Voran kembali mengadakan pertemuan rahasia dengan Veus dan Fasuk. Dia mulai menunjukkan taringnya sedikit demi sedikit dengan merubah semua tatanan yang ada di Kerajaan Salauster. Melihat bagaimana situasi kerajaan yang cukup buruk dan terhimpit akan kerajaan dan masalah dalam negeri.
Voran memikirkan cara yang cocok untuk mengakhiri keadaan tersebut. Dia sudah melakukan langkah tertentu untuk masalah luar negeri. Sedangkan, masalah dalam negeri cukuplah pelik bahkan tidak dapat dibenahi hanya dengan waktu singkat. Dibandingkan dengan membuat, mengembalikan ke jalur yang sesuai jauh lebih sulit. Apalagi, jika tidak ada tuntunan yang tepat.
“Apakah Yang Mulia yakin akan mengubah struktur saat ini? Apa tidak dipikirkan terlebih dahulu? Jika Yang Mulia terburu-buru mengubahnya, mungkin ada terjadi sebuah ketimpangan yang akhirnya menuntun mereka yang menentang untuk memberontak. Bukankah mempersiapkannya dengan matang akan lebih baik daripada ini?” Fasuk terus saja memberikan halangan pada Voran. Dia hanya melakukannya karena mengantisipasi sebuah keadaan yang seharusnya dihindari bukannya didatangkan.
Tidak hanya Fasuk saja yang merasa jika Voran terburu-buru, tapi Veus juga merasakan hal yang sama. Dia tidak mengerti mengapa Voran akan mengubah struktur pemerintahan yang sudah ada sejak lama ini.
Sayangnya, mau bagaimana dan sekeras apa dia memikirkannya. Veus tidak menemukan jawabannya yang hanya membuat dia menjadi kesal. Mereka berdua menatap Voran yang tenang saat menggelar sebuah gulungan kertas di atas meja.
“Kenapa kalian berdua begitu cemas? Aku pasti akan mengubahnya dan itu merupakan suatu keharusan. Mereka yang memegang jabatan saat ini tidak kompeten. Besar potensinya mereka membawa kerajaan ini jatuh. Aku tidak akan mungkin membiarkan hal itu terjadi, kerajaan ini merupakan milikku dan menjadi satu denganku. Jika kerajaan ini hancur maka aku hancur, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, aku ingin memperbaikinya sebelum semuanya terlambat. Tentu saja, aku tidak akan terburu-buru. Aku akan mengamati sambil membangunnya!!”
Voran tidak serta merta mengubah struktur pemerintahan dalam waktu dekat. Dia lebih mengutamakan pembentukan struktur terlebih dahulu sembari menyingkirkan mereka yang tidak seharusnya memegang posisi yang tinggi.
Namun, ada satu departemen yang harus dia bentuk secepat mungkin. Departemen ini akan memegang peranan yang penting di kerajaannya dan dia tidak bisa menunggu lama. Departemen yang hendak dia bangun dari awal ialah Departemen Intelijen. Dia memiliki sebuah pemikiran untuk membentuk tiga divisi pada departemen ini.
Voran memahami betul pentingnya intelijen. Entah dari sisi mana, sebuah intel yang lengkap lagi memiliki sebuah peranan yang sulit untuk diabaikan baik dalam sebuah pertempuran atau hanya sebuah pengaturan sederhana. Voran tidak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja atau semuanya akan berkembang ke titik yang sulit.
Jadi, dia berpikir untuk membangun departemen itu lebih dulu daripada yang lainnya. Tentu saja dia tidak mengharapkan sesuatu yang besar di awal. Pastinya dia akan memberikan beberapa tugas setelah departemen itu terbentuk.
Voran menjelaskan tujuannya pada Veus dan Fasuk. Melihat mereka berdua memberikan yang terbaik untuk kerajaan. Voran merasa mereka perlu mengetahui apa yang dia inginkan serta tujuannya. Toh, pada akhirnya dia masih membutuhkan bantuan mereka jua.
“Jadi, berapa banyak orang yang akan berada di Departemen Intelijen, Yang Mulia. Aku akan mencari orang-orang terbaik dan membawa mereka masuk ke dalam departemen ini.”
Dengan percaya dirinya, Fasuk memberikan sebuah saran pada Voran. Dia tahu betul jika departemen yang baru ini membutuhkan banyak darah segar. Selain itu, dia juga ingin menunjukkan kesetiaannya pada kerajaan sekaligus pada Voran.
“Entahlah, aku juga tidak tahu akan ada berapa banyak orang yang bergabung dengan departemen ini. Namun, jumlahnya pasti tidak akan pernah sedikit. Bagaimanapun juga, aku akan membentuk dua divisi dalam departemen ini yang nantinya akan berfokus pada segala informasi yang ada baik di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri. Harusnya kau menebaknya bukan?” Voran benar-benar menunjukkan sisi yang tidak dapat dimengerti oleh mereka berdua.
Fasuk melihat tujuan dari tindakan yang Voran lakukan, sehingga dia segera memberitahu satu hal penting lain pada Voran, yakni keberadaan dari seseorang yang memiliki kecerdasan tidak biasa.
Selain itu, dia juga mengingatkan Voran jika kerajaan masih memiliki organisasi intelijen yang berada di bawah kementerian. Dia memberitahunya dengan tenang dan juga menceritakan tentang pria pandai itu. Fasuk menjelaskannya dengan sangat rinci sesuai dengan apa yang dia ketahui.
“Jadi, begitu. Masih ada orang berbakat lain yang tidak menampakkan diri! Memang mereka yang memiliki kemampuan di atas orang lain tidak akan mudah dihadapi. Bakat-bakat ini memiliki karakter-karakter yang berbeda-beda dan sikap yang gigih dalam mempertahankan idealisme mereka. Ini membuatku merasa lega, aku harus bertemu dengan pria itu.” Voran sama sekali tidak menduga akan mendengar sesuatu yang menyenangkan dari Fasuk.
Selain dua divisi itu, dia juga memikirkan satu divisi intelijen lain yang akan langsung bekerja di bawahnya, tentu saja dia tidak bisa asal memberikan posisi tinggi ini pada orang yang tak dia ketahui. Jadi, dia belum memikirkannya matang-matang.
Namun, keinginannya ini benar-benar besar. Oleh karena itu dia ingin segera bertemu dengan pria yang diceritakan oleh Fasuk ini. Dia juga sudah menjelaskan dengan rinci departemen apa saja yang akan dia bentuk. Dia menyebutnya sebagai 9 kehidupan 1 kematian.
Pada waktu dia bertemu dengan pria yang diceritakan oleh Fasuk, dia cukup terkejut karena pria itu masih cukuplah muda.
Dengan penampilan yang tidak terlalu mencolok tapi memiliki sebuah karisma yang tidak bisa diabaikan. Pemuda itu memberikan sebuah salam padanya.
Mereka bertemu di ruang pribadi Voran. Dia tidak ingin menemuinya secara resmi sebagai seorang Raja dimana dia harus menemuinya di Aula Istana. Dia ingin mengetahui pria ini dengan baik sehingga dia mengundangnya secara pribadi.
“Stuart? Haruskah aku memanggilmu seperti itu?” Voran menatap pemuda itu cukup lama sambil mengucapkan namanya, dia benar-benar melihat jika pemuda ini memiliki Sesuatu hal yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan dia menemukannya saat bertatap mata dengannya.
“Ya, Yang Mulia. Itu nama pemberian mendiang ibuku, aku cukup senang Yang Mulia memanggilku. Apa yang ingin Yang Mulia lakukan sehingga memanggil pria rendahan sepertiku kemari?” tanyanya. Stuart terlihat tenang dan tidak terlalu khawatir saat berhadapan dengan Voran yang memiliki aura berbeda dari yang lain.
Memang budidaya Stuart tidak terlalu tinggi, tapi kemampuannya tidak dapat diabaikan terutama saat dia menatap mata Voran.
Voran merasakan tekad yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain dari tatapan itu. Hal ini membuat dia merasa tidak biasa saat berhadapan dengan Stuart. Seolah-olah pria itu tahu apa yang dia inginkan.
Tidak berbeda dari Voran yang merasakan sesuatu saat ditatap. Perasaan resah tiba-tiba saja muncul dari dalam benak Stuart ketika dia menerima tatapan Voran yang begitu intens.
“Aku mendengar kepandaianmu jauh di atas rata-rata dan banyak dari bawahanku yang memuji kepandaianmu. Sebagai seorang Raja, tentu saja aku tidak bisa mengabaikan bakat seperti dirimu. Jadi aku memanggilmu kemari untuk merekrutmu sebagai bawahanku. Ini bukan perintah ataupun paksaan, aku hanya menginginkanmu.” Voran sama sekali tidak menunjukkan sikap yang berbeda dari biasanya. Namun, ketika dia melihat Stuart yang mempunyai aura selayaknya seseorang yang terpelajar, dia merasa seperti sedang mengumpulkan potongan puzzle.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments