Mam Natalia menghela nafasnya kasar, bagaimana mungkin ia bisa melupakan kecelakaan yang sudah menyebabkan putrinya koma dan hampir saja merenggut nyawa putrinya itu. Jika bukan karena suaminya mengenal seorang dokter yang hebat, ia pasti kehilangan putri tercintanya.
"Mah, kok mama malah bengong sih?" Mentari melambaikan satu tangannya di hadapan sang mama.
"Mama hanya tidak ingin kecelakaan itu terulang lagi, sayang. Mama sangat takut kehilanganmu." Ucap sang mama sambil mengecup kening putrinya hangat.
"Mama tenang aja, aku akan baik-baik saja kok. Jadi mama tidak perlu khawatir, ok." Jawab Mentari sambil memperlihatkan senyumannya yang manis membuat mam Natalia ikut tersenyum. "Mam's aku lapar." Mentari kembali berucap dengan manja sama persis seperti dulu sebelum dirinya kehilangan ingatannya.
"Baiklah, mama akan suruh si bibi untuk menyiapkan makanan favoritmu. Kalau kamu lelah, kamu istirahat dulu di kamarmu, nanti kalau makanannya sudah siap, mama panggil kamu." Ucap sang mama sambil mengelus pucuk kepala putrinya itu.
"Ok, Mam's." Jawab Mentari sambil mengangkat tangannya ke atas.
Mam Natalia kembali tersenyum, kemudian ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju dapur, sementara Mentari, ia langsung bergegas menuju kamarnya.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, Mentari sudah tiba di depan pintu kamarnya itu. Dengan segera ia meraih knop pintu tersebut dan memutarnya hingga pintu itu terbuka lebar. Mentari tersenyum ketika ia melihat kamarnya yang begitu rapi dan bersih, sepertinya saat dirinya tidak ada pun si bibi selalu membersihkan kamar kesayangannya itu. Bahkan setitik debu pun tidak ada.
Mentari berjalan menuju sudut kamarnya yang terdapat beberapa photo dirinya dengan sahabat kecilnya, Lisa. Tangan Mentari terulur mengambil salah satu bingkai photo itu. "Lisa, gue masih tidak percaya kalau lo sudah mengkhianati gue selama ini. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah gue lakukan kepada, lo, Lisa?" Lirih Mentari dengan kedua tangan menggenggam erat bingkai photo tersebut.
"Mulai sekarang, lo tidak pantas menjadi sahabat gue lagi. Tapi lo tenang aja Lisa, gue bukan wanita yang bodoh yang akan mengekspos perselingkuhan lo dan suami gue di depan semua orang. Ah itu bukan berarti gue akan membiarkan lo bahagia dengan suami gue. Gue hanya ingin mengikuti cara kalian menyakiti gue, sampai-sampai kalian menyesal dan berlutut di kaki gue."
"Alex, Lisa. Hal yang paling gue benci dalam kehidupan ini adalah sebuah pengkhianatan. Jadi bagi gue seorang pengkhianat tidak pantas mendapatkan maaf dan tidak pantas untuk di maafkan." Ucap Mentari dengan tatapan matanya yang dingin penuh kebencian.
Mentari menyeringai layaknya seorang Villainess yang merencanakan sesuatu, ia kembali mengambil semua bingkai photonya bersama Lisa sahabat sekaligus musuh dalam selimutnya itu. Mentari akan membuang semua photo tersebut beserta hatinya yang sudah hancur karena pengkhianatan yang di lakukan oleh sahabat dan suami yang selama ini sangat di cintainya.
Namun ketika Mentari hendak meraih photo yang terakhir, Mentari terdiam sejenak, photo itu berbeda dengan photo yang lainnya. Photo itu bukan photo dirinya dengan Lisa, melainkan photo dirinya dengan seorang pria tampan yang tengah merangkulnya dengan mesra. "Siapa laki-laki ini? Kenapa photonya bisa ada di kamarku? Dan kenapa aku bisa berphoto bersamanya?" Mentari bertanya-tanya sendirian, ia menatap lekat photo itu.
"Lalu kenapa aku baru melihatnya sekarang? Apa mungkin karena photo ini berada di urutan paling belakang sehingga aku tidak bisa melihatnya?" Mentari terus bertanya-tanya sendirian, ia sangat penasaran dengan photo pria tampan yang sedang merangkul mesra pinggangnya itu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 164 Episodes
Comments
anie Yustiani
jadi Mentari masih amnesia? kasiaan amat ya dg John jangan2 kecelakaan itu Lisa dalangnya
2025-02-09
0
Ds Phone
dia tak ingat padan lah
2025-01-27
0
fitriani
ayo mentari cb ingat2 pagi ttg jhonathan
2024-01-20
2