Setelah beberapa saat, ketiganya telah sampai di Cafe yang biasa mereka datangi cafe dimana malam itu Eve menenggak minuman yang membuatnya hilang kendali. Eve mulai memesan minuman untuk kedua temannya.
Dan setelah itu seorang waiter datang menghampiri ketiganya dengan membawa minuman ringan, setelahnya Veren dan Alinda siap mendengarkan apa yang Eve sampaikan.
Dari kejauhan Jaka terlihat duduk di kursi paling pojok, Ia mengenakan jaket dan topi agar ketiga wanita itu tidak mengenalinya, dengan leluasa Jaka mengawasi Eve dari arah belakang.
"Sekarang katakan Eve! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" sepertinya Veren sudah tidak sabar untuk segera mendengarkan pengakuan Eve. Begitu pun dengan Alinda.
Eve menatap kedua temannya dan berucap.
"Baiklah, aku memang hamil, dan sekarang usianya sudah 2 Minggu" ucapan Eve membuat dua wanita itu sangat terkejut dan membulatkan matanya.
"Eve! Kamu tidak sedang bercanda kan?" seru Alinda.
"Tidak, aku serius" jawabnya
"Terus, apa Rafael sudah mengetahuinya?" tanya Veren menyelidik.
"Rafael? Apa hubungannya dengan Rafael? Ini bukan anaknya!" jawab Eve
Veren dan Alinda semakin dibuat penasaran, kalau bukan Rafael, lantas siapa ayah bayi yang sedang dikandung oleh Eve? Sementara Veren dan Alinda hanya tahu, Eve berhubungan dengan satu pria, dan itu adalah Rafael Marchetti, pengusaha muda dan kaya raya. Yang membuat sang adik selalu iri dengan Eve.
"Maksudmu Eve? Itu bukan anaknya Rafael?" tanya Veren semakin penasaran.
"Rafael tidak pernah menyentuhku" jawabnya sambil mengaduk minumannya. Alinda dan Veren saling menatap.
"Kalau bukan Rafael? Terus siapa ayah bayi itu?" Alinda dibuat bingung dengan pernyataan Eve. Eve menghela nafasnya dan berkata.
"Jaka! Office boy kita!" ucapan Eve membuat Alinda tersedak saat dirinya mendengarkan pernyataan Eve sambil minum.
"Apa? Jaka?" seru keduanya bersamaan.
Eve mengangguk.
"Kok bisa?" Alinda dibuat pusing dengan pengakuan Eve, sama halnya dengan Veren.
"Semuanya itu berawal saat aku mengetahui Rafael berselingkuh dengan Ellen, waktu aku tidak bisa mengendalikan emosiku, pikiranku kalut, aku benar-benar kehilangan arah, akhirnya aku pergi ke tempat ini, dan aku memesan satu botol minuman itu, dan aku menghabiskannya" Eve menghela nafasnya di sela-sela pengakuannya.
"Malam itu aku tidak pulang ke apartemen ku, aku malas jika harus melihat persiapan untuk pernikahan yang sudah tersedia di apartemen, aku memutuskan untuk kembali ke kantor, entahlah waktu itu pikiran ku sudah sangat kacau sekali, aku tidak ingat apa-apa, yang aku ingat Jaka sudah berada di atas tubuhku, dia mengunciku dan aku tidak bisa mencegahnya, dan kami melakukannya" Eve terlihat begitu santai menceritakannya, seolah dirinya terhanyut saat bercerita tentang percintaan mereka.
Veren yang melihat ekspresi Eve mencoba menebak apa yang di rasakan oleh Eve saat bercinta dengan office boy itu.
"Dan kamu menikmatinya juga kan Eve?"
"Hah...? Aku ...?" Eve tampak salah tingkah.
"Ayolah Eve! Kamu tidak bisa membohonginya, kamu menikmati itu semua bersama Jaka, iya kan?" Veren semakin membuat Eve tak bisa membantahnya, memang dirinya begitu menikmati nya, meskipun Eve mencoba menyangkalnya.
"Oke...oke, iya aku memang menikmatinya, kalian tahu sendiri, Jaka itu dari desa, tenaganya memang kuat, aku tidak bisa pungkiri itu, dia kuat sekali" pengakuan Eve membuat kedua temannya menepuk jidatnya.
"Astaga Eve! Kamu tuh ya, udah bikin keperawanan Jaka hilang loh" celetuk Alinda.
"Sama aja, dia juga udah bikin keperawanan ku hilang, apalagi sekarang aku sedang mengandung anaknya" ucapnya sambil memijit pelipisnya.
"Ya udah, kamu nikah aja sama Jaka! Toh dia ayah bayi dalam kandunganmu, kasihan kalau bayi itu lahir tanpa ayah? Apa kamu tega?" seru Veren.
"Apa? Menikah dengan Jaka? Ta_tapi aku tidak mencintainya, bagaimana bisa aku hidup bersama laki-laki yang tidak aku cintai" jawab Eve mengelak.
"Ya ampun Eve, kamu jangan egois dong! Pikirkan bayi dalam kandunganmu itu, dia nggak minta untuk dilahirkan, dia ada karena desaahan kalian berdua, tega sekali jika kamu biarin anak tak berdosa ini lahir tanpa ayah" bujuk Veren agar Eve mau menikah dengan Jaka.
"Veren benar Eve! Kita pasti dukung kamu kok, jangan khawatir kita pasti tetap bersamamu, karena kamu adalah teman baik kita, apa yang menjadi masalahmu, kita sebisa mungkin akan membantumu" seru Alinda yang membuat Eve tersenyum.
Ternyata Eve tidak salah pilih teman, kedua temannya itu terlihat merangkul nya, meskipun saat ini Eve sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Ellen dan Linda sudah tidak memperdulikan Eve lagi, semenjak Ellen menikah dengan Rafael.
"Jadi...apa aku harus menikah dengan Jaka?" tanya Eve kepada kedua temannya.
"Harus... Jaka juga pria yang baik, aku yakin Jaka pasti bertanggung jawab atas bayi yang kamu kandung" ucap Alinda meyakinkan Eve.
Eve berpikir sejenak, apa yang dikatakan oleh kedua temannya itu mungkin benar adanya, menikah dengan office boy yang pastinya hidupnya serba sederhana, mengingat Jaka adalah pria sederhana dari desa. Pasti membuat hidupnya sedikit berubah.
"Sudahlah Eve! Jangan terlalu lama mikir, kehamilan mu itu makin lama pasti akan makin membesar, pikirkan sekali lagi Eve, tidak ada salahnya kamu menikah dengan Jaka, toh kalian sudah sama-sama saling merasakan bukan, upps eh" Veren menutup mulutnya, takut apa yang dikatakannya membuat Eve malu.
Eve sontak tersenyum dengan candaan Veren, sehingga membuat Veren semakin menggoda Eve.
"Tuh kan! Apa ku bilang, kamu seneng kan?" ucapnya sambil tertawa kecil yang di ikuti senyum Alinda.
"Udah ah, kalian selalu membuatku malu" ucap Eve dengan ekspresi salah tingkah.
"Eve...Eve...kamu tuh, eh ngomong-ngomong Gedhe nggak sih itunya" goda Veren sambil menyenggol lengan Eve.
"Apanya yang gedhe?"
"Ya... itunya" jawab Veren sambil menggerakkan alisnya. Eve sejenak mengingat dan dirinya tersenyum.
"Ya... gimana ya! kerasa sesek aja gitu, kayak nggak muat aja" ucap Eve
"What? Sampai nggak muat, gila... segedhe apa tuh" imbuh Alinda yang merasa ikut penasaran.
"Ah ..udah deh kalian goda in aja" ucap Eve tersipu malu.
"Pantesan aja Eve menikmatinya, ternyata ukurannya gede" celetuk Veren.
Ketiganya terlihat tertawa kecil, Jaka yang sedang memantau Eve terlihat ikut senang, meskipun dirinya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, melihat Eve tersenyum membuat Jaka bahagia.
"Kenapa tiba-tiba aku menjadi perhatian kepada Eve! Apa hanya karena dia mengandung anakku? Ataukah perasaan ini mulai tumbuh, ini benar-benar aneh, apa aku sedang jatuh cinta kepada putri Tuan Ernest Federico itu" gumam Jaka sembari tersenyum.
Dan setelah beberapa lama, akhirnya ketiga wanita itu mulai beranjak pergi dari cafe tersebut.
"Oke aku pulang dulu Eve! Ingat jaga kandungan baik-baik" seru Veren yang pulang bersama Alinda.
"Terima kasih kalian berdua sudah mau mendengarkan dan mengerti keadaanku" ucap Eve sambil memeluk keduanya.
"Kami akan selalu ada untukmu Eve!" balas Veren dan Alinda.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
Yan Ser
menyala babang Jaka yess...
2024-08-15
0
harmawati fathindy
🤭😂
2023-12-27
0
❄️_vioolet_❄️
namanya juga unboxing, walaupun kecil juga pasti terasa penuh lahh.....
tpi eve lgsung menikmati nih, ga ngerasain sakit🤭🤭
2023-12-13
1