Malam itu di rumah Tuan Morgan, tampak Charles dan ayahnya sedang duduk bersama Ryan sambil berbincang-bincang.
Mereka kini sedang membahas tentang kematian Kakek Malik dan bagaimana dengan nasib Joe selanjutnya.
"Huh... Kasihan juga anak itu. Bagaimana nasib nya setelah ini." Kata kakak Ryan mengutarakan kekhawatiran nya.
"Ayah. Untuk apa ayah membuang waktu untuk memikirkan nasib anak hutan itu." Kata Charles tidak senang.
"Mengapa Charles? Bukankah kalian ini adalah sahabat dan satu sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah?" Tanya kakak Ryan heran.
"Siapa bilang kami bersahabat. Aku tidak pernah menganggap anak hutan yang miskin itu sebagai sahabat." Bantah Charles.
"Apa kau yakin dia anak orang hutan, Charles?" Tanya Ryan dengan senyum mengejek.
"Iya lah. Aku kenal betul dengan Joe William itu. Dia tidak punya ayah dan ibu. Dia hanya punya kakek Malik. Itu pun sudah meninggal."
"Kau tau apa nama belakang Joe itu?" Tanya Ryan masih dengan senyum main-main.
"William kan nama belakang Joe ini. Maksud mu Ryan?" Tanya ayah Charles mulai bisa menebak kemana arah pertanyaan Ryan tadi.
"Benar kak. Joe itu adalah Tuan muda kita. Dia sengaja diasingkan di sini untuk berguru dengan mendiang kakek Malik. Awalnya rencana nya dia akan dikembalikan setelah berumur tujuh belas tahun. Namun takdir berkata lain." Jawab Ryan yang membuat kedua anak dan ayah itu melongo seperti orang tolol.
Sementara itu Tuan Morgan yang sedikit mendengar pembicaraan mereka menjadi penasaran dan ikut nimbrung.
"Apa benar yang kau katakan itu Ryan?" Tanya Tuan Morgan.
"Benar Ayah. Aku telah hidup di lingkungan Jerry ini selama puluhan tahun. Aku tau semuanya. Bahkan ketika Joe ini di asuh oleh kakek Malik, aku menyaksikan langsung. Saat itu usia Joe ini baru satu tahun." Jawab Ryan.
"Kau Charles. Jika tidak segera meminta maaf kepada Joe, jangan akui aku paman mu lagi! Kampung ini bisa maju karena ayahnya Joe. Kau sekolah di sekolah dasar dan menengah itu adalah sekolah milik ayahnya Joe. Celaka jika sampai Joe mengadukan hal ini kepada Tuan Besar Jerry. Bisa hancur kampung ini kalau dia marah." Kata Ryan membuat wajah Charles kini seputih kapas.
"Ayah. Bagaimana ini?" Tanya Charles mulai ketakutan.
Kini dia merasa tenggorokan nya mulai kering dan panas seperti orang kehausan.
"Kau ini Charles. Makanya kurang-kurangi kesombongan yang ada pada dirimu itu. Jika watak mu tidak berubah, kelak kau akan celaka sendiri karenanya."
"Kau yang mulai, maka kau yang harus mengakhiri. Kau yang berbuat, maka pertanggungjawabkan itu!" Kata Ayahnya membuat Charles semakin ketakutan.
"Tolong aku Paman!" Kata Charles sambil beringsut mendekati Ryan.
Sebagai jawaban, Ryan hanya mengangkat bahu nya saja lalu berdiri kemudian melangkah ke ruangan depan. Sama sekali tidak menghiraukan ratapan Charles.
Baginya, anak sombong seperti Charles ini sesekali harus dapat batunya agar kelak tidak sombong dan arogan lagi terhadap orang lain.
*********
Pagi menjelang siang itu, selepas memakamkan jasad kakek Malik, Jerry, Clara dan yang lainnnya segera bergegas ingin kembali ke Starhill.
Mereka kini berjalan di tengah-tengah perkampungan itu sambil memantau perkembangan yang sangat pesat di kampung Ryan sahabatnya itu.
"Hmmm... Tidak ku sangka selama lima belas tahun ini, kampung mu ini maju dengan sangat pesat Ryan." Kata Jerry.
"Ini semua karena kau Jer. Jika bukan karena kau yang berinvestasi di kampung ku ini, mungkin kampung halaman ku akan seperti dulu-dulu juga." Kata Ryan dengan ekspresi wajah berterimakasih.
"Ryan. Aku akan ke perumahan staf untuk bersiap-siap. Kau bisa menunggu ku di tempat Helikopter terparkir." Kata Jerry.
"Aku akan menunggu mu di rumah Ayah ku. Kau bersiap-siap lah." Kata Ryan lalu berjalan mendahului mereka untuk ke rumah tuan Morgan.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Jerry, Clara dan putra mereka Joe pun meninggalkan perumahan staf itu berjalan menyusuri perkampungan kembali untuk menuju ke rumah tuan Morgan.
Pemandangan itu biasa saja. Namun menjadi luar biasa ketika Joe yang diapit oleh Jerry dan Clara sungguh tampil beda.
Joe kini layak nya seperti seorang pangeran dengan memakai jas, celana dan sepatu serta memakai kacamata hitam. Penampilan yang sangat keren membuat orang kampung merasa takjub.
Kini mereka saling bergosip tentang identitas Joe ini.
Hal ini karena selama ini mereka menganggap bahwa Joe ini hanyalah anak hutan yang di didik oleh kakek Malik.
Setelah hampir mendekati rumah Tuan Morgan, tiba-tiba langkah mereka terhenti begitu melihat tiga orang anak sebaya dengan Joe berlutut dipinggir jalan sambil berkata, "maafkan kami Joe. Ampuni kami Joe!" Kata mereka bersama-sama.
Melihat adegan itu, Jerry dan Clara hanya memandang heran ke arah putra mereka satu-satunya itu.
"Siapa mereka Joe?" Tanya Jerry.
"Mereka adalah anak-anak orang kaya yang sering menghina ku." Jawab Joe.
"Itu adalah urusan mu. Kau selesaikan sendiri. Ayah dan ibu menunggu mu di rumah Tuan Morgan." Kata Jerry lalu mengajak istrinya meninggalkan Joe dan ketiga anak yang berlutut di pinggir jalan itu.
"Mau apa lagi kalian?" Tanya Joe dengan ekspresi wajah sinis.
"Ampuni kami Joe. Kami minta maaf atas segala perbuatan kami kepada mu selama ini." Kata Jimbo mewakili kedua sahabatnya.
"Aku tidak ada masalah dengan kalian. Sebaiknya jangan berbuat seperti itu. Bagun lah!" Pinta Joe.
"Kau memaafkan kami kan Joe?" Tanya Milner.
"Sudah aku katakan bahwa aku tidak ada masalah dengan kalian."
"Bukankah kalian menginginkan agar aku segera angkat kaki dari kampung kalian ini? Hari ini aku akan pergi agar tidak menjadi sampah di mata kalian." Kata Joe.
Dengan santai Joe memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu melangkah meninggalkan ketiga anak yang sebaya dengannya itu.
Melihat Joe yang acuh tak acuh itu membuat ketiga orang itu saling pandang.
Tanpa di komandoi, ketiga anak itu langsung membuntuti Joe yang saat ini sedang berbicara dengan dua orang lagi anak seusia dengan nya.
"Harvey, Lilian. Aku pamit. Mungkin aku tidak akan datang ke kampung ini lagi dalam waktu dekat." Kata Joe sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
"Semoga kau selamat sampai ke tujuan." Kata Harvey dengan mata merah.
Selama ini dia tidak pernah berpisah dengan Joe.
Bermain bersama, sekolah bersama serta belajar bersama. Hal ini yang membuat mereka sedih karena tak lama lagi akan ditinggal oleh sahabat mereka yang baik.
"Kau jangan sampai melupakan kami Joe." Kata Lilian.
"Mana mungkin aku melupakan kalian. Kalian sangat baik kepada ku. Bukan seperti anak orang kaya itu." Kata Joe sambil menunjuk ke arah Charles, Milner dan Jimbo.
Begitu mereka mendengar ini, ketiga anak muda tanggung itu hanya menunduk saja.
"Joe. Kau sudah di tunggu. Pergilah. Hati-hati di jalan. Kelak kalau sudah tamat sekolah menengah atas, mungkin kami akan kuliah di tempat Tuan Ryan kuliah dulu." Kata Harvey.
"Ya. Aku tunggu kalian. Kelak kita akan tinggal di asrama yang sama dan satu kamar. Bagaimana?" Tanya Joe.
"Boleh. Tapi mungkin akan berbeda ceritanya Joe. Kau dan kami berbeda jauh. Mana mungkin kau akan tinggal di asrama." Kata Lilian.
Joe yang tidak terlalu mengerti hanya bengong melihat ekspresi kedua sahabatnya itu.
Berbeda dengan mereka yang sudah diberitahu tentang identitas Joe. Sementara Joe sendiri belum terlalu tau siapa dirinya.
Baginya adalah, ayahnya orang baik. Karena itu ayahnya sangat dihormati di kampung ini. Terlebih lagi Ayah nya adalah sahabat Tuan Ryan. Hanya itu saja.
Setelah berpamitan dan saling berpelukan, Joe pun meminta diri kepada sahabatnya.
Setelah itu berlari ke rumah Tuan Morgan untuk menemui ayahnya yang berada di sana.
Sambil memeluk peti kayu, Joe pun berangkat bersama orang tuanya dengan diiringi oleh puluhan pengawal.
Selang berapa menit, di atas tampak puluhan helikopter menderu meninggalkan perkampungan itu menuju ke Starhill.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 342 Episodes
Comments
On fire
🧡💜💜🧡💓
2024-12-26
0
On fire
💙🖤💙💗
2024-12-26
0
DediKarismatikCharlieWade84
Sang penguasa terkaya no 1 di negara nya sekaligus termasuk perusahaan di Singapore,Malaysia,Indonesia juga Thailand, Blum Lgi menjadi paling terkaya no 1 didunia juga seasia👍👍👍
2024-03-22
3