NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 22

Langit desa pagi ini cerah. Menyingsingkan cahaya kuningnya melewati pepohonan. Burung-burung sudah bernyanyi sejak pagi menjelang.

Aku sedang mencuci baju saat burung-burung itu masih berkicau. Hampir setiap hari aku mencuci, tentu hanya bajuku dan ibu yang kucuci. Kadang ibu sudah mencuci bajunya sendiri saat aku bekerja.

"Toni pulang jam berapa, kok jam segini masih tidur?" Itu suara ibu dari luar kamar mandi. Mungkin ibu bertanya pada kak Lita.

"Kayaknya mau jam 1 bu pulangnya." Benar kan yang menjawab kak Lita.

Aku selesai mencuci semua bajuku. Aku membawanya keluar, untuk kujemur di samping rumah.

"Manda. Nanti ibu mau kepasar beli lauk."

Ibu tidak hanya ijin untuk ke pasar, itu adalah sebuah kode untukku memberinya uang. Sudah jadi rutinitas ibu seminggu sekali ke pasar untuk membeli keperluan. Katanya harga di pasar dengan warung disini selisih harganya. Aku menurut saja, yang penting di rumah ada yang bisa dimasak.

Aku masih menjemur baju di samping rumah. Setelah selesai, ibu masih sibuk di dapur sedang memasak. Dibantu kak Lita yang sedang membuat kopi untuk suaminya.

Aku ke kamar, mengambil handuk dan tiga lembar uang ratusan ribu untuk kuberi kepada ibu.

"Ini bu uangnya." Aku menyerahkan uang itu ke ibu.

"Nanti kalau di tempatmu ada promo minyak atau sabun beli ya, man. Minyaknya tinggal segini."

Aku mengangguk. Lalu pergi masuk ke kamar mandi.

Sekarang aku sudah berada di toko. Sedang menghitung modal kemarin.

"Man." Kak Aldi menepuk bahuku. Aku hanya menatapnya seperti bertanya kenapa karena mulutku masih sibuk menghitung uang.

"Kakakmu masih cari kerja ga?"

Aku menyelesaikan menghitung uang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan kak Aldi.

"Kayaknya masih deh kak. Aku juga ga yakin." Jawabku setelah menutup laci penyimpanan uang. "Kenapa emangnya?" Kutatap wajah kak Aldi yang berada di sampingku.

"Kemarin. Ada temenku yang nawarin kerjaan, siapa tau kakakmu mau."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Kerja apa kak?"

"Jadi cleaning service di sekolah internasional gitu. Kalo dari sini sih lumayan jauh. Soalnya di kota."

Aku mengangguk anggukan kepalaku. "Coba deh nanti aku ngomong ke kakakku. Siapa tau mau kan?"

Kak Aldi menjentikkan jarinya. "Nah itu. Coba kamu ngomong. Gajinya lumayan juga loh. Dapet mes lagi."

Aku mengangguk. "Kak... Itu bapak manager tumben pagi-pagi udah disini? Biasanya siang baru kesini." Kataku pelan. Hampir berbisik takut orang yang berada di ruangannya itu dengar.

Kak aldi seperti terkejut mendengar ku. "Kamu ga tau? Nanti pemilik perusahaan yang bangun toko ini mau kesini."

Aku mengerutkan dahiku heran. "Tumben orang tinggi seperti beliau mau kesini."

"Ah... Orang kaya kan suka gitu. Takut usahanya ada yang korupsi makanya turun tangan langsung buat cek." Kak Aldi mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Menurut kamu... Penampilan ku gimana? Udah rapi kan."

Secara spontan aku mendorong tubuhnya. Kukira dia akan berbicara hal penting lainnya. "Ck.. kakak itu kaya cewe."

"Heh! Amit-amit. Aku bela-belain bangun lebih pagi buat nyetrika seragamku ini malah kamu bilang aku kaya cewe? Tega kamu!" Ucapnya dramatis seperti di film-film.

Aku menggeleng. Lebih baik aku mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang mendengar ocehan kak Aldi yang menurutnya berbanding terbalik dengan perawakannya yang maco abis itu.

Rak-rak barang ini sekarang seperti adikku sendiri. Menjaganya agar tetap bersih, menjaga barang sebisa mungkin agar tetap rapi dan terisi dengan baik.

"Kayaknya udah lama aku ga ke warung nya mba Nia." Gumamku saat aku merapikan rak dan membersihkan nya dengan kemoceng.

Betulkan, aku sudah lama tidak ke warung bakso. Aku akan kesana nanti pulang dari toko. Batinku pada diriku sendiri.

Decitan suara rem mobil membuatku hilang fokus pada pekerjaanku. Hebohnya kak aldi juga membuatku ikut mengintip di balik kaca toko.

"Itu.. itu bos dateng." Suara kak Aldi terdengar di telingaku. Dia sibuk berkaca pada dinding toko yang terbuat dari kaca.

Aku menggeplak bahunya cukup kencang. "Kak. Udah. Mending kita kedepan buat kasih salam." Ujarku lalu meninggalkan kak Aldi yang mengikuti ku dari belakang.

Seorang pria paruh baya disusul oleh wanita yang umurnya tak beda jauh dengannya turun dari mobil. Pakaiannya rapi dengan jas navy dan sepatu pantofel khas seorang pengusaha sukses. Wanita itu berpakaian dres sebetis dengan lengan bahu. Aksesoris nya tak banyak hanya memakai kalung tapi aku yakin harganya setahun gajiku disini.

Pak manager sudah siap menyambut di depan. Badannya membungkuk ketika pria itu melewatinya. Aku dan kak Aldi berdiri di belakang pak manager.

"Selamat siang pak. Selamat datang." Ucap pak manager dengan rasa hormat. Suara yang kudengar ada sedikit suara gemetar. Mungkin karena grogi.

Akupun ikut membungkuk. Pria itu tersenyum kearah kami.

"Mari pak, keruangan saya di dalam." Kata pak manager lagi.

"Tidak. Saya hanya sebentar untuk melihat-lihat." Ucap pria itu. Suaranya gagah. Wanita dibelakangnya hanya tersenyum di samping pria itu. Yang kuyakini adalah mereka sepasang suami istri.

Pak manager mempersilahkan untuk masuk. Kami mengikuti dibelakang. Rasanya hatiku bangga bisa didatangi oleh pemilik perusahaan toko ini langsung. Bangga bisa melihat nya secara langsung bukan karena omongan orang ke orang.

"Bagaimana kerja disini?" Tanya pria itu menunjuk aku dan kak Aldi bergantian.

"Senang pak." Hanya kata itu yang keluar dari mulut seorang kak Aldi yang biasanya ceriwis. Dalam hati aku menertawakan kak Aldi yang sedang grogi.

"Kalau kamu?" Sekarang gantian kau yang ditanya.

"Sama pak. Aku juga senang bisa kerja di toko ini." Ucapku sambil tersenyum. Pria dan wanita dihadapan ku itu ikut tersenyum.

"Tidak ada masalah, kan?"

Kami menggeleng sesuai fakta.

"Kalau ada apa-apa kalian bisa hubungi manager atau kepala toko disini. Kalian punya kan kontaknya?" Tanya nya menunjuk aku dan kak Aldi.

"Punya pak."

Ternyata seorang bos besar tak selalu bersifat semena-mena seperti yang kulihat di ponsel. Masih ada yang bos besar yang selalu membuat bawahannya merasa nyaman.

"Tingkatkan lagi toko ini. Mungkin bisa dibuat tempat nongkrong atau apapun itu. Disini banyak kan anak mudanya?"

"Iya pak. Baik." Sekarang giliran pak manager yang menjawab.

"Kamu coba meeting kan ini dengan yang lain. Dan kamu juga selalu pantau karyawan. Selalu lakukan evaluasi agar tau kekurangan satu sama lain."

Kami mengangguk bersamaan.

Sang wanita yang dari tadi diam sambil sesekali tersenyum itu mencolek suaminya. Seperti sudah paham apa yang dimaksud sang pria berdehem.

"Hari ini kalian berdua aku belanjakan. Ambil sepuas kalian barang yang kalian mau disini." Ucapnya tiba-tiba padaku dan kak Aldi.

Aku beradu tatap dengan kak Aldi. Memang setiba-tiba ini.

"Apa kalian tidak mau?"

"Tentu mau pak!" Itu suara kak Aldi yang kelewat cempreng. Mungkin tidak sengaja karena kulihat wajahnya tiba-tiba memerah.

Sesuai instruksi, aku dan kak Aldi mengambil keranjang belanjaan. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Kan gunakan sebaik mungkin. Banyak barang keperluan di rumah dan kebutuhanku sendiri yang masih belum aku beli.

Kami diberikan waktu setengah jam untuk memilih. Dan setelah selesai kami menghitung sendiri di kasir dengan di awasi oleh manager dan bos besar.

Hari ini seperti ketiban rejeki nomplok tiba-tiba. Aku pulang dengan membawa dua plastik besar penuh ke rumah. Walaupun berat tapi hatiku ringan, senang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!