Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 10
"Sebenarnya dua referensi itu sudah cukup Najwa,walaupun memang lebih di sarankan untuk memakai tiga."kata Ust Fadil.
"Saya menargetkannya pakai tiga, Kak."sahut Najwa.
"Good"! Fadil mengacungkan ibu jari tangannya ke arah gadis ayu itu.
"Kalau begitu Mbak Najwa bisa ke toko buku di kota,hanya berjarak lima kilo meter dari sini."
Salma mengusulkan.
"kalaupun smean gak beli bukunya, kan bisa mencatat saja poin-poin yang di butuhkan"katanya lagi.
"Benar juga" Najwa nampak antusias.
Pesanan datang.Ust Fadil mengarahkan ke tiganya untuk makan dulu.
Dan tak seperti dugaan Salma.Tak ada rasa tak enak ataupun rasa canggung untuk mulai menyantap makanannya kendati duduk dekat dengan Ibrahim Adlan,
karna pemuda tampan itu sama sekali tak melihat ke arah ke tiganya lagi.Ia kembali fokus pada layar ponselnya sambil sesekali menyesap minumannya.
"Ra..jadi pulang ke Al- falah"?tanya Ust Fadil.
"Ia kak".
"Besok kesini lagi?"
"Insha-Allah..kan belum selesai".
"Kenapa gak nginap saja,nanti smean capek harus bolak balik Ra"..
"Saya masih ada kepentingan kak".
"Tapi kartu,tidak tertukar lagi kan.."Ust Fadil menggoda .Mendengar itu Najwa mendongak.Nampak Ibrahim Adlan tersenyum sambil mengaduk-aduk minumannya.
"Eh iya..bagaimana bisa kartumu tertukar"?Kamila baru teringat untuk menanyakan hal itu.
"Kak Fadil yang memberikan kartu itu"sahut Najwa.
"Aku dapat dari Ra Adlan"sahut Fadil.
"Apa di sengaja Ra"??tanya Fadil dengan nada tak serius.
"Itu skenario Allah" ia menjawab puitis.Yang membuat yang lain,menjadi tak berani untuk menebak-nebak.
Namun Kamila mengulang-ulang kalimat itu dalam pikirannya.Hingga cukup mengurangi selera makannya.Entahlah,ia merasa ada yang tak biasa dalam ucapan tersebut.
Padahal Ibrahim Adlan hanya mengucapkan apa adanya,
ketika ia meminta ust fadil untuk menyerahkan kedua kartu milik Kamila dan Najwa Aulia,ia merasa sudah benar,tak ada yang salah dengan kartu yang di berikannya,begitupun ia merasa tak ada yang salah dengan kartu yang di simpannya bahwa itu memang atas namanya sendiri.
Siapa sangka jika kartunya ternyata tertukar.Padahal
tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.Bukankah itu skenario Tuhan yang membuat semuanya menjadi demikian.
"Skenario Allah..""Ust Fadil bergumam."Bukankah itu justru merupakan sesuatu hal yang tak bisa di bantah"katanya lagi.
"Maksudnya?'hampir semua melihat ke arahnya.
"Bahwa ada sesuatu hal yang tak biasa".
"Saya rasa juga begitu"sahut Kamila cepat
"Ini seperti sebuah pertanda".katanya lagi
"Pertanda apa"?Najwa menatapnya dengan expresi kurang nyaman.
"Sesuatu"..Kamila bergumam lirih.Ia masih belum berani untuk mengeluarkan segala pikiran yang bercokol di dalam kepalanya.
Salma hanya menatap heran.Ia tak mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"Bagaimana menurut anda Ra?" Fadil menatap Ibrahim Adlan yang masih diam dengan expresi santai seperti biasa.
"Bukankah..segala sesuatu itu memang terjadi atas kehendak Allah Jak"..ia menatap Fadil..menjawab
"Afwan,,bukan bermaksud menggurui,"ujarnya lagi."Tapi semua pasti sudah mafhum akan hal ini,seperti contoh kita saat ini.Bisa makan bersama begini, ini adalah skenario Allah juga kan?, memang saya yang menginginkan ini,tapi apa semua ini bisa terjadi..kalau tidak karna Allah yang meletakkan keinginan itu dalam diri saya"..pemuda tampan itu memberi penjelasan dengan cukup rinci akan maksud dari perkataannya yang sepertinya mulai di tanggapi beragam.
Ia tak ingin ada kesalah pahaman.Apalagi sampai menjurus pada prasangka yang berlebihan.
"Apa salah..jika saya menyebut,berkumpulnya kita saat ini adalah juga skenario Allah?".
Ibrahim Adlan tersenyum lembut ke arah Ust Fadil.Senyum yang sangat indah.Namun sepertinya juga menyimpan sejuta makna.
"Jadi...". Fadil menggantungkan kalimatnya.
"Apapun yang di kehendaki Allah,pasti terjadi".
"Dalam kehidupan anda?" Fadil mengolah kata,berusaha menemukan benang merah dalam ucapan pemuda tampan yang di rasanya tak biasa itu.
"Dalam kehidupan semua makhluq ciptaanNYA kak"..
Ibrahim Adlan mematahkan kecurigaannya dengan ucapan yang tegas.
Fadil nampak menghela nafas.Begitu juga Kamila.ia bahkan sudah menghentikan acara makannya dari beberapa saat lalu.
Najwa memperhatikan semuanya dengan kening berkerut.ia menatap Ust Fadil."Ma'af Kak..perkara kartu yang tertukar,kok pembahasannya kemana mana ya"..kata gadis ayu itu.
"Kalau menurutmu bagaimana"? tanya Fadil.
"Tak ada yang perlu di bahas..Ra Adlan sudah menjelaskan bahwa itu tidak sengaja.Siapapun pasti pernah berbuat khilaf kan ..salah,lupa,tak sengaja.Dan sebagainya.." Gadis ayu itu berkata sesuai dengan apa yang memang di rasakannya.
"Kamu gak keberatan dengan peristiwa itu"?Ibrahim Adlan menatap Najwa sejenak saja.Ketika bertanya
itu.
"Tidak sama sekali".
"Meskipun hampir menangis karna di tolak masuk"??
"Saya tidak menangis Ra.."
"Saya tidak bilang kamu menangis,tapi hampir menangis..itu beda Najwa"..
"Saya.."Najwa terhenyak...di beranikannya ia menatap pemuda tampan itu..Ibrahim Adlan tersenyum..
Senyum yang mengarah pada Najwa Aulia.
seketika najwa jadi gugup.Peristiwa tadi memang membuatnya hampir menangis apalagi ketika hanya dirinya saja yang belum memasuki aula.Tapi bagaimana Ra Adlan bisa tau hal itu..
"Apa anda..."Najwa menggantungkan kalimatnya..Kembali pemuda tampan itu hanya tersenyum saja.Fadil nampak memicingkan mata.Kamila dan Salma menatap penuh tanya.
Pemuda tampan itu seperti memberi teka- teki.Namun dering ponselnya membuyarkan tanya yang siap untuk di ajukan.
Ibrahim Adlan menerima telp dengan berdiri menyisih.Namun hanya lima menit ia kembali lagi,menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Ust Fadil.Seraya memberi isyarat tangan.Dan segera berlalu dengan tergesa.
"Ra Adlan..mau pulang?" Kamila bertanya pada Ust Fadil setelah memperhatikan kepergian pemuda tampan itu sejenak.
"Ia.Tapi masih mau bertemu mas Shiddiqi Audani dulu katanya."
"Dekat-dekat dengan Ra Adlan berbahaya"ujar Salma.
"Kenapa"?semua menatapnya.
"Senyumnya manis sekali..bikin hati melompat-lompat."dan ucapan Salma itu sukses membuat yang lain tertawa renyah.***
nangiss bombay malam2 😭😭