Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.
"Dim...masmu mana, kenapa belum sarapan" Arista mencari-cari sosok putra sulungnya.
" Tadi kata mas Dirga, mau liat dedek Hanif dulu,Bu. Kangen katanya." jawab Dimas sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Arista mengangguk. Dia pun ikut duduk bersama untuk sarapan.
" Kapan ayah pulang, Bu. Apa ayah nggak kangen liat dedek Hanif, kenapa harus tidur di rumah nenek. Jangan-jangan ayah nggak suka sama adik Hanif. Soalnya dulu pernah bilang, ayah pengin banget punya anak perempuan. " kata Dityan sambil minum susu coklat hangatnya .
Arista tertegun. Dia pun bingung harus menjawab apa.
" Dityan, mulai hari ini belajarlah hidup tanpa harus bergantung pada orang lain. Belajar mandiri, jadi nanti kalau tiba-tiba seseorang yang jadi tumpuan hidupmu perlahan menjauhi bahkan meninggalkanmu, kamu sudah siap dan tak perlu merasa kehilangan." kata Dirga yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping ibunya.
Arista dan ke dua anaknya saling berpandangan. Dan sekarang pandangan mereka beralih menatap Dirga. Mereka merasa aneh dengan ucapan Dirga.
" Mas...mas barusan dari mana. Kok...mendadak sok bijak." cibir Dimas.
Dirga menghela nafas. Mungkin dia masih terbawa perasaan saat dia mendengar pembicaraan ayah dan neneknya
" Dari kamar adek Hanif, lah. Emang yang mas bilang tadi salah? Nggak kan?." tanya Dirga balik.
" Ya...nggak salah juga, tapi nggak tau kenapa perasaan aku jadi nggak enak. Seolah-olah kayak pesan terakhir gitu." kata Dimas sambil nyengir kuda.
" Hussh... istighfar,nak. Jangan ngomong sembarangan. Ingat ucapan adalah sebagian dari doa. Jadi ucapkan yang baik-baik aja." tegur Arista. Jujur dia juga merasa sedikit takut dengan ucapan putra sulungnya.
Ada rasa khawatir yang entah dari mana asalnya perasaan itu datang.
"Astaghfirullah.." ke tiga putranya pun beristighfar bersamaan.
Kini Arista menatap putra sulungnya, raut mukanya terlihat gelisah. Tapi sorot matanya ada sedikit kilatan amarah.
Arista merasa ada yang di sembunyikan oleh putranya. Sejak kembali dari kamar dia seperti memendam sesuatu.
Dirga menghabiskan sarapannya dengan cepat.
" Pelan-pelan Dirga, nggak baik makan terburu-buru, nanti kesedak." tegur Arista.
" Dirga ada kelas pagi Bu. Takut telat, dosennya disiplin banget soalnya. Telat sedkit aja nggak boleh masuk " jawab Dirga sambil meneguk air putih.
" Kalian berdua siap-siap. Jangan lelet, nanti mas tinggal." kata Dirga sambil merapikan piring bekas makannya.
" Taruh aja di wastafel. Biar nanti ibu yang cuci, kalian bersiap berangkat."
Dirga mengindahkan perintah ibunya. Dia segera menyelesaikan cuci piringnya. Dan bergegas ke kamar untuk bersiap berangkat kuliah.
Ke dua adiknya pun di buat bingung dengan perubahan sikap kakak pertamanya. Kekhawatiran mereka semakin menjadi. Buru-buru mereka menyusuli Dirga , mereka takut terjadi sesuatu dengannya.
"Kami berangkat, Bu. Doakan kami ya, Bu."
Satu per satu mereka mencium tangan Arista dengan takzim. Sampai Arista terharu, dia ingin menitikkan air mata, tapi sebisa mungkin dia tahan. Dia tak ingin ke tiga putranya yang hendak berangkat menuntut ilmu jadi sedih dan mengganggu konsentrasi belajarnya.
Arista mengusap kepala tidak putranya sambil tersenyum.
" Jaga sikap kalian ya, nak."
Mereka bertiga mengangguk.
"Assalamualaikum." ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam." Arista menatap ke tiga putranya sambil tersenyum.
Ada rasa haru dan bangga , karena ke tiga putranya sangat menghargainya. Dirga yang sekarang kuliah dan duduk di semester pertama, bisa memberi contoh yang baik buat ke dua adiknya.
Dimas yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dan Dityan kelas 3 SMP, mereka saling mengasihi dan mengayomi.
Setiap hari mereka berangkat bersama, karena tempat mereka menuntut ilmu jaraknya tidak terlalu jauh. Pun dengan pulangnya, Dirga akan sabar menunggu ke dua adiknya. Walaupun terkadang dia pulang lebih awal.
Dirga sebagai anak pertama merasa punya tanggung jawab terhadap ke dua adiknya. Dan ke dua adiknya pun sangat menghormati kakaknya.
Setelah mobil yang membawa ke tiga putranya menghilang dari pandangan, Arista bergegas masuk dan langsung masuk ke kamar.
Ternyata Hanif sudah bangun dan sedikit merengek. Mungkin diapersnya penuh atau juga karena lapar.
Arista tersenyum.
"Jagoan ke empat ibu udah bangun ternyata. Haus ya, sayang. Sebentar ya, ibu cuci tangan dulu." Sambil mengajak ngobrol bayinya, Arista ke kamar mandi untuk cuci tangan.
Triing...
Bunyi pesan masuk dari ponsel , Arista meraih ponselnya yang berada tak jauh dari tempat duduknya.
( Kenapa tadi diam aja, waktu aku telepon. Bagaimana pun aku tetap nggak mau pulang, selagi anak itu masih di rumah)
(Anak itu namanya Hanif. Jadi stop memanggil dengan sebutan anak itu. Dia pun darah dagingmu)
Arista menghela nafas. Giginya gemeretuk menahan sesak di dadanya.
Dia segera memeriksa log panggilan, ternyata pagi tadi Pram menghubunginya. Arista mengernyitkan dahi.
" Anak itu..." batin Arista.
Kecurigaannya ternyata benar.