Zeya mengulurkan tangannya dan di sambut Zahra.
"Zeya ...." ucap Zeya sambil terus tersenyum.
"Zahra ...."
Albirru duduk diikuti Zahra. Mereka duduk berdampingan diseberang duduk Zeya.
Zeya menarik nafasnya saat melihat Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Albirru dan memeluk lengan Albirru.
"Mbak temannya mas Al," tanya Zahra.
"Biar mas Al aja yang menjelaskan siapa aku."
Zahra memandangi wajah Albirru minta penjelasan.
"Kita makan dulu, setelah itu baru aku jelaskan siapa Zeya," ujar Albirru.
Makanan yang telah dipesan Albirru datang. Pelayan menatanya di meja.
Ketika Zeya akan mengambilkan nasi buat Albirru, tangannya ditepis Zahra.
"Maaf mbak, biar saya saja yang ambilkan buat mas Al," ucap Zahra. Ia lalu menyalin nasi kepiring Al beserta lauknya.
Zeya menarik nafasnya melihat Zahra yang tampak manja dan mesra dengan Albirru. Sesekali Albirru mencuri pandang pada Zeya.
Pandangan Albirru jatuh pada mata Zeya yang tampak berkaca menahan tangisnya.
Maafkan aku, Zeya. Aku tak pernah bermaksud membuat kamu sedih. Kamu dan Zahra posisinya sama dihatiku. Bahkan aku lebih mencintaimu.
Zeya tampak kurang bernafsu. Ia hanya makan sedikit. Berbeda dengan Zahra, ia tampak sangat bahagia dan lahap memakan hidangannya.
"Mbak Zeya sudah makannya? Padahal lauknya enak, kenapa mbak Zeya tampak kurang berselera."
"Aku masih kenyang." Zeya menjawab dengan tersenyum.
"Mas, mau tambah lagi," ujar Zahra.
"Mas sudah kenyang."
"Kok pada nggak berselera. Mas bilang ini restoran favorit, mas. Berarti masakannya sesuai seleralah."
"Mas masih kenyang," ujar Albirru.
"Mas tadi makannya banyak banget sih," ujar Zahra manja, Zeya memandangi mereka dengan senyum terpaksa.
Setelah makan, Albirru mulai membuka obrolan.
"Zahra, sebelumnya mas minta maaf jika apa yang nanti mas sampaikan membuat kamu kecewa."
"Maksud mas, apa. Langsung aja ngomongnya, aku tak mengerti."
"Zeya, ini sebenarnya istri mas juga."
"Apa yang mas katakan. Aku nggak suka candaan,mas."
"Mas nggak bercanda, Zahra. Zeya adalah istri yang mas nikahi enam bulan lalu."
"Kenapa abi dan ummi tidak pernah mengatakan jika mas telah menikah." Zahra melepaskan pelukannya di lengan Albirru dan memandangi Zeya tajam.
"Karena abi dan ummi tidak mengetahui pernikahan mas dan Zeya. Kami menikah secara siri."
"Jadi mas menikahi mbak Zeya tanpa restu dari abi dan ummi. Makanya mas menikah secara siri. Kenapa mas tak berterus terang padaku," ujar Zahra dengan menahan air matanya.
"Mas tak ingin mengecewakan abi dan ummi. Mas memang ada rencana mengenalkan Zeya secepatnya. Tapi untuk sementara mas minta kamu sembunyikan ini dari orang tua kita."
"Maksud mas aku harus sembunyikan semua ini dari keluarga. Apa mas ingin aku menerima semua kebohongan ini. Mas ingin aku bisa berbagi cinta dengan mbak Zeya dengan ikhlas."
"Zahra, kamu pasti tau dan mengerti jika di dalam agama kita, tidak ada larangan buat suami memiliki istri lebih dari satu."
"Mas ingin aku menerima mbak Zeya sebagai maduku. Mas ingin kami berdua tetap menjadi istrimu."
"Zahra, aku mohon pengertianmu."
"Sekarang aku tanya mbak Zeya, apakah mbak rela jika cinta mas Al terbagi."
"Aku hanya bisa ikhlas dan pasrah, karena sebagai istri aku hanya ingin mencoba menjadi seorang istri terbaik. Jika ditanya apakah aku sebenarnya rela. Kamu pasti tau jawabannya. Tak ada seorangpun istri di dunia ini yang rela berbagi cinta suaminya."
"Mas dengar sendiri jawaban mbak Zeya, tak ada wanita yang rela berbagi cinta suaminya. Baiklah, karena aku yang kedua hadir di dalam hidup mas, aku yang akan mengalah."
Zahra berdiri dari duduknya. Dan ia berjalan menuju pintu keluar. Albirru langsung mengejar Zahra tanpa peduli Zeya yang masih berada di ruang itu.
Albirru menarik pergelangan tangan Zahra dan membawanya ke dalam pelukan.
"Maafkan mas, Zahra. Mas tak bermaksud membohongi kamu. Tapi mas harapkan pengertian darimu. Zeya mau menerima pernikahan kita, dan aku harap kamu juga bisa menerimanya. Mas janji akan berlaku adil. Mas mohon, Zahra," ucap Albirru memeluk erat tubuh Zahra.
Dari tempatnya berdiri Zeya hanya melihat Albirru yang memeluk Zahra dan membujuknya.
Albirru membawa Zahra masuk ke mobil dan melajukan mobil meninggalkan restoran.
Langit tampak gelap pertanda hujan akan turun. Zeya tak pedulikan itu. Ia berjalan meninggalkan restoran dengan langkah terseok.
Petir bersahutan di langit, dan hujan turun membasahi bumi. Seakan turut merasakan kesedihan yang dirasakan Zeya saat ini.
Ia berjalan terus walau pakaiannya telah kuyup terkena guyuran hujan.
Tuhan, aku ingin kuat. Jangan kau buat hati ini rapuh. Aku ingin bisa tegar. Aku ingin menjalankan semua skenario dari-Mu ini dengan hati yang ikhlas. Hujan, aku berharap dengan kau basahi diri ini, dapat menghapus semua luka yang aku rasakan. Saat cinta tak memberi arti lagi, hanya memberikan luka yang menyayat hati, seolah seperti malam hari, di mana hujan badai tak kunjung berhenti, namun semua ini harus kuhadapi karena perjalanan hidup itu tidak akan pernah berhenti.
Setelah cukup jauh berjalan, hujan pun mulai berhenti turun dari langit. Zeya menghentikan taksi yang lewat.
"Pak, apakah saya boleh menumpang. Pakaian saya basah." Zeya bertanya, takut supir tak mau mengantarnya pulang.
"Nggak apa, bu. Nanti bisa saya keringkan. Ibu masuk saja."
"Terima kasih, pak." Zeya masuk dan mengatakan alamat rumahnya.
Sampai di tujuan, ia membayar lebih dari ongkos. Supir taksi sangat berterima kasih atas kebaikannya.
Zeya masuk ke dalam dan duduk di sofa. Ia menatap langit rumahnya.
Mulai hari ini aku tak akan menangis lagi. Sudah cukup air mata yang aku keluarkan selama ini. Aku harus kuat menghadapi semua yang terjadi dalam hidupku. Bukankah ini lebih baik, dari pada kehidupanku yang dulu. Harus melayani pria yang entah memiliki istri berapa. Aku tak akan bermain perasaan lagi. Cintaku telah mati. Tak ada cinta buat pria manapun. Aku akan melayani kamu seperti aku melayani pria-pria yang meniduriku dulu. Ini lebih baik, aku hanya melayani satu pria dan aku tidak melakukan dosa lagi. Cintaku telah mati bersama luka hati ini.
Zeya masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Ia mengambil wudhu. Setelah itu Zeya mengambil Al-quran dan membacanya.
Beberapa halaman telah ia selesaikan. Ia mencoba membaringkan tubuhnya diranjang.
Sementara itu Albirru masih terus membujuk Zahra. Mereka saat ini telah berada di dalam kamar rumahnya.
"Apakah kamu bisa adil, mas," gumam Zahra.
"Aku akan berusaha. Aku tak akan berjanji apapun itu. Kamu bisa membuktikan semuanya nanti."
"Kenapa kamu tak jujur dari awal kita pindah ke sini."
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat."
"Baiklah mas, aku akan mencoba menerimanya. Akan aku lihat apakah kamu bisa berlaku adil. Jika dalam perjalanan rumah tangga kita, ternyata kamu tak menepati janji, aku akan mundur dan mengatakan semuanya pada abi dan ummi. Saat ini aku akan menutupinya seperti maumu."
"Terima kasih, Zahra. Kamu mau mengerti. Aku tak akan mengingkari janjiku."
"Berarti jatah mas bersamaku tinggal satu malam lagi. Lusa mas harus ke rumah mbak Zeya?"
"Iya, Zahra."
"Walau berat hati ini, aku akan mencoba ikhlas."
Albirru memeluk tubuh Zahra dan mengecup dahi wanita itu.
Bersambung
*******************
Terima kasih buat semua pembaca novel ini. Semoga kita semua tidak akan pernah mengalami nasib seperti Zeya. Bagaimana kelanjutan kisahnya. Ikuti terus ya. Beri dukungan pada novel ini dengan memberikan like dan komentar. 😍😍😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
adning iza
bnar ze kuburlah cintamu setidky kmu tak berbuat zina
2024-05-24
0
Patrick Khan
.zeya aku padamu..
2024-04-25
0
Jumarni
nyesek sekali zeya .....dah jatuh ketimpa tangga keguguran dipoligami e....malah suaminya kayak gitu
2024-03-16
2