Setelah semua anak-anak seusianya yang tadi terlibat perkelahian dengan nya, Joe yang saat ini masih terbaring di tanah segera bangkit sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang kotor berdebu.
Kejadian yang tadi sedikit banyak membuatnya sangat menyesal mengapa tadi dia kabur dari rumah.
Setelah memastikan bahwa tidak ada seorang pun lagi di tempat itu, Joe pun berjalan pelan mengarah ke pondok yang dia tinggali bersama kakeknya itu.
Sekitar lima puluh meter lagi mencapai pondok reyot nya itu, dia menghentikan langkah kakinya lalu duduk di atas batu di pinggiran sungai sambil merenung sendiri.
Dia terus berada di sana sampai Matahari benar-benar sudah tergelincir di ufuk barat.
***
Saat itu, seorang lelaki tua baru saja keluar dari dalam pondok sambil memandang ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.
"Kemana anak bandel itu pergi sampai jam segini belum juga kembali?" Katanya dalam hati.
Dia kini mengambil sendalnya lalu segera berjalan menuju pinggiran sungai tempat biasa cucunya menyendiri jika sedang merajuk.
Firasat lelaki tua itu benar. Samar-samar dia melihat tubuh anak lelaki sedang duduk di atas bongkahan batu besar sambil memandang lurus ke arah sungai yang airnya sangat jernih itu.
"Apakah kau akan terus berada di situ sampai pagi Joe?" Tanya lelaki tua itu membuat anak itu langsung menoleh ke arah nya.
"Kakek." Kata Joe dengan malas.
"Ada apa? Mengapa kau duduk sendirian di sini hah?" Tanya lelaki tua itu sambil mendekati cucunya.
"Tidak apa-apa kek. Tadi aku di ganggu lagi Oleh Charles, Milner dan Jimbo." Kata Joe mengadukan pengeroyokan tadi kepada lelaki tua itu.
"Sudahlah. Kalian sama-sama bandel. Makanya kakek kan sudah bilang jangan kemana-mana. Tapi kau malah lari." Kata lelaki tua itu.
Dia sengaja tidak mau membela cucunya ini lantaran takut dia akan manja dan semuanya akan mengandalkan orang tua. Jika sudah terbiasa seperti itu, maka akan sulit untuk merubahnya.
"Ayo kita pulang. Nanti kemalaman mata kakek sudah tidak bisa lagi melihat dengan baik." Kata lelaki tua itu.
"Kek. Besok aku akan giat berlatih. Akan aku hajar mereka itu kek." Kata Joe dengan tekat yang kuat.
"Jika kau belajar ilmu bela diri hanya untuk membalas dendam, maka sebaiknya kau jangan belajar. Aku tidak sudi mengajarkan ilmu kepada orang yang pendendam." Kata Lelaki tua itu.
"Lalu bagaimana jika mereka yang duluan menggangu ku kek?" Tanya anak itu merasa tidak puas.
"Musuh jangan di cari. Namun jika tidak bisa di hindari, pantang untuk lari." Jawab lelaki tua itu.
"Kau harus bisa menahan amarah mu, Joe! Jika kau tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri, kau tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin di masa depan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan kek? Mereka terus-menerus menggangu ku."
"Selagi kau masih bisa menahannya, maka tahan lah. Menghindar lebih baik daripada menciptakan sebuah perseteruan dengan orang lain. Itu yang harus kau tanamkan sejak saat ini." Kata Kakek nya itu memberi wejangan.
"Joe akan berusaha sekuat tenaga kek."
"Bagus! Kau memang harus bisa mengendalikan emosi dan kemarahan pada tempatnya. Ada kalanya kemarahan itu perlu untuk dikeluarkan. Namun itu untuk hal-hal yang besar. Karena kemarahan bisa membuat pikiran mu buntu dan otak mu tidak mampu mencerna setiap permasalahan. Maka dari itu, kuasai kemarahan agar jangan sampai kemarahan yang menguasai dirimu." Kata lelaki tua itu.
"Nah. Sudah sampai. Kau mandi lah! Kakek melihat tubuh mu begitu kotor sekali. Nanti setelah itu, makan dan langsung tidur. Besok kau harus bangun pagi dan berendam untuk melatih pernafasan mu. Selesai dengan itu, kau harus berangkat ke sekolah. Biar supaya kelak kau tidak bisa dibodohi oleh orang lain. Belajar yang rajin. Patuhi guru mu dan sayangi teman-teman mu. Agar semua yang diajarkan dapat kau resapi dengan baik dan ilmu yang kau peroleh, mendapat keberkahan."
"Baik Kek." Kata anak itu lalu mengambil handuk dan segera kebelakang untuk mandi.
*********
Pagi itu, setelah Joe selesai melakukan latihannya sejak dari pukul empat subuh. Setelah berpamitan, dia pun bergegas berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah, dia yang sudah di tunggu oleh Harvey langsung berjalan beriringan menuju ke kelas.
"Joe. Kemarin sore kau kemana? Aku menunggu mu di rumah ku." Tanya Harvey merasa heran karena tidak biasanya Joe ini ingkar janji.
"Kemarin aku sudah akan ke rumah mu Vey. Tapi di simpang tiga, aku di hadang oleh Charles, Milner dan Jimbo."
"Mereka menganggu mu Joe?" Tanya Harvey.
"Iya. Mereka memukuli ku dan menghina ku." Jawab Joe.
"Apakah kau terluka?"
"Hahaha. Walaupun aku kalah bertarung karena mereka main keroyok, tapi untuk melukai ku, mereka butuh kekuatan ekstra." Jawab Joe sambil tertawa.
"Oh. Syukur lah kalau begitu. Apakah kau mau kita mendatangi mereka dan kita beri mereka pelajaran?" Tanya Harvey.
"Untuk apa? Sudahlah. Kakek ku marah kalau aku pendendam. Aku tidak ingin berkelahi lagi Vey. Aku akan berusaha sabar se-sabar mungkin. Tidak ingin mengecewakan kakek ku." Kata Joe.
"Baiklah. Jika kau tidak ingin membalas mereka, maka kita diam kan saja." Kata Harvey lalu mengajak Joe segera menuju ke kelas.
"Joe William!"
Terdengar suara seorang wanita memanggil nama anak itu membuat dia dan Harvey mengurungkan niatnya untuk masuk ke kelas.
"Iya Bu Sarah. Ada apa Bu?" Tanya Joe.
"Joe William, hari ini tugas mu yang membersihkan kelas. Kau dan Harvey akan bekerja sama bersama empat anak lainnya. Lakukan dengan benar dan jangan sampai ada sisa kapur yang masih menempel di papan tulis. Mengerti?" Tanya Guru itu. Namanya adalah Sarah. Dia adalah guru di kelas Joe dan Harvey belajar. Guru ini terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi serta sangat menekankan anak-anak didiknya untuk berdisiplin. Jadi, Jika ada yang indisipliner, maka siap-siaplah untuk menerima hukuman.
Saat ini Joe dan Harvey beserta empat yang lainnya tampak sedang sibuk membersihkan ruangan tempat mereka belajar itu.
Di saat pekerjaan itu hampir selesai, tiba-tiba tiga orang anak dari kelas sebelah Dadang dengan membawa sekantong sampah yang entah dari mana dia dapatkan lalu menaburkan sampah tersebut di dalam kelas yang sudah dibersihkan itu.
Kejadian ini tentu saja membuat Harvey sangat marah.
"Hey kalian Charles, Milner dan Jimbo! Mengapa kalian mengotori lagi kelas kami ini? Aku sudah cape membersihkan, kau malah mengotorinya." Tegur Harvey.
"Memangnya mengapa?" Tidak suka? Keluar saja dari sekolah ini!" Kata Charles sambil tersenyum mengejek.
"Kau memang sialan Charles! Mentang-mentang sekolah ini milik paman mu." Kata Harvey yang masih saja ngotot ingin melawan.
"Sudahlah Harvey. Lebih baik kita bersihkan saja lagi. Karena sebentar lagi Bu Sarah akan masuk ke kelas ini. Bisa bahaya kita jika masih berantakan seperti ini." Kata Joe meredakan kemarahan Harvey.
"Kalian ini anak-anak orang miskin memang pantas seperti ini. Kalian harus ingat. Aku tidak suka sekolah ku ini di isi oleh murid seperti Joe William ini. Tidak tau asal usul nya dan tinggal di pinggir hutan. Dasar anak hutan. Hahaha..." Kata mereka bertiga lalu keluar meninggalkan kelas itu.
"Abaikan saja. Ayo Harvey." Kata Joe. Lalu mereka pun membersihkan sampah yang ditaburkan oleh ketiga anak tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 342 Episodes
Comments
On fire
ZAasddx
2024-12-26
0
On fire
🩵💛💛💕
2024-12-26
0
Cahaya Sidrap
next
2024-05-10
1