Pada usia 44 tahun, Donatella terjebak di titik terendah dalam hidupnya setelah mengalami lebih dari 20 tahun penderitaan mental. Ini memberi pukulan yang menghancurkan pada perasaannya, tetapi dia sudah muak akan semua ini dan telah bangkit kembali, meski dia tidak yakin apa yang akan terjadi.
Leonardo, seorang duda tampan dan misterius, seorang pengusaha yang dikejar banyak orang, telah berubah menjadi pria yang dingin dan tanpa ampun setelah mengalami penderitaan dan pengkhianatan.
Namun, takdir suka memberikan kejutan dan menempatkan kita dalam situasi yang tidak biasa, dan begitulah cara mereka bertemu…
Ikuti aku! Mari kita mulai perjalanan yang penuh dengan perjuangan, keberanian, dan cinta. Tentu saja, dengan sedikit komedi juga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap untuk Acara
Donatella
Setelah kami memeriksa daftar tamu, yang jujur saja separuhnya pun tak kuingat, tapi ya sudahlah. Aku akan meliriknya sekali lagi sebelum berangkat ke acara.
Kumasukkan daftar itu ke dalam map. Daftarnya panjang sekali, sebab selain nama semua tamu, ada pula fotonya. Lalu aku pun pergi ke toko Nyonya Susana.
Sesampainya di Toko
Wah, toko yang cantik sekali! Mewahnya sampai bikin iri! Toko yang hanya bisa dimasuki mereka yang berkuasa, atau seperti aku, yang bekerja untuk orang berkuasa... Aku masuk dan seorang gadis datang melayaniku, dan perhatikan, dia berpakaian sangat rapi, berias, dengan rambut yang tertata...
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya Branca.
"Selamat sore, saya ingin bertemu Nyonya Susana," kata Donatella.
Si pelayan menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, seolah berkata kasihan sekali...
"Kami sedang tidak menerima lamaran kerja, semua lowongan sudah terisi," kata Branca.
Donatella
Ya ampun, serius nih? Rasanya ingin sekali kudaratkan sebuah tamparan di wajahnya, atau satu tendangan ninja... Astaga, ngeri sekali, Donatella...
"Beliau sedang menungguku," kata Donatella.
"Saya periksa dulu. Siapa nama Anda?" tanya Branca.
"Donatella. Yang memintaku datang adalah Adelaide," kata Donatella.
"Baik, saya segera kembali," kata Branca, yang raut wajahnya sudah berubah total dari sinis menjadi serius.
Donatella
Hmm, apa Tuan Leonardo memang sebegitu berkuasanya? Sebab begitu aku menyebut Adelaide, dia dengan cepat menyapu terusan setelanku sampai ke nama perusahaannya, lalu berubah serius. Baguslah kalau mereka ditakuti. Aku suka itu...
"Silakan masuk, lewat sini, Donatella. Nyonya Susana sudah menunggu," kata Branca.
"Baik, terima kasih," kata Donatella.
"Maafkan saya, saya tidak tahu Anda bekerja untuk Tuan Leonardo. Habisnya selama ini selalu Adelaide dan tidak pernah orang lain," kata Branca.
Lalu mereka pun tiba.
"Selamat sore! Selamat datang, Donatella, senang sekali bisa mengenalmu," kata Susana sambil menyambutnya dengan kecupan di pipi.
"Selamat sore! Terima kasih, saya juga senang bisa mengenal Nyonya," kata Donatella sambil tersenyum dan membalas sambutannya.
"Senyum yang indah sekali. Kulihat Leonardo menemukan perempuan yang sepadan dengannya," kata Susana sambil tersenyum.
"Saya hanya bekerja untuk Tuan Leonardo, saya sekretarisnya," kata Donatella.
"Bisa jadi, tapi aku sudah mendengar tentangmu. Ítalo bercerita, dan kalau kau sampai menemani Leonardo, aku yakin dia tak memandangmu sekadar sekretaris," kata Susana.
"Tidak! Nyonya pasti keliru. Saya dan Tuan Leonardo bahkan nyaris tak saling kenal. Saya sudah bekerja untuknya berbulan-bulan, tapi karena dia sedang bepergian dan baru saja kembali, saya baru dua kali melihatnya, dan saya sungguh hanya sekretarisnya. Saya hanya akan menemaninya ke acara ini karena kaki Adelaide sedang digips," kata Donatella.
Donatella
Ya Tuhan, aku baru melihatnya dua kali, dan yang pertama itu... tidak, aku menolak mengingat sedikit yang kuingat itu. Aduh, aduh, aduh, malaikatku, malaikatku, lihatlah posisi sulit yang menjebakku ini.
Susana tersenyum.
"Jangan salah paham, Donatella, aku menyukaimu sejak kau melangkah masuk pintu tadi. Aku sudah mengenal Leonardo bertahun-tahun, dia dan Ítalo bersahabat, dan Leonardo tak pernah sekali pun mengajak perempuan mana pun selain mendiang mantan istrinya dan Adelaide untuk menemaninya ke acara apa pun. Meski kaki Adelaide sedang digips, sesuatu mengatakan padaku bahwa dia akan pergi sendiri seandainya dia mau," kata Susana.
"Saya tidak begitu mengenal Tuan Leonardo, yang saya tahu dia sama sekali tidak ramah, tidak lembut, tidak menyenangkan. Dan saya katakan pada Nyonya, sejak bercerai saya tak mau menikah lagi, dan Tuan Leonardo jelas pilihan nol besar, dengan segala hormat, oh, pria kasar itu," kata Donatella.
Susana terbahak-bahak.
"Aku suka sekali padamu. Mari kita cari busana yang pantas." Ia mengambil sehelai gaun yang sangat halus. "Coba yang ini," kata Susana.
Donatella
Kukenakan gaun itu dan wah! Astaga, aku jadi cantik dan seksi, ih, bahkan tak seperti diriku sendiri.
"Gaun ini benar-benar mukjizat, sampai-sampai aku merasa cantik," kata Donatella.
"Kau memang perempuan cantik, Donatella, gaun ini hanya semakin menonjolkan kecantikanmu," kata Susana sambil tersenyum.
"Boleh saya berfoto untuk saya kirim ke putri saya?" tanya Donatella.
"Tentu saja boleh, aku berani bertaruh dia akan suka," kata Susana.
"Saya sependapat dengan Nyonya," kata Donatella.
Donatella
Kukirim foto ke Manu, dan seperti sudah kuduga, dia heboh! Bayangkan, di usianya sekarang, dia tahu banyak soal mode dan sangat menggemarinya. Gaun ini dari merek yang terkenal sekali, dan aku menolak melihat harganya, aku tak mau mati kena serangan jantung sebelum sempat memakainya. Tentu saja Manu melontarkan sejuta pertanyaan, dan aku hanya bilang akan bercerita nanti setibanya di rumah.
"Nah, gaun sudah ada, sepatu sudah ada, sekarang kemari, kita cari aksesorinya. Tapi karena ini untuk pergi dengan Leonardo, aku ingin kau memakai sesuatu yang tak terlalu terbuka, aku tahu dia akan menyukainya," kata Susana.
Donatella
Kurasa dia tak perlu suka sama sekali, tapi ya sudahlah. Kalau soal aku, aku akan pergi dengan setelan biasa saja. Lalu kulirik gaun yang sudah dibungkus itu, dan aku cepat-cepat berubah pikiran...
Setelah itu Susana bertanya tentang anak-anakku, apakah aku suka anak-anak, dan kami akhirnya mengobrol lebih lama dari perkiraan. Aku keluar dan langsung pulang, aku tahu Manu dan tentu saja temannya, Julia, pasti sudah menungguku, tak sabar ingin tahu semua tentang gaun itu.
Sesampainya di Rumah
Aku mandi lebih dulu, sebelum mereka mulai memberondongku dengan pertanyaan.
"Sebelum kalian bertanya-tanya, nanti aku butuh bantuan kalian untuk menata rambutku dan meriasku lebih rapi," kata Donatella.
"Iyaaa," kata mereka bersemangat.
"Baik, sekarang boleh kalian bertanya," kata Donatella sambil tertawa, sebab dia tahu badai pertanyaan akan datang.
"Mama mau ke mana dengan gaun sesempurna itu?! Mama jadi seperti dewi, seperti ratu, cantik luar biasa," kata Manu bersemangat.
"Jadi begini... aku sebenarnya tak mau pergi, tapi aku terpaksa ikut ke acara itu dengan si kasar Tuan Leonardo. Acara para pengusaha itu," kata Donatella.
Manu dan Julia takjub.
"Wah! Acara itu cuma dihadiri kalangan atas, orang-orang terpandang, kaum elite... belum lagi semua orang sedang membicarakannya," kata keduanya.
"Dan dengan Tuan Leonardo? Ih... tak heran," kata Manu sambil tertawa.
"Manu! Apa maksudmu? Kau menyindir apa? Ingat, aku ini ibumu, Nak," tanya Donatella.
"Tidak ada apa-apa, Mama tersayang di hatiku, Mama tahu aku menghormatimu. Sekarang, kau tahu, Julia, ibuku semalam terpaksa menjemput Tuan Leonardo, dan lihatlah lehernya," kata Manu sambil tertawa.
Julia melihat dan mereka berdua terbahak-bahak.
"Anak-anak, itu gigitan nyamuk," kata Donatella.
Nah, kali itu mereka betul-betul terpingkal-pingkal menertawakannya.
"Padahal ibuku, hari ini, sebelum aku kemari, bilang bahwa Tuan Leonardo sepertinya sangat menyukai Donatella," kata Julia sambil tersenyum.
"Anak-anak! Tolong, aku cuma bekerja dengan si kasar itu dan tidak lebih! Belum lagi, umurku mungkin sudah tinggal hitungan jam," kata Donatella.
"Maksudnya apa?" tanya keduanya berbarengan.
"Aku harus membantu si Tuan Lembut mengingat nama orang-orang yang akan hadir di acara itu, dan tadi aku sedang melihat daftarnya, aku menukar-nukar semuanya! João kupanggil Pedro, Maria kupanggil Talita..." kata Donatella.
Mereka terbahak-bahak.
"Baik, sekarang lebih baik kalian bantu aku dengan rambut dan riasan, sebab si Don yang merasa hebat itu bilang, 'Kukirim orang untuk menjemputmu tepat pukul delapan!'" (Ia menirukan gaya Leonardo.) kata Donatella.
Anak-anak itu tertawa.
"Mama, apa maksudnya Don? Apa benar desas-desus tentang dia?" tanya Manu.
Donatella
Ini akibat bicara lebih banyak dari yang seharusnya, sekarang aku celaka...
"Nak, tolong berjanjilah kau takkan pernah membicarakan ini dengan siapa pun. Kau tahu aku memercayaimu, dan kau tahu mereka bisa membunuh kita kalau sampai ketahuan membicarakannya. Ya, dia memang si Don Tanpa Ampun itu," kata Donatella.
"Aku mengerti, Ma, jangan khawatir, aku takkan bilang apa-apa. Dan wah! Wah! Astaga, kukira mafia itu cuma ada di dalam cerita," kata Manu.
"Maaf ya, Kawan, aku tak boleh menceritakannya padamu. Aku tahu dia si Don, tapi seperti kata ibumu, kita tak boleh membicarakannya," kata Julia.
"Tak apa, aku mengerti," kata Manu.
Saat itu bel pintu berbunyi.
"Biar aku yang lihat siapa," kata Manu sambil bergegas keluar.
Tak lama ia kembali ditemani dua orang perempuan.
"Ma, mereka datang untuk mendandanimu, rambut, kuku, riasan..." kata Manu sambil tersenyum.
jgn bilang mau hoitus yaaa😅
please...ini seru kok ceritanya👍