Zeya menghidangkan masakannya diatas meja. Ia melayani Albirru seperti biasa, cuma tak ada obrolan seperti biasanya. Zeya makan dalam diam.
"Maafkan mas. Kamu pasti sangat marah karena mas meninggalkan kamu tanpa pamit," ucap Albirru memulai percakapan karena melihat Zeya yang hanya diam.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Mas nggak perlu membahas itu lagi. Aku sudah melupakan nya." Zeya menyudahi makannya dan meninggalkan Albirru.
Ia masuk ke kamar dan mengambil wudhu. Ia membuka Al-quran dan membacanya.
Albirru masuk ke kamar dan melihat Zeya yang sedang membaca Al-quran.
Ia duduk di tepi ranjang dengan mata yang terus menatap ke Zeya. Zeya bukannya tak menyadari jika Albirru memperhatikan dirinya. Tapi ia hanya berpura-pura tak melihatnya.
Ketika terdengar suara azan isya dari musala dekat rumah mereka, Zeya menyudahi membaca Al-qurannya dan mengambil wudhu kembali.
"Kita solat bersama, tunggu mas ambil wudhu dulu," ucap Albirru melihat Zeya akan melaksanakan solat.
Setelah mengambil wudhu Albirru memimpin solat dengan menjadi imamnya.
Zeya menyalami tangan Albirru ketika selesai solat. Albirru mengecup dahi istrinya yang masih terasa hangat. Ia membawa Zeya ke dalam pelukannya.
"Mas mohon maaf, Zeya. Tidak ada niat mas untuk membuatmu sedih dan terluka. Mas benar-benar lupa jika saat itu masih ada kamu di restoran. Kamu pasti kehujanan sehingga sakit begini." Air mata Albirru jatuh membasahi mukena Zeya.
Zeya hanya diam. Tampak ia tak peduli atas apa yang diucapkan dan dilakukan Albirru. Mungkin rasa cintanya memang telah habis dan telah membeku.
"Mas tak ada bermaksud ingin membedakan kamu dan Zahra. Jika saat itu mas lebih memilih duduk dan bersama Zahra itu karena ia yang belum tau hubungan kita."
Albirru melepaskan pelukannya, karena ia tak mendapatkan reaksi apapun dari Zeya.
Ia menatap bola mata istrinya, tampak tak ada cahaya cinta lagi di mata itu buat dirinya.
"Tampaknya sangat sulit untukmu memaafkan kesalahan yang mas lakukan kemarin."
Zeya tersenyum dan tertawa dengan sumbang mendengar ucapan Albirru.
"Sudahlah, mas. Tak perlu kamu mengucapkan kata maaf berulang kali. Semua juga telah terjadi. Tak akan bisa diulangi lagi."
Zeya berdiri dan membuka mukenanya. Ketika Zeya mengganti pakaiannya, Albirru menatapnya tanpa kedip.
Apa aku telah melukai hatimu begitu dalamnya Zeya. Tubuhmu tampak semakin kurus. Aku merasa gagal menjadi suami yang baik untukmu.
"Aku mau tidur, apa masih ada yang akan mas kerjakan?"
"Nggak ada. Kita tidur aja, ya."
Albirru meletakkan kepala Zeya pada lengannya. Ia membelai rambut hitam istrinya itu.
"Besok sore setelah mas pulang kerja, kita lihat rumah ya."
"Rumah buat apa, mas."
"Rumah buat kamu. Mas akan membelikan rumah buat kita tempati."
"Apa uang mas sudah cukup banyak untuk membeli rumah."
"Tabungan mas cukuplah. Apa kamu ingin rumah seperti yang mas beli buat Zahra," ucap Albirru. Tanpa sadar ia telah melukai Zeya dengan ucapannya itu.
"Zahra sudah mas belikan rumah?" tanya Zeya.
"Kamu jangan salah paham dulu, mas membeli Zahra rumah dari uang yang diberi abi dan ummi untuk hadiah pernikahan kami. Mas hanya menambah sedikit. Untuk itu mas juga akan membelikan kamu rumah."
"Aku terserah mas aja."
Aku tau dan sadar posisiku saat ini, mas. Walau aku istri pertama tapi aku seperti istri kedua statusnya. Karena aku hanya kamu nikahi secara siri. Istri sah kamu dihadapan negara adalah Zahra. Kedudukan ia lebih kuat dariku.
"Setelah melihat rumah yang cocok untukmu, kita makan malam di restoran kemarin lagi. Mas mau kita berdua saja makan."
"Terserah mas, saja. Aku ngikut aja," ucap Zeya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Albirru.
Setelah itu Zeya mulai memejamkan matanya. Ia tak ingin jika terus mengobrol, akan membuat hatinya makin terluka. Ia tak ingin ada air mata lagi. Cukup sudah selama ini air mata yang ia keluarkan.
................
Sore harinya sepulang kerja, Albirru langsung mengajak Zeya pergi. Setelah mengganti pakaiannya, Zeya dan Albirru meninggalkan rumah kontrakan itu menuju salah satu kantor developer perumahan.
Zeya menyerahkan semuanya pada Albirru. Walau Albirru berulang kali meminta agar ia yang memilih, Zeya tetap saja dengan pendiriannya. Ia tetap menyerahkan semuanya pada suaminya itu.
"Jadi besok kita udah bisa pindah rumah."
"Besok bukankah giliran kamu ke rumah Zahra," gumam Zeya.
"Aku akan kembali malam hari, setelah kepindahan kita selesai."
Albirru menghentikan mobilnya di halaman restoran, tempat Zeya bertemu Zahra. Ia memilih ruang VIP.
Sementara itu di rumah Zahra, abi dan umminya Albirru mengajak menantunya untuk makan malam di luar.
Abi dan Ummi datang dengan mobil pribadinya demgan supir.
"Kamu tau restoran mana yang enak di sini, Zahra."
"Aku hanya tau satu restoran. Mas Al pernah membawaku makan di sana.
"Kamu masih ingat jalan ke arah sana?" tanya ummi.
"Ingat, ummi. Jalannya cuma lurus aja."
Abi dan ummi berangkat menuju restoran yang Zahra yang katakan.
"Zahra sudah hampir satu bulan kalian menikah, apakah udah ada tanda kamu dan Albirru akan memberikan kami cucu." Ummi memegang perut Zahra.
"Belum bu, lagi pula aku masih ingin menikmati bulan madu bersama mas Albirru."
"Jangan ditunda, terserah kapan Tuhan memberikan kepercayaan itu."
Sampai di tempat tujuan Abi dan ummi memilih meja yang berada paling sudut berhadapan dengan pintu ruang VIP.
Zahra memesan makanan sesuai selera mertuanya. Mereka makan dengan lahap.
Sementara di restoran yang sama ada Albirru dan Zeya yang sedang menyantap hidangan makan malam mereka.
Albirru menyuapi Zeya. Ia memesan semua makanan kesukaannya.
Kenapa kamu baik seperti ini mas. Aku lebih suka kamu yang mengabaikan aku. Jika kamu terus bersikap begini, aku takut pendirianku untuk melepaskan cintaku padamu menjadi hancur. Tuhan, tolong jangan goyahkan lagi pendirianku. Aku ingin melepaskan sesuatu yang tak pantas lagi aku pertahanan dan perjuangkan. Aku yakin dibalik semua cobaan dan kesedihan yang kamu berikan akan ada kebahagiaan diujungnya, kuatkan dan tabahkanlah aku hingga bisa sampai diujung jalan itu.
Setelah hidangan habis mereka santap, Zeya mengajak Albirru untuk pulang.
Dengan langkah pasti keduanya meninggalkan ruangan VIP itu.
Saat Albirru dan Zeya baru menginjakkan kakinya di luar ruangan, mata Albirru menangkap sosok abi dan umminya.
Albiirru menarik tangan Zeya untuk meninggalkan restoran. Tapi terlambat, abi dan umminya telah melihat kehadiran dirinya.
"Albirru ...." ucap Abi sambil berteriak.
Albirru yang tak bisa mengelak lagi. Dengan langkah perlahan ia mendatangi meja makan tempat abi dan umminya berada.
Bersambung
************
Selamat pagi pembaca setia novel BERBAGI CINTA: NODA MERAH PERNIKAHAN !!!!
Jangan lupa sarapan ya, karena pura-pura bahagia itu butuh banyak tenaga.
Terima kasih mama ucapkan buat semua yang telah memberikan like, komentar dan terutama VOTE. Karena ini senin bagi yang memiliki vote, bolehlah bagi-bagi. (ngarep 🤭🤭).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
memang klo da poligami pasti tidak semua istri ikhlas ....yang cowok kurang tegas ....emang kalo ada harta dan tahta buat cowok maka yang ketiganya adalah wanita ...merasa mampu sanggup ...tanpa memikirkan hati cweknya ...
2024-11-16
0
Oke Santai
sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat bisa jatuh juga.begitupun dgn kita.sepandai - pandainya kita menyimpan rahasia,suatu saat tebongkar juga lanjut.
2024-04-28
0
sendok garpu
albiru terciduk?
2023-10-28
1