"Papa belum pulang ma?." Tanya Kaira mengalihkan pembicaraan.
"Belum kayaknya sebentar lagi..." Jawab mama Luna.
"Oh iya..." Kaira manggut-manggut. "Kalau begitu aku ke kamar istirahat dulu.."
"Iya sayang..."
Sontak saja Kaira menaiki anak tangga sambil membawa koper ia memasuki kamar lalu menguncinya, barulah wanita itu bisa bernafas lega. "Ah gerah sekali aku tak tahan!!..." Kaira melepas jas juga syal tebal itu.
Satu persatu kancing kemeja Arka yang dikenakan Kaira dilepas hanya menyisakan tank top saja, ia menatap kembali tubuhnya itu di depan cermin besar, Kaira menggigit bibir bawahnya sambil membuang nafas berat.
"Ya Tuhan bagaimana cara menghilangkannya? tidak mungkin aku bersantai di rumah dengan syal...."
Jari lentik Kaira sontak berkutat dengan internet ia mencari tahu tentang bekas merah itu. "Gila! masa dua minggu bekasnya baru bisa hilang?."
Kaira melepas semua pakaian atasnya tanpa terkecuali ia ingin melihat seberapa banyak bekas kepemilikan yang ditinggalkan Arka, ia terdiam setelah melihat secara keseluruhan matanya tak berkedip sama sekali. "Bahkan bibirku bengkak karnanya...."
Satu persatu ingatan Kaira tentang kejadian semalam muncul, mereka berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Kaira ingat saat tubuh kekar Arka yang polos mengangkat tubuhnya di pangkuan, menyentuh, mengelus, mencium, menghisapnya penuh kelembutan berbalut hasrat...
"Aaarrrgh stop Kai! jangan memikirkannya lagi stop!.." Lirih Kaira pada dirinya sendiri. "Kenapa gerah sekali?...." Tanyanya sambil mengibas-ibas tangan pada wajah.
Kaira menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, pikiran wanita itu menerawang kemana-mana. "Yang benar saja ciuman pertama juga lelaki pertama yang melihat tubuhku kakak ipar sendiri?."
Jika dipikir-pikir menurut Kaira Arka masih bisa menahannya untuk tidak berbuat lebih atau tidak mengambil kesempatan. "Ah Kaira... Seharusnya kau tak mabuk, sekarang kau malu berinteraksi ke depannya dengan Arka bagaimana.."
"Akhiri saja ya!, lupakan perasaanmu pada lelaki itu. Dia sudah menjadi suami kakakmu mau itu sandiwara atau tidak sekarang aku tak peduli, yang jelas cinta diantara kita tentu mustahil..." Gumam Kaira, ia sendiri tidak mau menyakiti perasaannya hanya karena masalah cinta..
...***...
Siang hari...
Mobil Arka memasuki pelataran rumah keluarga Rangga, ia turun melangkah memasuki rumah itu. Hanya ada pembantu yang terlihat Arka sendiri memasuki kamar dimana Indah berada.
"Kau sudah sampai?." Tanya Indah sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya.
"Hmmm..."
"Kenapa rumah hening sekali?.."
"Kita baru pulang dari kantor, sambil menunggu pembantu menyiapkan makan siang jadi pada istirahat..."
Tidak ada jawaban dari Arka lelaki itu hanya duduk berkutat dengan handphone.
Indah menyadari sesuatu pada leher Arka. "Tunggu itu bekas merah pada lehermu?."
Arka menoleh pada Indah. "Masuk angin parah.."
Indah terdiam mendengar jawaban Arka. "Bukankah tidak boleh kerokan di leher?."
"Aku menyukai itu, rasanya lebih enak..."
"Oh..." Indah manggut-manggut saja walaupun ia merasa ada yang aneh tapi tidak mau bertanya lebih karena bukan haknya.
Selang beberapa menit, bibi pembantu mengetuk pintu kamar Indah. "Non, waktunya makan siang semuanya sudah kumpul.."
"Ya bi..." Balas Indah. "Ayo Arka..." Lanjutnya seraya mengajak Arka
"Hmmm..."
Pasangan suami istri itu keluar kamar, Indah tersenyum sambil menggandeng mesra lengan kekar Arka menuju meja makan.
"Rupanya menantuku sudah datang, bagaimana kabarmu Arka?." Lirih Rangga diikuti mama Luna menyambut mantunya itu.
"Baik ma, pa.." Balas Arka.
"Syukurlah, ayo kita makan siang bersama."
"Ya.."
Rangga terkekeh kecil saat melihat bekas merah pada leher mantunya. "Haish, Indah kau mahir sekali sampai jelas seperti itu leher Arka..."
Kaira tersedak saat hendak minum akan ucapan papanya.
"Papa bisa aja.." Kekeh Indah sengaja berbohong demi sandiwara lancar.
"Sudahlah pah jangan menggoda mereka wajar saja suami istri.." Timpal mama Luna.
Arka hanya tersenyum menyeringai.
"Kaira tidak menyapa kakak iparmu?." Tanya mama Luna.
"Emmm?." Balas Kaira seraya menoleh ke arah mereka.
Sorot mata tajam Arka bertemu dengan manik Kaira. "Ah iya senang bertemu kembali kak.." Arka dan Kaira saling beruluran tangan.
"Baiklah ayo kita makan bersama.." Ucap Rangga yang diangguki mereka.
Kaira menggigit bibir bawahnya agar bisa bersikap tenang. "Bagaimana bisa Arka membiarkan bekas merah itu terlihat!." Batinnya menjerit kesal.
Arka melirik Kaira yang berada di hadapannya hanya mengaduk-aduk makanan saja, terdapat senyum menyeringai dari sudut bibir lelaki itu.
Acara makan berjalan lancar, setelah selesai Kaira kembali memasuki kamarnya membiarkan mereka mengobrol di ruang keluarga.
"Ah akhirnya aku bisa bernafas lega..." Lirih Kaira seraya melepas syal tebal itu..
Tok tok tok...
"Non ini tehnya bibi bawakan.." Ujar bibi pembantu.
Kaira sontak membuka pintu. "Terimakasih bi.."
"Sama-sama non..."
Pintu kamar kembali Kaira tutup, saat Kaira hendak duduk meminum teh pintu kamar diketuk kembali. "Gulanya pas bi..." Jawab Kaira.
Karena tidak ada jawaban dari luar, Kaira melangkah membuka pintu untuk memastikan. "Bi?..."
Cklek...
Mata Indah Kaira seketika membulat sempurna. "Arka!!.."
Bersambung....
Tinggalkan jejaknya sebagai dukungan, kasih saran juga kritiknya di kolom komentar!..🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
HSL
harusnya dr awal km mikir gt 🤦🏻♀️
2023-08-08
1
anisa f
kenapa selalu "mata indah" kaira
ak jd mikir dl indah at kaira 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2023-08-06
0
Cusrita Bachri
setuju kaira
2023-04-12
0