"Ti_tidak, Aku tidak melakukan itu padamu, kamu memang waktu itu sedang mabuk, dan aku menolongmu, aku mengantarkanmu pulang ke apartemen, tapi...alu tidak menyangka jika ternyata kamu tega melakukan hal itu kepadaku, kau merayuku dan kau sudah memaksaku untuk melakukan hal itu, dan...aku tidak bisa berbuat apa-apa" Ellen pura-pura menangis di depan Rafael.
Namun Rafael tetap tidak percaya begitu saja dengan ucapan Ellen, Ia bersikeras bahwa dirinya tidak melakukan apa-apa kepada Ellen.
"Aku tetap tidak percaya kepadamu Ellen" seru Raffael menolak untuk bertanggung jawab.
"Kamu boleh tidak percaya, tapi aku punya buktinya, rekaman cctv dan hasil visum dokter, Sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa kamu sudah menodaiku Rafael!" Ellen begitu percaya diri mengatakan hal itu kepada pria yang hampir saja menikahi Eve, kakak tirinya.
"Dan aku minta pertanggungjawaban darimu, jika kamu tidak menikahi ku, maka aku tidak berani menjamin jika bukti-bukti itu akan tiba pada kedua orang tuamu" Ellen begitu bersemangat untuk mendapatkan Rafael, baginya mendapatkan Rafael adalah impiannya, Ellen dan Linda sang Mama sangat menginginkan kehidupan Eve hancur dan Eve tidak akan bahagia.
Rafael tidak bisa berbuat apa-apa, Ellen sudah meng-skakmat dirinya, pilihan satu-satunya adalah menikahi Ellen, agar bukti-bukti itu tidak jatuh ke tangan kedua orang tuanya. Jika bukti-bukti itu sampai tahu kedua orang tuanya, Rafael pastikan sang ayah akan mengalami serangan jantung, dan itu akan mengancam nyawa sang ayah, jadi Ia memutuskan untuk terpaksa menikah dengan Ellen.
"Baiklah! Aku akan menikahimu, tapi ingat jangan pernah berharap aku akan mencintaimu Ellen, karena cintaku hanya khusus aku berikan kepada Eve, kamu mengerti!" Rafael menatap tajam ke arah Ellen.
"Aku tidak perduli lagi dengan Eve, dia tidak boleh bahagia, aku akan merebut semua kebahagiaan Eve, termasuk Rafael" gumam Ellen dengan senyum sinisnya.
*
*
*
*
Dua hari kemudian
Ellen terlihat begitu bahagia melihat dirinya berdiri di depan cermin dengan memakai gaun pengantin berwarna putih, berdiri di sampingnya Linda yang ikut merasakan kebahagiaan, karena sebentar lagi dirinya akan mempunyai menantu kaya raya, pengusaha muda dan hebat.
"Kamu pintar sayang! Akhirnya kamu bisa menikah dengan Rafael, Mama yakin sekarang Eve akan sangat menderita jika tahu bahwa posisinya sekarang telah digantikan oleh adiknya sendiri" Linda begitu bahagia melihat penderitaan anak tirinya tersebut.
"Aku akan menelepon Eve!"
Linda sengaja menelepon Eve agar dirinya sedih saat melihat Ellen bersanding dengan mantan tunangannya itu.
Sementara di suatu apartemen, terlihat seorang wanita yang tengah duduk di atas ranjangnya, sesekali Eve menghela nafas, Ia tahu jika hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuknya, hari pernikahannya dengan Rafael.
Namun sayang sekarang Ia harus sendiri berada dalam kamarnya, di temani cahaya redup kamar itu, membuatnya semakin sesak. Eve turun dari ranjang dan pergi mengambil air minum.
Tiba-tiba saja telepon yang diletakkan di ruang tengah apartemen berdering, kemudian ia segera mengangkat telpon itu. Dirinya benar-benar terkejut, ternyata Linda yang telah menghubunginya.
"Halo Eve!"
"Mama!"
"Eve! Apa maafkan Mama ya, tapi Mama terpaksa harus mengatakan hal ini kepadamu"
"Apa maksud Mama?"
"Hari ini adikmu akan menikah dengan Rafael, kamu ikhlasin ya, mereka memang sudah ditakdirkan bersama, dan kamu yang sabar, sepertinya Rafael lebih memilih adikmu untuk dijadikan istri"
"Tut...Tut...Tut..."
Eve langsung menutup telepon dari Linda, dirinya sudah tidak mau tahu lagi mendengar apapun tentang mereka, kemudian Eve segera pergi masuk ke dalam kamarnya.
Eve menghempaskan tubuhnya pada kasur, hari ini seharusnya dirinya yang bersanding dengan Rafael, namun keadaan telah berubah, dan dia harus merelakan semuanya.
"Aku tidak boleh terlarut dalam kesedihanku, aku harus mengikhlaskan mereka, mungkin Rafael memang bukan jodohku, Tuhan punya rencana lain dibalik semua ini, aku yakin itu"
Eve meyakinkan dirinya hingga akhirnya Eve tertidur. Dalam tidurnya Eve bermimpi tentang saat-saat saat Ia masih memadu kasih dengan Rafael.
Namun tiba-tiba saja wajah Jaka muncul menggantikan Rafael, mimpi itu sangat jelas sekali bahwa Rafael pergi menjauh dan seorang laki-laki menghampiri Eve yang sedang sendirian.
"Jaka! Kamu!"
Jaka tersenyum dan mencium bibir Eve sekilas, Eve yang masih kesal dengan Jaka nyatanya justru membalas ciuman Jaka penuh perasaan, entah kenapa Eve merasa nyaman dalam pelukan laki-laki sederhana itu, apa karena laki-laki itu telah menjamahnya? Entahlah, tapi tidak bisa Eve pungkiri ciuman itu menghanyutkan dirinya dalam gairah yang dirinya sendiri tidak menyadarinya.
Mimpi yang seperti nyata, Eve seolah telah melakukan hubungan terlarang itu kembali.
"Tidak....tidak...Jaka...tidak...tidaaaaaaakkkkk"
Eve terbangun dengan keringat yang bercucuran, ia sadar ternyata itu semua hanyalah mimpi, Eve segera minum air putih yang ia letakkan di atas nakas.
"Astaga! Untung cuma mimpi"
Eve meraba dirinya, ternyata ia masih memakai pakaian utuh, sementara dalam mimpinya Eve sudah dalam keadaan polos dan tengah melakukan hubungan itu bersama sang office boy.
"Kenapa harus Jaka lagi sih, dia lagi dia lagi" umpatnya kesal.
Tapi sejenak Eve merinding saat mengingat cumbuan Jaka dalam mimpinya itu, sangat lembut dan terasa sangat begitu mendebarkan, Eve memejamkan matanya. Dan tiba-tiba Eve tersadar dari lamunannya.
"Tidak tidak, Eve kamu tidak boleh membayangkan tentang Jaka, ya...dia memang kuat sih, tapi kamu jangan tergoda dengan pria itu, dia sudah merenggut kesucianmu" racaunya yang tidak menampik tentang kegagahan Jaka yang luar biasa.
Eve mencoba memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur kembali, namun sungguh sial bagi Eve, dia justru tidak bisa tidur, bayangan tentang malam itu selalu menari-nari di atas kepalanya.
"Astaga! Apa yang sudah terjadi denganku, aku bisa gila kalau seperti ini" Eve terus saja merutuki nasibnya yang benar-benar sial itu.
*
*
*
Sementara di tempat lain, Willy juga tidak bisa memejamkan matanya, entah kenapa malam ini dia benar-benar merindukan Eve, wanita yang pertama kali bercinta dengannya, Willy mengambil benda milik Eve yang tertinggal saat cinta satu malam itu, benda berwarna putih dengan hiasan renda cantik, Willy menggenggam underwear milik Eve.
"Shiit, aku benar-benar tidak bisa melupakanmu Eve! Kau harus menjadi milikku, harus...aku akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali ke dalam pelukanku"
Tiba-tiba sifat egois Willy muncul, dirinya sudah bertekad untuk mendapatkan seorang Eve yang berhasil mendobrak keangkuhan Willy kepada wanita, suara merdu Eve saat malam itu masih teringat jelas di telinga Willy, bagaimana wanita itu meresponnya dengan baik, meskipun sesekali ia merasa kesakitan saat Willy telah berhasil membobol gawang milik Eve.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 191 Episodes
Comments
❄️_vioolet_❄️
gasss Wil,
Pepet teros jangan sampai kendor
2023-12-13
0
❄️_vioolet_❄️
walau mabok tpi masih teringat rasanya eve 🤪
2023-12-13
0
Nami chan
bukan tertinggal,, disumputin 🙈
2023-11-20
0