan itu dan kembali ke sini.”
Voran mengangguk dan memerintahkan para prajurit yang kembali untuk beristirahat dan memulihkan diri serta mengobati luka mereka. Ia tak mengharapkan situasi ini dan dia tidak menduga jika lawan akan mengirim pasukan pelopor yang jauh lebih kuat dari miliknya.
Meski baru sehari mereka tiba, kekuatannya sudah terkikis. Ini bukan pertanda baik. Voran menengadah dan menatap langit yang cerah. Pertempuran itu terjadi di petang hari.
“Ini jauh lebih sulit dari yang aku perkirakan. Jika mereka mengirim seorang Jenderal menuju ke medan perang sebagai seorang pemimpin pasukan pelopor, seberapa kuatkah pasukan utama mereka?” Voran mendercapkan lidahnya sambil memainkan jari-jarinya. Voran merasakan tekanan dari medan perang untuk kali pertama dalam hidupnya.
“Apa ini hanya tindakan penyamaran saja?” Voran cukup heran dengan temuan ini.
“Mereka mengirim sosok kuat dan berbahaya sebagai cara untuk menyamarkan kekuatan? Mereka mengharapkan pihakku untuk berpikir jika mereka memiliki kekuatan yang besar dan lebih kuat dariku?”
“Jangan bilang mereka memiliki kekuatan sebesar itu? Ini membingungkan … tunggu dulu, apa mereka hanya berniat untuk membingungkan pihakku dan mengelabuhiku?” Kebingungan Voran cukup masuk akal termasuk bagaimana dia bertanya-tanya akan situasi saat ini.
Langkah yang lawan ambil terlalu ambigu dan tak bisa diraba. Ada terlalu banyak kemungkinan dalam langkah yang diambilnya dan Voran merasa langkah yang mereka ambil bukanlah tindakan gegabah ataupun langkah yang dibuat tanpa alasan yang matang.
Tidak mungkin untuk seorang jenderal berpengalaman dan berumur akan melakukan kesalahan kecil seperti ini.
Ketika Voran tenggelam dalam pikirannya dan dugaannya akan langkah yang diambil oleh Selek Valaunter. Veus yang berada di depannya menegurnya. “Ada apa, Yang Mulia? Mengapa Anda cemberut dan memasang wajah seperti itu?”
Sekilas Veus mengerti penyebab ekspresi itu, sehingga ia mencoba menenangkannya. “Yang Mulia, tenang saja. Apa yang anda pikirkan belum tentu menjadi kenyataannya. Aku tidak begitu tahu apa yang anda pikirkan saat ini, tapi jika itu menyangkut apa yang terjadi. Aku bisa mengatakan, pria itu, Selek Valaunter. Dia akan melakukan segala cara untuk menghancurkan lawannya tanpa tersisa!”
Di pihak lain, Selek Valaunter yang menerima kabar tentang pasukannya dari salah satu pengintai yang dia kirim memiliki senyum lebar di wajahnya.
Meski tak berhasil menghancurkan lawannya, dia tetap merasa pasukannya melakukan tindakan yang bagus. Tentu saja, keberadaan Mival Belloc menjadi pembeda yang mengubah seluruh alur pertempuran.
“Pasukan itu, mereka bukan kekuatan utamanya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Menyerahkan posisi penting pada keluarga bangsawan dan pasukannya? Kurasa mereka tidak meremehkan pasukan pelopor lantas mengapa mereka mengambil langkah semacam ini. Sebenarnya apa tujuannya?”
Meski dia diunggulkan dalam pertempuran itu, Valaunter tidak merasa tenang. Dia malah meragukan situasi yang ada walau senyum di wajahnya muncuk ketika berita itu tiba.
Valaunter segera memanggil seluruh petinggi militer begitu kabar pertempuran dia dapatkan. Ia tak mau melewatkan kesempatan yang muncul secara tiba-tiba ini.
Awalnya, dia mengirim Mival Belloc sebagai pemimpin pasukan pelopor untuk memantau situasi serta memahami keadaan medan yang akan mereka gunakan untuk bertempur. Meski dia sudah tahu bagaimana keadaan Dataran venus sendiri, dia tetap perlu memperbaharuinya.
Apalagi, ketika mereka akan bertempur. Memahami kondisi medan tempat berlangsungnya pertempuran bisa menjadi kunci yang penting dalam pertempuran itu sendiri.
Voran tak menutupi rasa kesalnya saat pasukannya hampir dihancurkan dan peristiwa itu dilihat oleh para bangsawan. Ia melihatnya tapi tak begitu memikirkannya dan memilih untuk memanggil Veus ke tendanya.
Voran sudah melihat seberapa mampu pihak lawan, meski itu hanya seperti puncak dari sebuah gunung. Namun, dari kejadian ini, Voran mengerti beberapa hal, yakni bangsawan yang ikut dalam pasukan pelopor kembali dengan selamat dan tak memiliki luka serius, berbanding terbalik dengan pasukan yang ada dalam komandonya.
Begitu mereka ditenda, Voran melepaskan topengnya dan menunjukkan senyum yang berbeda dari raut wajah kesalnya saat berada di depan prajuritnya. Dia menghela nafas saat duduk dan mengetukkan jarinya ke meja.
“Veus, mereka melakukannya dengan baik. Meski kita merugi, situasi ini tidak jauh dari harapanku. Hanya saja, bangsawan-bangsawan itu mirip dengan kecoa. Tidak mudah untuk membunuh mereka.”
“Jadi, ketika perang ini memanas dan kedua kekuatan utama bertemu. Kirim mereka ke bagian formasi paling rentan dan berbahaya!! Mereka harus lenyap. Jika masih ada yang selamat, cari kesalahannya. Aku akan mengeksekusinya!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments