Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran pertama
"Bel, kita sudah sampe di rumah kamu." Sean menepuk pelan pipi Abel. Ia berusaha mengembalikan kesadaran gadis itu.
Tak lama mata Abel mengerjap, perlahan matanya terbuka. Ia melihat wajah Sean yang begitu dekat dengannya.
"Sean."
Sean tersenyum, ia menarik badannya menjauh dari tubuh Abel.
"Kita sudah di depan rumah kamu, oh iya ini tadi aku mampir ke supermarket beli cokelat panas. Diminum ya, biar badan kamu anget." Sean menyodorkan gelas pelastik berisi minuman cokelat pada Abel.
Dengan ragu Abel menerima gelas itu, tapi ketika ia bergerak. Abel meraba selimut hello kitty menempel di tubuhnya.
"Itu punya Kak Selma, kamu pake aja. Nanti aku yang bilang sama dia." ucap Sean yang mengerti arti dari kerutan di kening Abel.
Abel mengangguk, "makasih kamu udah nolongin aku!"
"Sebenarnya kamu tadi ngapain sih, hujan-hujanan di tengah jalan? Kan bahaya, Bel. Naja kemana, tumben nggak nganterin?"
Abel menunduk, air matanya siap tumpah kembali saat mengingat kejadian itu. Ia bahkan tak sanggup hanya sekedar menjawab pertanyaan Sean barusan.
Sean menarik napas pelan, sepertinya ia mulai faham situasinya. Sean tidak lagi bertanya setelah melihat keterdiaman Abel.
"Kamu, mau aku temenin masuk?" Abel menggelengkan pelan. Ia tersenyum tipis pada Sean, kemudian ia turun dari mobil pemuda itu.
"Bel, kamu bisa hubungi aku jika perlu apa-apa." seru Sean, ia mengikuti Abel turun.
Abel mengeratkan pegangan tangannya pada selimut yang masih membungkus tubuhnya itu, ia menoleh dan mengangguk.
Senyum Sean merekah melihat jawaban Abel. Pertemanan mereka sempat renggang kala itu ditambah ketika lulus SMP mereka memutuskan untuk sekolah di SMA yang berbeda. Mereka kembali bertemu saat Naja membawa Abel pada sebuah acara keluarga dan mengenalkan Abel sebagai pacarnya saat itu. Membuat keduanya semakin canggung untuk sekedar saling menyapa sekalipun.
"Bel, tunggu!"
Baru saja Sean hendak membuka pintu mobil dan Abel hendak melangkah naik ke teras. Motor Naja berhenti di depan gerbang, ia berlari dan menarik tangan Abel. Menghentikan langkah gadis itu.
Sean yang penasaran akan kejadian yang sebenarnya pun tak jadi meninggalkan rumah Abel. Ia sengaja memilih diam di samping mobil, menyaksikan sepasang kekasih itu.
"Lepas!" Abel menghempas tangan Naja, membuat pegangan lelaki itu terlepas.
"Bel, please dengarkan aku dulu. Tadi itu aku ... "
"Aku apa? Lupa sama aku dan lebih memilih mengantarkan perempuan lain, dengan mengabaikan pacarmu sendiri di taman malam hari dalam keadaan hujan deras. Iya? Atau kamu memang sengaja menyuruh aku tetap di sana agar kamu bisa mengantar dia lebih dulu terus setelah itu kamu bisa balik lagi sama aku, seolah aku ini memang perempuan bodoh. Naja!" teriak Abel dengan amarah meluap, ia tak dapat menahan semua gejolak di dalam dadanya lagi lebih lama.
"Nggak, Bel, semuanya nggak seperti itu. Kamu dengarkan aku dulu. Kamu salah faham, Sayang!"
Abel menarik napas dalam, ia membuang muka menghindari tatapan Naja. Dengan kasar ia mengusap air mata yang kembali membasahi wajahnya.
"Sudahlah, Ja. Aku mau sendiri dulu, labih baik kamu pulang." Abel berbalik hendak meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat Naja memeluknya dari belakang.
"Please, Sayang, dengarkan aku dulu. Tadi aku hanya menolong Amel, dia itu dikasarin sama pacarnya terus di tinggal begitu saja di jalanan. Aku hanya kasihan sama dia."
Abel memutar badannya menatap tajam mata kekasihnya itu, memang ia tidak menemukan kebohongan di sana. Tapi cara Naja menolong gadis itu dengan melupakan dirinya itu terlalu keji buatnya.
"Kenapa tidak bilang sama aku dulu? Kenapa kamu main pergi gitu aja ninggalin aku? Apa aku sudah tidak penting lagi buat kamu? Atau mungkin kamu sudah mulai lupa sama status kamu?"
Naja hanya bisa menunduk mendengar rentetan pertanyaan dari Abel. Dalam hatinya ia mengakui jika memang yang dikatakan Abel semuanya benar dan ia tidak bisa menyangkal itu semua.
Sean berdecih sebal melihat pertengkaran Abel dan Naja. Jika saja ia tidak ingat siapa Naja, mungkin kepalan tangannya sudah melayang manis di pipi sepupunya itu.
"Lu pulang, Ja. Biar Abel bisa istirahat. Besok kalian bicarakan lagi dengan baik-baik. Dinginkan dulu hati dan otak kalian, jangan sampai keputusan salah kalian ambil dalam keadaan emosi begini." pekik Sean dari kejauhan, setelahnya ia masuk ke dalam mobil meninggalkan mereka berdua.