Selek Valaunter terpukul mundur dan terlambat untuk menahan pukulan itu. Dia terhempas hingga menabrak tanah dan menghancurkannya. Meskipun tombaknya telah berayun dan merepotkan Grim Larsson, dia tak bisa memegang keunggulan.
Saat Selek Valaunter lengah, Grim Larsson melepaskan serangan yang kuat. Qi berkumpul di kepalan tangannya, merobek ruang di sekitarnya, dan memunculkan percikan-percikan listrik. Dia melemparkan pukulan mematikan itu tepat di saat lawannya tak fokus bertahan.
Selek Valaunter berdiri secepatnya setelah menerima serangan itu dan darah menetes dari mulutnya. Tatapan matanya penuh dengan emosi dan kemarahan hingga dia menggertakkan giginya.
Melihat lawannya sekali lagi melepaskan pukulan mematikan, dia segera mengayunkan tombak dan memutarnya hingga membentuk sebuah dinding pelindung dari Qi. “Uagrh!!”
“Kau lebih keras kepala dari dugaanku, Selek Valaunter. Namun, tanpa kau sadari, kau telah mengabaikan perang ini. Menyerahlah selagi aku berbaik hati!” Grim Larsson mengangkat pedangnya.
Langit mengeluarkan petir dan berkumpul di pedangnya. Dia turun dan mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang melebihi kedipan mata.
“Ya … kau sama sekali tidak mengetahuiku, Grim Larsson!!”
Begitu dia memutarkan tombaknya dia segera menusukkan tombaknya ke arah langit. “Sky-breaking Spear!”
Tombaknya melesat menahan ayunan pedang Grim Larsson yang dipenuhi dengan Qi serta petir.
Tanah retak, udara terdistorsi, ledakan energi memuntahkan tekanan yang sangat menindas.
Grim Larsson berteriak sekuat-kuatnya saat dia menambah kekuatannya, begitu juga dengan Selek Valaunter. Teriakan penuh kekuatan itu memperlihatkan tekad mereka berdua untuk menghabisi lawannya.
Di sisi yang berbeda, Voran menebas puluhan prajurit dan menghabisi mereka satu demi satu dengan kecepatan yang luar biasa.
Saat dia sedang membantai para prajurit, dia menemukan lawan yang setara dan memberikan tekanan yang tak biasa.
Voran menebaskan pedangnya ke udara untuk membersihkan darah yang menempel pada bilah pedangnya. Dia menunggangi kudanya dengan tenang saat berhadapan dengan pemuda berambut merah dan memiliki tatapan mata yang sangat tajam.
“Ini situasi yang buruk. Aku harus bertemu dengan pria setangguh dia! Kekuatannya cukup besar dan tak jauh berbeda denganku.” Voran merasakan tekanan yang kuat dari pria di depannya dan dia tidak bisa melepaskan diri darinya.
“Siapa dia? Kemampuan seperti ini tidak terlalu jauh berbeda dariku. Informasi yang kumiliki tak begitu banyak. Ini sangat merugikan.” Voran menatap pria di depannya dengan tajam.
Pria yang tak mengenakan helm dan menunjukkan rambut merahnya dengan tatapan mata yang tajam, lebih tajam daripada belati.
Tombak di tangannya memancarkan amarah yang dipengaruhi oleh nafsu membunuh. Armornya yang berwarna hitam terselimuti oleh auranya yang berwarna merah dan membuatnya makin terlihat mengancam. Pria itu ialah Mival Belloc ‘Sang Brigadir Kematian’.
“Armormu tampak berbeda dari yang lain. Keras tapi lentur dan mudah untuk digerakkan. Tipikal armor mewah yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berada di posisi tinggi. Bolehkah aku tahu? Aku sedang berhadapan dengan siapa?” Mival Belloc menanyakannya dengan nada yang dingin tapi raut wajahnya begitu hangat dan menenangkan.
Mival Belloc melepaskan aura yang kuat segera setelah dia menanyakannya. Ia merasa pria di depannya berada pada tingkatan yang sama dengannya, tapi entah bagaimana, ia tidak bisa mengalahkannya begitu perasaan itu muncul.
Kejadian semacam ini baru pertama kali ia rasakan dan dia sama sekali tidak tahu mengapa perasaan ini terus menekannya.
Voran merasakan ancaman nyata dari pria itu. Dia tidak ingin menganggap situasi ini terlalu serius bahkan merasa perlu mengabaikan sikap yang Mival belloc tunjukkan.
Meski tak sepenuhnya mengetahui siapa pria di depannya, Voran memiliki dugaan tertentu dan penampilan pria itu hanya mengarah pada satu orang, yakni Mival Belloc.
“Apa yang bisa kau lakukan pada perang ini, Mival Belloc? Kenapa kau tak melihat sekelilingmu? Katakan padaku, mungkinkah kau bisa mengubahnya?”
Voran mengayunkan pedangnya beberapa kali mencoba untuk membiasakan diri dengan pedang di tangannya. Melalui ingatan yang dimilikinya, dia mengingat jika dia sudah menguasai teknik warisan keluarganya. Hanya saja dia tidak tak terlalu sering berlatih.
Mival Belloc tersenyum dan memacu kudanya dalam kecepatan yang stabil ke arah Voran. Tombaknya terus berputar tanpa henti dan menghempaskan apapun di sekitarnya. “Tidak ada!! Aku hanya datang untuk membunuh dan mencari prestasi! Bukan kemampuanku untuk mengubah keadaan dan situasi di medan perang. Aku hanya salah satu roda yang menggerakkan pasukan.”
“Selama aku berusaha dan tidak menyerah, kemenangan akan muncul dengan sendirinya! Yah … kupikir aku sudah mendekatinya! Kau … salah satu petinggi yang akan memberiku banyak jasa!”
Mival Belloc memutar tombaknya dan di saat dia menghentikan putarannya sebuah gelombang kejut yang kuat muncul dengan sendirinya.
Voran menghentakkan kakinya ke kuda. Tatapan matanya segera berubah dan dia mengeluarkan aura berwarna hitam pekat.
Pedangnya terangkat tinggi-tinggi dan menyamping saat dia berkuda ke arah lawannya.
Dua gelombang Qi yang kuat muncul dan saling berhadapan. Voran mengayunkannya saat jarak mereka berdua hanya terpaut beberapa meter, lalu sebuah gelombang Qi muncul dari ayunan pedangnya. “First Step of Salauster’s Skies Sword : Cleave.”
Mival Belloc mengayunkan tombaknya dalam putaran yang tak terhingga dan Qi yang dia miliki menyelimuti tombaknya.
“Dark of Spear’s Field!”
Sebuah medan Qi terbentuk saat tombak di tangan Mival Belloc berputar. Langkah kudanya stabil dan medan Qi itu mengikutinya saat dia berjalan.
Gelombang Qi yang datang dari arah Voran tak bisa menembus medan Qi dan tertahan di udara kosong hingga menciptakan gelombang kuat yang menggetarkan tanah.
“Kau tidak akan bisa menembusnya, sampai kapanpun dan seberapa besar usahamu. Kau tidak akan bisa menembus teknik ini,” celetuk Mival Belloc penuh dengan rasa bangga atas kemampuannya.
“Biar kuperingatkan! Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini. Keluargamu pasti menunggumu, bukan? Kehilangan seseorang seberani dirimu pasti akan menghancrukannya keluargamu. Pergilah!!” Mival Belloc mengatakannya dengan nada dingin bukan suara yang digunakan untuk membebaskan seseorang, melainkan untuk menghabisinya.
Selain suaranya yang mengancam, dia juga memberikan tatapan mata yang tidak baik, bahkan sangat mengancam.
Mival Belloc menunggu Voran berbalik, tapi tidak ada yang terjadi. Dia sama sekali tidak mengharapkan hal ini.
Biasanya mereka yang diberi kesempatan akan mengambilnya, terutama setelah mereka gagal menyerangnya atau tak mampu berbuat apapun terhadapnya.
Saat ini Mival Belloc melihat sikap yang berbeda dari lawan-lawan yang dulu pernah dia hadapi. Mival belloc tersenyum lebar dan begitu dia tersenyum, tekanan pada medan Qi-nya meningkat pesat.
Voran tak memikirkan perkataan itu. Dia hanya merasa bila Mival Belloc hendak mengacaukan emosinya serta membuatnya kehilangan pikiran. Segera dia mendekati Mival Belloc dengan gerakan yang kuat.
Voran masuk ke dalam medan Qi itu. Di dalam sana dia merasakan tekanan tak berbentuk menindasnya.
Ketidaknyamanan segera ia rasakan begitu dia masuk ke dalam medan Qi. Pada saat Voran melihat senyum di wajah Mival Belloc, ia tahu situasinya tidak baik.
Voran mengayunkan pedangnya beberapa kali mengirimkan gelombang ki yang cukup kuat untuk menghancurkan batu hingga menjadi berkeping-keping.
“Kau pikir aku peduli dengan semua itu?” Voran tak menghentikan serangannya. Ayunan pedangnya bertambah cepat dan gelombang ki yang ia kirim tak berhenti.
Merasakan kudanya tak mampu menanggung tekanan dan penindasan yang tengah dia hadapi. Voran segera melompat dari kudanya, dengan satu dorongan kuat dia melayang terbang ke Mival Belloc sembari mengayunkan pedangnya.
Saat Voran melayang, dia menggunakan sebuah teknik dan Qi keluar dari tubuhnya lalu membentuk sebuah gambar naga yang tampak sangat jelas. “Terima ini!! Fist of The Dragon : Sky Clearing!”
Saat tinjunya mengepal, langit menjadi cerah dan seluruh Qi yang ada di tubuhnya terkumpul di tangannya begitu juga dengan energi alam.
Begitu dia melepaskannya, Qi berbentuk naga meluncur turun ke arah Mival Belloc yang memutar tombaknya. Segera langit menjadi gelap begitu naga turun ke bawah.
Voran tidak meninggalkan sedikitpun ruang untuk Mival Belloc bergerak bebas, serangannya menutupi seluruh medan Qi-nya dan membuat pria itu tak berkutik.
“Argh!! Keparat kau!!” Mivac Belloc merasakan penindasan yang tak terkira. Semakin dekat naga itu semakin dia merasa tertekan.
“Urgh!!! Aku tidak bisa membiarkan-“ Mivac Belloc mengangkat tombaknya mencoba menahan tekanan itu dengan ki miliknya.
Namun, semakin keras dia berusaha menahannya, rasa penindasan dan tekanan itu semakin meningkat. “Persetan dengan semua itu!! Aku akan membunuhmu! Huft … huft …”
Mival Belloc memutar tombaknya, walaupun setiap kali dia memutarnya dia membutuhkan banyak tenaga. Tekanan yang dia dapatkan tidak berkurang dan itu menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit.
Dia memaksakan dirinya untuk terus menggerakkan tombaknya meski rasa sakit itu terus menderu-deru di tubuhnya. Medan Qi mengalami perubahan saat dia menancapkan tombaknya ke tanah. Tentakel Qi segera menyeruak keluar dari medan Qi-nya dan menahan Qi berbentuk naga.
Saat Qi bertabrakan. Ledakan kuat terjadi dan menghempaskan segala hal, Mivac Belloc ditekan secara paksa oleh tekanan tak berbentuk hingga dia menekuk lututnya.
Wajahnya memucat dan keringat terus menetes di wajah dan tubuhnya. Sedikit demi sedikit darah menetes dari sela-sela bibirnya. Mival Belloc merasa tubuhnya dihancurkan pelan-pelan, tulang-tulangnya terus berbunyi krek-krek. Dia mengerahkan segalanya dan menahan tekanan itu.
Voran menekannya dan terus menghisap energi yang ada di sekitarnya dengan King’s Power. Dia mengeluarkannya tapi juga menambahnya.
Serangannya semakin kuat seiring dengan bertambahnya Qi di dalam tubuhnya. Namun, apa yang dia serap tidaklah murni sehingga memberikan beban mengerikan pada tubuhnya.
Ketidakmurnian itu berasal dari emosi yang tertinggal. Setiap energi yang ia serap berasal dari mereka yang mati. Oleh karena itu, energinya tidak murni. Menyerapnya hanya menimbulkan ketidakseimbangan di dalam tubuhnya.
Meskipun wajah Voran memucat. Dia menggertakkan giginya dan terus menekan Mivac Belloc.
Tanah tempat Mivac Belloc berdiri mengalami penurunan, dan tenggelam hingga beberapa meter. Di sisi itu pula retakan muncul.
Voran memuntahkan seteguk darah saat menyaksikan Mivac Belloc jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap. Medan ki menghilang, menyisakan darah di sekitar tubuh Mivac Belloc.
“Bluarg!! Ugh!! Sialan!! Ini berlebihan. Aku terlalu memaksakan diri menghisap seluruh ki di sekitarku. Ugh!!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments