"Padahal gue udah ngarep Mama Mei bakal ilfeel terus bilang, ini uang 5 Milyar tapi jauhi anak saya. Auto gue jawab asiap, Ma! Ntar uangnya kita bagi dua kan lumayan, Bang." lanjutnya sambil tertawa.
Adrian balas melempar bantal yang tadi mengenai kepalanya ke arah Retha. "5 milyar pala lo. Dasar bocah!"
"Aduh sakit tau, Bang!"
"Abis lo ngomong 5 Milyar enteng bener dah."
"Ya secara di film film kan gitu Bang. Anehnya kenapa cewek di film tuh be go yah? Kalo gue jadi mereka sih mending ambil aja duitnya terus jauhin anaknya, kan lumayan duitnya bisa buat modal, toh cowok kan masih banyak yang lain." Cerocos Retha.
"Mana gue tau. Lo tanya aja sama sutradaranya!"
"Iya, kapan-kapan deh kalo ketemu sutradara gue tanyain sekalian gue kasih saran alurnya jangan gitu-gitu aja, bosen udah ketebak."
"Iya iya terserah lo deh bebas."
"Ian, kamu sama pacar kok ngomongnya kayak gitu!" Ucap seorang pria yang baru saja masuk ke ruang keluarga, dia masih mengenakan topi dan setelan olahraga berwarna putih.
"Siapa, Bang?" Tanya Retha dengan lirikan matanya.
"Calon mertua kamu. Rangga, panggil Papa aja." Ucap Rangga seraya duduk di samping putranya.
"Kamu ini nggak pernah cerita sama Papa kalo udah punya calon sendiri. Papa sampe nyari calon yang pas buat jadi istri kamu kesana kemari, sampe bingung mau pilih yang mana soalnya banyak yang daftar." Rangga menepuk keras bahu putranya.
"Wih laris juga yah Bang Ian, Om. Ngomong-ngomong biaya pendaftarannya berapa Om?" Ledek Retha. "Jangan mahal-mahal Om, ntar aku nggak mampu daftar." Lanjutnya.
"Haduh ada-ada saja kamu ini." Rangga tertawa, "tenyata bener kata Mama kalo pacar kamu ini lucu." Lanjutnya.
"Lucu?" Retha mengerutkan keningnya sambil manyun. Dia sudah berusaha mati-matian sampe malu pada diri sendiri karena bertingkah kurang ngajar malah dianggap lucu? Astaga keluarga macam apa ini!
"Iya, Papa sampe langsung pulang pas Mama ngabarin ada calon mantu. Katanya anaknya nggak jaim, Papa suka yang kayak gini nih asik. Padahal tadi Papa lagi main golf sama direktur Bank loh, tapi Papa tinggalin aja demi ketemu calon mantu."
"Oh..." Retha hanya mengangguk.
"Tadi Papa sempet mikir pengen ngenalin Ian ke anak dia, soalnya dia punya anak cewek, untung belum."
"Kenapa nggak dikenalin aja sih, Om? Kan lumayan tuh kali aja cocok, ntar kan kalo Om butuh modal gampang tinggal pinjem nggak pake ribet pasti dah."
"Kan Ian udah punya kamu. Panggil Papa dong jangan Om!"
"Iya, Papa." Ucap Retha lirih. Menyebut kata Papa membuatnya mengingat Arka di rumah, bisa dipastikan ia akan dimarahi habis-habisan jika ketahuan.
"Calon mantu kenapa bengong?" Tanya Rangga.
"Kelaparan dia, Pa." Adrian yang menjawab.
"Sabar yah bentar lagi juga Mama selesai masaknya." Ucap Rangga.
"Iya nih aku tuh laper banget, Pa. Tadi nggak dikasih makan sama Bang Ian, cuma es krim doang sama cemilan. Mana kenyang aku kalo belum makan nasi." Adu Retha.
"Tadi kan gue udah nanya lo mau apa? Lo bilang es krim doang eh sekarang malah menya menye gini." Bukan Rangga yang ilfeel malah Adrian jadi kesal sendiri.
"Bang!" Retha memberi kode dengan kedipan matanya.
"Dia tuh rewel, Pa. Suka banyak maunya, bikin pusing." Adrian berbohong.
"Wajar lah kalo dia rewel, kalian kan jarang ketemu jadi sekalinya ketemu pengen diperhatiin terus. Iya kan, Retha?" Tanyanya.
"Maafin Ian orangnya kurang peka." Imbuhnya.
"Haha iya..." Jawab Retha asal. Boro-boro pengen diperhatiin terus, maunya saat ini juga Retha mengakhiri drama pacaran nggak jelas ini.
.
.
.
ets ets tahan dulu, komen sama like sebelum lanjut!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
sherly
ini kayaknya lebih seru dr si kara
2023-07-10
0
Qaisaa Nazarudin
Nah ini nih udah kenalan,Udah didepan mata juga 😜😜😜🤣🤣
2023-05-24
0
Qaisaa Nazarudin
Gimana ceritanya nih,Bukan nya Ilfil kok malah pasa suka, Wah terjebak permainan sendiri nih keknya Adrian..😂😂😂
2023-05-24
0