Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Waktu sudah menjelang hampir sore, namun keadaan di rumah besar ini sama sekali tak ada hal yang bisa menghibur, semuanya terasa seolah tak mengenal satu sama lain, sepi, seperti sebuah rumah yang tak berpenghuni. Mungkin hanya dua orang asisten rumah tangga di sinilah yang tidak merasakan sepi, karena mereka sibuk bekerjasama dalam bertugas serta saling bercanda ria dalam keseharian mereka.
Maura hanya bisa berdiam diri di kamarnya. Tak jarang pandangannya itu terarah pada halaman di luar rumah yang nampak terlihat begitu indah.
Semenjak percakapan dengan pertengkaran antara dirinya dan juga suaminya tadi, semenjak itu pula suaminya Rendra tak lagi masuk ke kamar ini. Hubungannya dengan suaminya Rendra memang begitu miris, bagaimana tidak seperti itu, disaat dirinya masih berstatus sebagai tunangannya, suaminya Rendra begitu sangat perhatian dan peduli padanya, tapi, semenjak menikah semuanya malah berubah. Suaminya Rendra berubah seperti orang yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya, dan itu semua terjadi hanya karena anggapannya yang sama sekali tidak jelas. Namun ya sudahlah, mungkin memang seperti ini nasib hubungannya dengan suaminya.
Hanya kesedihan yang Maura rasakan saat ini. Keberadaannya di rumah ini memang sudah tak dianggap oleh suaminya, dan dirinya masih berdiam diri di rumah ini.
" Maura, untuk apa kamu masih tinggal di rumah ini?, suamimu Rendra sudah tak menganggapmu lagi, tapi kamu masih tinggal di rumah ini, sebenarnya kamu ini masih punya harga diri atau tidak? ". Gumam Maura dengan senyuman hambarnya.
Ceklek....
Terdengar adanya suara pintu kamarnya yang sedang dibuka. Reflek Maura pun cukup tersentak, ternyata yang masuk adalah suaminya Rendra. Apalagi kali ini yang diinginkan oleh suaminya, apakah suaminya masih ingin marah padanya lagi. Dan pada akhirnya, Maura pun menjadi terjaga dari posisinya hingga dirinya benar - benar berdiri.
Dengan wajah datarnya namun pandangan matanya yang terlihat begitu tajam, Rendra menatap Maura.
" Sebentar lagi papa dan mama ku akan datang kemari, ingat, bersikaplah dengan wajar, jangan pernah mengatakan apapun pada mereka tentang masalah kita, apa kamu paham? ". Tegas Andra.
" Iya mas, aku paham ". Sahut Maura.
" Bagus, sekarang kamu bersiaplah, karena papa dan mama sudah ada dalam perjalanan menuju kemari ". Ujar Rendra lagi.
Maura hanya merespon perintah suaminya itu dengan anggukan, iya, karena memang hanya hal itu yang bisa dirinya lakukan.
*****
Maura dengan suaminya Rendra sudah mulai keluar dari kamar mereka. Mereka berjalan bersama untuk menuju ke ruang tamu yang berada di lantai dasar.
Hingga pada saat keduanya sudah akan menuruni anak tangga, tiba - tiba saja tangan besar itu meraih tangan Maura. Rendra meraih tangan istrinya Maura untuk ia genggam, tentu apa yang dilakukan oleh Rendra ini membuat Maura cukup tersentak. Ternyata suaminya Rendra masih mau menggenggam tangannya.
Maura merasa sangat senang dengan perlakuan suaminya ini. Semenjak dirinya dan sang suami Rendra resmi menikah, tak pernah sekalipun Rendra menggenggam tangannya seperti ini lagi. Namun sesaat setelah itu, kesenangan yang dirasakannya ini menjadi terhempas. Maura sadar jika apa yang dilakukan oleh suaminya ini adalah sebuah drama saja. Sebuah drama yang ingin memperlihatkan jika kehidupan rumah tangganya sedang dalam keadaan baik - baik saja.
Lebih baik dirinya fokus untuk mengikuti drama rumah tangga ini sesuai seperti yang diinginkan oleh suaminya Rendra.
Dengan masih menggenggam tangan sang istri, Rendra dengan istrinya Maura menuruni anak tangga itu secara perlahan. Baru saja keduanya berada di pertengahan susunan anak tangga, pandangan mereka sudah terarah pada sepasang orang tua yang sudah cukup berumur yang saat ini sudah berada di ruang tamu. Ternyata kedua orang tua Rendra sudah datang.
Hingga pada akhirnya, Rendra dengan Maura pun sudah benar - benar melewati anak tangga dan menuju pada orang tua mereka.
" Ma, pa, kenapa sudah datang saja?, katanya masih berada di jalan, tapi sekarang sudah sampai di sini? ". Ujar Rendra.
" Sayang, Maura ". Bukannya menjawab pertanyaan putranya Rendra, Rina malah malah menyapa menantu kesayangannya Maura.
" Ma, pa ". Sapa Maura dengan tersenyum lalu dengan sikap sopannya Maura meraih punggung tangan kanan kedua orang tua mertuanya untuk dirinya cium secara bergantian.
" Duduklah di sini dengan mama sayang ". Seru Rina dengan sedikit menarik tubuh Maura agar bisa duduk di sampingnya.
" Pa, papa jadi berangkat hari ini kembali keluar negeri? ". Seru Rendra.
" Iya nak, papa dan mama mu akan kembali berangkat hari ini ". Sahut Adam.
Iya, tuan Adam, Adam Putra Ambrose, seorang pengusaha kaya raya yang memiliki usaha dan banyak perusahaan di luar negeri. Dan semua usaha yang dilakoninya semakin berkembang besar semenjak putra kandungnya Narendra Putra Ambrose ikut andil dalam bertanggungjawab dalam pengembangan perusahaan besar miliknya. Memang putranya ini selalu bisa diandalkan.
" Mama dan papa akan berangkat sekarang Ren, jadi mama minta sama kamu, selama kita berada di luar negeri sana, kamu harus bisa menjadi menantu kesayangan kami ini, ingat itu ". Timpal Rina agar putranya Rendra menjadi paham.
Rendra tak menyahuti pesan mamanya, entah kemana arah pandangannya, seolah apa yang diucapkan oleh mamanya ini adalah hal yang tidak penting.
Apa yang nampak pada suaminya tentu saja tak lepas dari perhatian Maura. Suaminya Rendra benar - benar sudah tak peduli lagi padanya. Merasa sesak, itulah yang Maura rasakan. Hati Maura menjadi sesak karena hal ini, sebegitu tidak berharganya kah dirinya, dirinya sudah tak berharga lagi sehingga suaminya Rendra menjadi acuh seperti ini.
" Ren, kamu kenapa tidak menjawab ucapan mama, kamu dengar tidak dengan pesan mamamu ini Ren? ". Seru Rina lagi.
" Iya ma Rendra dengar ". Sahut Rendra.
" Ya sudah nak, papa dan mamamu tidak bisa berlama - lama di sini, kami harus segera menuju ke bandara ". Timpal Adam.
" Ingat, papa dan mama cukup lama berada di sana, mungkin sekitar satu tahunan lagi papa dan mamamu baru akan kembali ke tanah air ". Jelas Adam lagi.
" Iya pa ". Sahut Rendra.
" Sayang, Maura ". Seru Rina.
Rina adalah sosok mama mertua yang begitu sangat menyayangi menantunya, apalagi setelah mengetahui bagaimana baiknya sikap menantunya ini, membuat Rina menjadi jatuh hati pada Maura dan sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Tentu sebagai mama mertuanya Rina tidak ingin jika selama dirinya tidak bisa melihat menantunya secara langsung membuatnya sedikit merasa khawatir.
" Selama mama tidak ada di sini, kamu harus bisa jaga diri baik - baik ya sayang. Kalau saja putra mama ini sampai menyakiti kamu, laporkan saja pada mama, biar nanti mama yang akan menghukum dia ". Jelas Rina dengan sedikit menatap sinis pada Rendra.
" Iya ma ". Sahut Maura dengan tersenyum.
Semakin kesini membuat hati Maura menjadi tak menentu saja. Mama mertuanya memberikan pesan yang seolah membenarkan dengan apa yang dialaminya saat ini. Iya benar, sayangnya dirinya tidak akan mungkin memberikan akan masalah rumah tangganya pada mama mertuanya.
*****
Hari - hari masih terus berlalu dan akan terus berlalu. Sudah sekitar satu minggu lamanya Maura tinggal di rumah besar suaminya. Dirinya hidup bersama dan makan di rumah ini, namun sayangnya hubungannya dengan suaminya Rendra bagaikan dua orang asing yang tak saling mengenal. Maura memiliki seorang suami, namun tak seperti memiliki seorang suami.
Bahkan seperti waktu sekarang ini, di malam hari yang terasa dingin ini, tak ada suaminya Rendra di sampingnya. Sebenarnya dirinya ini apa, seorang istri atau hanya orang asing yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal di rumah besar seperti ini.
Dalam keadaan terlentang, Maura memperhatikan langit - langit kamarnya. Sudah cukup pikirannya berkelana ke sana ke mari akibat dari masalah rumah tangganya, lebih baik dirinya beristirahat saja untuk malam yang memenangkan.
Tok... tok... tok...
Ceklek...
Sontak Maura pun menjadi membuka kedua kelopak matanya karena suara itu. Sepertinya ada seseorang yang sudah masuk ke kamarnya, tapi siapa, bukankah kamarnya ini sudah dirinya kunci.
" Jangan tidur dulu, ada hal penting yang harus kita selesaikan ". Ujar Rendra tiba - tiba.
Ternyata yang masuk ke kamarnya ini adalah suaminya Rendra, pantas saja kamarnya ini bisa dibuka meski sudah dikunci, karena Rendra sendiri memang memiliki kunci cadangan dari kamar ini.
Maura mulai terjaga dari posisinya. Akhirnya, setelah sekian hari, suaminya Rendra bisa kembali masuk ke kamar ini.
Dengan penuh wibawa, Rendra sudah duduk di sebuah sofa yang ada di kamar ini. Dan tak lama dari itu, Rendra sedang meletakkan sebuah map yang entah apa isinya.
Sebenarnya hati Rendra sendiri saat ini sedang merasa gundah gulana, apalagi setelah meletakkan sebuah map yang dibawanya.
Ada keraguan dalam hatinya saat ini, namun ini semua harus dirinya lakukan. Rendra ingin agar istrinya Maura mengakui semua kebohongannya. Rendra sudah berjanji pada dirinya sendiri jika istrinya Maura mengakui semua kesalahan masa lalunya, dirinya tidak akan mempermasalahkan nya lagi dan memulai hubungan pernikahannya ini dengan sepenuh hati.
" Ada apa mas? ". Tanya Maura dengan rautnya yang terlihat datar.
Rendra cukup tertegun dengan yang ditampakkan oleh istrinya Maura. Tidak seperti biasanya. Maura terlihat sedikit dingin. Ada apa ini, apakah mungkin Maura sudah tidak mau lagi berbasa-basi dengannya atau mungkin Maura memang ingin menunjukkan sikap aslinya.
Maura langsung duduk saja di sebuah sofa single yang ada di sana. Maura duduk cukup berjauhan dari Rendra.
" Ada apa mas?, mas Rendra menyuruhku untuk jangan tidur dulu, memangnya ada hal penting apa yang ingin mas Rendra sampaikan? ". Seru Maura lagi.
Deg...
" Apa?, ada apa ini?, kenapa Maura menjadi dingin seperti ini?, seharusnya aku yang bersikap seperti ini ". Batin Rendra.
" Aku akan memberimu satu kesempatan lagi untuk mengakui semuanya Maura, jika kamu mengakui semua kebohongamu, aku janji setelah ini aku akan menerima semuanya, aku tidak akan mempermasalahkan tentang masa lalumu lagi ". Sahut Rendra pada akhirnya.
Ternyata masih keinginan yang sama. Suaminya Rendra masih menginginkan jawaban yang sama. Maura sudah lelah dengan semua ini. Entah harus bagaimana dirinya memberikan jawaban pada Rendra.
Kebohongan apa yang harus dirinya akui. Mengapa suaminya tidak bisa melihat kejujurannya.
" Katakan semuanya Maura, aku janji, setelah kamu mengakui semuanya, aku akan memaafkanmu dan kita akan memulai semuanya dari awal lagi ". Tegas Rendra lagi.
" Aku tidak perlu mengakui apapun mas, apalagi dengan kebohongan yang sudah mas Rendra tuduhkan itu. Aku tidak pernah tidur dengan pria manapun ". Sahut Maura.
" Jadi kamu masih tidak ingin mengaku?, baiklah, kalau begitu sekarang kamu buka map itu, di sana sudah lengkap dengan bolpoin nya, map itu berisi surat cerai ".
Deg...
" Silakan kamu pilih sendiri. Jika kamu ingin pernikahan kita selamat, maka akuilah semua kesalahanmu namun jika tidak, silakan tanda tangani surat perceraian ini ". Tutur Rendra dengan sejelas - jelasnya.
Seketika itu tubuh Maura seolah menjadi lemas. Apa ini, suaminya Rendra membuat ketentuan seperti ini. Apakah Rendra menyadari dengan apa yang diperbuatnya.
Maura sudah tak sanggup lagi, hatinya sudah terlalu sakit akibat dari sikap Rendra. Sudah cukup dirinya bersabar dengan segala tuduhan yang sama sekali tidak benar, namun suaminya Rendra masih tetap pada egonya.
Hubungan pernikahannya dengan suaminya sudah tak sehat lagi, bahkan semenjak awal pernikahannya. Lebih baik pernikahan ini memang harus diakhiri, karena jika dilanjutkan sekalipun tidak akan ada kebahagiaan di dalamnya.
Maura sebenarnya ingin menjatuhkan air matanya, tapi tidak, dirinya tidak boleh menangis lagi, sudah cukup selama ini dirinya menangis, Maura tidak lagi ingin membuang - buang air matanya.
Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, Maura pun segera membuka map itu. Dan ternyata benar, isi di dalamnya memang benar surat cerai. Diraihnya bolpoin itu dan Maura pun akhirnya menandatangani surat perceraiannya.
Deg...
Bak mendapat hantaman yang begitu kuat di dadanya. Seketika itu dada Rendra terasa berdebar begitu cepat. Apa yang disaksikannya bagaikan sebuah bom waktu yang terlanjur meledak.
" Aku sudah menandatangani nya mas, terima kasih karena mas Rendra sudah menjadikanku seorang istri meski itu hanya sesaat ". Pungkas Maura.
Dan seusai mengucapkan kalimatnya itu, Maura pun langsung berdiri dari posisinya sebelum akhirnya ia menuju pada lemarinya. Sudah saatnya lah dirinya pergi dari rumah ini. Tidak, mengapa tidak dari awal dirinya pergi dari rumah ini, pergi dari sebuah rumah yang tidak pernah memberikannya kebahagiaan.
Bersambung..........
🙏🙏🙏🙏🙏
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
Enung Samsiah
good tandatangani aja dan pergi yg jauuuh,,,, tinggalkn lelaki bodoh itu
2025-03-19
0
Juan Sastra
casanova bego,, bahkan sangat sangat bego percaya sama sebuah poto padahal dia sendiri sama sekali ggak pernah membuktikan kebenarannya..dan sekarang selamat menikmati penyesalanmu..pergilah sejauh mungkin maura bila perlu ganti wajahmi jgn pernah lagi bertemu muka sama rendra
2023-11-24
0
Popy Setyaningsih
ngapain nikah kalo ga ada kepercayaan rendra? dikira cerai sakitnya sama kaya kita putus sama pacar huh?!
2023-02-24
0