Satu unit becak motor dari arah kampung Indra sakti baru saja berhenti mengantar seorang pemuda belia yang memakai seragam sekolah itu.
Ketika turun dari becak motor tersebut, pemuda itu langsung memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah kepada sopir becak dengan keadaan terburu-buru.
Belum sempat sang sopir mengembalikan kembalian uang tersebut, pemuda itu sudah lari lintang pukang menuju ke rumah panggung berdinding anyaman bambu itu.
"Dek. Kembaliannya!" Teriak sang sopir.
"Besok saja pak." Jawab anak itu sambil lari terbirit-birit.
Seorang lelaki yang sudah sangat tua terheran-heran melihat kelakuan anak itu.
"Ada apa dengan mu Joe?" Tanya sang kakek.
"Perut ku kek. Sakit sekali." Kata anak itu langsung menuju ke WC tanpa banyak bicara lagi langsung...,
Plung... Plung... Plung...'
Tuuut.....
"Eeeeek...."
Terdengar suara aneh dari dalam kamar WC tersebut.
"Joe... Awas keluar semua isi perut mu itu!" Tegur sang kakek.
"Mati aku kek. Perut ku ini lain rasanya." Jawab Joe sambil terengah-engah.
Sang kakek hanya menggeleng saja dengan kelakuan Joe ini.
Dengan wajah pucat, tampak Joe keluar dari kamar WC tersebut.
Namun baru beberapa menit, dia sudah berlari kembali menuju WC tersebut dan kembali suara ngeden kedengaran sampai ke luar.
Hampir sepuluh menit, Joe pun akhirnya keluar juga dari dalam kamar WC tadi.
Keringat kini membasahi wajahnya menandakan bahwa dia sangat menderita sekali.
"Mengapa kau bisa seperti itu Joe? Apa yang kau makan tadi di sekolah mu sana?" Tanya kakek yang di kenal sebagai Tengku Mahmud itu.
"Aku tidak tau apa namanya kek. Udin menyebutkan nama makan itu adalah pecel." Jawab Joe.
Tengku Mahmud hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Joe William sang murid baru nya itu lalu berkata.
"Nah. Kau duduk dulu di sini. Kakek akan membuatkan obat herbal untuk mu." Kata Tengku Mahmud lalu beranjak ke dapur.
Tak lama setelah itu dia keluar dengan segelas air yang sangat aneh warnanya.
"Apa ini kek?" Tanya Joe yang merasakan suatu kenangan ketika di Mountain Slope dulu.
"Sudah. Jangan banyak tanya. Minum saja atau kau akan puluhan kali ke kamar WC." Bentak Tengku Mahmud.
Tidak ada pilihan. Daripada bolak-balik eeeeeeek dan eeeek terus, apa boleh buat. Terpaksa Joe menerima cangkir tersebut dan menenggak tandas isi dari cangkir itu.
"Hoeeekk... Ya ampun. Pahit sekali." Kata Joe sambil menyeringai.
"Sekarang kau istirahat lah. Nanti kau harus latihan." Kata Kakek Tengku Mahmud.
"Apa tidak boleh libur sore ini Kek. Aku kan sakit." Kata Joe.
"Ingat tujuan mu datang ke kampung ini Joe! Kau tidak sedang berlibur. Tapi untuk menuntut ilmu. Jika kau bermalas-malasan, maka pulang saja ke negara mu sana!" Bentak Tengku Mahmud.
"Baik Kek. Saya menurut." Kata Joe dengan pasrah.
"Nah begitu. Kau harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Karena aku juga sudah sangat tua. Entah esok atau lusa aku menyusul kakek uyut mu. Siapa yang tahu?!"
"Jangan katakan itu kek! Aku trauma dengan kehilangan yang sangat menyakitkan itu." Kata Joe.
"Joe. Orang yang hidup itu pasti akan mati. Itu adalah takdir nyata bagi seorang manusia. Tidak ada yang abadi. Jika tidak ada kematian, maka apa itu arti hidup? Semuanya memiliki pasangannya masing-masing. Tidak ada yang abadi kecuali Dia! Zad yang Maha pencipta." Kata Tengku Mahmud sambil menunjuk satu jari ke atas.
"Semoga saja tidak sekarang kek. Aku belum siap untuk menerima pukulan seberat itu sebanyak dua kali." Kata Joe.
"Siap atau tidak siap, setiap anak Adam yang terlahir ke dunia ini memiliki garis nasib dan takdirnya. Termasuk kematian. Maka dari itu, persiapkan dirimu sebelum kematian itu datang."
"Ayo. Kau aku beri waktu istirahat lima belas menit. Setelah itu, temui aku di belakang sana." Kata Tengku Mahmud lalu bergegas ke bagian belakang rumah panggung miliknya itu.
*********
Setelah waktu istirahat yang diberikan oleh kakek Tengku Mahmud habis, Joe William pun akhirnya melangkah menuruni tangga dan langsung menuju ke bagian belakang rumah tersebut.
Kini dia melihat kakek gurunya itu sedang memasang api dan di atas Tempak sebuah kuali yang baru di jerang.
Merasa penasaran, Joe pun langsung melangkah mendekati orang tua itu lalu melihat bahwa kakek guru nya itu sedang menuangkan pasir ke dalam kuali tersebut.
"Nah Joe. Kau boleh mengaduk pasir ini dengan tangan mu. Jangan berhenti sampai kau sudah habis kemampuan untuk bertahan.". Kata Kakek Tengku Mahmud.
Tanpa membantah sedikitpun, Joe langsung mengaduk-aduk pasir di dalam kuali tersebut dengan bersemangat.
Awalnya biasa saja. Namun makin kelamaan sedikit demi sedikit pasir yang terjerang di atas api itu menjadi hangat lalu berganti panas dan panas sekali sampai pasir itu kini berubah warna dari putih menjadi kecoklatan.
Tampak kini Joe sedikit mengernyitkan dahi. Tapi dia tetap saja bertahan dan terus mengaduk-aduk pasir di dalam kuali tersebut.
"Anak ini. Keras juga kemahuannya untuk belajar. Dan sedikit tidak sabaran." Kata Tengku Mahmud berkata dalam hati.
"Kek. Aku sudah tidak kuat." Kata Joe.
Kini dia benar-benar menyerah dan tidak kuat lagi.
Ketika Tengku Mahmud melihat pasir tadi nyaris berubah menjadi warna kecoklatan, dia pun mengangguk senang.
"Setiap hari sebelum latihan, kau harus melakukan ini secara rutin. Tidak ada kata berhenti atau tamat. Selagi kau berada di sini, selama itu lah sebelum latihan, kau harus mengaduk pasir di dalam kuali yang terjerang di atas tungku api ini." Kata Tengku Mahmud.
"Sudah. Aku tau bahwa tangan mu itu melepuh. Istirahat lah. Kau masih belum terbiasa. Besok sore kita lanjutkan lagi." Kata Tengku Mahmud.
Mereka berdua lalu berjalan beriringan untuk kembali ke rumah lalu duduk di beranda rumah tersebut.
"Kau mungkin bertanya-tanya untuk apa aku menyuruh mu melakukan hal yang tadi. Ketahuilah Joe! Bahwa itu adalah tehnik dasar untuk membuat agar tangan mu tahan terhadap panas dan menguatkan otot-otot di tangan mu."
"Aku mempelajari metode ini selama puluhan tahun sejak aku kalah dari tehnik jarum perak milik kakek uyut mu si Malik itu."
"Sekarang coba kau lihat ini!" Kata Tengku Mahmud sambil mengambil potongan buah pinang yang selalu menjadi teman sirih nya lalu..,
Wus....!
Tampak isi buah pinang itu melesat lalu menghantam buah kelapa yang masih berasa di pohonnya.
Kini Joe melihat sendiri buah kelapa yang tinggi itu bocor lalu menumpahkan airnya.
"Waaah... Hebat sekali kek." Kata Joe memberi pujian dengan tulus.
"Kau lihat ini Joe!" Kata Tengku Mahmud lalu menghentakkan jari telunjuk dan jari tengah nya ke lantai yang terbuat dari belahan batang Nibung tersebut.
Praaak...
Blus....!
Kini dua jari tangan Tengku Mahmud itu amblas menembus lantai itu sedalam dua ruas jari.
Bayangkan andai itu adalah tubuh manusia.
"Tehnik ini namanya jari besi. Jika kau ingin seperti ini, maka jangan malas untuk latihan." Kata Tengku Mahmud.
Joe benar-benar terkesima melihat pertunjukan tadi.
Kini dia mulai bertekad dalam hati untuk giat berlatih dan suatu saat bisa dia pergunakan untuk membela diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 342 Episodes
Comments
J Lumbantoruan
waktu baca eek si bule aku pas lagi eek juga thor,kebayang wajah bule itu gimana waktu eek😂😂😂😂
2024-06-15
1
DediKarismatikCharlieWade84
Jurus Jari Iblis Penghancur Tulang, Jurus Jari Iblis Penghancur Jiwa, Jurus Jari Iblis Pelebur Tulang🤭🤭🤭
2024-03-22
1
Heni Fitria
seru...rasa2 diri sendiri sedang latihan...
2023-09-25
1