Jaka terkejut dan melihat asap yang berasal dari wajan yang berada di atas kompor, ternyata masakan mereka menjadi gosong, karena ditinggal terlalu lama saat keduanya berciuman.
Jaka segera mematikan kompor nya, keduanya saling menatap dan memandang masakan mereka yang berwarna hitam itu, dan tiba-tiba saja terdengar suara tawa dari keduanya, Jaka dan Eve saling tertawa melihat masakan mereka menjadi berwarna hitam.
Jaka melihat wajah bahagia pada Eve, Jaka belum pernah sama sekali melihat wajah yang seceria ini, saat pertama kali Jaka bertemu dengannya, Eve terlihat sangat kacau, Jaka menatap terus Eve yang masih terlihat ceria dalam tawanya, dan tiba-tiba saja Eve berhenti karena dirinya sadar jika Jaka sedang memperhatikannya.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu?" seru Eve memandang Jaka.
"Mbak Eve cantik sekali! Maafin Jaka, jika udah berani mencium Mbak Eve!" ucap laki-laki berperawakan tegap itu sembari menundukkan wajahnya.
Eve terdiam dan tidak bicara apapun kepada Jaka, kemudian ia beranjak pergi untuk duduk di kursi meja makan, sementara Jaka masih berdiri di tempatnya.
Jaka memperhatikan Eve yang sedang duduk dan tampak memalingkan wajahnya karena malu, Jaka tersenyum dan segera membersihkan wajan kotor itu, setelahnya Jaka melanjutkan masakan yang belum ia selesaikan, Eve sepertinya tidak mau mengganggu lagi aktivitas Jaka, Ia takut jika kehadirannya akan mengganggu Jaka memasak.
Setelah beberapa menit, akhirnya Jaka telah menyelesaikan masakannya, kemudian ia meletakkan omelette telur ke dalam sebuah piring dan dengan segera Ia menyajikan masakannya di depan Eve.
"Taraaaaa...ini dia omelette ala-ala mas Jaka Suyanto, omelette paling enak sepanjang masa, ayo dicoba Mbak Eve, Jaka yakin mbak Eve pasti menyukainya" seru Jaka sembari mengambilkan omelette buatannya untuk Eve.
"Hmm.. kayaknya enak! Entar ya aku coba, awas aja kalau nggak enak" ucap Eve menunjuk Jaka dengan garpu.
"Loh... jangan salah, Jaka yakin pasti Mbak Eve menyukai omelette buatan saya, syukur-syukur Mbak Eve juga menyukai orangnya" seloroh Jaka sambil tersenyum malu-malu.
Eve tersenyum kecut menghadapi tingkah Jaka yang konyol itu, kemudian ia mulai mencicipi omelette buatan Jaka itu.
Satu sendok mulai masuk ke dalam mulut Eve, Eve terdiam tanpa kata, sementara Jaka menunggu reaksi Eve setelah mencicipi masakan buatannya. Setelah beberapa detik Eve mencicipi masakan Jaka, dia memandang wajah Jaka yang terlihat penasaran.
"Hmm...enak loh! Beneran enak banget, aku aja belum tentu bisa bikin seenak ini" ucapnya sembari menyendok lagi omelette buatan Jaka itu.
"Syukurlah kalau Mbak Eve suka, kalau begitu saya makan di sana saja" pamit Jaka sembari membawa sepiring nasi untuknya.
"Eh... tunggu! Kenapa pergi, disini saja temani aku makan!" pinta Eve sambil menahan lengan Jaka.
Jaka melihat tangan Eve yang tidak membolehkannya pergi, nampaknya Eve mulai mengerti, segera Eve melepaskan tangannya dari lengan Jaka.
"Maaf, daripada kamu makan sendiri di sana, lebih baik kamu makan di sini saja, terima kasih ya udah masak buat aku!" ucap Eve tersenyum. Dan Jaka akhirnya duduk di depan Eve, dan menemani Eve untuk makan bersama.
"Kalau itu maunya Mbak Eve! Yo Jaka ndak bisa berbuat apa-apa" ucapnya malu-malu.
"Sekarang makanlah! Sebentar lagi bajumu kering, setelah itu kamu bisa memakainya kembali" seru Eve
"Iyo Mbak!"
Dan akhirnya mereka berdua menikmati makan malam bersama, sesekali Eve memperhatikan Jaka yang sedang makan, ada perasaan senang melihat Jaka yang sedang menikmati makanannya, tiba-tiba saja Jaka melihat Eve yang sedang memperhatikannya.
"Ono opo toh Mbak? Kok lihatin Jaka kayak gitu? Jaka elek yo? Walah Mbak, Jaka juga ndak pingin dilahirkan jelek begini, ya mau gimana lagi, coba aja muka saya mirip sama pak Willy, pasti bakal banyak yang naksir, termasuk mbak Eve." ucap Jaka cengar-cengir.
"Hah Apa katamu? Aku naksir pak Willy?" sontak Eve tertawa mendengar penuturan Jaka, sehingga membuat Jaka terlihat mengerutkan keningnya.
"Loh kok mbak Eve malah ketawa, bukankah pak Willy itu kaya toh Mbak, tampan, apalagi dia pemilik perusahaan, opo Mbak Eve ndak kepingin punya suami seperti pak Willy?" ucap Jaka mencoba memancing reaksi Eve.
"Apa menikah itu diukur dari seberapa kaya pasangan kita? Tapi kalau kita tidak cinta buat apa? Bagiku mencari pasangan bukan sekedar dia itu tampan atau kaya, tapi dia harus punya hati dan perasaan, sehingga dia pasti menyayangi kita apa adanya, bukan ada apanya" ucapan Eve yang polos membuat Willy yakin, jika wanita seperti Eve wajib dipertahankan.
"Aku mau nanya sesuai pada Mbak Eve, boleh?" Jaka menatap dalam-dalam wajah Eve.
"Katakan!"
"Ini hanya berandai-andai loh mbak, Jaka cuma mau tahu jawaban Mbak Eve saja" sambung Jaka
"Katakan saja!" Eve menjawab sambil melihat cucian Jaka dalam mesin cuci.
"Jika Mbak Eve diharuskan memilih, Mbak Eve pilih yang mana? Menikahi Jaka yang sederhana ini? Ataukah mbak Eve memilih pak Willy, jika seandainya pak Willy meminang Mbak Eve?" ucapan Jaka sedikit membuat Eve mengerutkan keningnya.
"Ayolah Jaka, pertanyaan macam apa itu?" balas Eve sambil mengeluarkan pakaian Jaka dari dalam mesin cuci.
"Namanya juga berandai-andai Mbak" Jawab Jaka polos.
"Oke, aku akan jawab pertanyaanmu" seru Eve sambil memberikan pakaian Jaka yang sudah kering.
"Kamu! Aku lebih memilih kamu untuk menjadi pendamping hidupku" ucapan Eve membuat Jaka terkejut.
"Kenapa Mbak Eve lebih memilih saya? Saya ini orang miskin loh mbak, opo Mbak Eve ndak takut hidup menderita bersama saya? Jaka ndak bisa kasih apa-apa buat mbak" ucap Jaka serius.
"Siapa bilang kamu ndak bisa kasih apa-apa, buktinya kamu sudah kasih aku anak" jawab Eve spontan sambil membereskan piring yang ada di atas meja.
"Jadi... kalau begitu Mbak Eve mau dong menikah dengan Jaka?"
Eve berhenti dan terdiam, ditatapnya wajah pria yang sudah mulai mengganggu pikirannya itu, Eve memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi.
"Ada tamu, biar aku buka pintunya, cepat pakai bajumu!" seru Eve kepada Jaka yang tengah berdiri menunggu jawaban Eve. Jaka menghela nafas panjangnya.
"Menikahlah denganku Eve! Aku akan selalu membahagiakanmu" gumam Jaka alias Willy penuh harap, kemudian ia memakai bajunya kembali.
Setelah Eve tiba di ruangan depan, segera dirinya membuka pintu, betapa terkejutnya saat Eve melihat Rafael yang berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kamu! Ngapain kamu datang kesini?" bentak Eve dengan tatapan kesal sembari menutup kembali pintu nya, namun Rafael agaknya memaksa untuk masuk ke dalam apartemen Eve.
"Eve! Aku mohon jangan ditutup, izinkan aku berbicara sebentar saja kepadamu, Pliss!" ucap Rafael merengek
"Untuk apa lagi, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, lebih baik kamu segera pergi dari sini, atau mau ku panggilkan satpam!" ancam Eve kepada Rafael.
"Tapi Eve, ini sangat penting" paksa Rafael, namun Eve tetap menolak Rafael, sehingga keduanya terlibat keributan, Jaka yang mendengar suara ribut-ribut dari luar segera menghampiri Eve yang mencoba menutup pintu itu paksa, karena kekuatan Eve yang kalah besar dari Rafael, akhirnya Eve tidak bisa menahan pintu dan itu membuatnya hendak terjatuh, namun Jaka dengan cepat menangkap tubuh Eve dari belakang.
Sontak Rafael sangat terkejut melihat kehadiran office boy yang pernah memukulinya itu.
"Hei...apa yang kamu lakukan di sini?" hardik Rafael kepada Jaka dengan menunjuk Jaka dengan telunjuknya.
"Aku akan panggilkan satpam biar perusuh ini di usir"
Tiba-tiba saja Eve berseru kepada Rafael.
"Berhenti!"
Rafael menghentikan langkahnya dan berbalik arah kepada Eve.
"Apa yang akan kamu lakukan pada calon suamiku?"
"Apa? Dia calon suamimu?"
Rafael terkejut bukan main mendengar pengakuan Eve tentang Jaka yang menjadi calon suaminya.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
Xiena Arabella
jawab eve sama rafael iya dia calon suamiku ayah dri bayi yang aku kandung
2023-12-27
0
Nur Lizza
mantap
2023-11-04
0
Aidah Djafar
mantaap Eve teges mengakui Jaka calon suaminya ,👌
pasti di ketawain nih sama c mantan Krn Jaka cuma ofice boy 🤦😁😂
2023-10-10
0