Ketika Zero sampai diistana ia disambut oleh ayahnya, Butler William dan beberapa maid.
ia lalu mengeluarkan seluruh item yang ia dapatkan selama dihutan Weiber, seketika Ayahnya, Butler William dan para maid yang ada disana terbelalak mata melihat tumpukan Item-item tingkat tinggi.
Ayahnya lalu menyuruh para Maid dan para prajurit untuk menyimpan item-item yang ia dapat digudang persenjataan.
Dan selama beberapa hari terakhir ia selalu mengobrol dengan ayahnya, mereka berbincang-bincang layaknya seorang anak dan ayah pada umumnya.
Zero menyibukkan diri dengan Membaca Buku di perpustakaan Istana karena ia tidak boleh terlalu bergantung dengan informasi yang ada di novel, Selama beberapa Minggu itu juga Zero Berhasil membuat beberapa item berkat JobClass Professional engineer.
Ia juga berlatih Seni Pedang dari ayahnya karena dalam hal ini ia masih belum terlalu mahir menggunakan Pedang.
Berkat latihan berpedang bersama ayahnya Zero mendapatkan sebuah Passif Skill.
[ Dunkenheit Sword Art Lvl 2
Seni Pedang yang dibuat dan disempurnakan oleh Kepala keluarga sebelum Gerald, Seni Pedang ini merupakan Seni Pedang Terhebat dikerajaan Gottlich. ]
Zero amat senang karena dengan mendapatkan bimbingan dari ayahnya ia bisa mengasah kemampuan berpedangnya.
Zero juga berusaha untuk menaikkan level JobClass World Disaster namun ia perlu menyelesaikan Quest Khusus yang hanya bisa diakses jika Dirinya berlevel 200.
Zero duduk ditempat latihan sambil melihat para prajurit yang sedang berlatih. Sudah beberapa bulan ia berlatih bersama ayahnya dan para prajurit yang membuat kedekatannya dengan penduduk setempat menjadi lebih baik.
Ia juga sering membantu warga-warga diwilayah Utara dan sering melakukan perburuan bersama dengan para prajurit.
Ketika ia sedang melamun ia dikagetkan dengan tangan seseorang yang mengacak-acak rambutnya.
Zero menoleh dan mendapati seorang pria Tua dengan rambut yang sudah memutih dan mata yang berwarna merah darah seperti miliknya.
Orang itu adalah kakeknya sekaligus kepala keluarga sebelumnya ia adalah Richard Von Dunkenheit.
"Oy! bocah kecil apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai membuat para prajurit ketakutan?."Ucap Richard sambil menunjuk para prajurit yang memegang Pedang dengan tangan bergetar.
Zero menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis"aku tidak sedang memikirkan apa kakek, Aku hanya sedang bingung."Ucap Zero lesu.
Kakek Richard menaikkan sedikit alisnya"Bingung? Bingung kenapa? Apa ada orang yang berani mengganggu Cucu kesayangaku?!..."Ucap Richard geram sambil menarik Pedangnya dan mengeluarkan Niat membunuh yang Besar.
Para prajurit dibuat hampir menangis karena hal ini, Sudah Beberapa bulan sejak kakeknya mendengar kabar ia sembuh dan dengan cepat melesat kemari.
Selain ayahnya kakek Richard jugalah yang membantunya berlatih Seni Pedang dan melatih beberapa hal lain.
Dari gerak-gerik Kakeknya Zero tahu kakeknya merupakan seorang yang Amat menyayangi anggota keluarganya.
ini terbukti dari banyaknya obat-obatan mahal yang ia bawa ketika pertama kali datang kemari, Ia juga tidak memperbolehkan Zero memakan makanan yang bergizi rendah.
Zero Menggelengkan kepalanya dan Kakeknya menarik kembali niat membunuhnya. para prajurit amat berterimakasih pada Zero karena telah menenangkan Richard.
"Bukan begitu kek, Aku hanya Bingung kenapa ayah menolak membangkitkan Sirkuit Mana ku? Padahal aku membutuhkan hal itu untuk bisa lebih kuat."Ucap Zero dengan nada lesu.
selama beberapa bulan terakhir ia selalu meminta ayahnya untuk membuka sirkuit Mana dalam dirinya namun ayahnya selalu bilang"Nanti aku akan membuka Sirkuit Mana mu saat kau sudah cuku Kuat."Ujarnya sambil berjalan.
Ia juga sudah membujuk beberapa kali namun hasilnya nihil, Kakeknya hanya mengusap dagunya lalu tersenyum tipis.
"Em... Ares apa kau tahu apa yang terjadi jika Sirkuit Mana dibuka dengan paksa?."Tanya Kakeknya.
*mulai sekarang Panggilan Zero diganti Ares ya!.
Zero menggelengkan kepalanya, Kakeknya menghela nafas lalu menjelaskan tentang sirkuit Mana.
Berdasarkan apa yang diceritakan kakeknya, sirkuit Mana akan bangkit dengan sendirinya jika umurnya telah genap 16 tahun.
walaupun ada bisa membuka sirkuit Mana secara paksa namun efek yang diberikan tidak setimpal dengan apa yang didapatkan.
Jika Sirkuit Mana gagal dibuka secara paksa maka orang itu akan mengalami luka dalam yang parah bahkan bisa menyebabkan kematian.
"Maka dari itu ayahmu menolak karena umur sebentar lagi akan genap 16 tahun, akan sia-sia membuka sirkuit Mana Secara paksa sekarang."Tutur Richard.
Ares juga tahu tentang hal ini namun ia lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.
"Namun tetap saja."Ares memasang Wajah melas.
Kakek Richard menjadi kasihan dengan cucunya satu-satunya itu, ia lalu menghela nafas pelan.
"Walaupun ayahmu menolak namun kakekmu tidak bukan?"Ucap kakeknya sambil Menahan senyumnya.
seketika wajah Ares menjadi cerah"Jadi kakek mau membukakan Sirkuit Mana ku?."Ucap Ares Ragu.
kakeknya mengangguk sepenuh hati"Tentu! apa sih yang tidak untuk cucuku."Ucap kakeknya sambil tertawa kecil.
kakeknya lalu menarik kerah baju bagian belakang lalu perlahan terbang keatas"Kita mau kemana Kek?"Tanya Ares. Kakeknya hanya Menggaruk-garuk pipinya"Kita akan ketempat yang tidak diketahui ayahmu."Jawab Kakeknya sambil terbang keatas .
disaat yang bersamaan Butler William datang dengan membawa nampan berisi sandwich. ketika ia melihatnya terbang bersama kakeknya nampan berisi sandwich itu terjatuh ketanah.
"Tuan Muda! Anda mau kemana?!"Seru William panik.
Raut wajah William seperti mengatakan ia akan mati besok. Ares hanya tertawa kecil"Kata kakek kami akan pergi ketempat yang tidak diketahui ayah!."Teriak Ares sebelum menghilang dari pandangannya.
"TUAN MUDA!!!..."Teriak William.
Ia jatuh terduduk sambil tersenyum pasrah dan menjambak rambutnya"Bagaimana ini? bagaimana ini? bagaimana ini? Aku akan mati jika tuan mengetahui Tuan Muda dibawa oleh Tuan Besar."Ucapnya panik.
"Meski begitu aku harus tetap memberitahu tentang hal ini."ucap William lalu melesat pergi ke ruang kerja tempat Gerald berada.
Meja Gerald dipenuhi oleh dokumen-dokumen yang berisi tentang laporan para prajuritnya, ia memakai kacamata lalu Memijit keningnya.
"hanya perasaanku saja atau memang beberapa bulan terakhir laporan penyerangan monster menjadi lebih banyak? Hmmm... aku harus menyelidiki ini sendiri nanti."Ucap Gerald sambil meminum teh yang ada didekatnya.
namun saat ia sedang sibuk, ia merasakan seseorang datang Kearahnya dengan kecepatan tinggi, Gerald melihat pintu dan benar saja.
Pintu itu ditendang dengan keras dan memperlihatkan William dengan wajah Pucat.
"Ada apa Wiliam? apa kau ketahuan mengintip Wanita mandi lagi?."Ucap Gerald sambil terkekeh kecil.
William hanya bisa tersenyum Kecut lalu menceritakan apa yang terjadi, Ketika penjelasan William selesai Gerald Mencengkram Pulpennya hingga Hancur.
ia mengeluarkan Aura Membunuh yang memenuhi seisi istana, para pelayan menjadi bertanya-tanya apa Tuan mereka sedang senang atau marah?.
"kakek tua itu, Kemana dia membawa pergi putraku?!."Ucap Gerald sambil mengepalkan kedua tangannya.
William hanya bisa menahan nafas sambil mengelap keringatnya"Menurut yang saya dengar mereka berdua pergi ketempat yang tidak diketahui anda."Tutur William.
Gerald malah semakin marah mendengar hal itu"Ketempat yang tidak diketahui oleh ku? Baiklah Kakek tua kau yang memulai sendiri!."Ucap Gerald lalu mengambil Jubahnya dan Pedangnya.
"Kau urus dokumen-dokumen ini sementara aku akan pergi mencari mereka, Oh! dan pastikan ini semua akan selesai ketika aku kembali, Paham?."Ucap Gerald penuh intimidasi.
William hanya bisa mengangguk sekuat tenaga, Gerald Mengangguk Puas lalu keluar lewat jendela.
William baru bisa bernafas lega setelah Gerald keluar dari sana, ia lalu melihat tumpukan Dokumen-dokumen yang menggunung dan memenuhi ruangan.
"Jadi bagaimana caraku menyelesaikan Hal ini?."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
system
wiliam wiliam kenapa gk ajak ajak kalo mau ngintip wanita mandi hadeuh🤦🤦🤦😂
2024-11-29
0
(。☬ Nana luce ☬。)
nah gitu dong, udh seharusnya namanya Ares
2025-02-23
0
(。☬ Nana luce ☬。)
lah kocak
2025-02-23
0