Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umur Vs Pemikiran...
"Kalian darimana?" Tanya Abah Mansur pada Adam dan Dika yang pulang bersamaan dengan kendaraan masing-masing.
"Tadikan Adam udah ijin Bah."
"Bukan kamu, tuh anak kamu dari mana saja, dari pagi pergi baru sekarang pulang ke rumah." Abah Mansur terlihat kesal karena tadi nenek dan kakeknya Dika datang ingin bertemu dengan cucu mereka, ternyata Dika sudah pergi tampa Abah sadari.
"Jalan-jalan Kek, Dika kan liburan kesini, masa di rumah aja." Jawab Dika sesaat kemudian langsung masuk kedalam.
Setelah shalat magrib berjamaah, semua duduk bersama tampa ada yang beranjak dari duduknya.
"Dika, kakek mau tanya, apa kamu suka dengan tante Widuri yang semalam kemari? Ayahmu memberikan keputusan penuh padamu untuk memilih ibu yang kamu mau, jadi bagaimana, apa kamu suka dengan tante yang tadi malam?" Tanya Abah sambil menatap Dika penuh harap agar kali ini anaknya bisa menikah dan memberikannya cucu kembali.
"Dika terserah ayah aja, kan yang menjalani itu ayah, Dika ikut aja." Jawab Dika yang kembali memojokkan ayahnya.
"Jadi gimana Dam? Dika tidak masalah, Abah sangat berharap kali ini kamu benar-benar bisa menikah, Abah sudah capek mencari jodoh untuk kamu." Keluh Abah karena rencananya selalu gagal.
"Adam gak masalah Bah, tapi apa dia gak terlalu muda untuk Adam? Apa dia siap punya anak yang sudah remaja? Itu aja yang terpenting, jangan sampai baru menikah sebulan dia dah minta cerai." Ucap Adam.
Abah kembali menghela nafasnya, karena sangat susah untuk meyakinkan anaknya.
"Ya sudah, mari kita makan dulu!" Ucap Abah beranjak dari duduknya.
Abah masih mencari celah bagaimana wanita yang anak dan cucunya suka. Selama ini abah juga tau, jika Dika dan Adam tidak menaruh perhatian pada wanita yang mendekati Adam.
"Yun, suami kamu apa kabarnya? Abah rindu kalian semua." Tanya Abah diiringi tawa kecilnya.
"Dia sehat Bah, masih sibuk bekerja juga, Abah tau sendiri dia orangnya pintar, jadi otaknya isi angka semua." Jawab Yuni.
Yuni memang tidak ingin membicarakan statusnya saat ini. Biar dia menjawab dengan ambigu, itu akan lebih baik buatnya. Bagaimanapun posisinya saat ini berada di daerah dimana sebuah status itu begitu diperhatikan.
"Jadi kalian tidak tinggal serumah sekarang?" Tanya Amak tiba-tiba yang membuat Yuni sedikit terkejut.
"Papanya Rara di Batam Amak, belum bisa pindah." Jawab Yuni sambil tersenyum.
"Hati-hati Yun, laki-laki ditinggal sendiri bahaya, jika dia bukan penggoda maka bisa jadi wanita lain yang menggoda, akan lebih baik jika suami istri itu tinggal serumah." Amak kembali menasehati yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Yuni, sementara Adam melihat sekilas kearah Yuni yang duduk didepannya.
Saat mereka tengah berbincang, terdengar suara orang memberi salam dari pintu.
"Ouh, besan ternyata. Silakan masuk!" Amak mempersilahkan kakek dan nenek Dika masuk bergabung dengan yang lainnya.
Setelah bersalaman dengan mantan mertua Adam, Yuni berpamitan untuk ke kamar bersama putrinya.
Diruang tengah, tampak nenek Dika berusaha untuk dekat dengan cucunya.
"Malam ini, kamu tidur di rumah nenek ya?" Tanya nenek pada Dika, dan hanya dibalas dengan anggukan kepala. Dika merasa risih diperlakukan seperti anak kecil, karena dia sekarang sudah remaja.
"Kebetulan besan ada disini, saya juga mau menyampaikan jika Adam sudah saya jodohkan dengan anaknya Ismail yang bernama Widuri." Ucap Abah.
Mantan mertua Adam memang sudah tidak asing dengan topik perjodohan yang selalu dibicarakan oleh besan mereka. Walaupun pertamanya menolak, tapi mereka menyadari jika mereka tidak punya hak untuk melarang Adam menikah lagi.
"Apa kamu betah disini sayang?" Tanya Yuni yang sudah berada di kamarnya.
"Lumayan Ma, orang-orang disini sangat ramah dan rasa peduli sesama itu masih sangat terlihat, Rara suka disini." Jawab Rara sambil melihat-lihat kembali foto-foto hasil jepretannya.
"Tapi mama udah gak betah Ra, rasanya pengen cepat-cepat pulang." Keluh Yuni pada anaknya.
"Sabar ma, anggap aja mama lagi pulang ke rumah mertua, hahahaha." Seloroh Rara.
Merasa dirinya jadi bahan ledekan, dengab cepat Yuni menggelitik pinggang putrinya tampa memberi ampun.
"Udah ma, Rara nyerah!" Lirih Rara yang sudah tidak kuat menahan gelitikan mamanya. Tampa mereka sadari, sepasang mata dari tadi melihat mendengar dan melihat apa yang mereka lakukan dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya.
"Papa kamu kemana ya? Udah lama gak telpon kamu?" Tanya Yuni yang sudah berbaring disamping anaknya.
"Mama kangen? Kenapa gak mama aja yang telpon?" Jawab Rara yang langsung dapat tatapan tajam dari mamanya.
"Ya sudahlah, lebih baik kita tidur, ngapain mikirin hal yang gak jelas ya?" Ucap Yuni kembali.
Melihat mamanya tertidur, Rara yang masih terjaga langsung keluar dari kamar. Sudah tidak terdengar lagi suara orang ramai seperti tadi. Rara langsung menuju dapur mengambil minum.
"Ra, kok belum tidur?" Tanya Adam yang ikut duduk di meja makan.
"Belum ngantuk Om, kak Dika udah tidur?"
"Dika nginap di rumah kakek neneknya."
Rara hanya mengangguk tanda mengerti. "Kamu betah di sini?" Tanya Adam kembali.
"Om sama mama kompakan ya? Tadi juga mama tanya gitu. Betah Om, di sini enak, orang-orangnya juga ramah, Rara suka." Jawab Rara.
"Tapi mama udah gak betah tuh Om." Rara mengecilkan suaranya. Adam yang mendengar hanya tersenyum.
Adam sangat tau karakter Yuni yang sedikit idealis dan tidak mau terikat dengan hubungan sosial masyarakat yang terlalu dekat. Di desa setiap masyarakat seakan memiliki rasa bersama untuk dibagi, tapi bagi orang-orang yang sudah terkontaminasi dengan pikiran barat, kehidupannya adalah privasi yang tidak wajib orang tahu ataupun sekedar bertanya.
Apalagi status seorang janda seperti Yuni, jika orang kampung Abah tau, pasti hal tersebut akan memicu pergunjingan serta tatapan miring terhadapnya. Oleh karena itu, Adam tidak memberitahukan status Yuni pada Abahnya.
"Ra, maaf ya kalo Om lancang, Om cuma mau tau pendapat kamu, kalo seandainya mama kamu nikah lagi gimana?" Tanya Adam menatap Rara serius.
"Ya terserah mama sih Om, Rara sebagai anak tidak punya hak melarang mama untuk bahagia, tapi sebagai anak, Rara akan melihat dan menilai orang seperti apa yang akan menjadi suami mama, Rara akan melihat seperti apa sikap dia ke mama dan ke Rara, tentu itu tidak bisa dalam seminggu dua minggu, butuh waktu yang lama untuk mengetahui sifat seseorang, dan Rara tau, Mama pasti lebih mementingkan Rara dari pada dirinya sendiri."
Adam menghela nafasnya, mendengar apa yang dikatakan oleh anak berumur 10 tahun rasanya seperti pisau kecil tapi mampu mengorek hatinya dengan cepat.
"Kamu ternyata lebih dewasa dari umur kamu ya?" Puji Adam.
"Mungkin karena dari kecil aku selalu berada di lingkungan orang-orang dewasa, nasehat-nasehat yang mereka berikan semuanya terkopi jelas di ingatan aku, satu lagi, umur tidak menjamin kedewasaan Om." Balas Rara.
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊